Photo Story | Sumber: Pixabay

 

Tidak hanya tulisan yang mampu bercerita, bingkai dalam sebuah potret foto pun dapat demikian. Bahkan, dalam beberapa jepretan foto dapat merangkai sebuah cerita yang terdapat pesan di dalamnya tanpa perlu diberi tulisan atau takarir. Esai foto (photo essay) dan photo story jawabannya. Keduanya memang tampak sama karena merupakan foto seri, namun tentu ada perbedaan di dalamnya. Dalam dunia fotografi dan jurnalistik, kerap dikenal istilah photo essay dan photo story. Untuk menggambarkan suasana atau pesan, foto terkadang dapat lebih menggugah dalam mengutarakan cerita ketimbang tulisan. Para fotografer tentu tak hanya menggunakan satu foto saja, namun beberapa jepret foto karena satu foto belum tentu dapat menyampaikan isi pesannya secara luas. Untuk membedakan keduanya, ada beberapa aspek yang perlu diketahui. Apa saja? 

Photo Essay

  1. Dibuat dari beberapa jepret foto yang menjadi series dengan mengangkat tema atau topik tertentu, misalnya kemiskinan, narkoba, hingga bencana. 
  2. Memberikan gambaran yang detail dari jepretan foto. 
  3. Lokasi foto umumnya berbeda-beda, namun masih dalam topik yang sama. Misalnya suatu foto esai ingin menggambarkan kemiskinan di daerah kumuh. Maka lokasi yang diambil bisa berasal dari kawasan kumuh kota A, daerah B, atau tempat lainnya. 
  4. Dapat membangkitkan rasa emosi terutama jika topik yang diambil mengangkat kisah humanis. 

 

Photo Story 

  1. Menceritakan tentang suatu hal, seperti tempat atau kejadian dengan dibuat dari bagian awal, tengah, hingga akhir. 
  2. Dalam foto story, yang difokuskan adalah cerita atau kisah dari objek yang dijepret. 
  3. Bersifat kronologis. 
  4. Terlihat seperti foto dokumenter dari suatu objek. 
  5. Fokus pada satu objek di satu lokasi. Jika dalam foto essay terdapat beberapa lokasi berbeda namun dalam satu topik yang sama, maka dalam foto story hanya ada 1 tempat atau lokasi namun diceritakan secara mendetail.

Dalam membuat photo story maupun photo essay, tentu teknis pengambilan foto juga perlu diperhatikan. Terutama bagi pemula yang ingin mencoba membuat foto seri ini. Adapun beberapa teknis foto yang dapat dicoba.

  1. Establishing shot: Menggambarkan tempat dari kejadian. Karena umumnya menggunakan lensa wide angle, maka foto dari teknis ini umumnya digunakan untuk membuka cerita pada photo essay dan photo story
  2. Detail shot dan close up: Foto yang menggambarkan detail dari objek yang ingin diceritakan. Misalnya bagian dari misalnya cincin kawin saat foto pernikahan atau foto air mata. 
  3. Interaction shoot atau relationship: Yaitu bingkai foto yang menggambarkan suatu hubungan atau interaksi yang terjadi antara dua orang atau lebih. Dalam foto ini hubungan yang digambarkan bisa berupa hubungan positif seperti berpelukan atau negatif seperti bertengkar. 
  4. Climax: Yakni suatu foto yang menggambarkan puncak dari suatu kejadian atau momen. 
  5. Portraits: Penggambaran ekspresi dari objek yang dijepret. Angle yang digunakan biasanya adalah frame medium dan tidak sampai close up
  6. Closer/Clincher: Foto yang biasanya digunakan untuk menutup cerita. Digambarkan untuk memberikan inspirasi atau motivasi. 

Berikut salah satu contoh photo story yang diambil di Terminal Joyoboyo Surabaya. 

Terminal Joyoboyo dalam Wujud Photo Story | Koleksi pribadi

Dalam serti foto tersebut, tidak hanya terdapat foto namun juga ada narasi yang turut mengiringi penjelasan dan isi pesan yang ingin disampaikan. Foto tersebut diambil di satu lokasi dengan beberapa tempat yang berbeda namun tetap memberikan pesan yang akan disampaikan. Beberapa cara yang dapat dicoba untuk membuat foto esai menjadi lebih mudah. 

  1. Menentukan topik foto yang ingin dibuat. 
  2. Riset. Mencari tahu tentang lokasi hingga semua keperluan untuk foto. 
  3. Merencanakan foto yang akan diambil. Misalnya, ingin membuat foto yang tersusun dari portrait, close up, wide angle, dan lainnya. 
  4. Eksekusi. Jika semua sudah terencana dengan baik, maka langkah selanjutnya adalah segera eksekusi foto yang ada di lapangan. 
  5. Pilah dan sunting. Jika foto sudah terkumpul, maka foto perlu dikurasi untuk selanjutnya disunting agar terlihat lebih menarik. 
  6. Buat layout. Jika foto yang diinginkan sudah ada, maka perlu dibuat layout agar pesan yang disampaikan atau fokus dari pesan foto bisa dapat mudah diterima. 

Adapun juga metode EDFAT yang dapat dicoba, yakni: 

  1. Entire: Yakni sebuah foto dari establish shot yang digunakan untuk menggambarkan keseluruhan dari kejadian yang ada dalam foto. 
  2. Detail: Penggambaran detail dan hal-hal rinci dari objek yang diangkat. 
  3. Frame: Pembingkaian dari foto yang diambil. Sehingga orang yang melihat akan langsung tertuju pada point of interest dari foto. 
  4. Angle: Yakni pengambilan foto dari sudut tertentu agar foto yang dihasilkan terlihat lebih menarik dan dapat membangun cerita yang kuat. 
  5. Time: Waktu pengambilan objek foto, yang mana biasanya tidak terjadi dalam dua kali. 

Tertarik untuk bercerita dengan photo story atau photo essay?

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu