Olimpiade 2032 di Indonesia

Suasana pembukaan Asian Games ke-18 tahun 2018 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta, Sabtu (18/8). INASGOC/Rosa Panggabean/pras/18.

Presiden Jokowi melayangkan kesanggupan Indonesia sebagai tuan rumah 2032. Sport event terbesar di dunia itu, tahun 2020 akan diselenggarakan di Tokyo, 2024 di Paris, 2028 di Los Angeles. Sejumlah negara akan mengikuti bidding sebagai tuan rumah Olimpiade 2032, di antaranya Jerman, Australia dan India. IOC akan mengumumkan pemenang tuan rumah Olimpiade 2032 pada 2025, masih ada waktu tujuh tahun bagi Indonesia untuk berbenah.

Hal ini disampaikan Presiden Jokowi pada pertemuan dengan Presiden Komite Olimpiade Internasional Thomas Bach dan Presiden Dewan Olimpiade Asia Syeikh Ahmad Al Fahad Al Sabah di Istana Bogor, Sabtu (1/9). Komite Olimpiade dan Internasional dan Dewan Olimpiade Asia mengapresiasi penyelenggaraan dan pasrtisipasi masyarakat dalam Asian Games ke 18 di Jakarta dan Palembang.

Mimpi Indonesia menjadi tuan rumah Olimpiade juga pernah disampaikan Menpora Andi Mallarangeng. Menurutnya, Indonesia 20-30 tahun mendatang rasanya baru siap menjadi tuan rumah Olimpiade, bukan sekarang.

Pernyataan Menpora Andi, dan kini disampaikan Presiden Jokowi, bukan sekadar anganan. Prediksi dari perspektif ekonomi menyebutkan masa keemasan Indonesia diperkirakan tahun 2030.

Olimpiade memang menggugah banyak anganan, termasuk harapan Indonesia menjadi tuan rumah. Ada sejumlah benefit sebagai tuan rumah pesta akbar olah raga sejagat raya itu, namun usaha dan pengorbanan yang tak terkira juga menjadi keniscayaan. Olah raga menjadi dimensi yang kian diperhitungkan menjadi bagian dari turisme, dari perspektif inilah tourism bisa menjadi batu loncatan untuk merintis pencapaian mimpi besar tersebut.

Pada hari pariwisata se-dunia pada tahun 2004 yang dipusatkan di Malaysia bahkan mengangkat tema “sport and tourism: two living forces for mutual understanding, culture and the development of societies.” Undang-undang Nomer 3 Tahun 2005 tentang Sistem Keolahragaan Nasional mempertegas adanya unsur rekreasi (wisata) dalam olah raga. Maksud dari perundangan itu semakin gamblang manakala ada dampak ekonomis dari even olah raga yang juga menjadi even pariwisata. Olah raga di satu sisi sebagai pintu masuk bagi sektor pariwisata untuk mendatangkan devisa dan menggerakkan perekonomian lokal (serta nasional) tempat even olah raga diselenggarakan. Di sisi lain, olah raga juga menjadi indikator martabat suatu negara, baik itu negara yang ketempatan sebagai tuan rumah, maupun negara yang keluar sebagai jawara kompetisi olah raga antarnegara.

Secara khusus, wisata olahraga melalui even-even sport berkelas internasional, meskipun diadakan temporer, ditengarai sebagai motor pemicu peningkatan taraf ekonomi yang signifikan bagi tuan rumah penyelenggara. Hal itu dipertegas oleh Arismundar (1997), bahwa pariwisata juga akan berkembang sampai ke wisata ilmu dan teknologi, serta wisata olah raga. Kebutuhan pariwisata dan olah raga dapat memicu bisnis baru, jasa dan produk baru. Di antaranya, jasa layanan tempat olah raga, perdagangan peralatan olah raga, dan terutama meningkatnya kesadaran masyarakat akan pentingnya olah raga.

Pada Games of the XXIX Olympiad (Pertandingan Olimpiade ke-29) di Beijing, misalnya, sebanyak 302 pertandingan dari 28 cabang olahraga dilagakan. Jutaan manusia di seluruh dunia menyorot Beijing saat itu, datang langsung ke sana atau menyaksikan lewat televisi dan internet. China tidak sekonyong-konyong mendapat kepercayaan dunia sebagai tuan rumah even olah raga paling bergengsi seantero jagat raya itu. Di samping perekonomian negara tersebut yang maju pesat, habit dan prestasi olah raga yang cukup kuat, juga kebijakan dan komitmen pemerintah dalam menyiapkan penyelenggaraan Olimpiade patut kita apresiasi. Sebut misalnya, kebijakan pelarangan membunyikan klakson kendaraan bermotor di pusat kota, dan kebijakan membersihkan udara. Meski mengundang kontroversi, terutama bagi warga China sendiri, namun langkah-langkah tegas dan efektif dari negara sebagai penanggungjawab utama Olimpiade sangatlah diperlukan. Impian Olimpiade diadakan di Indonesia semoga menjadi kenyataan.

 artikel ini pernah dipublikasikan di Bali Post, 2 Oktober 2018.

Penulis

Dewa Gde Satrya Widya Dutha, S.E., MM.

Universitas Ciputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *