“Apa Kuda Troya Anda Menghadapi Covid 19?”
(Antonius Tanan)

Pertanyaan “Apa kuda Troya bisnis anda?” adalah sebuah pertanyaan dari pak Ciputra kepada sekelompok anak muda yang datang menemui beliau sekitar 18 tahun lalu untuk meminta Pak Ciputra jadi investor sebuah usaha bisnis media yang mereka ajukan. Anak-anak muda ini terdiam, tidak bisa menjawab pertanyan singkat diatas. Rupanya itu jadi sebuah pertanyaan pamungkas yang membuat mereka akhirnya tidak berani bertemu pak Ciputra lagi. Kuda Troya adalah adalah sebuah kisah tentang strategi perang dari tentara Yunani untuk memasuki kota Troya dan memenangkan perang. Konon setelah 10 tahun pengepungan tanpa membuahkan hasil maka pasukan Yunani ini menciptakan sebuah strategi baru yaitu membangun sebuah kuda kayu raksasa dan menyembunyikan prajurit-prajurit pilihan di dalamnya. Pasukan Yunani berpura-pura berlayar pergi, dan orang-orang Troya berpikir bahwa orang Yunani benar-benar sudah mundur dan mereka menarik kuda kayu ini ke kota mereka sebagai lambang kemenangan. Saat malam hari para prajurit Yunani ini keluar dari kuda kayu tersebut dan membuka pintu gerbang untuk pasukan Yunani lainnya yang dengan segera kembali mendatangi kota Troya. Pasukan Yunani akhirnya bisa menembus pertahanan kota Troya melalui strategi “Kuda Troya”, menghancurkannya dan sekaligus mengakhiri perang. Jadi 1secara ringkasnya sesungguhnya pak Ciputra bertanya “apa inovasi pamungkas anda yang dapat memastikan anda bisa menang di medan persaingan?” dan itu rupanya yang belum dipikirkan baik-baik oleh anak-anak muda itu. Saya membayangkan bila saat ini pak Ciputra masih di usia 70 tahun dan berada bersama kita semua saat menghadapi Covid 19 dan kemudian ia menyaksikan semua proyek melakukan presentasi maka barangkali setiap proyek akan ditanya oleh beliau “apa Kuda Troya anda untuk menghadapi era Covid 19?”. Ini adalah sebuah pertanyaan yang penting karena Covid 19 sedang memandu kita dan membiasakan kita dengan apa yang disebut sebagai New Normal. Perubahan ini menyampaikan kepada kita bahwa ada solusi-solusi lama yang tidak akan berlaku lagi. Oleh karena itu bila saat ini kita menargetkan keberhasilan yang sama di sebuah “setting” yang baru yaitu New Normal maka jalan satu-satunya adalah menciptakan kebaruan-kebaruan. Tanpa adanya kebaruan maka keberlanjutan bisnis sulit dipertahankan. Secara khusus untuk pemasaran properti setidaknya terdapat 7 kebaruan yang patut dipikirkan dan dipertimbangkan di dalam memenangkan persaingan saat menghadapi New Normal.

1. Kebaruan Produk

Masa pandemik sudah berlangsung lebih dari 9 bulan, pelanggan sudah mulai kembali bukan? Mari dengarkan, eksplorasi dan pahami dengan tepat produk seperti apa yang mereka sekarang cari terkait Covid 19? Apakah mereka makin menghargai taman? Apakah mereka sekarang menginginkan jendela-jendela yang lebih lebar? Atau barangkali tinggi plafon yang lebih tinggi? Ataukah dapur yang lebih luas untuk menuntaskan aktivitas kreatif di rumah?

2. Kebaruan Kanal Komunikasi

Pameran di mall dan exhibition center pasti bukan solusi di masa pandemik, juga manfaat billboard menjadi berkurang saat lalu lintas makin sepi. Apakah kanal-kanal komunikasi baru yang menjadi saluran utama dari prospek untuk mengenal dan mencari produk properti? Ini adalah sebuah pertanyaan yang jawabannya perlu dicari dan sengaja ditanyakan kepada komunitas pelanggan. https://id.wikipedia.org/wiki/Perang_Troya 1

3. Kebaruan Konten Komunikasi

Apakah isu utama yang paling gampang menarik perhatian prospek yang dapat kita gunakan didalam promosi-promosi kita? Apakah masih isu harga atau isu kesehatankah? Apakah tentang tentang produk rumahnya atau ruang publik yang terbuka? Apakah tentang koneksi ke jalan-jalan utama atau malah tentang koneksi internet yang kencang. Silahkan amati pertanyaan-pertanyaan pelanggan yang kerap diajukan dan jika perlu bertemu dan bertanya kepada pelanggan apa yang jadi isu paling penting untuk mereka.

4. Kebaruan Ceruk Pelanggan

Siapa-siapakah yang masih beli di era Covid 19? Data penjualan di 6 bulan terakhir akan sangat menjelaskan siapa-siapa yang tahan “resesi” itu dan tetap beli rumah. Amati lebih dalam data penjualan dan lakukan analisa tentang produk mana yang paling banyak dicari, kelompok prospek seperti apa yang masih mencari properti, apa alasan beli mereka, bagaimana cara bayar mereka dll. Beberapa hari lalu saya sempat berkomunikasi dengan Daniel Handoyo Direktur Eksekutif Century 21 dan ia menyampaikan bahwa di tahun 2020 walaupun di tengah pandemi ada beberapa area seperti PIK (Pantai Indah Kapuk) yang masih booming atau tinggi penjualannya baik pasar secondary maupun primary nya. Secara khusus di pasar primary beberapa kali mereka lakukan launching dan berhasil sold out dengan singkat. Nah, ini juga sebuah indikasi adanya sebuah ceruk pasar yang “tahan resesi”.

5. Kebaruan Paket Promosi

Slogan “Book Now Pay Later” menjadi populer di kala pandemi. Ini adalah contoh komunikasi kreatif yang menyesuaikan diri dengan kondisi Covid 19. Adakah tema-tema promosi lain yang dapat dikembangkan untuk memudahkan pembelian properti? Inilah yang jadi pekerjaan rumah kita. Perlu kita pikirkan kerja sama baru atau paket kerja sama baru dengan pemain industri keuangan untuk memudahkan prospek mendapatkan properti. Memang saat ini Covid 19 masih berlangsung namun kebutuhan akan properti tetap jalan terus. Adanya pandemi tidak akan membatalkan keinginan orang untuk memiliki properti. Itu hanya menunda atau membuat mereka lebih pemilih.

6. Kebaruan Pelayanan

“Social distancing” telah membuat kita kehilangan momen-momen terbaik untuk meyakinkan prospek melalui prestasi tatap muka yang intens. Dapatkah teknologi membantu kita mengatasi masalah ini? Disinilah peluang untuk memanfaatkan teknologi. Saya mengusulkan untuk memanfaatkan “digital flier/brochure” yang personal. Artinya bila yang kita hadapi adalah prospek yang masih lajang maka kirimkan brosur versi digital yang khusus dirancang untuk membuat prospek lajang merasa tawaran ini adalah pilihan terbaik. Brosur yang personal itu memuat informasi tentang proyek, produk dan fitur yang “aku banget” untuk prospek. Bukankah flier atau brosur di dalam bentuk digital mudah, murah dan cepat dibuatnya sehingga dapat dikembangkan lebih beragam.

7. Kebaruan SDM

Tantangan-tantangan yang baru membutuhkan solusi-solusi baru dan tentunya solusi baru membutuhkan SDM dengan semangat yang baru dan kompetensi yang baru. Akan dibutuhkan pelatihan-pelatihan dan penyegaran semangat. Siapa SDM yang tidak mau ikut berubah maka tampaknya SDM bersangkutan yang perlu diubah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.

Fill out this field
Fill out this field
Please enter a valid email address.
You need to agree with the terms to proceed

Menu
Social Share Buttons and Icons powered by Ultimatelysocial