Entrepreneurship Rabu : Philip Suriaputra

Entrepreneurship Rabu : Philip Suriaputra

Philip sebagai mahasiswa semester 3 di Universitas Ciputra telah memiliki sebuah bisnis bernama The Fries Company, sebuah kreasi kentang goreng yang dipadukan dengan berbagai macam bumbu dan rasa saus seperti rasa keju maupun varian rasa pedas. Usaha ini ditekuni Philip dari bulan Agustus 2015, meskipun terhitung masih baru, Philip telah memiliki strategi marketing yang saat ini telah diaplikasikan pada bisnisnya.

Dalam menjalankan usaha The Fries Company ini Philip memiliki dua orang tim kerja yang berasal dari universitas lain. Banyak suka duka yang dialami ketika memiliki partner kerja yang bukan berasal dari universitas yang sama. Selain faktor kesibukan antara satu sama lain, Universitas Ciputra dengan mindset entrepreneurialnya juga lebih menitikberatkan pada project dan tugas praktek secara langsung. Berbeda dengan universitas lain yang hanya menitikberatkan pada aspek teori.

Photo 11-18-15, 11 59 47Melalui mata kuliah E3 Reboan yang didapatkan Philip selama masa perkuliahan di Universitas Ciputra, banyak hal positif yang diperoleh Philip dan dapat diaplikasikan terhadap kemajuan bisnisnya ini. Melalui mata kuliah E3 ini Philip mendapat pengalaman secara langsung bagaimana cara menjual produk dan dimulai dari nol. Philip sebagai founder dari The Fries Company, juga merangkap sebagai pihak yang mengerjakan marketing dan memasak atau membuat resep dari bisnisnya ini.

Diakui oleh Philip, cara marketing yang saat ini dilakukannya adalah melalui digital marketing yaitu melalui media sosial Instagram. Didalam Instagram, Philip mengupload sebagian besar foto produknya dengan penampilan yang menggugah selera sehingga dapat menarik perhatian calon customer. Selain itu, Philip juga sengaja menambahkan video-video pendek berisi summary atau testimoni dari para pembeli produknya pada saat The Fries Company mengikuti bazaar. Hal ini dilakukannya untuk mendapatkan feedback dari konsumen bagi produknya. Jadi Philip akan terus melakukan evaluasi dan perbaikan terhadap produknya agar lebih baik lagi. Selain marketing melalui sosial media, Philip lebih memilih memasarkan produknya melalui bazaar-bazaar yang saat ini telah banyak diselenggarakan di Surabaya. Salah satu manfaat Philip lebih memilih mengikuti bazaar adalah karena dengan bazaar, dia akan mendapatkan banyak video summary untuk diupload di akun Instagram, jadi strategi marketing akan berjalan dua-duanya.

Menurut penuturan Philip, saat mengikuti kuliah E1 dia baru pertama membuat project bisnisnya dan berusaha menjualnya. Bisnisnya waktu itu adalah kue cubit. Diakui oleh Philip bahwa produk tersebut kurang berjalan, karena hanya berjalan secara musiman. Melalui kuliah Reboan yang dia ikuti di Universitas Ciputra, Philip mengetahui bahwa untuk menentukan sebuah produk tidak diperlukan produk yang masih baru dan jarang orang yang tahu. Namun cukup membuat produk yang universal dan semua orang telah tahu produk tersebut. Cukup inovasi dan kreatifitas dari Philip yang diperlukan untuk mengubah produk tersebut semakin disukai calon pembeli. Dari situlah Philip memilih kentang goreng sebagai produknya. Sebagai inovasi, Philip menambahkan bumbu-bumbu aneka rasa untuk produk kentang gorengnya.

“Jangan menilai partner tim kerja hanya dari penampilan luarnya saja. Jangan menganggap orang yang penampilannya santai, lantas dianggap nggak bisa kerja. Itu anggapan yang salah”, tutur Philip ketika ditanya tentang bagaimana team work dalam bisnis The Fries Company miliknya. Harapan yang diinginkan Philip bagi bisnisnya ini adalah untuk kedepannya dimulai dari mengikuti bazaar kemudian jika sudah terkumpul modal akan mendirikan stand, baru kemudian berharap akan semakin berkembang melalui cara franchise.

Instagram : @thefriescompany