Tips Aman Selama di Rumah Duka

Tips Aman Selama di Rumah Duka

Bulan lalu, saya mengalami kedukaan, ayah saya dipanggil Tuhan. Tidak ada sakit dan tidak ada keluhan sebelumnya, sehingga kami bisa memberikan upacara kedukaan untuk beliau. Setelah berkonsultasi dengan keluarga kami memutuskan untuk menggunakan jasa kedukaan dan disemayamkan di Rumah duka terkenal di Surabaya Utara. Pada saat saya tiba disana, saya melihat pengunjung “tetangga” di rumah duka, memang mengenakan masker, tetapi, karena di meja ada sajian seperti kacang, permen, roti, hingga makanan berat maka, sebagian pengunjung melepaskan maskernya dan makan bersama. Ada juga yang sedih bersama, membuka maskernya, saling berpelukan menguatkan dan mengusap air mata dan ingus. Event lain adalah saat foto bersama, semua merapat agar masuk dalam frame kamera, kemudian lepas masker berjamaah.

 

Hal ini tentu menyebabkan kekhawatiran, ibu saya sudah diatas 60 tahun, adik saya memiliki komorbid diabetes, belum lagi dalam kondisi sedih luar biasa karena kepergian papa yang sangat mendadak. Hal ini membawa saya untuk membuat keputusan yang membuat petugas kedukaan sedikit heran dan gumun. Tapi biarlah, persiapan yang agak berlebihan demi keselamatan dan keamanan bersama, dan syukurlah ibu, adik, saya serta keluarga dan pengunjung tetap sehat, atau setidaknya belum ada yang lapor dirinya sakit setelah mengunjungi acara duka hingga sekarang.

Berikut adalah beberapa tips yang mungkin berguna

1. Gunakan layanan duka virtual, atau bila tidak, bisa menggunakan gawai sendiri untuk menyiarkan acara atau upacara yang dijalankan sehingga pelayat yang sudah sepuh atau memiliki komorbid bisa mengikuti tanpa perlu hadir dan semua bisa menghindari kerumunan.

2. Perkirakan berapa pelayat yang akan datang, memang ini sulit tapi bisa dikira-kira, contohnya adalah berapa rekan kerja terdekat dari almarhum dan keluarga, serta jumlah keluarga besar. Dari jumlah tersebut bisa diperkirakan berapa ruangan yang diperlukan.

3. Perpendek waktu persemayaman, sesuai himbauan pemerintah untuk disemayamkan maksimal satu hari saja

4. Pilih ruang duka yang terbuka, hanya satu hari saja tanpa penyejuk ruangan, bisa kok.

5. Sewa kursi 50% dari kapasitas ruangan, kemudian susun kursi dengan jarak satu meter baik kedepan-belakang-samping. Agak kurang umum kursi dirumah duka disusun seperti kursi ruang ujian, dan omongan orang yang merasa kurang nyaman dengan susunan tersebut, tapi biarlah, saya menutup telinga demi keamanan bersama. Lebih lanjut lagi, seluruh kursi dan meja disemprot dengan desinfektan di pagi hari, di siang hari karena tamu terus berdatangan bergantian, mohon maaf tidak sempat disemprot ulang saat pergantian orang yang duduk. Ada beberapa pelayat yang telah mawas diri dan yang memilih untuk berkumpul diluar ruang duka, mendekat untuk memberikan penghormatan dan foto bersama, kemudian tinggal di luar ruangan.

Gambar jarak antar kursi

6. Tidak ada meja kudapan. konsumsi disediakan, tetapi telah dibungkus dan pelayat dipersilahkan untuk mengambil saat meninggalkan ruangan, sehingga tidak ada yang buka masker untuk makan dan bahkan minum. Awalnya oleh jasa kedukaan, kami ditawari makanan yang “hangat” seperti bakso, bakmoy, soto, atau menu lainnya, yang jujur saja harganya lebih murah, tetapi ini bisa menjadi sumber penularan, karena makan bersama adalah salah satu penyebab cluster keluarga penularan Covid-19, dan juga alat makan yang digunakan bersama juga bisa menjadi sumber penularan. Keluarga yang seharian ada disana istirahat makan di mobil atau tempat lain yang jauh dari keramaian

7. Sediakan sarana cuci tangan dan ekstra hand sanitizer. Ada kerabat yang membawakan pengukur suhu sehingga setiap pelayat diukur suhunya sebelum diizinkan masuk ke ruang duka (Suk Ming, duo xie nin), saya sama sekali tidak kepikiran hal ini, tapi beliau tanpa diminta membawakan dan menjadi petugas pemeriksa. Ada hal ini pun, masih ada pelayat yang terlewat, karena banyak akses untuk masuk.

8. Seluruh pembawa acara memakai masker, walau pendeta, tetap tidak kebal Covid ya. Karena microphone hanya ada 1, maka di beri sarung untuk tiap pembicara, dan hand rub setiap selesai menyentuh barang yang digunakan bersama.

9. Persingkat acara, sehingga keluarga bisa beristirahat cukup untuk menjaga kesehatan. Hindari berkumpul hingga larut malam.

10. Terakhir adalah rajin mengingatkan. Kecenderungannya adalah saat seseorang semangat bercerita, maka dia akan refleks melepaskan maskernya, yang menghalangi bercerita lebih leluasa, tapi ya mohon maaf, kami sudah kesusahan, mohon pengertiannya untuk menyampaikan penghiburan atau ungkapan duka cita lain dengan metode selain droplet.

Akhir kata saya ingin menyampaikan bahwa artikel ini adalah sharing dari pengalaman pribadi yang pasti ada banyak kekurangannya, yang diatas adalah usaha sebisanya dalam satu malam menyusun acara persemayaman agar minim resiko; bukan pedoman atau standar minimal, bukan juga artikel jurnal imiah yang sahih apalagi penelitian dengan kontrol dan randomisasi. Hanya sedikit berbagi mengenai beberapa cara untuk tetap aman dimasa duka, semoga bermanfaat bagi yang lain.

Salam Sehat, salam entrepreneur

Penulis : Florence Pribadi, dr., M.Si.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *