TIMESINDONESIA, SURABAYA – Dosen Program Studi Teknologi Pangan Universitas Ciputra atau UC Surabaya, Dr. R.M. Tatas Hardo Panintingjati Brotosudarmo resmi diangkat menjadi F1000 Brand Ambassador. F1000 adalah salah satu brand penerbit internasional dengan kantor pusatnya di London.

Salah satu ciri khas dari F1000 adalah open thinking. Beberapa produknya berupa terbitan jurnal ilmiah antara lain F1000Research, F1000Biology Reports, F1000Prime Reports, dan F1000Medicine Reports. Semua produk tersebut telah menempati peringkat kuartil pertama (Q1) berdasarkan peringkat Scimago Journal & Country Rank. Artinya jurnal tersebut menempati posisi 25% teratas pada bidang ilmu, khususnya biokimia, genetika, biologi molekuler, farmasi, kedokteran, dan neurosains.

F1000 atau Faculty of 1000 adalah anak perusahaan dari Taylor & Francis Group. F1000 menyediakan berbagai solusi berupa layanan penerbitan bagi para peneliti, institusi penyandang dana hibah, lembaga penelitian, lembaga swadaya masyarakat, hingga asosiasi. Ciri khas dari F1000 adalah sains terbuka (Open Science) atau sains bagi khalayak umum. Sains terbuka artinya ilmu pengetahuan yang transparan dan bisa diakses siapapun yang memungkinkan, yang tersebar dan berkembang melalui berbagai jaringan kerja sama. Sains Terbuka berangkat pada kesadaran bahwa ilmu pengetahuan adalah komoditas milik publik, sehingga harus terbuka bagi publik dan tidak seharusnya dimanfaatkan oleh seorang/sekelompok orang saja.

Dr. Tatas Brotosudarmo menyelesaikan studi S3 di bidang biologi molekuler dan sel dari Institut Biomedis, Universitas Glasgow. Secara khusus, Dr. Brotosudarmo menekuni riset bidang kimia dan biokimia pangan dan pangan fungsional. Ketekunan tersebut membuahkan hasil lebih dari 69 buah publikasi jurnal internasional yang telah disitasi oleh lebih dari 1400 kutipan. Dalam karirnya Dr. Brotosudarmo mendorong terciptanya sains terbuka dan manajemen riset terbuka di Indonesia. Oleh sebab itu, Taylor & Francis Group menunjuk Dr. Brotosudarmo sebagai F1000 Brand Ambassador.

Dalam tugasnya yang pertama, Dr. Brotosudarmo mengangkat tema tata kelola penelitian terbuka dalam bidang biodiversitas dan ilmu iklim di Indonesia. Baru-baru ini pada bulan September 2022, Pertemuan Menteri Pertanian Kelompok 20 (G20) telah membuat komitmen yang kuat untuk bergerak maju dengan tindakan nyata yang mengatasi ancaman krisis pangan global dan memastikan ketahanan dan keberlanjutan pangan untuk semua.

Memenuhi pangan untuk semua adalah masalah hak asasi manusia yang mendasar. Laporan State of Food Security and Nutrition in the World (SOFI) edisi 2022 yang baru diluncurkan, menyoroti bahwa 828 juta orang menderita kelaparan pada tahun 2021, meningkat 46 juta dari 2020 dan 150 juta dari 2019 sebelum pandemi.

Selain itu, FAO memperkirakan perang baru-baru ini di Ukraina telah menambah situasi yang sudah menantang dan dapat menyebabkan peningkatan 13 juta lebih banyak orang yang kekurangan gizi kronis tahun ini dan 17 juta lagi pada tahun 2023. Disisi lain, pernyataan Sekretaris Jenderal PBB pada 20 Oktober 2022 menyoroti bahwa konsumsi berlebihan adalah akar dari tiga darurat planet perubahan iklim, hilangnya keanekaragaman hayati dan polusi.

Keanekaragaman hayati Indonesia memiliki potensi besar untuk pembangunan ekonomi. Meskipun Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang sangat kaya, banyak biota yang terancam punah akibat konversi lahan yang besar untuk pertanian, perumahan, perburuan liar, dan eksploitasi berlebihan lainnya di luar daya dukungnya. Besarnya cakupan keanekaragaman hayati, jika dimanfaatkan, dapat sejalan dengan perkembangan ekonomi Indonesia.

Misalnya dari sisi pangan, momentum pandemi COVID-19 memberikan peluang bagi Indonesia untuk kembali mengkampanyekan diversifikasi pangan lokal, terutama sumber karbohidrat dan protein. Hal ini dapat diintegrasikan dengan sumber vitamin dan mineral dari buah-buahan dan sayuran lokal ke dalam sistem pangan. Upaya ini sangat baik untuk membuat sistem pangan lebih stabil dan tangguh.

Dr. Brotosudarmo dalam artikelnya di F1000 menyatakan bahwa tata kelola penelitian terbuka dalam bidang biodiversitas dan ilmu iklim adalah solusi terbaik untuk Indonesia yang majemuk. Untuk memungkinkan pengelolaan penelitian terbuka untuk keanekaragaman hayati dan ilmu iklim di Indonesia, kita harus membangun pemahaman yang baik dan saling pengertian serta keseimbangan kepentingan di antara para pemangku kepentingan, terutama antara peneliti, pemerintah atau pembuat kebijakan, dan dunia usaha. Akses ke dan berbagi data sangat penting untuk konservasi keanekaragaman hayati dan ilmu iklim.

Menurut Dr. Brotosudarmo, basis data harus informatif, ramah pengguna, dan berkelanjutan, dan pada saat yang sama harus dapat diakses secara terbuka oleh peneliti dan publik, termasuk pembuat kebijakan. Jika database keanekaragaman hayati kita bisa menjadi salah satu sumber data, apalagi jika digabungkan dengan data pemanfaatan ekonomi dan kearifan lokal terkait keanekaragaman hayati, maka data keanekaragaman hayati Indonesia yang satu ini akan menjadi modal besar bagi pembangunan bangsa dan negara yang berkelanjutan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.

Menu