Melihat Akar Konflik Sosial di Indonesia

Melihat Akar Konflik Sosial di Indonesia

“Konflik suatu hal yang wajar terjadi dalam kehidupan sehari-hari

namun akan menjadi sebuah bom waktu jika tidak segera ditangani”

Seringkali kita mendengar atau bahkan melihat kerusuhan, pemberontakan, dan perdebatan sebagai bentuk dari konflik yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Akan tetapi pernahkah kita mendengar akar konflik yang terjadi dan bagaimana penyelesaiannya? Jawabannya adalah sangat jarang. Minimnya dialog-dialog mengenai pembahasan akar dari peristiwa konflik yang terjadi menyebabkan masyarakat memiliki banyak persepsi mengenai penyebab atau akar dari suatu konflik. Pada Sabtu, 21 November 2020, melalui studium generale Becoming Indonesia yang diadakan oleh Fakultas Entrepreneurship dan Humaniora membahas mengenai “Melihat Akar Konflik Sosial di Indonesia” bersama Bapak Arianto Sangadji sebagai pembicara dan Bapak Yogi sebagai moderator. Melalui studium generale ini, mahasiswa tidak hanya diajak untuk melihat sejarah konflik sosial di Indonesia tetapi juga melalui sejarah konflik tersebut mahasiswa dapat menemukan akar konflik sosial yang sebenarnya di Indonesia.

Dalam benak kita konflik merupakan kesalahpahaman yang terjadi antara dua individu atau dua kelompok sehingga menyebabkan kekerasan dan perpecahan. Konflik sosial terjadi karena adanya perebutan nilai, kekuasaan, dan sumber daya yang diinginkan oleh individu atau kelompok dan untuk menjatuhkan pesaing. Konflik-konflik sosial yang terjadi meliputi konflik kelas, ras, agama, dan komunal artinya konflik sosial sangat berkaitan dengan fenomena-fenomena sosial yang terjadi di masyarakat. Lantas apa akar konflik sosial yang sering terjadi di masyarakat?

Akar konflik sosial dalam masyarakat terjadi karena dua hal yaitu kebudayaan dan kelas sosial. Dalam pandangan kebudayaan atau clash of civilizations konflik sosial dapat terjadi karena  perbedaan identitas masyarakat yang dibenturkan sehingga muncul jurang pemisah seperti “kami” dan “mereka” kemudian cerita yang tertanam pada masyarakat mengenai asal-usul yang berbeda. Sementara itu, menurut pandangan kelas sosial konflik dapat terjadi karena adanya sistem kelas sosial di masyarakat yang digunakan untuk menguasai sumber daya tertentu.

Di Indonesia konflik sosial tidak pernah terlepas dari sejarah kolonialisme dan imperialisme Belanda. Berbagai pembantaian dan kekerasan penduduk pribumi, penduduk etnis Tionghoa, dan penduduk anggota PKI di Indonesia merupakan bukti bahwa terjadi konflik sosial di Indonesia disebabkan oleh kelas sosial yang dibuat oleh Belanda. Begitu pula dengan berbagai konflik sosial yang muncul akibat krisis moneter pada 1998 dan konflik kekerasan terhadap agama dan etnis di Maluku dan Kalimantan merupakan konflik kelas sosial yang tidak dipahami oleh masyarakat sehingga dianggap sebagai konflik rasial.

Berbagai konflik sosial yang terjadi di Indonesia perlu ditangani dengan tegas sehingga kehadiran negara sebagai penengah konflik sangat dibutuhkan untuk mencegah terjadinya perpecahan diantara masyarakat dan ancaman terhadap stabilitas keamanan negara. Kerja sama antara pemerintah dan masyarakat dalam menyelesaikan konflik diperlukan agar tidak ada kesalahpahaman dalam memahami konflik yang terjadi dan korban.

-Nurul Aisah-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *