Mengenal Aliran Grunge: Bermula Dari Musik Hingga Kultur

[Ditulis oleh Hadjar Chanissa Nur Malika, FIKOM 2020]

Ilustrasi: Mengenal Musik Grunge | Sumber: Andrea Piacquadio/Pexels

Sebagian dari kita mungkin sudah paham dan mengenal betul apa itu aliran grunge? Atau mungkin hanya sekadar tahu bahwa grunge hanyalah salah satu konten yang sering muncul di aplikasi Pinterest. Grunge saat ini memang tidak terlalu dikenal, terlebih meledaknya aliran musik lain seperti K-pop, rock, atau pop yang masih jadi primadona. Meski begitu, aliran grunge masih punya penikmatnya tersendiri yang biasanya disebut sebagai ‘grungies’. 

Nirvana. Banyak orang yang mungkin sering mendengar nama band ini atau bahkan menjadi salah satu penggemarnya. Mungkin, nama Kurt Cobain adalah nama yang terlintas ketika seseorang menyebut nama Nirvana. Yap, nama Nirvana dan Kurt Cobain seolah beriringan ketika ada pembahasan mengenai aliran grunge. Memangnya, aliran grunge adalah aliran musik seperti apa dan bagaimana awal mulanya hingga menjadi suatu kultur?  Musik grunge sering juga disebut Seattle Sounds yang termasuk dalam sub-genre Rock Alternatives. Disebut Seattle Sounds karena memang aliran musik ini mulai dikenal di sekitaran kawasan Seattle. Aliran musik ini awalnya hanya terkenal di kawasan lokal Barat Laut,  Amerika Serikat di pertengahan tahun 80-an. Lalu, aliran grunge mulai meluas dan terkenal di tahun 90-an. Saat itu grunge masih menjadi nama yang samar didengar di masyarakat. Berbeda dengan jenis aliran musik lain yang jauh dikenal seperti pop, jazz, hingga rock. Belum diketahui secara pasti siapa pencetus nama grunge pada awalnya, namun banyak dipercaya bahwa Mark Arm, seorang vokalis band Green River menggunakan kata ini pertama kali pada tahun 1981. 

Ciri khas dari lagu dengan aliran grunge bisa dikenali dari dentuman musik hingga makna liriknya. Distorsi gitar yang keras, riff gitar, hingga beat drum yang kencang menjadi ciri aliran musik grunge. Aliran grunge sendiri banyak dipengaruhi oleh beberapa aliran seperti punk rock, heavy metal, hardcore punk, hard rock, alternative rock, trash metal, sludge metal,  hingga noise rock. Adapun turunan dari aliran grunge ada post-grunge dan nu metal. Dari makna liriknya, aliran grunge banyak memiliki arti yang dalam. Dari makna lirik inilah yang membuat nama grunge turut meluas. Lagu dengan aliran grunge biasanya memiliki arti yang mendalam karena berisi tentang pengabaian, isu sosial, trauma psikologis, keinginan untuk kebebasan (liberalisme), hingga feminisme. 

Musik dengan nada yang berbeda, hingga isi lirik yang penuh arti membuat aliran ini mulai digemari di tahun 1990-an. Terlebih ketika Nirvana tampil MTV Unplugged di tahun 1992. Nirvana membawakan album Bleach dan album kedua Nevermind. Di album Nirvana Nevermind dan lagunya Smells Like Teen Spirit seolah mewabah hingga mampu menggeser album Michael Jackson yang ada di puncak billboard kala itu. Di saat itu juga banyak band grunge yang mulai bergabung dengan label rekaman komersil. Kesuksesan Nirvana dianggap menjadi motivasi bagi band lainnya untuk bisa memperkenalkan aliran ini. 

Beberapa band yang dianggap memperkenalkan aliran ini adalah Nirvana, Seattle, dan Green River. Sedangkan, ada lima band lain seperti Soundgarden, Melvins, Malfunkshun, Skin Yard, dan The U-Men yang merilis album kompilasi dengan judul Deep Six di tahun 1986. Dari kompilasi album ini, grunge semakin banyak mendapat perhatian. Tak hanya di Barat, Indonesia memiliki beberapa band yang beraliran grunge yang tidak kalah bagusnya dengan band yang ada di Barat. Sebut saja, Navicula, Cupumanik, Besok Bubar, Depresi Demon, hingga Ahmad Band. Band-band grunge asal Indonesia banyak yang menyampaikan aspirasinya hingga sindiran politik dalam lagunya. Sebut saja Navicula-Busur Hujan atau Ahmad Band-Distorsi. 

Kata grunge sendiri banyak memiliki makna seperti ‘sampah’, ‘kumuh’, hingga ‘kotoran’. Maka dari itu tak jarang, banyak yang menilai seseorang itu grungies hanya dari pakaiannya. Hal ini dikarenakan banyaknya musisi grunge yang berpenampilan ‘gembel’, tak terawat, dengan pakaian serba gelap. Penampilan seperti ini rupanya dianggap sebagai suatu ekspresi oleh grungies. Tampilan apa adanya dan semaunya dianngap sebagai representasi anak muda yang ingin kebebasan tanpa terikat aturan tertentu. Rupanya, aliran musik grunge mulai redup di tahun 1994 ketika Kurt Cobain meninggal dunia. Meninggalnya Kurt Cobain seolah menjadi akhir dari kepopuleran musik grunge, karena banyaknya band dengan aliran sama namun tidak bisa sesukses Nirvana. Meski begitu, aliran musik ini mempunyai turunan dan kultur grunge tetap eksis hingga saat ini meski banyak perubahan. 

Bermula dari aliran musik, grunge seolah menjadi gaya hidup anak muda kala itu. Meski saat ini grungies masih ada, namun tentunya berbeda dengan grungies di awal ketenaran di tahun 80-an. Saat itu anak muda yang hidup dengan kultur grungies benar-benar menjadi orang yang sangat tidak tertata dan berpenampilan sangat kumuh. Berbeda dengan zaman masa kini yang menjadikan grunge salah satu tampilan mode. Grunge menjadi dicirikan sebagai pakaian gothic dengan nuansa gelap. Tak hanya di busana, berbagai bentuk riasan a la Grunge juga banyak dibuat oleh content creator. Meski berbeda dengan konsep grunge pada awalnya, kultur grunge masa kini menjadi bukti bahwa kultur grunge tetap memberikan corak tersendiri terlepas peminatnya yang tidak terlalu banyak dibandingkan kultur lainnya yang selalu eksis seperti reggae, ska, atau K-pop

Banyak penikmat musik grunge yang tidak ingin disebut sebagau grungies. Tak hanya penikmat namun juga musisi grunge seperti Nirvana tidak ingin disebut sebagai seorang grungies. Hal ini disebabkan karena mereka tidak bangga dengan gaya hidup seorang grungies yang kotor, kumuh, suka merampok, narkoba, dan hal dengan stigma negative lainnya. Saat itu grungies juga kerap dianggap meresahkan karena setiap adanya acara gigs mereka akan membuat formasi untuk moshing dibawah pengaruh alcohol tanpa tahu isi lagu dan makna dari lagu yang dibawakan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.