Tradisi yang Memupuk Minat Baca Anak

Tradisi Yang Memupuk Minat Baca Anak.Kompas.24 September 2017.Hal 16 001-page-001

TRADISI YANG MEMUPUK MINAT BACA ANAK

Dari lingkungan keluarga, nilai pendidikan berawal. Nah, salah satu pendampingan yang tepat adalah membimbing anak mengenal kata, memupuk minat baca.

HASIL penelitian yang dipaparkan Joumal of Family Psychology menyatakan, ritual keluarga yang dilakukan secara konsisten, akan mendorong terjadinya perkembangan sosial pada anak dan meningkatkan keeratan dalam hubungan keluarga sampai lebih dari 17 persen.

Ritual keluarga yang dimaksud adalah aktivitas bersama yang memiliki makna dan menguntungkan setiap anggota keluarga. Ada banyak cara sederhana yang dapat dilakukan secara kontinu menjelang tidur.

Berdasarkan buku The Golden Rules to Raise Your Children, karangan dr Alicia Christine, ada hal sederhana untuk memperoleh kembali waktu bermakna bersama si kecil dengan membatasi penggunaan peranti teknologi yang menyita perhatian Anda.

Cukup batasi waktu menggunakan komputer dan ponsel serta menonton TV, terlebih ketika jam tidur tiba. Saatnya mengganti teknologi dengan melakukan permainan, aktivitas ringan, mengobrol, maupun membacakan dongeng.

Mendongeng tak perlu keahlian khusus. Untuk para orangtua, yang diperlukan hanyalah kesabaran dan sedikit bumbu kreativitas agar anak mau fokus mendengarkan cerita.

Proses ini merupakan medium menarik karena mampu menjembatani komunikasi yang efektif dalam membentuk karakter anak. Lewat dongeng, ayah dan ibu dapat secara implisit memberikan nasihat agar kelak si kecil mau menurut perkataan orangtua dan guru.

Ceritakan sebuah dongeng singkat. Cerita tak perlu berpanjang-panjang, yang penting anak mau mendengar dan tertarik dengan alur yang ada. Selesai bercerita, cobalah memberikan inti pesan moral dari cerita tersebut.

Jika Anda menjadikan mendongeng sebagai bagian ritual keluarga, kelak si kecil akan memiliki minat baca lebih baik dan melatih keterampilan berpikir untuk mengembangkan ide baru.

Tak lupa, berikan si kecil, ruang untuk membaca. Atur buku-buku cerita ataupun ensiklopedia milik buah hati Anda, dengan rapi dan apik. Anda bisa menyiapkan sebuah rak buku di sudut ruangan keluarga atau kamar tidur anak, dilengkapi karpet dengan bantat dan bangku kecil untuk memberikan kenyamanan saat dia membaca buku. [AJG]

 

Sumber : Kompas, 27 September 2017 | Hal 16

Pendidikan Minus Karakter

Pendidikan Minus Karakter. Kompas. 18 September 2017. Hal.7 001-page-001

Pendidikan Minus Karakter

Oleh SAIFUR ROHMAN

Presiden telah meneken Perpres Nomor 87 Tahun 2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter, Rabu (6/9). Sebagaimana termaktub dalam Pasal 2, tujuannya mempersiapkan generasi emas yang berkarakter pada 100 tahun Indonesia merdeka 2045.

Dalam minggu yang sama, generasi emas seperti yang diangankan dalam perpres harus berhadapan dengan praktik pembelajaran di tingkat satuan pendidikan. Kita membaca, satu orangtua siswa melaporkan adanya tindak kekerasan di lingkungan SMA Taruna Nusantara ke polisi, Senin (4/9). Kekerasan itu diduga dilakukan enam pelaku di asrama siswa, Kamis (31/8/2017). Dalam minggu yang sama, lima siswa Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) diturunkan pangkatnya akibat terlibat dalam kekerasan terhadap siswa lainnya (31/8/2017).

Sebelumnya, kasus-kasus sejenis di lingkungan pendidikan telah memakan korban. Ketika sampai hari ini kasus-kasus kekerasan membayangi praktik pendidikan ini, bagaimana masa depan perpres tentang pendidikan karakter itu? Tepatnya, lebih pada pertanyaan praktis, bagaimana efektivitas kebijakan itu?

Perpres No 87/2017 tentang Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) mengingatkan kembali pada filsafat pendidikan yang diletakkan oleh Ki Hajar Dewantara sebagai garis biru politik pendidikan Indonesia. Kita baru tahu dari buku Pendidikan (1962) , Ki Hajar secara jelas merumuskan pendidikan harus dilihat sebagai “daja-upaja untuk memadjukan bertumbuhnja budi pekerti” (1962: 44).

Setengah abad kemudian, rumusan filosofis itu diterjemahkan dalam perpres melalui istilah penguatan pendidikan karakter. Proyek ini konon dapat dipraktikkan di sekolah, di pendidikan luar sekolah, dan di dalam keluarga. Secara khusus, dalam Pasal 5, pendidikan karakter mendasarkan diri pada prinsip, yakni pengembangan potensi peserta didik, keteladanan pendidik, dan pembiasaan. Persoalannya, tiga prinsip itu pula telah membawa tiga masalah secara mendasar.

Pertama, masalah dalam pengembangan potensi peserta didik selama ini berdasarkan kurikulum yang bersifat empiris-pragmatis. Maksudnya, perpres tersebut tidak mampu menembus mekanisme Kurikulum 2013 yang telah dibangun hampir lima tahun terakhir. Sebagaimana terbaca dalam perpres, untuk penguatan pendidikan karakter, perlu dilakukan dua hal, yakni penguasaan materi pembelajaran dan metode pembelajaran.

Di satu sisi, materi sebetulnya tidak pemah berorientasi pada penguatan karakter. Sebab, berbicara materi pembelajaran, secara ideal memang terdiri dari empat pencapaian, yakni sikap spiritual, sosial, kognitif, dan psikomotorik. Dalam praktiknya, pembelajaran fokus pada kemampuan mengembangkan kognitif peserta didik untuk menjawab soal-soal ujian nasional. Kemampuan lain tidak perlu diurus karena perilaku individu tidak masuk dalam jadwal ujian.

Di sisi lain, metode pembelajaran tidak menampung upaya reflektif tentang penguatan karakter. Sebab, pemerintah telah mengenalkan metode saintifik sebagai epistemologi utama dalam pembelajaran sejak Kurikulum 2013 hingga Kurikulum Nasional. Metode itu dimulai dari pengamatan, pertanyaan, uji coba, mengolah, dan berakhir dengan diskusi.

Mengacu pada Permendikbud No 24/2016 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar sebagai revisi atas permendikbud sebelumnya yang dikenal dengan Kurikulum 2013, metode tersebut menutup kemungkinan pengembangan metode-metode lain yang relevan dengan ilmu humaniora. Misalnya metode refleksi, introspeksi, dan pencarian nilai-nilai esensiaL Itu berarti, metode pembelajaran yang digunakan dalam Permendikbud No 24/2016 tidak mampu mengakomodasi ‘ penguatan karakter sebagaimana dimaksud dalam Perpres No 87/2017.

Guru minus sikap

Kedua, dalam prinsip keteladanan pendidik, proyek penguatan karakter ini menjadikan guru sebagai ujung tombak keberhasilan. Alih-alih pembenahan karakter peserta didik, langkah utama adalah membenahi perilaku guru. Diakui atau tidak, praktik pembinaan tenaga pendidik dan kependidikan selama satu dasawarsa terakhir tidak berhasil menjangkau kompetensi sosial dan spiritual guru. Hal itu terbukti dalam soal yang telah disusun oleh panserintah dalam,uji kompetensi guru (UKG).

Soal ujian itu hanya mengacu dua hal, yakni kompetensi pedagogi dan kompetensi profesional. Apabila merujuk UU No 14/2015 tentang Guru dan Dosen, jelaslah bahwa kompetensi sosial dan kepnliadian telah luput dalam uji kompetensi guru. Dengan kata lain, prinsip penguatan sebagaimana dimaksud dalam Permendikbud No 24/2016 itu tidak dapat dukungan memadai dalam praktik pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan.

Ketiga, dalam prinsip pembiasaan, pembakuan nilai-nilai yang dianggap sebagai karakter Pancasila cenderung jadi bagian dari praktik indoktrinasi. Sebagaimana termaktub dalam Pasal 3, ada 18 sifat yang diidentifikasi sebagai nilai-nilai Pancasila, yakni religius, jujur, toleran, disiplin, bekerja keras, kreatif, mandiri, demokratis, rasa ingin tahu, semangat kebangsaan, cinta tanah air, menghargai prestasi, komunikatif, cinta damai, gemar membaca, peduli lingkungan, peduli sosial, dan bertanggung jawab.

Pada sisi lain, nilai-nilai yang jelas eksplisit dari Pancasila tidak menjadi orientasi pengembangan, seperti persatuan, keadilan, dan kemanusiaan. Karena itu, pembelajaran karakter semestinya tidak perlu menutup diri pada rumusan baku, tetapi memerlulcan penafsiran yang terbuka, segar, dan aktual.

Ketika nilai-nilai karakter dibakukan, pemerintah seperti lepas tanggung jawab terhadap produksi tafsir lain bagi pengembangan nilai-nilai kebangsaan pada masa depan. Argumentasi “pokoknya 18 nilai” yang diperkenalkan pada tiap satuan pendidikan membawa pada situasi pendidikan totaliter. Jadi, tidak sulit mengatakan bahwa sistem perundang-undangan yang memimpikan pendidikan berkarakter sekarang ini akhirnya memang belum memfilki daya dukung strategis dalam praktik pembelajaran ke depan.

SAIFUR ROHMAN

Pengajar Filsafat

Di Universitas Negeri Jakarta

 

Sumber : Kompas, 18 September 2017 | Hal 7

Asah Anak Kreatif

Asah Anak Kreatif. kompas. 27 September 2017. Halaman. 24 001-page-001

 

Asah Anak Kreatif

 

Seni kehidupan mengajarkan kita untuk selalu fleksibel dalam menghadapi segala sesuatu, berpikir kreatif menciptakan strategi, dan memiliki daya saing yang tinggi. Kreativitas tidak berarti segala hal yang bersifat genetik dan alamiah, tetapi perlu diasah.

 

PROSES perkembangan anak merupakan fase terpenting dalam pembentukan dan peningkatan daya kreativitas. Anak ibarat bibit unggul yang belum diketahui jenis bibitnya. Tugas orangtua adalah menyediakan lahan subur, seperti suasana kasih sayang dan stimulasi mental yang kaya untuk merangsang daya kreativitas anak.

Mengenalkan musik, mengunjungi pameran lukisan, menonton pertunjukan wayang, balet, menonton pertandingan olahraga menjadi salah satu cara memberi stimuli. Beragam rangsangan ini dapat memberi kontak langsung dengan potensi unggul yang dimiliki anak. Misalnya, ketika mendengar suara musik seorang anak segera menggoyangkan tubuhnya seiring dengan irama, yang mengindikasikan memiliki minat di bidang menari.

Variasi rangsangan diperlukan untuk perkembangan kecerdasan anak secara menyeluruh, yang antara lain mencakup logika, kata, musik, gerak, interpersonal, intrapersonal, kinestetik, dan alam. Masing-masing akan mengembangkan potensi unggul sesuai dengan tipe kecerdasan anak, dan harus dimulai sejak dini, khususnya di usia 3-6 tahun. Mengapa? Karena di usia itulah seorang manusia berada dalam puncak kreativitas tertinggi.

Proses pembentukan kreativitas anak melewati beberapa tahap. Usia 0-1,5 tahun merupakan tahap pembentukan kepercayaan pada dunia sekelilingnya, disebut dengan the sense of basic trust. Apabila anak mendapat perlindungan, kasih sayang, dan kehangatan, maka dia akan percaya bahwa dunia ini aman baginya sehingga membuat anak lebih berani, spontan, dan kreatif.

Usia 1,5-3 tahun adalah tahap the sense of autonomy, anak mulai membentuk rasa percaya diri. Anak mencoba mengeksplorasi dunia dengan bergerak, memegang berbagai benda, menendang, memukul, melompat, melempar, dan lain-lain. Berikan kebebasan anak untuk mengeksplorasi sekelilingnya. Terlalu banyak larangan dapat menghambat kepercayaan diri seorang anak.

Pada usia 3-6 tahun, anak memasuki tahap inisiatif (the sense of inisiative). Anak mengembangkan eksplorasi secara mental dengan bertanya dan bersikap kritis, tidak lagi bersifat fisik. Apabila pertanyaan dan kekritisan anak tidak diakomodasi dengan baik dan tidak terpenuhi, kreativitasnya akan terhambat.

Ketiga tahap tersebut merupakan masa pembentukan yang krusial atau yang disebut dengan periode emas. Dalam 4 tahun pertama, potensi kecerdasan anaksudah terbentuk hingga 50 persen dan saat anak berusia 8 tahun menjadi 80 persen. Sedangkan sisanya merupakan hasil pembentukan di usia selanjutnya, di mana lingkungan-khususnya orang tua-memberi polesan terakhir dalam pembentukan.

Barulah pada usia 6-12 tahun, seorang anak mulai berkarya dengan mengembangkan potensi, bakat, dan kecerdasannya yang lain. Tahap ini disebut juga dengan the sense of industry, di mana bakat menjadi pelukis, penulis, atau presenter semakin terbentuk di usia ini.

Selanjutnya, pada usia 12-21 tahun, setiap anak mulai melakukan proses pencarian identitas diri dan proses kreativitas, biasanya sudah mengarah pada cita-cita yang diinginkannya.

Pembentukan kreativitas anak tentu saja harus diimbangi dengan perkembangan sensor motorik, emosi, dan bahasa anak yang juga memerlukan rangsangan sejak dini. Perkembangan motorik bisa dilatih dengan memberinya kebebasan untuk bergerak, seperti berlari.

Sementara untuk perkembangan emosi, seorang anak diperbolehkan untuk mengekspresikannya dalam bentuk bersosialisasi dengan orang lain, menangis, marah, berteriak, dan lain-lain. Dari sini orang tua dapat mengarahkan pengeluaran emosi marah dengan lebih cerdas, yaitu pada waktu yang tepat, pada orang yang tepat, dan dengan cara yang tepat. [ADT]

 

Sumber : Kompas, 27 September 2017 | Hal 24