Mengelola Perbedaan di Era Multikultural Multireligius

Mengelola Perbedaan di Era Multikultural Multireligius

Perbedaan agama adalah berbedanya keyakinan dan cara pandang seseorang terhadap Tuhannya. Namun, setiap agama harus saling toleransi dan menghargai satu sama lain, serta tetap menjaga kerukunan antar umat beragama. Manusia dilahirkan mempunyai perbedaan, tidak ada 2 orang yang sama persis, meskipun mereka kembar identik sekalipun. Keberagaman sumber kekuatan yang membuat Indonesia menjadi bangsa yang kuat dan besar, karena kebhinekaan merupakan karunia rajutan budaya Indonesia.
Pada tanggal 7 Maret 2020 diadakan Kuliah Umum Agama bertempatan di Dian Auditorium Universitas Ciputra, mengundang 2 pembicara Augustina Elga Joan Sarapung dan Prof. Dr. Amin Abdullah. Fokus materi pembahasan mengenai mengelola perbedaan di era multikultural multireligius. Dalam kuliah umum dijelaskan ada 3 hal besar mengenai Indonesia: Agama, Pancasila dan UUD 1945. Pancasila merupakan tenda besar untuk kehidupan berbangsa dan bernegara, hal ini dapat dipandang sebagai pemahaman yang sama tentang monotheism, sedangkan agama dipandang sebagai etika dan terpisah dari negara.
Pondasi dasar yang memungkinkan masyarakat untuk dapat mengatasi ketegangan antara agama dan negara dengan menunjukkan keberhasilan pola kesatuan harmonis antara komunitas kultural-etnis dan komunitas agama yang berbeda. Bagaimana cara kita mengatasi perbedaan ini dan merawat kebhinekaan dan toleransi di Indonesia? Perkuat literasi multicultural, jauhi sikap prejudice, keseimbangan scientific skill dan humanistic thought, dengarkan suara hati Nurani, etika diatas teologi, dan perbanyak ruang-ruang perjumpaan. Oleh karena itu pembiasaan menerima perbedaan harus diawali sejak dini dan dari diri sendiri terlebih dahulu. Kita harus bisa mengatur paradigma bahwa segala sesuatu secara alamiah memang berbeda.