Jatisumber, Markas Patung Dewa

Jatisumber, Markas Patung Dewa

Matahari bersinar terik saat rombongan mahasiswa Accounting angkatan 2016 Universitas Ciputra tiba di kecamatan Trowulan yang terletak di kabupaten Mojokerto. Trowulan sendiri dikenal dengan industri kerajinan patung yang terbuat dari batu, kuningan maupun terakota. Company visit yang dilaksanakan pada tanggal 4 Mei 2018 lalu itu, diadakan untuk memenuhi salah satu mata kuliah dari jurusan Accounting yaitu Business Establishment. Kunjungan ini merupakan salah satu contoh dari metode pembelajaran unik yang dimiliki oleh prodi ACC UC yaitu Accounting Active Learning. Dengan menerapkan metode pembelajaran ini, mahasiswa Akuntansi diajak untuk mempelajari ilmu-ilmu akuntansi secara aktif. Salah satu contohnya pada saat kunjungan kali ini, mahasiswa diajak terjun langsung untuk mengobservasi bentuk bisnis UMKM Trowulan terutama di bidang karya seni patung yang telah ada sejak tahun 60’an.

 

Di dusun Jatisumber tepatnya, mahasiswa diajak mengunjungi sanggar patung Mandala Majapahit (ManMa) untuk mendengarkan bagaimana sejarah awal mula industri kerajinan patung dan perkembangannya. Mahasiswa juga diajak  berkeliling mengunjungi dan melihat secara langsung proses pembuatan patung. Banyak yang belum mengetahui sebenarnya di dusun Jatisumber, Trowulan ini, pernah menjadi ibu kota kerajaan terbesar di nusantara pada masanya yaitu Majapahit dan di daerah ini pun dekat dengan situs candi trowulan dan juga pernah ditemukan banyak artefak penting peninggalan dari peradaban Majapahit.

 

Perwakilan dari ManMa menceritakan tentang perjalanan para pemahat patung di daerah Trowulan. Masa kejayaan para pengrajin patung ini memuncak pada saat krisis moneter sekitar tahun 1997. Ketika industri lain banyak gulung tikar, justru hal ini bertolak belakang dengan para pengrajin yang berprofesi dibidang seni. Meningkatnya dollar secara drastis memberikan keuntungan yang semakin besar bagi pengrajin. Hal ini disebabkan karena peminat dominan dari seni patung ini adalah turis. Namun, saat ini jumlah pemahat patung semakin menurun. Hal ini disebabkan karena pemahat patung Trowulan mendapat tekanan untuk memberikan harga yang sangat rendah. Sedangkan diluar sana, patung yang mereka buat dijual dengan harga berkali-kali lipat.

 

Menurut Nanang yang merupakan salah satu anggota ManMa, hingga saat ini masih belum ada bantuan nyata dari pemerintah mengenai badan hukum dan koperasi bagi pengrajin patung. “Badan hukum belum ada, koperasi juga belum ada. Sudah sering ada wacana kalau akan dibuatkan tapi nyatanya sampai hari ini pun belum ada.” Kata Nanang. Saat ini sendiri, upaya yang sudah dilakukan oleh warga sekitar untuk melestarikan kerajinan patung ini adalah dengan membuat Digital Marketplace khusus untuk patung. Hal ini dilakukan dengan harapan para pembuat patung dapat menjual patung-patungnya secara langsung kepada customer. Dengan begitu, para pengrajin tidak lagi menerima tekanan oleh pihak ketiga mengenai penetapan harga.  Namun hingga saat ini, aplikasi Digital Marketplace tersebut masih dalam tahap pengolahan.

Dengan adanya kunjungan ini, mahasiswa dapat belajar secara langsung tentang permasalahan dan upaya yang dilakukan oleh Mandala Majapahit. Dengan begitu mahasiswa diharapkan dapat berpikir kritis dan kreatif dalam menyelesaikan permasalahan yang akan timbul dibisnis mereka nantinya. (ER)