Tionghoa, Diingat Sekaligus Dihapuskan

Tionghoa, Diingat Sekaligus Dihapuskan

By: Jennifer Esther

Apakah Tionghoa sudah dihapuskan dari ingatan kolektif bangsa Indonesia? Ingatkah kita terhadap jasa-jasa pahlawan beretnis Tionghoa yang jarang sekali disebut namanya dalam buku sejarah? Peran dan keberadaan etnis Tionghoa dalam masa kemerdekaan Indonesia seakan-akan tenggelam dalam arus sejarah yang senantiasa menelan ingatan, namun apakah betul peran masyarakat Tionghoa dalam perjalanan menuju kemerdekaan Indonesia insignifikan?

Pada hari Sabtu 26 September 2020, diadakan Studium Generale Pancasila bagi mahasiswa Universitas Ciputra melalui media zoom live meeting dan live streaming YouTube. Pada kesempatan kali ini, Bapak Didi Kwartanada beserta moderator Ibu Shinta Devi Ika mengupas lebih lanjut tentang keberadaan dan peran etnis Tionghoa dalam sejarah terbentuknya bangsa Indonesia. Bapak Didi Kwartanada adalah sejarawan independen yang merupakan anak dari pasangan peranakan Tionghoa generasi ketujuh. Beliau menempuh pendidikan sejarah di Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta dan National University of Singapore, dengan fokus utama sejarah sosial etnik Tionghoa di Jawa.

Stereotipe dan prasangka yang dilekatkan ke masyarakat Indonesia yang memiliki keturunan Tionghoa sudah berawal sejak zaman kolonialisme Belanda. Peran masyarakat Tionghoa yang menjadi “Middle Men” diantara Belanda dan Pribumi menyebabkan masyarakat Tionghoa seringkali dipandang sebagai “binatang ekonomi” yang hanya memerdulikan diri sendiri atau sebagai perpanjangan tangan RRC untuk menyebarkan paham komunisme.

Masa Orde Baru yang dipimpin oleh presiden Soeharto mengemukakan “Masalah Cina” yang juga menjadi polemik dengan pengusulan pergantian kata “Tionghoa” menjadi “Cina”; perubahan istilah yang kemudian menjadi senjata derogatif bagi masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia. Di Masa Orde Baru pula penghapusan kontribusi etnis Tionghoa dari buku Sejarah Nasional Indonesia yang sampai hari ini belum direvisi.

Tiba saatnya bagi generasi penerus bangsa untuk memulihkan kembali apa yang menjadi perpecahan diantara bangsa Indonesia. Waktunya untuk mendobrak dan meluruskan prasangka dan stereotipe tentang masyarakat etnis Tionghoa. Memang sulit untuk melepaskan diri dari stereotipe yang telah mengakar dari generasi sampai ke generasi, namun demi keadilan dan persatuan bangsa, mari membuka pikiran dan hati untuk masa depan yang lebih baik bagi bangsa Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *