Belajar Akuntansi dengan Permainan Pisang Goreng

Belajar Akuntansi dengan Permainan Pisang Goreng

Belajar akutansi yang identik dengan angka dan pembukuan kerap dianggap membosankan. Nah, mahasiswa Program Studi Akutansi Universitas Ciputra (UC) berusaha mematahkan anggapan tersebut. Caranya, dengan membikin kompetisi akutansi yang dikemas dalam bentuk permainan.

Run Accounting and Investment (RAISE) adalah event yang diselenggarakan tiap tahun oleh Universitas Ciputra. Acara ini selalu mendapatkan antusias dari siswa SMA. “Tahun ini perserta yang ikut adalah 111 tim. Tiap tim terdiri dari 3 orang. Sudah ada pendaftar sebelum kompetisi ini kami buka”, jelas Melisa, Ketua RAISE 2018.

Kompetisi yang mempunyai tujuan untuk mengajarkan pembelajan akuntansi dan investasi yang dikemas dalam bentuk permainan, tahun ini menghadirkan game baru yang diberi nama Pisang Goreng (PIGO). PIGO ini digagas oleh Ibu Maria Assumpta Evi Marlina, S.E., M.M., CMA., dosen akuntasi universitas ciputra, mengajarkan pentingnya peran akutansi dalan investasi. Dengan kemasan permainan, konsep-konsep akuntansi bahkan invetasi ditanamkan pada tiap peserta.

Punya pemahaman tentang pengaturan uang sejak dini, bahkan sadar pentingnya untuk berinvestasi menjadi tujuan dari acara RAISE ini.

Selain game pisang goreng, materi akutansi dikemas dalam bentuk permainan lain seperti bakiak raksasa. Tiga orang yang mengenakan bakiak harus berkoordinasi untuk maju ke tiga meja yang sudah disediakan. Di setiap meja, ada soal yang harus mereka kerjakan. “Pembelajaran akutansi jadi seru dan menyenangkan,” tutur Widiya, peserta dari SMA Wachid Hasyim 5 Surabaya.

Menurut Melissa, kompetisi yang sudah berjalan kali kelima itu bertujuan menunjukan bahwa akutansi tidak sekaku atau serumit yang orang bayangkan. Selain itu, ditunjukkan bahwa akutansi berkaitan dengan kehidupan sehari-hari.

Misalnya, game pisang goreng. Agar bisa merencanakan pembuatan pisang goreng dan perhitungan modal hingga hasil penjualannya, peserta diajarkan cara menghitung dari awal modal hingga untung ruginya.

Alferd Ferdinand, siswa kelas XI Perbanan SMK YPPI Surabaya menuturkan, lomba tersebut memberi banyak inspirasi yang tidak dipikirkan sebelumnya. Dengan adanya permainan itu, pembelajaran lebih menarik dan bisa diterima. “Ternyata akutansi erat kaitannya dengan

kehidupan sehari-hari,” ucapnya.

Source: Jawapos – 28 Oktober 2018