Lawar Bali : Simbol Kerhamonisan dan Keseimbangan

 

Jika mendengar kata “ Bali “ hal pertama yang akan anda bayangkan adalah panas, pantai, eksotik, pura dan lainnya. Bali berasal dari kata “Bal” yang berarti kekuatan sedangkan “Bali” berarti pengorbanan. Bali merupakan kepulauan nomor 2 terbaik di dunia dan termasuk destinasi yang paling disukai oleh wisatawan lokal maupun mancanegara. Provinsi Bali merupakan salah satu provinsi yang cukup terkenal di Indonesia karena merupakan salah satu aset devisa negara Indonesia yang cukup tinggi di bidang pariwisatanya. Memiliki keindahan alam dan budaya yang memukau membuat Bali dikenal oleh Dunia. Selain itu, Bali juga memiliki citra rasa kuliner tradisional  yang lezat dan menggugah selera. Kuliner tradisional Bali memiliki berbagai macam variasi, jenis dan kandungan gizinya beragam, bahan baku yang digunakan dalam pengolahan tersedia secara lokal dan memiliki citra rasa yang disukai oleh sebagaian besar masyarakat di Bali. Potensi yang dimiliki oleh pangan tradisional bali ini nantinya akan dijadikan dasar pengembangan saat ini dan dimasa mendatang.

Nilai-nilai yang terkandung dalam pangan tradisional adalah Nilai Religius, Nilai Seni, Nilai Kolektif, Nilai Ekonomis, Nilai Kesehatan, Nilai Kenikmatan (sirtha, 1998).

Dengan adanya nilai-nilai tersebut diharapkan kuliner tradisional Bali bisa dikembangkan dan lebih menarik minat wisatawan untuk datang ke Bali.

Sumber gambar : jarangpanas.com

Makanan ini adalah salah satu makanan khas dan unik yang dimiliki oleh Bali. Uniknya makanan ini menggunakan  darah hewan dimana darah tersebut akan dicampurkan ke bumbu-bumbu tertentu. Biasanya darah yang digunakan adalah darah yang setengah matang untuk menambah kelezatan makanan tersebut. Lawar biasanya disajikan di pesta adat Bali dan dirumah tangga masyarakat Bali. Lawar adalah campuran antara sayur-sayuran, bumbu khas Bali, Kelapa, Terasi dan daging cincang. Lawar memiliki banyak sebutan tergantung jenis daging dan sayur yang digunakan. Salah satu contohnya adalah Lawar Penyu, disebutkan demikian karena daging yang digunakan adalah daging penyu. Lawar Nangka karena sayur yang digunakan berasal dari nangka. Disebut Lawar Putih jika tidak menggunakan darah hewan. Karena menggunakan darah hewan, Lawar Bali hanya bertahan setengah hari jika ditempatkan di ruang terbuka. Orang Bali mengatakan bahwa Lawar merupakan makanan yang memiliki simbol sebagai keharmonisan dan keseimbangan.

Darah berwarna merah melambangkan Dewa Brahmana, Kelapa berwarna putih melambangkan dewa Iswara, terasi berwarna hitam melambangkan Dewa Wisnu. Selain itu, Lawar Bali memiliki  citarasa yang khusus dimana terdapat rasa manis, asin, pahit, pedas, amis, asam dan bau terasi. Karena Lawar Bali memiliki simbol yang sangat mendalam biasanya Lawar Bali, digunakan untuk acara pengangkatan Gubernur/Kepala daerah supaya orang yang jadi pemimpin tersebut bisa memaksimalkan potensi-potensi rakyat yang berbeda-beda sehingga menghasilkan suasana yang harmonis dan seimbang.

sumber gambar : masakandapurku.com

Lawar khas Tabanan dengan Lawar Karangasem memiliki citrarasa yang berbeda-beda. Contohnya di kabupaten Badung dan Gianyar, sayur dalam lawar menggunakan kacang panjang sedangkan daerah Buleleng, sayur dalam Lawar menggunakan nangka muda dan  daun pepaya. Warga Kabupaten Buleleng lebih menyukai Lawar merah yang menggunakan banyak darah hewan.

Proses pembuatan Lawar dibagi menjadi 3 bagian, proses pembuatan bumbu utama / basa gede ( dalam bahasa Bali ), proses pembuatan bumbu penggurih / basa penyangklung dan proses pembuatan bumbu embe.

 

Reference : 
Seri Travel Writing-Filosofi Makanan Tradisional Indonesia

Disusun Oleh :
Mahasiswa Travel Writing- Kelas A Hospitality & Tourism Business, Universitas Ciputra