Tanggung Jawab Generasi Milenial Sebagai Warga Negara

Tanggung Jawab Generasi Milenial Sebagai Warga Negara

Tidak dapat dipungkiri, semakin berkembangnya teknologi semakin cepat pula penyebaran berita di masyarakat. Namun sayang, berita yang tersebar belum tentu benar adanya. Hal ini terbukti dengan banyaknya hoax dan hate speech yang tersebar melalui media sosial. Mengapa Hoax menjadi viral? Pertanyaan ini terjawab melalui pemamparan yang disampaikan dalam Kuliah Umum Kewarganegaraan dan Pameran 20 Karya Generasi Milenial dengan tema Tanggung Jawab Warga Negara Generasi Milenial, di Dian Auditorium lantai 7 Universitas Ciputra Surabaya pada hari Sabtu tanggal 10 November 2018. Acara ini digelar dengan dua sesi karena keterbatasan kapasitas ruangan karena peserta yang terlalu banyak. Dalam acara tersebut kami mengundang dua pembicara yang sangat hebat yaitu Ir. Daniel Adipranata dari Leimena Institute dan Kombes. Pol. Dr. Barito Mulyo Ratmono, S.H., S.I.K., M.Si dari Badan Intelijen Negara.

Ir. Daniel Adipranata lebih menyoroti begitu beragamnya kebudayaan dan masyarakat Indonesia. Dalam materi beliau menyampaikan beberapa contoh suku yang masuk ke Indonesia ribuan tahun yang lalu, dan beberapa contoh candi yang dibangun secara berdekatan. Menariknya adalah ternyata candi itu melambangkan makna kebudayaan dan kepercayaan yang berbeda. Hal ini menandakan bahwa Indonesia dapat hidup rukun bersama dan saling menghormati antar kebudayaan dan kepercayaan. “Bhinneka Tunggal Ika”, dalam banyaknya perbedaan Indonesia tetaplah satu. Beliau juga mengutip kata-kata dari Presiden pertama Indonesia , “Sebelum kita memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, aku ingin bersama-sama dengan pejuang lain membentuk satu wadah. Wadah yang bernama Negara. Wadah untuk masyarakat, bagi masyarakat yang beraneka agam, beraneka suku, beraneka adat istiadat”, Soekarno Kongres Rakyat Jawa Timur 1955. Pesan dari beliau sebagai generasi milenial kita harus bisa saling menghormati perbedaan kebudayaan dan kepercayaan, dengan cara itu kita dapat mencegah hoax.

Kombes. Pol. Dr. Barito Mulyo Ratmono, S.H., S.I.K., M.Si. lebih menyoroti dari sisi teknologi yang mengarah ke cyber hoax. Dari  materi yang beliau sampaikan terdapat data 45% penduduk Indonesia aktif menggunakan media sosial di telepon genggam, ini yang membuat hoax dapat dengan mudah tersebar. Oleh karena itu, generasi milenial dihimbau untuk memeriksa kebenaran berita sebelum menyebarkannya. Karena dalam undang-undang no 19 tahun 2016 pasal 27 ayat 1  tertulis penyebar dapat diberikan hukuman. Beliau juga menyampaikan perbedaan antara Hoax, Fake News, dan Hate Speech.

  • Hoax : Berita yang disampaikan melenceng dari data yang ada
  • Fake News : Berita yang disampaikan dari data yang dibuat (sengaja dibuat dan tidak ada data aslinya)
  • Hate Speech : Ajaran kebencian terhadap suatu kelompok/suku/agama/ras tertentu

Beliau juga menyampaikan mekanisme pembuatan HOAX sampai pada mekanisme memviralkan berita tersebut. Dalam hal ini beliau berpesan kepada para generasi milenial

  • menjadi pengguna yang cerdas dalam ruang cyber
  • hindari syndrome FOMO (Fear of Missing Out)
  • jangan mudah terhasut dan memposting sesuatu
  • selalu lakukan check, re-check, cross check, final check
  • hindari curhat di dunia maya
  • pahami regulasi di ruang cyber
  • kemajuan TIK jangan dihindari, tetapi hadapi dengan bekal ilmu pengetahuan memadai sehingga dapat bermanfaat
  • perbanyak memposting hal positif
  • jadilah bagian dari civil cyber troops

More Photos @Google Photos