[Ditulis oleh: Hadjar Chanissa Nur Malika, Mahasiswa FIKOM Angkatan 2020]

Ilustrasi: Komunikasi Interpersonal. Sumber: Francesco Carta Fotografo/Getty Images

Apa yang pertama kali kita pikirkan ketika mendengarkan kata “komunikasi”? Bicara? Cuap-cuap? Negosiasi? Apapun yang kita pikirkan mengenai komunikasi, tentunya ada banyak sekali di luar sana para ahli yang mendefinisikan apa itu komunikasi. Namun, yang akan kita bahas dalam tulisan ini bukanlah mendefinisikan apa itu konsep teori komunikasi. Dalam tulisan ini, kita akan belajar bagaimana bahwa komunikasi yang baik bukanlah bakat bawaan lahir yang dimiliki oleh setiap orang. Komunikasi yang baik adalah seni yang harus dipelajari dan diasah agar seseorang bisa mencapai kemampuan berkomunikasi yang optimal.

Apakah ada tolok ukur seseorang telah mahir berkomunikasi dengan baik? Secara matematis tidak ada parameter yang bisa mengukur apakah orang itu telah berkomunikasi dengan baik. Namun, jika bisa memilih, tentu kita akan lebih nyaman mendengarkan orang yang mengucapkan kata artikulasi dengan baik sambil menjaga kontak mata, daripada orang yang berbicara tidak runut sembari memainkan handphone ketika mengobrol.

Dalam dunia pendidikan, tidak ada mata pelajaran atau kuliah yang benar-benar berfokus pada kemampuan berkomunikasi. Kemampuan ini bukan hanya semata bisa melakukan public speaking atau mempersuasi khalayak ramai dengan jumlah ribuan orang. Lebih dalam lagi, kemampuan ini adalah kegiatan yang kita lakukan sehari-hari. Tidak mungkin kita tidak melakukan kegiatan berbicara atau berkomunikasi. Bagaimana cara kita mengobrol dengan baik? Bagaimana kita bernegoisasi dengan orang lain? Atau lebih ekstremnya lagi bagaimana kita bisa mempersuasi orang lain agar mau melakukan apa yang kita inginkan?

Dalam buku “Berbicara Ada Seninya: Rahasia Komunikasi Yang Efektif” yang ditulis oleh Oh Su Hyang adalah buku yang rasanya wajib dibaca semua orang, terutama orang yang berkecimpung di dunia komunikasi atau penyiaran. Buku ini juga mendapatkan banyak komentar positif salah satunya adalah dari Hwang Je Yeon, seorang mantan anggota Komite Siaran Pengawas KBS dan Program Director  VJ Special Forest.

“Orang yang pandai berbicara diperlukan ketika siaran. Baik penyiar, program director, pemandu acara, komedian, maupun talent tidak bisa mengabaikan ucapan. Buku ini diperlukan oleh semua orang yang terlibat dalam penyiaran”.

Siapakah Oh Syu Hyang? Ia adalah seorang dosen sekaligus pakar komunikasi yang terkenal di Korea Selatan. Dalam bukunya “Bicara Ada Seninya” atau The Secret Habits To Master Your Art of Speaking, Su Hyang banyak menjelaskan mengenai bagaimana cara untuk meningkatkan kemampuan berbicara yang baik dan efektif sehingga tujuan dari komunikasi tersebut tercapai dengan baik. Tujuan dari komunikasi bermacam-macam, ada yang ingin memberikan informasi, persuasi, atau negoisasi. Apapun tujuannya, pastinya akan lebih mudah untuk dicapai jika seseorang melakukannya dengan komunikasi yang baik.

Buku ini terdiri dari lima bab yang berisi:

  1. Perbedaan juara 1 dan juara 2 terletak pada ucapannya.
  2. Pintar mendengar, pandai berbicara.
  3. Ucapan yang membuat lawan bicara memihak kita.
  4. Beratnya ucapan ditentukan oleh dalamnya isi.
  5. Suara bagus bukan bawaan dari lahir.

Dalam buku ini juga tertulis sebuah rumus komunikasi yang terkenal yaitu:

CommunicationQuestion x Praise x Reaction (C=Q X P X R)

Rumus ini adalah gabungan dari beberapa aspek komunikasi yang penting. Suatu komunikasi yang baik bisa terjadi karena adanya pertanyaan, pujian, dan reaksi. Dalam rumus ini tentu diperlukan adanya kecakapan dalam komunikator dan komunikan dalam menyapaikan komunikasinya. Bagaimana kita menyampaikan informasi dan memberikan umpan balik yang baik terhadap lawan bicara kita.

Mari kita masuk ke dalam ringkasan bab pertama.

  1. Bab 1: Perbedaan juara 1 dan juara 2 terletak pada ucapannya.

Dalam bab ini dijelaskan mengenai cara untuk bisa berkomunikasi dan memberikan kesan yang kiat terhadap lawan bicara. Selain itu, melalui ucapan, kita bisa membuat seseorang tertarik dengan ucapan kita melalui storytelling. Dalam bab ini tersemat qoutes “Bicaralah layaknya pemimpin, maka ucapanmu akan menjadi nyata”. Kita sebagai komunikator patutnya memperhatikan kesan pertama saat memulai pembicaraan. Bukan tanpa alasan, ketika seseorang memiliki kesan pertama yang bagus dalam berkomunikasi, maka ia akan cukup mudah untuk membuat si komunikan untuk memahami dan memerhartikan si komunikator.

Dalam sub-bab “Nyawa” Logika dalam bab ini, buku ini menjelaskan bahwa dalam berucap, pastikan apa yang keluar dari mulut kita adalah hal yang logis dan berkesinambungan. Apakah kita pernah mendengar cerita orang yang kadang setinggi langit dan tidak masuk akal? Misal A berkuliah kedokteran hanya tiga tahun lalu langsung bisa melanjutkan spesialis di luar negeri? Terlihat tidak masuk akal bukan? Orang yang berucap tidak logis, tentu akan membuat attention komunikan menghilang dan orang lain tentu hanya akan membalas dengan anggukan saja dan ucapan “iya, iya”.

Ucapan yang logis itu adalah dasar dari sebuah komunikasi dan harus dilatih. Tips yang bisa didapat dari buku ini untuk bisa berkomunikasi dengan logika adalah:

  1. Berikan alasan yang tepat untuk argumen Anda. Seperti esai, pastikan apa yang keluar dari mulut kita adalah ucapan yang logis dan memiliki dasar argumen yang tepat.
  2. Hindari lompatan logika dan melebih-lebihkan. Memang logika adalah hal yang penting, namun jika penyampaiannya dilebih-lebihkan, orang lain tentu akan merasa ucapan kita hanyalah bualan.
  3. Konsisten dalam bersikap. Dalam hal ini adalah, ketika argumen kita terdengar lemah diantar lawan bicara kita, hendaknya kita tetap konsisten mempertahankan argumen kita, tentunya dengan alasan yang logis.
  4. Gunakan kata-kata yang sederhana. Terkadang ada orang yang ingin terlihat intelek dengan menggunakan bahasa Inggris dan kosakata ilmiah. Hal ini justru membuat komunikan menjadi bingung terlebih jika ia tidak mengerti maksud dari kosakata itu.
  5. Tetap tenang. Ada kalanya seseorang menjadi seorang yang sentimen ketika argumennya kalah. Bahkan hingga menyerang secara personal dan keluar dari arah topik pembicaraan. Dalam hal ini, kita harapnya tetap tenang dan tidak mengeluarkan emosi. Orang lain tentu akan lebih menghargai jika kita tetap terlihat tenang dan keras kepala.

Dalam sub-bab selanjutnya adalah “Mengungkapkan diri lewat storytelling”. Doug Stevenson konsultan presentasi di Amerika menyatakan bahwa seni bercerita adalah keterampilan yang sangat penting dalam hal apapun, bisnis, wawancara, mengajar, dan lainnya. Adapun empat unsur yang penting dalam melakukan storytelling adalah:

  1. Tema
  2. Konflik
  3. Simpati
  4. Solusi

Keempat unsur inilah yang akan membentuk storytelling kita menarik untuk didengarkan oleh lawan bicara. Bagi sebagian orang, berbicara di depan orang lain adalah hal yang sulit untuk dilakukan. Alasannya bermacam-macam, ada yang trauma akibat salah ucap atau kurang percaya diri sehingga menghasilkan komunikasi yang kurang baik, seperti berbicara terbata-bata dan sebagainya. Untuk mengatasi hal seperti ini, kita bisa membuat khayalan atau pikiran bahwa audiense atau komunikan tidak akan melakukan hal-hal menyeramkan seperti yang kita pikirkan. Misal, ketika kita mencoba untuk berpidato di depan ratusan orang. Untuk mengatasi rasa takut dan ketidakpercayaan diri kita bisa membuat narasi dalam pikiran kita seolah tidak ada orang di panggung atau tidak memikirkan gunjingan orang yang ada di bangku penonton. Hindari juga untuk merendahkan kapasitas diri seperti mengucapkan “Saya banyak kekurangan hari ini karena …” hal seperti ini akan membuat kepercayaan orang lain turun dan membuat mereka tidak tertarik untuk mendengarkan kita. Pastikan juga kita mempelajari isi atau konten materi dengan sangat baik, selain bertujuan untuk meyakinkan audiens, menguasai isi konten akan membuat kita lebih mudah untuk menyampaikan isinya.

Yang tidak kalah penting dalam bab ini adalah pentingnya bahasa nonverbal. 90% ucapan dibentuk oleh suara dan tubuh. Albert Mehrabian, psikolog sekaligus pakar komunikasi di Amerika Serikat suara dan gerak tubuh adalah unsur penting dalam berbicara. Menurutnya, ucapan dipengaruhi 7% oleh isi, 38% oleh suara, dan 55% oleh gerak tubuh. Ada lima aspek yang harus diperhatikan agar komunikan tertarik dengan apa yang kita bicarakan.

  1. Penampilan yang baik.
  2. Selalu tersenyum.
  3. Kontak mata yang baik.
  4. Sikap percaya diri.
  5. Gestur yang tepat.

Ketika lima aspek ini diterapkan dengan baik dan tepat, maka isi yang kita sampaikan terhadap orang lain menjadi lebih mudah untuk dipahami. Isi yang baik jika tidak disampaikan dengan gestur yang tepat maka tidak akan membuat orang lain untuk tertarik dengan apa yang kita sampaikan. Maka dari itu, perlu bagi kita sebagai komunikator untuk selalu memperhatikan bahasa nonverbal di setiap komunikasi yang kita lakukan.

Di akhir bab ini, dijelaskan mengenai bagaimana dahsyatnya ketika kita mengubah cara bicara menjadi lebih baik akan membawa perubahan yang besar pada hidup kita. Salah satu yang menarik adalah “Mengubah yang tidak mungkin menjadi mungkin”. Di bagian ini salah satu yang membuat kita menjadi sukses dalam berbicara atau bidang komunikasi adalah “berbicara seakan sudah terwujud”. Disini Bryan Tracy, seorang pakar pengembangan diri menyatakan bahwa bertingkah seperti orang sukses atau seperti orang yang kita impikan adalah kunci untuk menjadi sukses. Berbicara menjadi seolah orang yang kita impikan membuat diri kita menjadi terpacu untuk berusaha lebih keras agar bisa lebih dekat dengan apa yang kita inginkan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu