Ilustrasi: Mendengarkan musik sambil belajar, efektifkah? | Sumber: Tirachard Kumtanom/Pexels.com

 

Tiap orang memiliki cara belajar yang berbeda-beda. Ada yang lebih mudah menyerap materi melalui bentuk audio, visual, bahkan kinetik. Begitupun dengan suasana yang membangun mood untuk belajar. Beberapa orang lebih memilih untuk mendengarkan musik saat belajar, sisanya ada yang lebih suka untuk membangun suasana yang tenang dan sunyi tanpa suara. Sempat beredar mitos, bahwa mendengarkan musik klasik saat belajar mampu membuat IQ meningkat bahkan menjadikan orang lebih cerdas? Namun, ada juga yang mengatakan bahwa mendengarkan musik ketika belajar justru membuat otak terdistraksi dan kurang efektif digunakan untuk belajar. Apakah benar? 

Beredarnya Efek Mozart

Salah satu miskonsepsi yang beredar di masyarakat mengenai IQ anak yang bisa naik karena musik klasik adalah akibat adanya Mozart effects. Teori ini bermula saat dikenalkan oleh Frances Rauscher, seorang ahli neurobiologi dan rekannya Gordon Shaw seorang fisikawan di tahun 1993. Dalam penelitian yang dilakukan, Rauscher dan Gordon memberikan satu dari tiga tes standar untuk penalaran abstrak pada mahasiswa dengan tiga syarat kondisi, yakni mendengarkan musik dari Mozart dengan judul Sonata for Two Pianos in D Major, K. 448, mendengarkan instruksi relaksasi everba, dan dalam suasana yang tenang. Hasil yang didapat dari penelitian ini adalah belajar sembari mendengarkan musik klasik dapat membantu mengembangkan fungsi otak. Dari hasil ini, terjadilah miskonsepsi dari hasil asli penelitian yang ada. Media massa membuat berita dimana musik klasik salah satunya musik karya Mozart dapat menjadikan anak lebih pintar.

Kenyataannya, belajar dengan mendengarkan musik klasik tidak akan menjadikan seseorang menjadi lebih pintar. Penelitian dari Rauscher dan Shaw hanya menunjukkan adanya peningkatan kemampuan otak pada kemampuan spasial abstrak, seperti memecahkan masalah matematika. Tidak pernah ada hasil klaim bahwa mendengarkan musik klasik dapat meningkatkan IQ karena sedari awal, mahasiswa yang diteliti tidak pernah di tes IQnya. Maka, asumsi bahwa mendengarkan musik klasik ketika belajar agar meningkatkan kecerdasan dianggap mitos. 

Belajar Bikin Stres

Beberapa orang pasti setuju bahwa aktivitas seperti belajar dan mengerjakan tugas adalah sesuatu yang dapat membuat stres. Dilansir dari Hello Sehat, secara tidak sadar tubuh manusia akan  merespon rasa stres dengan memproduksi hormon stres seperti adrenalin, kortisol, dan norepinefrin. Hormon stres yang dilepaskan tubuh ini akan menjadikan denyut jantung meningkat, pernafasan menjadi singkat dan cepat, otot menegang, tekanan darah naik, bahkan hingga cemas. Maka tak heran, jika beberapa orang memilih mendengarkan musik untuk meredam stres dari tubuhnya. 

Positif Negatif Belajar Dengan Musik

Semua hal tentu ada manfaat dan kerugian yang dihasilkan, termasuk mendengarkan musik ketika belajar. Adapun beberapa hal positif yang bisa diambil ketika belajar sembari mendengarkan musik. 

Ilustrasi: Efek Mozart | Sumber: photosforyou/Pixabay 

 

Anti Bosan 

Aktivitas belajar atau membuat tugas terkadang dapat memicu rasa jenuh dan kantuk. Dengan mendengarkan musik ketika belajar, dapat membantu untuk menurunkan rasa jenuh dan juga tingkat stres saat belajar. Hal ini dikarenakan musik yang masuk melalui telinga akan diantarkan ke otak, di mana otak akan merespon sinyal musik menjadi hormon dopamin yang dapat menghasilkan kebahagiaan. Sehingga, tubuh menjadi lebih rileks dan mengurangi rasa jenuh.   

Meningkatkan Daya Ingat Terhadap Informasi Baru 

Dikutip dari Hello Sehat, University Health News menuliskan bahwa saraf-saraf otak menjadi lebih aktif ketika seseorang mendengarkan musik. Hal ini disebabkan karena sinyal listrik yang dihasilkan secara bersamaan dapat merangsang hubungan antara kedua sisi dari otak kiri maupun kanan dengan mengaktifkan area otak yang terkait dengan proses emosional, kognitif, dan memori. Mudahnya, ketika seseorang belajar sembari mendengarkan musik maka yang terjadi adalah meningkatnya suasana hati dan terjadinya peningkatan kemampuan fungsi kognitif otak terutama pada daya ingat. Hal ini juga didukung dengan adanya penelitian dimana partisipan yang belajar dengan alunan musik menghasilkan performa akademis yang lebih baik daripada partisipan yang belajar di ruangan berisik. Meski sama-sama belajar dengan suasana yang berisik, partisipan yang ditemani dengan alunan lagu dapat fokus kepada satu tugas karena otak memblokir suara berisik yang terjadi di sekitar ruangan. 

Membangun Suasana 

Mendengarkan musik dapat membuat suasana hati menjadi lebih rileks dan tenang. Mood yang baik dapat menjadikan suasana belajar menjadi menyenangkan dan tidak terasa menjadi beban. Kondisi belajar dengan suasana hati yang baik dapat meningkatkan produktivitas karena dapat menjadikan bekerja lebih efektif. Hasil belajar tentu juga akan lebih baik jika dikerjakan dengan suasana hati yang baik. 

Meningkatkan Fokus 

Selain meningkatkan daya ingat, mendengarkan musik juga dapat membantu untuk meningkatkan fokus dalam belajar. Dengan mendengarkan musik, maka suara bising yang dihasilkan dari tempat lain akan terblokir karena fokus otak sudah berfokus pada musik. Maka, kita akan mudah untuk mengalihkan fokus otak pada tugas yang kita kerjakan. 

Terdistraksi 

Meski memiliki beberapa manfaat yang bisa kita rasakan, mendengarkan musik ketika belajar juga memiliki dampak negatif, lho! Apa saja? Bagi sebagian orang, mendengarkan musik merupakan hal yang dapat membuat distraksi pada belajar. Distraksi dapat terjadi ketika mendengarkan musik dengan lirik sehingga seseorang otomatis menyanyikan lirik lagu. Atau bisa pula, terdistraksi dengan memilih lagu yang akan diputar. 

Konsentrasi Terpecah 

Terkadang, mendengarkan musik dapat menjadikan konsentrasi seseorang menjadi terpecah. Hal ini bisa jadi dikarenakan musik yang terlalu keras sehingga membuat seseorang lebih hanyut dalam alunan musik yang diputar daripada tugas yang ada. 

Waktu Terbuang untuk Musik 

Dalam beberapa kasus, terkadang aktivitas belajar dan nugas tidak terjadi karena waktu yang terbuang untuk mendengarkan musik. Terutama, pada musik yang mungkin menjadi favorit sehingga fokus belajar pindah pada musik. 

Musik yang Cocok Untuk Belajar? 

Selera musik pasti berbeda pada tiap individunya. Namun, tentu tak semua jenis musik cocok untuk dijadikan teman belajar. Banyak yang mengira bahwa musik yang cocok untuk belajar adalah musik klasik ala Mozart. Tentu hal ini dikarenakan adanya campur tangan dari Mozart Effect yang terjadi. Sebetulnya, musik dengan alunan suara yang stabil dengan suara yang tidak terlalu keras adalah musik yang ideal untuk dijadikan pendamping tugas, apapun genrenya. Menurut Chris Brewer, penulis dari buku Soundtracks for Learning menuliskan bahwa manfaat dari mendengarkan musik untuk belajar akan lebih manjur jika genre dari musik yang didengarkan disesuaikan dengan aktivitas yang dilakukan. Misalnya, musik dengan lirik positif cocok untuk memotivasi dalam belajar dan semangat. Sementara, musik dengan tempo lebih lambat cocok dimainkan ketika pikiran lebih butuh fokus dan rileks karena efek menenangkan yang diberikan. 

Hal yang Harus Diperhatikan 

Dalam belajar mendengarkan lagu, tentu ada beberapa hal yang harus diperhatikan, antara lain: 

  • Pilih Jenis Musik
    Hal yang pertama harus diperhatikan dalam belajar dengan musik adalah memilih jenis musik apa yang didengarkan. Meski ada beberapa orang yang dapat fokus dengan musik bergenre apapun, baiknya menggunakan musik instrumental tanpa lirik. Musik dengan lirik dapat membuat fokus terpecah. Pilihlah musik instrumental dengan tempo yang lambat karena dapat membuat otak lebih rileks dan mudah dalam menyerap materi belajar.
  • Atur Volume
    Atur volume musik yang digunakan dengan pelan. Musik tidak perlu diputar dengan keras sehingga terdengar ke penjuru ruangan. Cukup jadikan musik sebagai backsound dalam belajar. Volume musik yang terlalu keras akan membuat konsentrasi terpecah dan belajar menjadi tidak efektif.
  • Sesuaikan Suasana
    Sesuaikan suasana musik dengan suasana belajar yang ada. Misalnya, jika aktivitas belajar yang dilakukan adalah melakukan hafalan materi maka pilih lagu yang bertempo lambat tanpa lirik seperti lagu instrumental. Lau, jika belajar atau mengerjakan tugas yang tidak perlu konsentrasi atau fokus yang tinggi, seperti mencari referensi, maka kamu bisa memilih lagu sesuai dengan suasana hatimu. 

Belajar dengan atau tidak mendengarkan lagu tentu masalah pribadi dari masing-masing individu. Tiap orang memiliki cara belajar yang berbeda-beda, begitupun dengan pilihan belajar dengan lagu atau tidak pakai lagu. Lalu, apa pilihan Fikomrade? 

Tim Nugas #PakeLagu atau #GakPakeLagu ala Fikomrade. Kamu tim nugas/ belajar pake lagu ga? Kasih tau alasannya dong? 

Felita: “iyaaa wajib dong, biar ga bosen aja waktu kerjain tugas ato lagi belajar”
Yordan: “Iya, soalnya lebih enjoy
Lea: “Iya, kalo belajar sambil dengerin musik sugestinya otak lebih encer gitu”
Kirana: “Kalo nugas ‘iya’, kalau buat belajar enggak. Biar gak ngantuk”
Has: “YA BANGET. Soalnya biar mood nambah”
Anthony: “Depends On the mood, But Occasionally Yes. Brings Up the mood”
Shiraz: “Engga. Soalnya aku kalo nugas kena lagu tambah ke distract”

Fikomrade juga punya playlist andalan, lho! Playlist yang bisa dicoba:

  1. Playlist Kirana  
  2. Playlist Has
  3. Playlist Felita 

Belajar dengan atau tidak mendengarkan lagu merupakan pilihan yang berbeda tiap individu. Tentu tidak ada yang lebih baik maupun lebih buruk, hanya saja kembali pada pilihan cara belajar masing-masing. Maka dari itu, sebelum memulai belajar dengan musik, pastikan kamu tahu gaya dan cara belajarmu seperti apa.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu