Cerita Silat, Maknanya bagi Indonesia

Cerita Silat, Maknanya bagi Indonesia

Cerita Silat yang identik dengan seni bela diri dan pendekar yang bekelana nan-jauh ternyata memiliki makna tersendiri bagi bangsa Indonesia.  Studium Generale Bahasa Indonesia pada hari Jumat, 23 Oktober 2020 mengundang Pak Juliastono, seorang penerbit cerita silat yang telah mengumpulkan karya-karya cerita silat selama hampir 4 tahun.

Kata “cerita” dalam bahasa Tionghoa dapat diartikan sebagai xiao shuo yang berarti “omongan kecil”. Pada mulanya, cerita atau novel tidak dikategorikan sebagai kesastraan oleh masyarakat Tiongkok karena dipandang ringan dan bukan cerita serius.

Zaman kejayaan novel terjadi di pertengahan abad ke-17 pada zaman Dinasti Ming. Banyak diterbitkan karya-karya novel klasik seperti Kisah Tiga Negara (Sam Kok), Batas Air (Shui Hu Chuan), Perjalanan ke Barat (See Yoe) dan Golden Lotus (Chin Ping Mei).

Cerita silat bermula dengan sederhana di Tiongkok, disebarkan dari mulut ke mulut dalam kedai-kedai teh. Dalam perkembangannya cerita-cerita tersebut kemudian dikumpulkan dan diterbitkan dalam bentuk prosa. Menurut James J.Y. Liu, pada umumnya pada cerita silat terdapat 8 idealisasi seorang pendekar: altruisme, keadilan, kebebasan individual, kesetiaan, keberanian, kebenaran, kehormatan dan kemurahan hati.

Perjalanan cerita silat di Indonesia dimulai dari koran Sin Po oleh wartawan Tan Tek Ho dalam segmen ‘Goedang Tjerita’. Segmen tersebut khusus memuat terjemahan cerita silat dari bahasa Tionghoa. Cerita silat laku keras dalam koran harian, berbagai macam cerita silat baik cerita terjemahan atau penulis lokal menjadi hiburan khalayak luas.

Pada zaman tersebut, banyak peranakan Tionghoa yang tidak fasih berbahasa Tionghoa dan bahasa Melayu Tinggi (yang kemudian menjadi bahasa Indonesia), sehingga banyak dari cerita silat yang diterjemahkan ke Melayu Rendah/Melayu Pasar. Perjalanan cerita silat berlanjut sampai pada tahun 1928 saat ditetapkannya bahasa Indonesia sebagai bahasa persatuan dalam Sumpah Pemuda. Dampak dari penetapan bahasa nasional adalah mulai ditinggalkannya Melayu Rendah untuk mengembangkan bahasa Indonesia. Pada tahun 1950-an, cerita silat mulai diterjemahkan dan ditulis dalam bahasa Indonesia saja.

Cerita silat dalam sejarah Indonesia membentuk tidak hanya kebahasaan bangsa namun juga pribadi pembacanya, kisah-kisah altruisme pendekar yang berkelana untuk menghadapi kejahatan membekas dalam pikiran pembaca. Cerita silat adalah bagian sejarah yang membentuk bahasa dan bangsa Indonesia.

-Jennifer Esther-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *