Berorganik dari Pekarangan.Trubus.Februari 2021.hal78,79

Setiap bulan tak kurang 3.000 pengunjung memadati Kampung Organik Brejonk di Desa Penangunggan, Kecamatan Trawas, Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur. Mereka paling menggemari taman refugia. Di taman itu hamparan kenikir Cosmos sp. berbunga kuning tak hanya menarik hama tetapi juga pengunjung. Gunung Penanggungan turut menjadi latar foto yang indah.

Direktur pengelola Kampung Organik Brejonk, Slamet Siatim, mengatakan, taman refugia itu baru dibuka pada pertengahan 2020. Taman refugia memang untuk menarik pengunjung. Warga pun dapat menjajakan produk organik yang baru saja dipetik dari kebun. Tak hanya produk segar, mereka juga mengolah beragam menu berbahan organik.

Perkarangan organic

Pengunjung dapat menikmati kuliner sawah organik-kuwah organik-di saung-saung yang berada di tengah sawah. Ada 17 unit kuwah organik tersebar di area dusun. “Dengan kuwah, kami memanfaatkan hanya 10% lahan untuk menjual menu organik. Itu agar petani dengan sawah sempit tidak menjual tanahnya kelak,” kata Slamet. Ia mewajibkan setiap pemilik kuwak menggunakan bahan baku dari sawah dan kebun sendiri dan tentunya organik.

Sayuran, buah-buahan, beras, dan bumbu berasal dari tanaman warga sendiri. Sejatinya kampung organik itu salah satu program edukasi Perkumpulan Brenjonk. Alumnus Sekolah Tinggi Ilmu Komputer (Stikom) Surabaya jurusan Manajemen Informatika dan Teknik Komputer itu membentuk Perkumpulan Brenjonk wadah bagi pekebun organik untuk mendalami budidaya organik sekaligus menyalurkan hasil panen.

Nama Brenjong berasal dari salah satu sumber air di desa tersebut bernama Sumber Rejo. Warga melafalkannya mber-jo sehingga tercetuslah kata Brenjonk.

Kegiatannya meliputi produksi, pascapanen, sertifikasi, dan pemasaran. Anggota aktif di Dusun Penanggungan sekitar 130 orang. Mulanya laki-laki kelahiran Kabupaten Mojokerto, 2 Oktober 1970 itu memperkenalkan budidaya organik berbasis kebun pekarangan. Tak heran bila anggotanya mayoritas kaum perempuan. Mereka menanam beragam sayuran daun di dalam greenhouse.

Menurut Slamet terdapat setidaknya 130 greenhouse alias rumah sayur organik (RSO) di pekarangan warga Dusun Penanggungan. “Pertama kali saya hanya tanam sayur di 3 polibag. Lalu bertambah secara bertahap hingga saya rasa perlu lakukan analisis usaha,” ujar Slamet mengenang.

Rumah sayur organik berukuran 5 m x 10 m dengan atap plastik ultraviolet dan dinding kain jarring. Warga biasanya menanam sayuran daun seperti kangkong, bayam, selada, dan siomak di dalam RSO.

Setiap bulan warga bisa memetic 20-40 kg per rumah tanam. Ada pula yang hanya memperoleh 5 kg sayuran per bulan. Itu lantaran berkebung hanya sebagai sampingan. Pada umumnya warga Dusun Penanggungan bekerja menggarap sawah. Sayuran buah seperti terung dan tomat ada di kebun terbuka. Luasnya sekitar 6 hektare.

Selain sayuran, laki-laki berusia 50 tahun itu juga merangkul petani sawah untuk menerapkan budidaya organik. Kini setidaknya 11 hektare lahan padi dan kedelai beralih organik. Produk Brenjonk telah tersertifikasi Organik Indonesia dan Penjaminan Mutu Organik (Pamor). Tak heran bila pasar swalayan, hotel, restoran, dan katering di Kota Surabaya dan sekitarnya meminta pasokan rutin.

Harga tinggi

Bukan perkara mudah merintis dan mempertahankan Perkumpulan Brenjonk. Pada tahun pertama, Slamet kesulitasn mengajak tetangganya untuk ikut berkebun organik. Seiring berjalannya waktu, ia belajar tiga kunci keberhasilan pengembangan masyarakat. Pertama masyarakat perlu suri tauladan. Jangan sekadar disuruh tetapi kita tidak melakukan apa-apa.

Kedua, lakukan kegiatan berorientasi pada peningkatan pendapatan. Ketiga, kelompok yang menaungi harus sembada. Brenjong harus sanggup membeli hasil panen pekebun dan menjualnya. Pembelian panen dengan harga semestinya menjadi salah satu bentuk perlindungan terhadap anggota. Brenjong membeli hasil panen anggota dua kali lipat daripada produk konvensional. Misalnya sayuran daun seperti kangkong harganya Rp 6.000 per kg di tingkat pekebun.

Menurut Slamet kelompok sebaiknya mengelola aspek hulu hingga hilir dengan baik meski hanya kelompok kecil. “Besar atau kecil sama-sama kelompok maka tetap harus dikelola dengan baik,” kata Slamet. Sejak bekerja di dua lembaga syadaya masyarakat Pusat Pendidikan Lingkungan Hidup pada 1990-1994 dan Yayasan Peduli Indonesia 1995-2007, Slamet berkeinginan membuat aksi konkret untuk mengembangkan komunitas desa.

 

Sumber: Trubus, Februari 2021

Serunya Snorkeling dan Diving di Pulau Menjangan Bali. travelclub.co.id. 13 September 2019

https://www.travelclub.co.id/serunya-snorkeling-dan-diving-di-pulau-menjangan-bali/

Bingung saat RS Tak Cover Rapid_Ibu Hamil Hadapi Tantangan selama Pandemi Covid19. Surya. 27 Juli 2020. Hal.3. Gloria Christy Bhagawatgita

SURABAYA, SURYA – Pemkot Surabaya selama ini sudah memberikan fasilitas layanan rapid test gratis bagi ibu hamil (bumil). Bahkan, juga ada test salwab untuk bumil diatas 37 minggu. Namun, sayangnya tidak semua bumil mendapat fasilitas ini.

Annisa Qurrota A’yun (23) misalnya, yang dirujuk ke rumah sakit (RS) tipe B untuk mempersiapkan persalinan anak ketiga. Warga Wonorejo, Rungkut ini mengungkapkan, dirinya mendapat rujukan pada usia kehamilan 36 minggu.

“Karena kelahirannya beresiko, puskesmas memberikan rujukan, dan ternyata rumah sakit rujukan tidak meng-cover biaya rapid. Jadi saya harus cari rapid mandiri,” ujarnya, Minggu (26/7).

Annisa mengatakan, rapid test ini diwajibkan oleh RS rujukannya sebelum tindakan persalinan. Baik normal maupun caesar, namun surat keterangan rapid test hanya berlaku satu minggu.

“Saya tanya puskesmas, katanya nanti diinfo, tetapi sampai mendekati hari persalinan belum ada info tes rapid. Akhirnya saya cari rapid berbayar,” ungkapnya.

Sebagai pemegang Kartu Indonesia Sehat (KIS), Annisa mengaku, cukup keberatan dengan biaya rapid yang mulai dari Rp 300.000.

Selain rapid test, hamil di masa pandemi membuat Annisa harus datang ke RS sendiri. Sementara, anak-anaknya harus tinggal bersama neneknya di rumah.

“Kalau melahirkan juga hanya ditemani suami, ndak boleh dijenguk,” lanjutnya.

 Sangat dibantu

 Lain lagi yang dialami Gloria Christy Bhagawatgita (27), ibu yang tengah hamil 3 bulan ini memang merasa khawatir mengandung ditengah pandemi saat ini.

Namun, Gita mengaku, mengikuti anjuran Pemkot Surabaya untuk langsung pergi ke RSIA saat mengontrol kesehatannya.

“Karena memilih rumah sakit ibu dan anak, yang notabene bukan rujukan covid-19, sejauh ini saya tidak merasa kesulitan. Dokter juga sangat membantu, kapan pun dapat dihubungi apabila terjadi sesuatu tentang kehamilan saya,” katanya, Minggu (26/7).

Tak hanya itu, pihak RS juga sangat memudahkan proses registrasi sekaligus sangat memperhatikan protokol kesahatan.

Usia kehamilannya baru menginjak 12 minggu, sehingga Gita belum merasakan keluhan yang membuatnya harus menjalani rapid atau swab test.

“Berdasarkan kondisi saya, kata dokter untuk sementara tidak perlu rapid.” ujar Gita, yang berjarap tetap sehat dan bisa menjaga kehamilan lancar hingga proses melahirkan.

Saat ini, Gita berusaha tetap menjaga kesehatan diri dan kandungan dengan makan makanan yang bergizi ( 4 sehat 5 sempurna).

“Saya juga berusaha menerapkan protokol saat keluar rumah, seperti menggunakan masker, hand sanitazer, menghindari kerumunan dan rutin konsultasi dengan dokter. Saya selalu komunikasi dan melibatkan peran suami soal kondisi kehamilan ini,” ungkapnya.

Bekerja sebagai Staff Academic Support di Universitas Ciputra, dengan status sebagai karyawan yang sedang hamil, membuatnya memiliki keistimewaan Work from Home (WFH).

“Ini sangat membantu posisi saya sebagai seorang karyawan,” pungkasnya. (ovi/zia)

 

Sumber: Surya. 27 Juli 2020. Hal.3

Menelusuri Sejarah Kawasan Krembangan sebagai Bagian Europeesche Wijk (1)_Pernah ada Makam dan Lapangan Terbang. Radar Surabaya. 19 Juni 2020. Hal.3. Chrisyandi. Library

Bencana Datang Bersama Kesempatan. Jawa Pos. 7 April 2020.Hal.1,23. Teddy Saputra, Felicia Bella Kurniawan. Family Business Entrepreneurship

Aktif Berikan Leadership Training yang Nonprofit

SURABAYA, Jawa Pos – Di usia yang sudah mencapai 64 tahun, Director of University Development Center Tony Antonio masih aktif memberikan training dengan sistem nonprofit. Bahkan, dia tidak hanya melakukannya di Surabaya dan sekitarnya, tetapi juga sampai ke luar pulau seperti Kupang dan Medan. Alasannya sederhana. Pria yang juga seorang ketua senat di Universitas Ciputra itu mengaku ingin membantu para anak muda yang masih bingung dengan masa depan mereka.

Kegiatan memberikan training ternyata digeluti sejak dia lulus S-1 dari Universitas Pancasila Jakarta. “Passion saya sebenarnya memang masih sejalan dengan pekeraan saya ngajar ya. Bedanya dikit aja,” ujarnya lantas tertawa.

Dia menuturkan, di dalam kelas, dirinya mengajar materi yang sangat akademik. Itu berbeda dengan training. “Yang saya ajarkan lebih ke skill dan santai,” jelasnya saat ditemui di kantornya kemarin (20/1). Sejak kuliah Tony mengaku sangat aktif diberbagai kegiatan dan organisasi. Salah satunya organisasi waralaba tempatnya memberikan training nonprofit tersebut. “Awalnya memang memberikan training yang nggak jauh dari tempat tinggal. Tapi beberapa tahun terakhir sudah mulai ke luar pulau, “ucapnya. Training yang diberikan umumnya soal leadership. “Tapi, turunannya banyak. Ada life skill, managing self, dan masih banyak lagi,” jelas pria yang mengambil S-2 di University of South Australia itu.

Sebulan, setidaknya pria kelahiran 9 Desember 1955 tersebut selalu mendapatkan undangan untuk memberikan training. Untuk yang luarpulau, ada undangan dua bulan sekali. “Tapi juga nggak pasti,” ucapnya. Mayoritas yang dimentori adalah para mahasiswa dan alumni universitas.

“Sebenernya tidak ada batasan umur buat siapa pun yang mau ikut training saya. Tapi ternyata banyak anak muda ini yang lebih membutuhkan. Baik yang masih mahasiswa maupun sudah lulus,” katanya. Dari situ, rektor pertama Universiyas Ciputra tersebut ingin membantu anak-anak muda itu untuk menemukan apa yang ingin mereka bangun di masa depan.

Pria yang kini tengah menempuh pendidikan S-3 di Jurusan Leadership UPH Jakarta tersebut juga masih ingin bisa berbagi ilmu apa pun. “Pokoknya selama saya belum pikun,” tuturnya, lantas tertawa. (ama/c20/tia)

Universitas Ciputra Buka Pusat Kajian Warisan Budaya Kreatif_Keris Sikep Bersanding Batik Kontemporer. Surya. 16 Oktober 2018. Hal.9,12

Untuk mengenalkan budaya bangsa indonesia pada mahasiswa sekaligus sebagai wadah riset, Universitas Ciputra meresmikan Center for Creative Heritage Studies (CCHS) di Perpustakaan Universitas Ciputra, Senin (15/10).

PERESMIAN CCHS tidak hanya ditandai dengan memasmerkan koleksi dari zaman Majapahit, tetapi juga mewadahi karya mahasiswa yang merupakan adaptasi budaya Majapahit. Michael N Kurniawan, pengelola CCHS mengungkapkan, lembaga itu berfungsi sebagai pusat penelitian, pelestarian, dan penciptaan warisan budaya.

Selain itu, juga sebagai pusat pembinaan, pendampingan, pengembangan pelaku budaya, serta pusat diseminasi budaya dan produk ekonomi kreatif berbasis budaya. “Jika ada mahasiswa desain terinspirasi dan membuat produknya maka bisa di pamerkan juga,” urainya.

Yohannes Somawiharja, Rektor Universitas Ciputra mengungkapkan CCHS digagas sebagai sebuah lembaga riset lintas disiplin ilmu. Lembaga itu di bawah naungan Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Ciputra yang bekerja sama dengan institusi-institusi kebudayaan nasional dan internasional.

“Kalau tidak diberi perhatian khusus, budaya Indonesia ini akan semakin terkikis dengan budaya global,” ujarnya.

Dengan lembaga ini diharapkan bisa mewadai pertemuan generasi untuk memahami budaya. Jadi, penempatan berbagai produk budaya ini bisa menarik perhatian anak muda juga.

“Itu seperti koleksi keris dari Museum Gubuk Wayang ini memiliki makna simbolis yang bagus, kami pamerkan agar anak muda ini memahami estetika dan nilai simbolisnya,” ungkapnya.

Selain penelitian dan pengabdian masyarakat, CCHS juga memamerkan koleksi dari Museum. Gubug Wayang, Mojokerto. Untuk tiga bulan pertama, sejumlah koleksi keris dipamerkan berdasarkan latar belakang terciptanya keris. Salah satunya adalah keris Rojo Molo yang digunakan untuk menjaga rumah tangga hingga keris Sikep yang biasanya dihadirkan pada anak khitanan.

Saat ini yang dipamerkan keris. Yang dipamerkan adalah koleksi utama dalam 12 lemari dan berisi 14 keris dan dua tombak.

“Koleksi ini akan terus berganti tiap periode selama tiga bulan. Bisa ganti wayang atau terakota. Kami juga akan didigitalkan dan dokumentasikan koleksi budaya ini,” ujar Michael.

Pameran itu menekankan sejarah pembuatan dan penggunaan keris. Jadi agar mudah dipahami orang awam melalui ceritanya, bukan namanya bukan usianya.

Porsi untuk mahasiswa diawali dalam pembukaan CCHS yang memamerkan desain batik kontemporer buatan mahasiswa. Ditampilkan dalam bentuk fashion show, pameran busana itu menampilkan sejumlah batik yang mulai langka yang di desain dalam busana modern. Seain itu, jika ada program lain yang dicetuskan mahaasiswa atau dosen bisa dikembangkan lagi untuk bekerja sama dengan Bekraf.

“Seandainya dari pameran keris ini ada yang terinspirasi membuat animasi, bisa kami bantu untuk bisa mendapat kerja sama dengan Bekraf,” urainya.

Pusat kajian itu dapat dimanfaatkan masyarakat untuk penelitian, penciptaan warisan budaya baru, pelatihan dan pendampingan pelaku budaya, penerbitan artikel dan buku, pameran, seminar, dan festival budaya. (ovi)

Sumber : Surya.16-Oktober-2018.Hal.9,12