Media Cetak Vs Media Sosial, Siapakah yang Akan Bertahan?

Media Cetak dan Media Online [Foto: jagatreview.com]

[Ditulis oleh Kirana Ratu Sekar Kedaton, FIKOM 2020]

Media sosial merupakan sebuah wadah untuk melakukan hubungan secara interpersonal maupun kelompok. Wadah ini dikemas secara praktis seiring berjalannya teknologi komunikasi dan internet. Internet dan media sosial berkembang pesat secara beriringan sejak pertengahan tahun 2000. Perkembangannya yang sangat cepat dan perubahan desain UI maupun UX menambah minat masyarakat untuk berubah haluan dari media cetak ke media sosial. Hal ini juga didukung oleh data dari inet.detik.com bahwa terdapat lima media cetak yang runtuh akibat hadirnya internet. Kelima media tersebut adalah Seattle Post-Intelligencer, media besar yang berdiri di tahun 1863 dan beroperasi di Seattle, Amerika Serikat, sejak tahun 2000 tersebut mengalami kerugian besar. Hearest Corporation yang membawahinya yang hendak menjual media ini pada tahun 2009 ternyata berpindah haluan memanfaatkan internet dan berhenti mencetak berita mereka dengan tujuan untuk mewadahi media mahsyur tersebut dan tetap eksis hingga kini dengan 208 ribu pengunjung di setiap harinya.

Kedua adalah The Christian Science Monitor (CSM) yang berdiri pada tahun 1908 di Boston merupakan media cetak yang terbit setiap hari. Namun, di tahun 2008 kerugian yang mencapai 18,9 jut USD ini menyebabkan mereka menghentikan cetakan dikarenakan kalahnya peminat cetak dengan peminat online. Sejak saat itu, CSM berpindah menjadi media online. Ketiga, Times Picayune adalah koran tertua di Amerika Serikat yang berdiri sejak tahun 1837 dan sukses hingga ketika internet tiba, cetakan yang dilakukan setiap hari hanya dilakukan tiga kali dalam seminggu. Kerugian ini membawa mereka berpindah menjadi website koran dan bertahan hingga saat ini.

Keempat, Rocky Mountain, koran cetak yang berdiri pada tahun 1859 di Denver yang sempat jaya dan terpaksa tutup di tahun 2008. Namun, kesadaran melek teknologi membuatnya hadir kembali dalam website di tahun berikutnya. Kelima, Cinninati Post, yang telah dikenal luas sejak berdirinya di tahun 1881 ini ternyata juga mengalami kerugian akibat adanya internet sejak tahun 2004 dan berhenti di tahun tersebut. Akan tetapi, kematian sesaat perusahaan ini bangkit kembali ketika sang pendiri mengevolusikan media cetak mahsyur ini ke dalam website bernama KYPost.com.

Berdasarkan hal tersebut, dapat kita ketahui ternyata penyebab runtuhnya media cetak tersebut dikarenakan adanya terjangan internet. Akan tetapi, menurut Dahlan Iskan, mantan CEO Jawa Pos Group, terdapat tiga hal yang menjadi faktor penurunan oplah pada cetakan media, yaitu pertama, kesalahan manajerial di mana mencakup ketidakmampuan pengelolaan SDM, jenjang karier karyawan, penghasilan, keuangan serta apresiasi terhadap karyawan. Kedua, rendahnya kualitas redaksi yang disebabkan oleh karena kurangnya kelihaian pemimpin redaksi dalam mengolah kata. Salah satu faktor yang melatarbelakangi hal tersebut adalah budaya membaca yang turun drastis diakibatkan adanya internet yang mengambil alih media dalam bentuk teks menjadi audiovisual yang lebih digemari oleh remaja millenial. Ketiga, kenaikan harga kertas juga mempengaruhi percetakan sebuah informasi. Ketidakseimbangan antara usaha dan imbal balik yang didapat menjadi pertimbangan mengapa media cetak harus mundur dari eksistensinya. Akan tetapi, kemunduran media cetak masih menjadi misteri dikalangan para ahli sejak awal mual ditemukannya internet.

Menurut artikel pada antaranews.com, terdapat enam pendapat mengenai pergunjingan media cetak dan media sosial yaitu ahli yang berpandangan romantis yang percaya bahwa media cetak akan tetap terus ada, isi berita akan tetap tersangkut pada redaksi sehingga tulisan cetak tidak akan pernah punah, budaya yang selalu berubah memungkinkan media cetak musnah, biaya cetak koran yang semakin mahal akan menggusur media cetak, perkembangan media sosial dan cetak akan tetap beriringan seperti contoh TV dan radio, ketidakadaan sekat dalam berkomunikasi akan menggusur media cetak dan seluruhnya akan berganti menjadi media online.

Pendapat yang lebih menyepakati hilangnya media cetak ini didasarkan juga mengenai meningkatnya pengguna media sosial yang meningkat dari tahun ke tahun. Generasi Y dan Z yang mendominasi dunia saat ini akan membawa pengaruh besar bagi generasi berikutnya dengan memberikan aksen candu terhadap internet. Sementara pendapat yang menyetujui media cetak tetap berjalan mendasarkan pemikirannya bahwa media cetak dan sosial bisa beriringan. Laman kompas.com menceritakan jurnalisme dan media sosial adalah dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Redaksi media akan dibutuhkan dimanapun dan kapanpun, namun di dunia modern redaksi yang dihasilkan akan sedikit berbeda dan lebih sederhana dan disukai oleh masyarakat milenial. Di samping itu, ketika redaksi cetak terintegrasi dengan baik dengan media sosial sesungguhnya akan memenuhi kualitas informasi yang baik sesuai dengan kunci dalam mengendalikan perusahaan media menurut  Dahlan Iskan, yaitu dilihat dari sisi kualitas redaksi.

Berdasarkan paparan di atas, meskipun internet terlihat sangat banyak mengambil porsi dari eksistensi media cetak. Ternyata internet memiliki nilai manfaat yang lebih besar tanpa diketahui secara langsung. Kita tahu internet dapat memberi informasi dengan cepat dan memfilter sesuai dengan keinginan kita, ternyata memiliki andil yang besar dalam kehidupan manusia. Seperti yang diceritakan pada film Searching yang rilis tahun 2018, film yang menceritakan tentang dampak internet ini merinci segala aspek dari teknologi multifungsi ini. Dalam film ini, diceritakan seorang ayah yang berhasil menemukan anaknya kembali setelah 16 tahun terpisah dan itu dilakukan dengan adanya internet. Sang Ayah menelusuri jejak tracking media sosial sang anak dengan bantuan detektif dengan menelusuri teman, chat, arsip cerita, dan hack yang terjadi pada akun media sosial sang anak. Disini dijelaskan juga bahwa sang ayah mampu menguak kejahatan siber berupa perampokan saldo tunai milik korban yang dilakukan oleh temannya dengan mengambil foto, data pribadi, dan data kecelakaan yang ada. Keseluruhan kejadian tersebut menampakkan keseluruhan sisi positif dan negatif dari internet dengan singkat, padat, dan jelas.

Dapat kita simpulkan bahwa  internet memiliki andil besar dalam kehidupan. Meskipun sisi baik yang didapat begitu banyak, ternyata sisi negatif juga menghantui pengguna. Kecepatan informasi yang didapatkan melalui media sosial dan kemudahan dalam berkomunikasi akan menimbulkan kecanduan ketika kita tidak berhati-hati akan menimbukan kejahatan bagi kita sendiri, seperti kejahatan siber, pencurian uang, pencurian data, hingga teror yang tidak mampu kita bayangkan yang didapatkan dari orang yang tidak kita kenal di media sosial. Oleh sebab itu, sebagai pengguna media, kita harus selalu bijak dalam menanggapi apapun yang terjadi. Meskipun dunia maya terlihat begitu menakutkan, namun tidak menutup kemungkinan bahwa media cetak juga memiliki sisi negatif karena adanya rekaan yang dilakukan oleh beberapa media demi mendongkrak popularitas media cetak yang kian menurun dari tahun ke tahun. Dengan demikian, kita sebagai pengguna media harus menanggapi keduanya dengan bijak dan saling mendukung kedua media tersebut. Hal ini dilakukan agar terjadi keseimbangan produksi kedua media tersebut di mana keduanya juga menjadi salah satu jantung perekonomian dan mobilitas dalam suatu negara.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *