iTalk – Arsitektur Tradisional Indonesia

iTalk – Arsitektur Tradisional Indonesia

Kegiatan bulanan i’Talk (Innovation Talk) kembali hadir pada Jumat lalu, tepatnya pada tanggal 16 September 2016 yang lalu. i’Talk kali ini bekerja sama dengan program studi Interior Architecture (INA) dan mengambil tema “Arsitektur Tradisional Indonesia” dan sebagai narasumber, ditunjuk Bapak Prof. Dr. Ir. Josef Prijotomo, M Arch. (Guru Besar Teknik Arsitektur ITS) dengan moderator Bapak Gervasius Herry Purwoko  (Interior & Architecture Lecturer). Acara yang dimulai pada Pkl 13.30 wib ini membahas tentang arsitektur tradisional Indonesia yang patut dihargai dan dijaga kelestariannya dan bagaimana meningkatkan kesadaran atas arsitektur Nusantara sebagai patokan arah gaya arsitektur bangsa sehingga ke depannya dapat kembali menjadi identitas diri Indonesia.

Arsitektur Tradisional Indonesia itu jelas-jelas berbeda dari arsitektur Eropa atau arsitektur Barat. Oleh karena menunjukkan perbedaan yang sangat jelas itulah maka arsitektur tradisional itu tidak dimasukkan sebagai bagian dari ilmu arsitektur, melainkan masuk ke dalam ilmu kebudayaan. Jikalau dikatakan bahwa arsitektur Nusantara itu berbeda dari arsitektur Eropa, apa saja perbedaan yang mendasar? Yang pertama, arsitektur Nusantara itu mencakup arsitektur dari batu (candi) dan arsitektur dari kayu (bangunan tradisional); sedang arsitektur Eropa hanya menyangkut arsitektur batu saja. Yang kedua, arsitektur Nusantara itu berfungsi sebagai penaung atau peneduh, sebagai pernaungan atau perteduhan; sedang arsitektur Eropa itu berfungsi sebagai pelindung atau perlindungan. Sebagai pernaungan maka dinsing bangunan itu difungsikan sebagai tirai, sedang sebagai pelinsung dindingnya menjadi solid, massif dan tidak tembus pandang dan tak tembus angin. Yang ketiga, sebagai konsekuensi lebih lanjut dari ciri kedua, ruangan di dalam bangunan lebih ditujukan untuk upacara adat, penyimpanan benda berharga, dan tempat tidur para perempuan; kegiatan siang hari sebagian banyak dilakukan di luar bangunan (kolong, emperan, pelataran).

Dalam mengkinikan, sejujurnya saja ada demikian banyak penggarapan yang dapat dilakukan. Beberapa darinya adalah sebagai berikut :

  1. Kita bisa saja melakukan pengkinian dengan mengangkat seluruh obyek Nusantara tetapi tidak sebagai peng-copy-an, melainkan sebagai transformasi atau modifikasi sehingga hasil akhirnya memperllihatkan kesan “Ya Jawa, tetapi juga tidak jawa.”
  2. Dengan tetap melakukan transformasi atau modifikasi, mengambil sebagian saja dari yang Nusantara, bahkan bisa saja mengambil detil minor, misalnya umpak bangunan.
  3. Mengkombinasikan yang modern dengan yang Nusantara dengan perbandingan yang proporsional misalnya 25% modern dengan 75% Nusantara; 50% modern dan 50% Nusantara.
  4. Melakukan olah kreatif atas berbagai karya kerajinan dan kesenian Nusantara, misalnya motif tenunan dan anyaman bamboo atau rotan, lesung penumbuk padi atau kendi.

Arsitektur dan rancangan yang masa kini ternyata bisa ditangani sehingga sekaligus universal/modern tetapi juga sangat kuat jatidiri/identitas Indonesianya.

Tampak hadir selain mahasiswa Interior Architecturesebanyak tiga puluh (30) orang, hadir juga Dekan Interior Architecture Pak Freddy H. Istanto, Kaprodi Interior Architecture Bu Astrid Kusumowidagdo, serta wakil dari Yayasan Ciputra, DR. Ir. Denny Bernardus K.W, MM.

Resonance dari UKM Band juga kembali hadir membuka serta menutup kegiatan ini dengan melantunkan tembang bernuansa Jawa, “Sewu Kutho” dan “Prahu Layar”.

 

collage

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *