Evan Raditya, dosen baru VCD

“Tidak peduli bagaimana caranya, aku harus bisa melaluinya.”,  itulah mantra ajaib yang selalu saya ucapkan kepada diri saya selama menjalani tahun-tahun perkuliahan di program studi VCD, Universitas Ciputra.  Tidak pernah terpikirkan sebelumnya, bahwa semangat itu yang membuat saya berani untuk melangkah ke beragam variasi keilmuan ilustrasi, seni, dan desain yang saya cintai.

Saya ingat, project ilustrasi pertama saya adalah buku cerita anak yang berjudul Aaron and the Magic Apple, ditulis oleh Arleen. A. Pada saat itu saya masih semester 3 dan baru mempelajari teknik dasar untuk ilustrasi digital di semester 2. Dapat dibayangkan, betapa mentahnya saya saat itu –jangankan mengenai teknik menggambar untuk buku cerita anak, saya juga tak tahu menahu mengenai kontrak, prosedur, dan juga masih belum mengenal apa itu NPWP. Namun, dengan bermodalkan keyakinan dan kejujuran yang kuat pada diri sendiri bahwa jalan seni inilah yang sudah ditakdirkan untuk saya.

Tahun demi tahun berlalu, 2013 adalah tahun kelulusan saya, dan benar apa adanya yang dikatakan oleh banyak orang, bahwa kelulusan adalah awal dari perjalanan karir; tidak peduli sehebat apapun bisnis yang kita miliki selama studi, langkah yang sebenarnya dimulai ketika kita lulus. Masih pada tahun yang sama ketika saya lulus, saya bekerja keras untuk memperkenalkan siapa saya dan mengapa saya adalah Illustrator yang berbeda dari yang lain. Beragam event saya ikuti tanpa kenal lelah, saat itu saya benar-benar dapat merasakan bahwa hormon serotonin menguasai saya, saya senang, saya bangga, dan itulah puncak kepuasan saya sebagai Illustrator buku cerita anak yang mendapat pengakuan atas jati dirinya melalui karya yang dibuat dari hati.

Pada tahun 2014, saya membuat sebuah keputusan yang merubah seluruh jalan karir saya. Tidak ada lagi sosok Evan dengan title Illustrator buku cerita anak karena saya telah memantapkan hati untuk melebarkan kemampuan ilustrasi saya ke ranah pop-surealisme. Karya saya dalam aliran pop-surealisme ini rata-rata terinspirasi dari budaya jepang dan tidak ada satu pun yang bercirikan ilustrasi buku anak seperti yang pernah saya buat. Alasan saya melakukannya karena, ada banyak ide dan konsep di kepala saya yang tidak akan pernah terwujud bila menggunakan gaya ilustrasi buku anak. Jadi, pada dasarnya saya mendobrak batasan yang saya buat sendiri dan mencari tahu sejauh apa saya dapat melangkah sebagai Illustrator independen yang tidak terikat pada satu topik yang spesifik. Saya mengakui perbedaan sisi artistik seni dan desain yang ada dalam diri seorang Evan dan saya memutuskan untuk memeluk dan mengakuinya, bahwa semuanya itu yang membentuk diri saya sekarang.

Beragam project telah saya terima sebagai seorang Illustrator independen, beberapa yang saya banggakan di antaranya adalah keterlibatan saya sebagai satu-satunya Illustrator Indonesia dalam proyek kampanye Aniversary Adobe Photoshop ke 25 tahun, ilustrasi poster film alternatif Ghost In The Shell oleh Paramount Pictures, dan ilustrasi buku anak biografi “King Kenny” oleh Liverpool Football Club untuk perayaan 125 tahun Liverpool. Proyek King Kenny tergolong spesial bagi saya, karena King Kenny adalah pembuktian bahwa meskipun saya telah berkelana dalam beberapa gaya ilustrasi, saya tetap tidak membuang akar gaya ilustrasi yang membesarkan saya hingga saat ini.

Dari tahun 2013 hingga 2017, perjalanan karir ilustrasi saya juga memberikan manfaat bagi Illustrator muda di luar sana yang ingin berkarya dan tidak tahu harus dari mana dan bagaimana memulainya –beserta dengan keraguan akan gaya ilustrasi mereka yang beragam. Saya membantu mereka melalui undangan saya sebagai pembicara di seminar dan talkshow tentang desain dan industri kreatif. Pada suatu hari, saya menyadari bahwa kepuasan hati ketika saya dapat membantu memberikan semangat pada mereka membuka mata hati saya, bahwa saya ingin melakukan lebih dari ini. Maka, pada bulan Agustus 2019, saya bergabung sebagai tim Dosen di kampus almamater saya, Universitas Ciputra, dan tentunya pada program studi VCD.

Ketika saya mendapat pertanyaan, kenapa kembali ke Universitas Ciputra untuk mengajar, sementara saya bisa mengejar hal lain yang lebih besar di luar sana, jawaban saya selalu sama; ini adalah era di mana “tidak peduli bagaimana pun caranya, saya ingin mereka –para anak-anak muda yang memiliki impian tak terbatas seperti saya 10 tahun lalu, mampu untuk menggapainya dan menceritakan pada dunia, bahwa tidak ada kekuatan lain yang mampu membawa kita untuk menggapai mimpi dan cita-cita kecuali rasa percaya pada diri sendiri”.

Evan Raditya