Tidak Hanya Facebook dan Instagram Ads, Kenali Ragam Digital Marketing

[Ditulis oleh Hadjar Chanissa Nur Malika, FIKOM 2020]

Ilustrasi: Peluang Kerja di Bidang Digital Marketing | Sumber: Carlos Muza/Unsplash

“Pekerjaan di bidang digital marketing semakin hari, semakin banyak dibutuhkan. Melihat banyaknya masyarakat yang menggunakan internet dalam kehidupan sehari-harinya, membuka peluang bagi para pebisnis untuk melakukan pemasaran secara digital. Bayangkan pengguna internet di Indonesia sampai pada kuartal II tahun 2020 telah mencapai 196,7 juta (APJII, 2020).”

Tidak dapat dipungkiri bahwa menjadi seorang digital marketer saat ini seolah menjadi sasaran pekerjaan yang lezat bagi seseorang. Teknologi yang berkembang, arus globalisasi makin meluas, dan pasar yang terkoneksi di seluruh dunia menjadikan profesi ini semakin dibutuhkan. Banyaknya romantisasi bekerja di perusahaan start-up dengan gaji dua digit turut menjadi pemicu yang menjadikan banyaknya orang yang tertarik terjun ke profesi ini. Namun, yang perlu kita ketahui adalah, apa saja profesi seorang digital marketer? Apa saja skill yang harus dimiliki oleh seorang digital marketerBeriklan dengan mengutak-atik Instagram dan Facebook Ads? Membuat video pendek untuk konten TikTok atau Reels? Menulis konten untuk web dan medsos? 

Menjadi seorang digital marketer tidak hanya melulu soal iklan dan sosial media, lebih jauh lagi digital marketer juga harus mampu menganalisa peluang pasar agar strategi yang dibuat bisa diterapkan dengan baik dan mendapatkan hasil yang diinginkan.  

Ilustasi: Content & Social Media Manager | Sumber: Twitter/@dinikopi13

 

  • Content dan Copy Writer 

Ilustrasi: Menjadi Copywriter | Sumber: Twitter/@dinikopi13

Bagi yang suka menulis dan tertarik di dunia pemasaran, menjadi copy atau content writer mungkin bisa jadi pilihan yang tepat untuk berkarir di dunia pemasaran. Menjadi seorang penulis kopi atau konten tidak cukup mahir dalam menulis saja, namun juga harus menganalisa tulisan seperti apa yang bisa tampil dan memberikan timbal balik yang sesuai. 

Untuk jobdesc memang berbeda antara copy dan content writer. Umunya, seorang copywriter akan menuliskan untuk iklan di billboard, landing page situs wb, media sosial, email pemasaran, televisi, hingga radio. Menulis copy mungkin tidak menulis tulisan yang panjang, biasanya copywriter akan menuliskan tulisan interaksi, seperti tagline yang mudah diingat dan kalimat persuasif lainnya. Dalam membuat sebuah copy dibutuhkan kemampuan riset pasar untuk membantu mengelola kata yang nantinya akan dibuat menjadi suatu kalimat. Kalimat ini harus bersifat CTA atau Call to Action. Maka dari itu, tidak sembarang orang bisa menulis sebuah copy, sebab tidak hanya tulisan yang dihasilkan, namun juga awareness,dan penjualan. 

Sementara untuk content writer, lebih berfokus pada penulisan konten yang bersifat menghibur atau memberi edukasi. Biasanya, content writer akan menulis sebuah artikel di berbagai platform, seperti artikel web perusahaan atau mini blog di sosial media milik perusahaan. Dalam beberapa kasus, seorang content writer juga dituntut untuk menulis skrip video atau iklan radio yang berbentuk drama.  Tidak hanya sekadar menulis konten, namun seorang content writer juga harus bisa membuat plotting konten yang menarik, pandai melihat sesuatu yang sedang trend, hingga menganalisa konten mana yang menarik dan menaikkan engagement terhadap perusahaan. 

  • Social Media Strategist dan Social Media Specialist 

Ilustrasi: Social Media Specialist | Sumber: Pixabay

Media sosial saat ini adalah lahan empuk untuk melakukan marketing. Dari kalangan manapun, mulai dari UMKM, perusahaan kecil, perusahaan besar, atau agensi semuanya menggunakan media sosial yang disesuaikan dengan target pasarnya untuk menggaet customer lebih banyak. Dalam melakukan marketing di media sosial, tentu diperlukan treatment khusus di setiap platform sosial medianya. Misalnya, konten video di TikTok tentu akan berbeda jika diaplikasikan ke Twitter yang mana berbasis tulisan pendek. Maka dari itu, diperlukan adanya Social Media Strategist dan Social Media Specialist

Secara garis besar memang jobdesk yang diberikan terlihat hampir sama. Di beberapa perusahaan juga terkadang dua pekerjaan ini juga terlihat sama saja. Namun, tentu masih ada perbedaan antara keduanya.  Social media strategist kadang disebut juga sebagai content strategist. Mereka adalah orang yang bertanggung jawab untuk mengatur strategi dalam setiap konten yang dikeluarkan oleh perusahaan. Seorang social media strategist selain harus melek teknologi, mereka juga harus jeli dalam menerjemahkan data yang telah diolah. Nantinya data inilah yang akan mereka gunakan untuk mengatur strategi berpromosi, melakukan campaign agar mencapai KPI (Key Performance Indicator), hingga mengatur konten seperti apa yang harus dibuat. 

Sementara untuk social media specialist, mereka adalah orang-orang yang mengeksekusi strategi dari social media strategist. Misalnya, akan membuat konten harian dari jadwal konten yang sudah dibuat oleh social media specialist, hingga membuat keperluan untuk brand campaign. Untuk konten yang dibuat ada berbagai macam karena harus disesuaikan dengan platform sosial media, mulai dari video, desain, artikel, podcast dan lainnya. 

  • SEO dan SEM Specialist 

Ilustrasi: SEO Specialist | Sumber: Pixabay

Hal yang tidak kalah penting dalam melakukan pemasaran digital adalah optimisasi pada web dan memaksimalkan konten agar mendapat traffic yang tinggi. Di dunia yang serba cepat, informasi kebanyakan dicari melalui Google atau sosial media. Itulah mengapa pentingnya seorang SEO atau SEM specialist. Jobdesk yang dilakukan juga hampir sama hanya saja teknisnya yang sedikit berbeda. SEO dan SEM specialist memiliki tujuan untuk memaksimalkan traffic website atau sosial media. Mereka juga bertanggung jawab untuk menaikkan posisi website perusahaan di kolom pencarian atas agar mudah ditemukan oleh calon customer. Maka dari itu, selain harus memahami teknis seputar Google dan website, mereka harus mampu memahami algoritma yang berlaku dan mengolah data sedemikian rupa agar website perusahaan bisa mudah dijangkau. 

Selain beberapa pekerjaan di atas, tentunya masih banyak pekerjaan dalam digital marketing yang ‘lebih’ dari sekadar hanya memasarkan produk atau jasa. Pekerjaan ini semakin berkembang seiring berjalannya waktu karena menyesuaikan dengan kebutuhan pasar. Digital marketer juga bukan hanya seorang ‘sales’ saja yang cukup menawarkan produk dan membuat penjualan, namun lebih kompleks dari itu. Digital marketer harus melakukan analisa, mengolah data, membuat strategi, sebelum akhirnya mendapatkan penjualan. 

Berbagai pekerjaan dalam digital marketing lainnya ada influencer manager, digital strategist, desain grafis, PPC (Pay per-click)  specialist, dan lainnya. Dalam bidang ini tentu dibutuhkan skill yang banyak, namun kita tidak perlu mengerjakan semua hal diatas menjadi satu pekerjaan, cukup fokus dengan skill apa yang kita miliki. Digital marketing memang sangat luas, akan tetapi kita bisa memilih pekerjaan mana yang sesuai dengan kemampuan dan keinginan kita. Tertarik terjun di bidang digital marketing?

Leave a Reply

Your email address will not be published.