Mengenal Kekristenan Syria, Kristen Berbahasa Arab?

Mengenal Kekristenan Syria, Kristen Berbahasa Arab?

“Apa itu Kekristenan Syria?”

“Kristen tapi kok Bahasa Arab?”

Seringkali pertanyaan-pertanyaan di atas menghiasi pemikiran masyarakat ketika mendengar Agama Kristen yang menggunakan Bahasa Arab dalam ibadahnya. Kekristenan Syria dan Agama Kristen yang menggunakan Bahasa Arab merupakan hal yang asing di Indonesia. Minimnya dialog-dialog mengenai sejarah Kekristenan Syria menyebabkan masyarakat tak begitu mengenalinya. Pada Sabtu, 17 Oktober 2020 melalui studium generale agama yang diadakan oleh Fakultas Entrepreneurship dan Humaniora membahas sejarah Kekristenan Syria bersama Bapak Bambang Noorsena sebagai pembicara dan Bapak Gamaliel Waney sebagai moderator. Melalui studium generale kali ini mahasiswa tidak hanya diajak untuk mengulik sejarah Kekristenan Syria tetapi juga mengungkap alasan mengapa Kekristenan Syria tidak begitu dikenal di Indonesia.

Kristen Syriac merupakan rumpun kristen kuno yang menggunakan Bahasa Aramaik atau yang lebih modern dikenal sebagai Bahasa Suryani dalam melestarikan ajaran dan misi perjalanan zaman rasuli di Antiokhia yang saat ini dikenal sebagai Syria. Pada saat itu gereja-gereja di wilayah Yerusalem ke arah timur sampai selatan menggunakan Bahasa Aramaik sehingga dalam ajaran Kristen Syriac perjanjian baru, Kitab Injil, dan Kitab Pesito diterjemahkan ke dalam Bahasa Aramaik. Hal tersebut tercatat dalam Al-Kitab Pasal 2 bahwa wilayah Yerusalem ke arah barat menggunakan Bahasa Yunani dan Yerusalem ke arah timur sampai selatan menggunakan Bahasa Aramaik. Ajaran Kristen Syriac tersebar di berbagai gereja-gereja yang ada di wilayah Mesopotamia dan seperti Gereja Syriac Antokhia, Anthiochian Orthodoks, Gereja Katolik Syria yang ada di Syria Gereja Koptik di Mesir, Gereja Maronite di Lebanon, dan lain sebagainya. Salah satu tokoh yang menganut ajaran Kristen Syriac adalah Kahlil Gibran.

Di Indonesia Kekristenan Syria tidak begitu dikenal karena beberapa faktor yaitu:

  1. Faktor Budaya

Masyarakat Indonesia memiliki pandangan Agama Kristen identik dengan peradaban gereja-gereja di Eropa sedangkan peradaban di Timur Tengah masih berkaitan dengan Agama Islam. Hal tersebut disebabkan oleh kristen mewarisi budaya barat seperti lebih dikenalnya katolik ritus latin, Protestan, dan Pembaruan Pentakosta serta lagu-lagu gereja yang berasal dari Barat dan menggunakan organ.

  1. Faktor Politik

Agama Kristen dibawa oleh para penjajah dari Belanda ke Nusantara dengan misi Gold, Glory, dan Gospel sehingga masyarakat lebih mengenal bahwa Agama Kristen dibawa oleh negara-negara barat pada masa penjajahan. Akan tetapi dalam buku yang ditulis oleh Abu Saleh Ar Amini jauh sebelum Ajaran Islam dan penjajah Belanda masuk ke Nusantara agama kristen telah masuk ke Kerajaan Sriwijaya pada abad ke-7 yang dibawa masuk oleh para pendeta dari gereja-gereja rumpun timur yang menganut ajaran Kristen Syriac.

  1. Faktor Teologis

Dialog lintas agama yang ada di masyarakat lebih menggunakan sudut pandang polemik daripada teologis. Sudut pandang polemik menyebabkan banyak sekali kesalahpahaman seperti Kristen Syriac yang berbahasa arab disebut sebagai bentuk kristenisasi umat beragama Islam. Faktanya jika dibahas melalui sudut pandang teologis akan mengungkapkan sejarah dan budaya Kristen Syriac dan Islam memiliki tradisi yang sama karena berasal dari wilayah yang sama.

Kristen Syriac menjadi ajaran yang melestarikan berbagai keragaman bahasa, budaya, dan tradisi yang dilakukan para rasuli dalam misi perjalanan para rasuli yang ada di Al-Kitab. Melalui sudut pandang sejarah dan kebudayaan mengenai Kekristenan Syriac dapat membuka pandangan dan informasi baru bagi masyarakat untuk saling toleransi antar umat beragama. 

-Nurul Aisah-

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *