Identifikasi Jenazah Korban Bencana

Identifikasi Jenazah Korban Bencana

Pada awal tahun ini kita telah dikejutkantkan tragedi jatuhnya pesawat Sriwijaya air SJ 182, disusul dengan terjadinya gempa bumi, tanah longsor dan banjir bandang di beberapa daerah. Saat masa evakuasi semua jajaran terkait akan bekerja keras untuk dapat sesegera mungkin menemukan korban baik yang masih hidup maupun yang sudah meninggal. Setelah para korban yang mengalami luka mendapatkan perawatan, tantangan terbesar yang dihadapi para petugas adalah identifikasi jenazah para korban, karena ada jenazah yang sulit dikenali sebab telah mengalami pembusukan ataupun tidak utuh lagi. Oleh karena itu para keluarga korban diharapkan dapat menyerahkan data antemortem di tempat-tempat yang telah ditentukan.

Data antemortem adalah kondisi atau ciri-ciri korban semasa masih hidup yang antara lain dapat berupa copy rekam medis, rekam gigi, kartu identitas dan beberapa barang pribadi serta data DNA keluarga langsung. Semua data ini akan digunakan dibandingkan dengan data postmortem yaitu ciri atau kondisi setelah korban meninggal atau ditemukan.

Ada beberapa cara untuk membandingkan/identifikasi data-data tersebut :

  1. Sidik jari. Sidik jari pada setiap orang adalah khas dan berbeda dari satu orang dengan orang lain. Sampai saat ini pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang dianggap paling tinggi untuk menentukan identitas seseorang. Dengan demikian harus dilakukan penanganan yang sebaik-baiknya terhadap jari tangan jenazah, misalnya dengan membungkus tangan jenazah dengan kantong plastik
  2. Struktur gigi dan rahang adalah unik pada setiap orang, sehingga hal ini dapat digunakan sebagai cara untuk identifikasi jenazah. Pemeriksaan dapat dilakukan dengan cara manual, sinar X, dan pencetakan gigi dan rahang untuk kemudian dibandingkan dengan data antemortem.
  3. Pemeriksaan golongan darah jenazah; untuk jenazah yang telah membusuk dapat dilakukan dengan memeriksa rambut, kuku dan tulang.
  4. Identifikasi jenazah juga bisa dilakukan dengan tes DNA, cara ini dianggap salah satu cara yang paling akurat bahkan saat kondisi jenazah sudah tidak utuh lagi
  5. Memanfaatkan rekam medis saat masih hidup dan membandingkan dengan kondisi jenazahnya, misalnya riwayat operasi, bekas luka, tahi lalat, tanda lahir, tindik, tato, implant, dan kelainan patologis.
  6. Identifikasi tulang kerangka, dapat memastikan bahwa kerangka tersebut adalah kerangka manusia,dan dengan pemeriksaan anthropologic dapat menentukan ras.
  7. Benda-benda yang dipakai, misalnya perhiasan, pakaian terakhir.

Perkembangan tehnologi seperti tehnologi DNA tentu mempunyai peranan yang besar untuk membantu identifikasi jenazah para korban.

Semoga para jenazah yang telah ditemukan bisa cepat diidentifikasi sehingga dapat segera diserahkan kepada keluarganya.

Aamiin……

Penulis : dr. Sudibjo, MS., PA (K)

Dosen Anatomi

Fakultas Kedokteran Universitas Ciputra

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *