Pilkada Surabaya Selama Pandemi Covid-19: Tontonan di Balik Kampanye Politik

[Ditulis oleh Bunga Nabilla dan Gabriela LD Swastika]

Kegiatan manusia sehari-hari memiliki kaitan yang erat dengan perkembangan teknologi dan informasi, segala bentuk interaksi akan terus berkembang sejalan dengan berkembangnya teknologi yang tidak ada hentinya. Dalam era Internet of Things (IoT) masyarakat lebih dominan menggunakan internet. Manusia mulai menemukan kenyamanan, kemudahan, dan keefektifan yang ditawarkan oleh teknologi era kini. Khususnya pada masa pandemi seperti ini, internet memiliki peran yang sangat besar dalam berbagai aspek kehidupan manusia, mulai dari untuk memenuhi kebutuhan pendidikan, ekonomi, sosial, budaya, bahkan hingga bidang politik.

Berbicara mengenai kebutuhan politik, terdapat fenomena yang menunjukkan peran Internet of Things sebagai panggung politik yang dapat dipublikasikan di media baru hingga media sosial. Mengapa ? Hal ini berkaitan dengan adanya pembentukan citra atau identitas organisasi dalam memberitakan kegiatan-kegiatan positif dan kampanye melalui media sosial untuk mendapatkan simpati serta suara rakyat pada ruang publik. Media sosial merupakan tempat yang menyediakan ruang yang hampir tanpa batas dan batas geografis, namun ruang maya juga terletak pada sifatnya yang sementara. Artinya, branding suatu organisasi harus dilakukan secara konsisten agar identitas yang diciptakan tetap eksis dan mampu bertahan di ruang lingkup publik.

Dua Paslon Saat Pilkada Surabaya 2020 | Sumber: Jatimnet.com

Peran media sosial sebagai panggung dalam membangun identitas politik semakin kuat dikarenakan adanya larangan yang diatur dalam pasal 58 KPU 13/2020 mengatakan kampanye dan rapat harus dilakukan melalui media online dan sosial atau biasa disebut kampanye virtual. Kebijakan tersebut dimanfaatkan oleh dua pasangan calon, Eri Cahyadi-Armuji dan Machfud Arifin Mujiaman dalam Pilkada Surabaya. Masa kampanye dimulai dari 23 September hingga 5 Desember 2020 dan Pilkada serentak dilaksanakan pada 9 Desember 2020. Kampanye yang dilakukan di media sosial tetap berada di bawah pengawasan Badan Pengawas Pemilihan Umum (BAWASLU) mengingat informasi yang tersebar tidak luput dari informasi yang menyesatkan atau yang dikenal dengan hoaks.

Saat ini, media sosial menjadi media favorit untuk engagement audiens dengan jumlah penggunanya yang signifikan. Pada tahun 2020 pertumbuhan pengguna media sosial di Indonesia mengalami peningkatan yang pesat dibandingkan tahun sebelumnya. Pengguna media sosial telah melampaui 10 juta dan itu menjadi bagian dari budaya populer. Instagram dan TikTok merupakan dua jenis media sosial yang memberikan peluang untuk dimanfaatkan oleh para calon politikus calon Walikota di Surabaya, Jawa Timur. TikTok dinobatkan sebagai aplikasi terlaris oleh perusahaan riset aplikasi, Sensor Tower. Pengunduhan TikTok di perangkat iOS dan Android terakumulasi lebih dari 63,3 juta pada tahun 2020.

Di masa pandemi COVID-19, kampanye virtual dinilai berdampak pada wacana politik. Pasangan calon, Eri Cahyadi-Armuji dan Machfud Arifin Mujiaman, tidak hanya digambarkan sebagai figur publik, melainkan juga selebriti dunia politik yang kini sedang diwujudkan sebagai cara baru untuk menghubungkan aktor politik dengan netizen/warga negara. Unggahan dua pasangan calon tersebut membentuk gambar warga Surabaya sebagai tontonan.

Hal ini dibuktikan dengan aksi  paslon @ericahyadi_ dan @cak.machfudarifin yang aktif mengunggah postingan pesan politik visual yang tertulis di akun Instagram mereka,  seperti postingan visi dan misi contohnya. Selain itu, pasangan calon, Eri Cahyadi-Armuji dan Machfud Arifin-Mujiaman juga menjadikan akun TikTok mereka sebagai sarana untuk berhubungan dengan warga yang diincar sebagai calon pemilih. TikTok sebagai media sosial yang menonjolkan fitur videonya digunakan secara lebih hidup. Banyak acara langsung selama kampanye politik online direkam dan diunggah di TikTok. Mereka beragam, mulai dari rapat terbatas dengan koalisi, talkshow yang mengundang selebritis tokoh masyarakat lain, kunjungan publik, hingga kegiatan live. Hal tersebut menunjukkan adanya pemilihan media sosial dalam menyampaikan jenis informasinya sesuai dengan kebutuhan.

Kegiatan kampanye virtual tersebut seolah menjadi tontonan publik Surabaya Raya yang akhirnya mempengaruhi emosi warga Surabaya, dapat dikatakan bahwa warga menangkap hasil dari serangkaian gambar yang terjalin dengan interaksi sosial di mana teks tersebut berada—media online. Disini, peran warga yang kemudian menjadi pemilih, juga diawasi oleh para elite kekuasaan dan dijadikan komodifikasi agenda politik mereka. Hasil dari kampanye virtual tersebut akhirnya dibuktikan dengan hasil akhir bahwa, Pilkada Surabaya dimenangkan oleh pasangan calon nomor urut satu, Eri Cahyadi diangkat sebagai walikota Surabaya dan Armuji sebagai wakil walikota. Mereka menang dengan perolehan suara sebesar 57% yang dihitung dalam penghitungan suara final dan dengan selisih 14% dari calon lawan.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa media sosial memiliki ciri sebagai media yang dapat menyampaikan informasi dengan cepat. Ada tim pendukung yang mengelola akun Instagram dan TikTok pasangan calon. Penggunaan media sosial untuk berkampanye dinilai sangat efisien selama situasi pandemi. Biaya penggunaan media sosial juga relatif lebih murah dibandingkan dengan kampanye tradisional yang harus mencetak puluhan ribu kertas. Namun perlu diperhatikan juga, penggunaan media sosial saat berkampanye di Instagram dan TikTok tidak dapat diakses oleh seluruh kalangan orang tua. Maraknya hoaks yang disebarkan oleh oknum atau kelompok yang tidak bertanggung jawab juga telah terungkap dalam Pilkada Surabaya 2020.

Leave a Reply

Your email address will not be published.