Tantangan Bagi Peran Generasi Muda Dalam Menerapkan Pancasila

Tantangan Bagi Peran Generasi Muda Dalam Menerapkan Pancasila

Bangsa Indonesia menganut sistem ideologi yang kita kenal dengan sebutan “Pancasila”. Pancasila adalah dasar negara Indonesia. Pancasila merupakan rumusan dan pedoman kehidupan berbangsa dan bernegara bagi seluruh rakyat Indonesia. Besarnya perjuangan serta pengorbanan para pahlawan dalam memerdekan bangsa Indonesia, kita sebagai pemuda atau kaum milenial tidak bisa hanya duduk menikmati kemerdekaan begitu saja. Kita harus aktif dalam mengisi kemerdekaan dengan cara mewujudkan Indonesia yang adil dan damai, yaitu dengan cara mengamalkan nilai-nilai Pancasila dalam realitas kehidupan sehari-hari.
Sabtu, tanggal 14 Desember 2019 diadakan kuliah umum yang diisi tiga sesi oleh tiga pembicara. Sesi pertama diisi oleh Moh. Anshori yang membahas “Pancasila dan Peran Generasi Muda”. Pada sesi ini membahas bagaimana peran generasi muda sangatlah signifikan. Mereka cenderung menjadi pelopor dalam menentukan keberhasilan masa depan bangsanya. Kemudian bagaimana cara mengelola kelas Millenial? Belajar dengan reflektif dari suara-suara yang terbungkam, more rewards less punishment and more listen less speak, menyediakan kelas yang ramah terhadap perbedaan, dan mendorong batas kemampuan mahasiswa/i. Dengan begitu para Millenial akan lebih menghargai Pancasila dan dapat menerapkan dalam kehidupannya.
Selanjutnya, sesi kedua oleh Moh. Musofa Ihsan membahas “Pancasila dan Deradikalisasi”.  Deradikalisasi merupakan strategi untuk menetralisir paham-paham yang dianggap radikal dan membahayakan dengan cara pendekatan tanpa kekerasan. Tujuan dari deradikalisasi adalah untuk mengembalikan para aktor terlibat yang memiliki pemahaman radikal untuk kembali kejalan pemikiran yang lebih moderat. Program deradikalisasi merupakan salah satu program pemerintah yang bertujuan memberangus pergerakan terorisme di Indonesia. Secara deskriptif, deradikalisasi merupakan segala upaya untuk menetralisir paham-paham radikal melalui pendekatan interdisiplin seperti hukum, psikologi, agama dan sosial budaya bagi mereka yang dipengaruhi paham radikal dan pernah terlibat terorisme, termasuk para keluarga pelaku terorisme, simpatisan terorisme dan masyarakat umum.
Sesi terakhir kuliah umum diisi oleh Yudi Latif, M.A., Ph.D yang membahas “Pancasila dan Tantangan Zaman”. Menjadikan Pancasila sebagai “realitas” bangsa jelas tidak mudah. Dinamika politik sangat mempengaruhi bagaimana Pancasila ditafsirkan dan dijalankan. Dalam menghadapi krisis ideologi besar saat ini, yang perlu dilakukan adalah mewujudkan nilai-nilai yang ada dalam Pancasila menjadi realitas. Perjuangan itu harus dimulai dari dalam diri bangsa kita sendiri.
Pancasila harus menjadi nilai-nilai kewarganegaraan yang dijalankan secara kongkrit dalam kehidupan sehari-hari. Pancasila harus bermakna bagi petani, buruh, perempuan, kaum miskin, intelektuil, dan ekonomi rakyat. Akhirnya, masa depan Pancasila tidak bisa hanya tergantung pada negara dan pemerintah saja. Pancasila harus menjadi realitas yang mampu menjawab tantangan kehidupan masyarakat secara nyata.

Gallery:

more photos: @Google Photos