MENELAAH PESAN TERAKHIR DR(HC).Ir CIPUTRA

Pada tanggal 27 Agustus 2019 bpk Ciputra merayakan hari ulang tahunnya yang ke 88 di rumah Pondok Indah. Hadir di acara tsb 30 undangan terbatas yang terdiri dari para Komisaris dan Direktur (plus seorang mantan Direktur) Grup Ciputra. Tidak pernah terbayangkan sebelumnya oleh kami yang hadir di pertemuan lengkap Komisaris &
Direksi tsb bahwa itu akan jadi pertemuan terakhir dengan bpk Henk Wangitan dan bpk Ciputra sendiri. Bpk Henk wangitan Komisaris Grup Ciputra berpulang tgl 13 September 2019 dan Bpk Ciputra berpulang pada tgl 27 November 2019. Di pertemuan tsb Bpk Ciputra memberikan sambutan selama 17 menit dan 50 detik dan selama hampir 18 menit tsb ia menyampaikan 674 kata.

Pidato ini merupakan sekumpulan kata dan kalimat yang disampaikan perlahan-lahan dan ada banyak jeda. Seorang yang masih muda dan sehat akan berbicara sekitar 125-150 kata per menitnya. Jadi bila kalimat-kalimat itu diucapkan Bpk Ciputra 20 tahun lalu maka untuk 674 kata tsb akan cukup dilakukan dalam 5,5 menit saja dan bukan dalam 18 menit. Oleh karena itu ketika Bapak Ciputra terpaksa harus berbicara lebih lambat dan terdapat jeda-jeda panjang dalam berbicara karena faktor kesehatan maka kita dapat simpulkan bahwa kondisi tsb memungkinkan terjadinya sebuah proses berpikir yang lebih mendalam sehingga setiap kata dan kalimat yang disampaikannya menjadi sangat penting. Dengan bantuan Ibu Cecilia Laras Rembulan, seorang dosen di Psikologi UC dan dengan menggunakan perangkat lunak NVivo saya melakukan analisa kualitatif terhadap kata dan kalimat dari “speech” resmi dari Bpk Ciputra sebagai seorang pendiri Grup Ciputra dan saya menemukan pembelajaran-pembelajaran berharga dan pesan-pesan yang penting.

1. “We” not “I”

Sangat menarik sekali ketika program NVivo menghitung frekwensi dari tiap makanditemukan bahwa kata “kita” adalah kata yang paling sering dikatakan dan mencapai jumlah 43 kali (6,23%) diucapkan di dalam pidato Bpk Ciputra. Sedangkan kata “kami” diucapkan 9 kali dan kata “saya” diucapkan 17 kali. Bila kata “kita” dan “kami” digabungkan (dalam bahasa Inggris jadi “we” saja) maka akan berjumlah 52 kata atau sekitar 3X lebih banyak dari kata “saya”. Cloudword dari frekwensi kata tsb dapat dilihat di gambar berikut ini:

Di dalam Cloudword semakin sering suatu kata muncul maka semakin besar ukuran kata tsb oleh karena itu sangat jelas bahwa kata “kita” adalah kata yang sangat dominan dikatakan oleh pak Ciputra. Ini memperlihatkan sebuah gaya kepemimpinan yang sangat matang dan rendah hati. Sesungguhnya bisa saja bpk Ciputra menggunakan kata saya lebih banyak karena kita akui bersama bahwa peran besar Bpk Ciputra dalam melahirkan dan membesarkan Grup Ciputra adalah tidak terbantahkan. Namun pak Ciputra tidak memilih itu, ia memandang apa yang terjadi di Grup Ciputra adalah karya bersama dan bukan karya pribadi. Inilah sebuah contoh kepemimpinan yang patut kita teladani yaitu ketika berbicara tentang apa yang telah dicapai mari gunakan kata “kita” daripada mengunakan kata “saya”.

2.  Isu: Regenerasi

Pernyataan pendek pertama dari Bpk Ciputra di dalam pidatonya adalah Grup Ciputra yang telah berusia 38 tahun yang kemudian disusul dengan isu kedua yaitu regenerasi yang kemudian ia masuk ke isu IPE. Setelah IPE ditekankan Bpk Ciputra masuk kembali ke isu regenerasi. Ini memperlihatkan bahwa “regenerasi” di Grup Ciputra adalah sesuatu yang memiliki tempat yang sangat penting di hati Bpk Ciputra. Ketika membaca pidato Bpk Ciputra, Ibu Cecila Laras Rembulan sebagai peneliti mendapatkan bahwa isu “regenerasi” ini sebuah isu dominan di pidato Bpk Ciputra sehingga kemudian ia “men-coding” kata tsb dan mengumpulkan semua kalimat pak Ciputra yang terkait dengan regenerasi dalam satu kelompok dan inilah kalimat-kalimat pak Ciputra tentang regenerasi tsb:

“Antara generasi muda generasi tua, generasi tua berangsur-angsur akan
diganti oleh generasi muda, baik yang profesional maupun keluarga saya
sendiri, itu hal yang terus berlangsung dan itu hal yang tidak bisa dihindari
sama sekali”.

“ini tidak gampang bagi kita, peralihan dari satu generasi ke generasi yang lain,
ini tidak gampang, ini yang terus saya ingatkan bahwa trisila ini dan kita harus
pegang terus, supaya peralihan generasi ini berlangsung dengan baik”

“dan itu saya harapkan bukan hanya generasi sekarang, tapi generasi
mendatang akan terus berlanjut terus. Saya mengharapkan bukan hanya
dengan saya, tapi dengan semua anak, dengan anak dengan cucu bahkan
cicit”

“saya selalu bersyukur saya mempunyai keturunan yang cukup banyak untuk
meneruskan perusahaan ini, saya inginkan benar saya berdoa untuk itu supaya
generasi kita terus menerus, supaya Ciputra Group bukan hanya satu generasi
tapi beberapa generasi yang akan datang, inilah harapan saya”

“Karena anda sebagai kepala tolong sampaikan kepada generasi baru inilah
harapan dari pendiri yang lalu, bahwa Ciputra Group supaya tetap eksis”

Ini kembali memperlihatkan bahwa untuk pak Ciputra regenerasi adalah sesuatu yang sangat penting walau ia akui sendiri sebagai sesuatu yang “tidak gampang” dan kunci peralihan generasi adalah pada “trisila” IPE yang jadi panduannya. Di dalam regenerasilah keberlanjutan perusahaan dapat dipelihara dan melalui IPE keunggulan perusahaan dapat dilanjutkan. Kombinasi regenerasi dengan IPE sesungguhnya adalah “rumus panjang umur” dari Grup Ciputra. Melalui kalimat-kalimat diatas sangat jelas bpk Ciputra memberikan titah dan sekaligus tantangan kepada para pemimpin Grup Ciputra untuk memproses regenerasi dengan mulus, baik untuk keluarga maupun profesional, walau itu sulit namun harus dilakukan dan dituntaskan. Saya teringat pada sebuah percakapan dengan Bpk Ciputra yang terjadi sekitar 5 tahun yang lalu. Saya dan bpk
Ciputra berada di dalam mobil yang sama pada saat itu dan saya bertanya kepada Bpk Ciputra pertanyaan ini:”Seandainya hanya ada satu hal saja yang Bapak boleh lakukan di 5 tahun kedepan ini maka apakah yang akan Bapak lakukan?”. Jawabannya cepat sekali, Bpk Ciputra menjawab:”Ya pasti HRD”. Ini kembali menguatkan apa yang telah dipesankan Bpk Ciputra di pertemuan dengan Direksi dan Komisaris yaitu pengembangan dan penguatan HRD yang IPE untuk memastikan terjadinya regenerasi yang mulus.

3. IPE
Kata IPE muncul diantara isu regenerasi dan ketika Bpk Ciputra mengatakan IPE maka Bpk Ciputra menggunakan kata-kata yang kuat untuk menekankan betapa pentingnya IPE. Pertama, Bapak Ciputra mengatakan bahwa tanpa IPE Grup Ciputra tidak akan bisa bertahan, kedua IPE disamakan seperti Panca Sila untuk negara Indonesia, jadi harus dipahami, dijalankan dan dijaga. Ketiga adalah penggunaan kata “benar-benar” dan “jangan” untuk menekankan bahwa IPE harus dilestarikan, inilah kalimat asli Bpk Ciputra “Saya mengharapkan hal ini benar-benar untuk terus kita pegang, jangan ada yang menyeleweng, kita dengan penuh kebijaksanaan saling mengingatkan bahwa kita mempunyai tiga sub sila tersebut”.

4. Terima kasih
Kata terima kasih disampaikan 11X dan ini disampaikan kepada karyawan (termasuk keluarga). Bapak Ciputra bahkan menggunakan kata “tolong” dan kata “pengorbanan” untuk menghargai karyawan. Inilah kalimatnya “…tolong berikan ucapan terimakasih kami tolong juga ucapkan syukur kami atas pengorbanan yang anda berikan kepada kami, kami benar-benar ucapkan terimakasih kepada yang Maha Kuasa atas berkat dan perlindungan yang diberikan pada keluarga kami, terimakasih atas pengorbanan anda”. Ini memperlihatkan sebuah apresiasi tulus dari seorang pendiri dan pemimpin Grup
Ciputra yang sangat pantas untuk jadi inspirasi dan suri tauladan untuk kita semua.

5. Tiga Kata Terpenting
Ketika mendidik anak maka ada 3 kata yang paling penting yang harus diajarkan yaitu “silahkan (please), terima kasih (thank you) & aku minta maaf (I am sorry). Kata “maaf” adalah yang paling sulit untuk dikatakan, apalagi untuk seseorang yang memiliki nama “besar” dan “memimpin”. Jarang yang dapat mengatakan ini kepada banyak orang dan di depan banyak orang. Dalam bahasa PR (public relation) kita diajarkan cara-cara untuk membuat maaf yang lebih “lunak” yaitu dengan mengatakan “sebuah kekeliruan yang dapat terjadi oleh siapa saja” atau “sebagai manusia yang tidak sempurna maka….” Sangat jarang kita mendengar langsung dari seorang pemimpin terkemuka permintaan maaf yang terang-terangan tanpa kata-kata “pembungkus”. Namun hal ini telah dilakukan Bpk Ciputra di akhir pidatonya, hanya ada 3 hal yang terdapat di bagian akhir pidato pak Ciputra yaitu minta maaf, berterima kasih lagi dan harapan kiranya Tuhan memberkati kita semua. Khusus untuk kata maaf itu sendiri maka inilah kalimatnya “Kami sebagai share holder meminta maaf, cukup banyak kesalahan yang kita lakukan tolong maafkan kami”. Ini kembali jadi sebuah inspirasi tentang pemimpin yang rendah hati.

Leave a Comment

Your email address will not be published.