“Belajar dari Pram”

“Belajar dari Pram”

Christophorus Apolinaris Eka Budianta atau lebih dikenal dengan sebutan Eka Budianta merupakan sastrawan yang telah banyak menuangkan pemikiran-pemikirannya dalam bentuk tulisan baik berupa buku, essay, cerpen maupun puisi. Sejumlah karya itu bahkan mendapat beragam penghargaan dari pemerintah. Mantan wartawan dan koresponden Jepang ini mengaku memakai bakat menulisnya sebagai saksi untuk menyatakan kebaikan dan kebesaran Tuhan.
Salah satunya menulis bagaimana kedekatannya dengan seorang penulis novel Bumi Manusia yang bernama Pramoedya Ananta Toer. Beliau merupakan sosok yang berpengaruh besar pada sastra Indonesia. Pramoedya melatih kemampuannya dibidang menulis dan berbahasa asing secara otodidak ketika dia duduk dibangku sekolah dasar. Rasa cinta dan ketekunan yang dia tuangkan dalam dunia sastra mampu membuat Pramoedya menciptakan lebih dari 60 karya tulis yang kemudian diterjemahkan ke dalam bahasa-bahasa asing di dunia.
Salah satu pesan dari Pramoedya Ananta Toer adalah “Jangan berlagak bodoh.  Lakukan yang terbaik untuk Indonesia.  Kalian tahu itu”. Pram bukan hanya percaya dan berharap pada generasi muda.  Ia selalu kagum pada orang muda.  “Generasi muda adalah mahkota setiap bangsa,” katanya. Ia percaya bahwa orang muda adalah pembawa perubahan dan pemimpin dari masa ke masa. Setelah Reformasi 1998 pesan-pesan ini bermunculan dalam bentuk stiker, kaus, dan poster-poster.  Tahun itu genap 70 tahun Sumpah Pemuda, peristiwa yang paling dibanggakan oleh Pram dalam berbagai ceramah dan wawancara.
Kesimpulannya sederhana.  Pram pencinta kehidupan dan pekerja yang sangat keras.  Lebih dari itu, ia mencintai kebenaran.  Pram mengajar temannya, pembacanya, siapa pun yang dijangkaunya untuk berpikir kritis.  Kita dilatih adil sejak dari pikiran, jujur dalam menarik kesimpulan. Contohnya, ia membela semua ajaran yang telah berjasa menjadi pegangan manusia.

Gallery: