Ilustrasi personal branding | Sumber: pexels.com

 

Tak ada salahnya menjadi orang introvert. Tidak perlu memaksakan diri untuk bisa berbaur dengan orang banyak di keramaian untuk mendapatkan kesenangan. Menjadi introvert memang cukup menyenangkan, tapi jangan lupa, dalam dunia bisnis dan karir ada beberapa hal yang harus dipelajari terutama dalam hal berkomunikasi dan bersosialisasi. Jika seorang introvert tidak bisa bersosialisasi dengan baik, maka tentu akan sedikit merepotkan jika akan berurusan dengan kolega atau klien. Umumnya orang introvert yang tidak bisa menguasai komunikasi dengan baik pernah mengalami beberapa hal berikut: 

  1. Mencoba memaksakan diri untuk tetap berada di suatu obrolan meski tidak nyaman. Sehingga hanya bisa menjadi pendengar atau justru meninggalkan obrolan. 
  2. Merasa gugup jika harus mengeluarkan pendapat di suatu grup diskusi atau di depan banyak orang seperti di panggung. 
  3. Merasa malas jika harus banyak bersinggungan dengan orang lain, seperti membatalkan acara hang out karena merasa membutuhkan waktu untuk menyendiri. 

Memang tidak semua orang dengan kepribadian introvert begitu, namun dalam beberapa kasus orang introvert yang tidak terbiasa dan tidak memiliki pengendalian diri yang bagus justru akan susah untuk beradaptasi dengan orang-orang baru, yang mana dalam dunia bisnis hal ini akan sedikit menghambat karir. Terutama dalam hal personal branding. Jika kita ingin membangun brand atau identitas diri kita yang ingin ditujukan kepada orang lain, maka jangan malu. Sebelum kita dapat menuju ke area yang lebih luas, kita bisa memulai menciptakan branding diri mulai dari langkah-langkah yang lebih kecil. Dengan memulai dari hal yang mudah untuk dilakukan, kita tidak akan merasa sangat tertekan untuk memaksakan diri kita dalam mencoba membaur di dalam keramaian. 

Ketika kita memaksakan untuk berbaur di keramaian atau mencoba untuk menjadi pembicara padahal belum terbiasa, maka seseorang yang tidak punya pengendalian diri akan terlihat tidak nyaman dan tentu orang yang melihat dan mendengar kita juga tidak akan nyaman. Mungkin jika di media sosial kita bissa menunjukkan lebih baik karena tidak berhadapan dengan langsung (karena hanya berhadapan dengan kamera). Namun, jika kita diminta untuk berbicara di depan umum, tentu orang lain akan dapat melihat diri kita yang sesungguhnya. Coba beberapa cara ini untuk membuat brand dirimu meski kamu seorang introvert

Bangun Identitas Brand-mu

Pisahkanlah identitas pribadimu dengan identitas brand atau identitas yang ingin kamu tunjukkan kepada kolega atau publik. Tentu kita ingin selalu terlihat baik di mata siapapun terutama kepada masyarakat. Jika kita melihat artis atau public figure, tentu kita pernah mendengar desas-desus rumor yang beredar berbeda dengan yang ada di berita. Misalnya, Raditya Dika jika melakukan stand up comedy atau podcast dapat menghidupkan suasana penonton hingga tertawa. Padahal, jika Raditya Dika sedang tidak perform, ia lebih banyak diam dan menghabiskan waktu sendiri. Atau seorang idol wanita yang dituntut untuk terlihat imut, ceria, dan ramah dengan orang lain jika tidak ada kamera ia menjadi seorang pendiam, cuek, dan tidak ingin banyak mengobrol. Maka untuk keperluan membangun identitasmu, kamu bisa membuat list kekurangan dan kelebihan dirimu.

Buatlah daftar apa yang ingin kamu lakukan sehingga orang lain dapat mempersepsikan dirimu seperti apa. Misalnya: kekurangan di antaranya pemalu, public speaking kurang, kurang pandai bersosialisasi, sedangkan kelebihan pintar membuat lirik lagu, bisa bermain instrumen musik, bisa bernyanyi. Apa yang ingin dilakukan? Membuat lagu dan video music cover di media sosial.

Nah, ketika sudah membuat daftarnya, maka kamu bisa mulai memikirkan apa yang ingin dipikirkan orang lain tentang dirimu. Misalnya, meski kamu pemalu dan tidak pandai bersosialisasi, kamu bisa mulai membangun identitas “seorang penyanyi indie dengan stage presence yang memukau”. Dalam The Alter Ego Effect oleh Todd Herman, “Alter ego Anda dapat digunakan sebagai teknik ampuh untuk mengaktifkan semua kualitas, karakteristik, dan kekuatan super yang Anda inginkan dan butuhkan saat Anda berada di berbagai ‘bidang permainan’ dalam bisnis Anda.” Misalnya keterlibatan berbicara, sales , webinar, dan sebagainya.

Tetapkan Batasan 

Ketika mencoba untuk membuat identitas brand, jangan lupa untuk menetapkan batasan. Jangan karena kita sedang menggebu-gebu ingin membuat persona di hadapan publik lalu mengiyakan semua tawaran undangan, seperti acara sosial atau hang out ke café. Diri kita adalah orang yang paling mengerti kemampuan dan kapasitas diri, maka dari itu jangan lupa untuk mengetahui kapan energi kita habis dan penuh. Jika merasa sudah cukup lelah, maka jangan memaksakan untuk memunculkan sisi ekstrovert. Maka tetapkan batasan seberapa jauh diri kita harus ‘menyamar’ di mode ekstrovert

Tentukan Tempat/Platform yang Nyaman 

Saat kita mulai untuk membuat personal branding dengan membuat unggahan/konten di media sosial.  Pastikan untuk menentukan tempat atau platform media sosial yang nyaman. Misalnya, jika kamu ingin merilis lagu atau cover video, kamu bisa unggah di media sosial seperti Instagram atau Youtube. Jika kamu tidak nyaman di salah satu platform, kamu bisa menyesuaikan dengan platform yang lain. Kamu tidak perlu juga mengunggah setiap hari, namun buatlah jadwal tetap dan khusus. Jika ingin fokus di satu platform tersebut, pastikan fokuskan personal branding-mu di situ, mulai dari konten atau unggahan hingga perlakuan terhadap audiensnya. 

Tunjukkan Potensi Semaksimal Mungkin 

Menjadi seorang introvert itu umumnya merupakan seorang pemikir dan analisis yang mendalam. Bahkan muncul stereotipe bahwa introvert susah untuk berbicara di hadapan publik dan memilih untuk bekerja di balik layar. Seperti pekerjaan IT yang katanya lebih didominasi oleh orang introvert. Maka dari itu, memaksimalkan potensi atau kelebihanmu sebagai introvert untuk bisa menunjukkan branding dengan baik. 

Konsisten 

Jangan lupa untuk selalu konsisten dalam membuat personal branding-mu. Tak hanya identitas yang ada di media sosial, namun juga identitas dari ‘alter ego’ ketika di dunia nyata. Selalu belajar untuk bisa melakukan pengendalian diri agar identitas yang kamu buat tidak berantakan. Maka dari itu, ketika kita sudah mulai melakukan personal branding, pelajari ilmu-ilmu lain yang menunjang keberhasilan personal branding-mu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu