Perguruan Tinggi Berperan Serta Dalam Percepatan Pembangunan.11 Oktober 2017.Kompas.Hal 12. 001

Perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan dan tekhnologi dapat berperan serta menyelesaikan permasalahan bangsa dan mendorong akselerasi pembangunan bangsa.

Sejumlah permasalahan di Indonesia dan dunia yang akan dituntaskan sebagai komitmen Tujuan Pembangunan Berkelasjutan (SDGs) membutuhkan pemikiran serta aksi bersama dari akademisi dan ilmuwan lintas disiplin ilmu.

Hal tersebut mengemuka dalam Scholar Summit 2017 yang berlangsung dua hari di Kampus Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.

Pembukaan pertemuan para akdemisi di perguruan tinggi dari sejumlah negara dengan tema “Shapping the Better World” tersebut berlangsung pada Selasa (10/10).

Hadir sekitar 200 peserta untuk menyumbangkan pemikiran dalam upaya membuat dunia ini lebih baik.

Rektor Universitas Indonesia Muhammad Anis mengatakan, guna menyatukan semangat dan usaha bersama untuk mencapai SDGs.

“Pertukaran ide anatara akademisi dan ilmuwan dari lintas ilmu serta lintas negara dibutuhkan untuk pembangunan bangsa dan dunia. Dengan keitraan, 17 tujuan dalam SDGs bisa dicapai untuk mewujudkan dunia yang lebih baik,” ujar Anis.

Pertukaran Riset

                Persoalan seperti kemiskinan, kelaparan, minimnya pelayanan kesehatan yang adil dan merata, pendidikan berkualitas, pengelolaan air bersih dan sanitasi, solusi energi terbarukan, pengurangan pengangguran, pertumbuhan ekonomi, inovasi industri dan infrastruktur, serta pemerataan pembangunan, dibahas dari hasil riset akademisi, antara alin dari Indoneisa, Malaysia, Filipina, Belanda, Thailand, Belanda, Korea Selatan, China, Inggris dan Australia.

Pelayanan kesehatan dengan teknologi telemedicine, misalnya, bisa dioptimalkan untuk mengatasi daerah seperti Indonesia yang luas dan terbatasnya tenaga kesehatan di daerah. Ada pula penelitian tentang obat herbal Indonesia untuk pengobatan.

Dalam acara pembukaan hadir Staf Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi Paulina Pannen; Direktur Jendral Sumber Daya Iptek dan Pendidikan Tinggi, Kemristek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti; serta Kepala Badan Kementerian Komunikasi dan Informatika Basuki Yusuf Iskandar.

“Perguruan tinggi tidak hanya cukup berperan dalam penelitian dan riset, tetapi juga punya kemampuan advokasi untuk memunculkan perubahan dalam berbagai kebijakan,” ujar Ghufron.

Teknologi Informasi

Basuki mengatakan, pencapaian SDGs tak bisa dipisahkan dari pemanfaatan teknologi informasi dan Komunikasi (TIK). Namun, tantangannya tentang kesiapan masyarakat untuk menghadapi perubahan yang cepat dan radikal.

Paulina mengatakan, perguruan tinggi didorong menghasilkan dan memperkuat inovasi untuk meningkatkan daya saing bangsa. Oleh karena itu, PT tak cukup lagi hanya mendidik untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja, tetapi juga harus berkontribusi pada pembangunan bangsa dan dunia. (ELN)

 

Sumber: Kompas.11-Oktober-2017.Hal-12

Dunia Penelitian Tak Toleransi Kebohongan.11 Oktober 2017.Kompas.Hal 12. 001

Ketidakjujuran Berpotensi Merugikan Dunia Riset

JAKARTA, KOMPAS – Dunia penelitian tidak hanya memberikan apresiasi yang tinggi bagi inovasi sebagai buah dari kegiatan ilmiah para peneliti. Namun, tak kalaha pentingnya lagi adalah bagaimana menjunjung nilai – nilai yang mendasari prestasi, yaitu kajujuran dalam proses pencapaian.

“Peneliti harus mengecamkan prinsip tidak tertulis yang selama ini berlaku dalam dunia riset, yaitu boleh salah, tetapi tidak boleh bohong,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Bambang Subiyanto, Selasa (10/10), Dwi mengaku sebagai mahasiswa pascadoktoral (post – doctoral) dan asisten profesor bidang antariksa di universitas tersebut.

Bambang yang juga Ketua Himpunan Peneliti Indonesia melanjutkan, kebohongan jika menyangkut manipulasi data akademik dapat dijatuhi sanksi administratif berupa pembatalan gelar akademik serta pemberhentian status mahasiswa dan beasiswa yang diterimanya. Bahkan, dalam komunitas ilmiah yang bersangkutan akan terkena sanksi sosial.

Kompas sejak pekan lalu terus berupaya menghubungi Dwi melalui berbagai saluran komunikasi, tetapi hingga Selasa malam yang bersangkutan belum juga memberikan tanggapan.

Duta Besar Republik Indonesia untuk Belanda I Gusti Agung Wesaka Puja menyatakan, pihaknya tetap mendampingi Dwi dalam upaya mediasi dengan TU Delft. “Sudah menjadi kewajiban bagi kami untuk mendampingi setiap warga negara Indonesia yang kebetulan sedang tersangkut masalah administrasi dan hukum di Belanda,” ujar Wesaka.

Secara terpisah, Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Delft M Shiddiq Sumitro, saat dihubungi Kompas melalui aplikasi Line, kemarin, menyesalkan dugaan pembohongan publik di bidang akademik yang dilakukan oleh Dwi. Dalam surat pernyataan sikap, PPI Delft tetap menjunjung asas praduga tak bersalah hingga ada verfikasi dari pihak TU Delft dan kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Den Haag.

PPI Delft bersama sejumlah perwakilan alumni juga berkoordinasi dengan KBRI di Den Haag. Koordinasi ini bertujuan memdiasi Dwi dengan pihak TU Delft serta pihak – pihak terkait lainnya.

Kejujuran

Terkait dengan nilai – nilai kejujuran, Ketua Dewan Juri Lomba Penelitian Siswa Nasional (LPSN) 2017 Wahyudin Latunreng, secara terpisah, mengatakan, ketidakjujuran dalam dunia riset juga berpotensi merugikan dunia riset dalam lingkup luas.

Wahyudin yang pernah menjadi karyawan LIPI dan panitia lomba karya ilmiah remaja di lembaga riset itu menyebutkan sejumlah contoh.

Memalsukan data bohong atau palsu pada hasil penelitian, misalnya, akan menularkan kesalahan atau kegagalan bagi riset lainnya.

“Harus diingat, hasil riset seorang peneliti adakalanya dijadikan rujukan bagi peneliti lain yang melakukan riset lanjutan,” kata Wahyudin.

Sementara itu, mengenai maraknya praktik plagiarisme karya ilmiah di Tanah Air, sejumlah dosen pembimbing menyatakan lebih intens memperhatikan proses penelitian dan penyususnan tugas akhir.

“Saya membebaskan mahasiswa bimbingan saya agar mandiri dalam proses penelititannya. Namun, setiap kemajuan dalam penelitian, saya minta mereka kirimkan lewat e-mail,” ujarnya.

Hal yang sama dilakukan Chaikal Nuryakin, dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia. Ia bahkan mengecek dokumen tugas akhir mahasiswa bimbingan dengan aplikasi Turnitin untuk mendeteksi adanya plagiarisme atau tidak. “Ini berlaku di fakultas. Toleransi yang di berikan sekitar 20%.” ujarnya.

 

Sumber: Kompas, 11-Oktober-2017. Hal-12.

Menuju Kampus Inventor dan Inovator. Jawa Pos.13 Oktober 2017.Hal.6

Menuju Kampus Inventor dan Inovator. Jawa Pos.13 Oktober 2017.Hal.6

Oleh Asra Al Fauzi

Dokter ahli bedah saraf, dosen Fakultas Kedokteran Unair

 

Sungguh menarik ungkapan Presiden Joko Widodo saat berkunjung ke Graha Pena Surabaya beberapa hari lalu, ketertinggalan Indonesia di berbagai sector terjadi karena iklim inovasi yang sangat rendah. Akibatnya, roda politik, ekonomi, dan sosial akan stagnan serta cenderung selalu tertinggal bila dibandingkan dengan negara-negara lain.

Menurut Presiden Jokowi, ada beberapa masalah yang menjadi penghambat inovasi. Diantaranya, regulasi yang berbelit, kultur yang berorientasi prosedur, dan dunia pendidikan yang belum siap.

 

Invention & Innovation

Sering kita rancu dan kadang menganggap sama istilah invention dan innovation. Menurut Art Fry, invention adalah what happens when you translate a thought into a thing. Jadi, suatu proses membuat prototipe tertentu tertentu yang bias mengaplikasikan konsep kita dan membuktikan bahwa itu bisa berkerja. Model nyata hasil kreasi kita itu akhirnya menjadi invention atau penemuan baru. Sedangkan innovation adalah proses setelah itu, is the act of working through all of the obstacles and problems in the path of turning a creative idea into a business. Jadi, inovasi adalah suatu istilah bagaimana kita menjalankan produk kreatif kita sehingga memberikan keuntungan bagi kita dan masyarakat dengan cara yang unik sehingga bisa melewati tantangan dan hambatan yang ada.

Penemuan baru dan inovasi hampir selalu diawali dengan penemuan masalah, ada istilah necessity is the mother of invention. Tetapi, itu dogma lama yang kadang selalu dipegang oleh para ilmuwan dengan hipotesis penelitiannya. Kadang kita perlu berpikir out of the box dan berlogika lebih simple atau kadang perlu futuristic thinking yang melawan dogma. Pada 1928, Alexander Flemming kembali ke laboratoriumnya setelah liburan dan menemukan jamur yang tumbuh di cawan petrinya. Sekilas kemungkinan cukup dibersihkan saja, tetapi dia malah memilih memeriksa cawannya di bawah mikroskop.

Pada 1929, dia menulis artikel tentang efek antibiotika terhadap kuman. Sejak saat itu, banyak penemuan antibiotika selanjutnya untuk mengobati penyakit infeksi. Suatu proses invention kecil yang akhirnya membuka inovasi dan mengubah dunia. Tidak perlu fasilitas canggih, data lengkap, atau banyak sumber daya. Hanya perlu imajinasi liar dan menghubungkan teori yang ada dalam pikiran serta melakukannya tanpa ragu. Mungkin kita tidak pernah tahu tentang obat Viagra, yang sebenarnya penelitian awalnya adalah untuk mengobati penyakit jantung (Angina pectoris), tetapi ternyata terjadi efek samping (ereksi berlebihan) yang tidak diperkirakan. Efek samping selalu berkonotasi negatif dan kegagalan. Tetapi, tim peneliti berimajinasi lain. Terbukti saat ini obat Viagra menjadi salah satu obat dengan penjualan tercepat per tahunnya dan banyak berguna bagi penderita disfungsi seksual. Sebaliknya, kegunaannya untuk kelainan jantung, seperti hipotesis awal, malah tidak terbukti.

 

Kultur Pendidikan

Invention dan innovation itu membutuhkan proses yang panjang, mulai bermimpi, menggambar ide, observasi, menerjemahkan ide, penemuan konsep, berpikir lebih dalam, hingga proses engineering. Hasil kreasi berupa penemuan baru itu tidak cukup.

Proses inovasi selanjutnya adalah bagaimana invention itu memberikan value kepada masyarakat dunia. Proses dinamika itu tentu saja perlu kultur yang mendukung, di level negara tentu masalah regulasi, aturan, dan komitmen politis yang harus diubah. Tetapi, jiwa inovatif pada generasi muda dibangun dari kultur kampus. Hingga saat ini, mutu dan kualitas Pendidikan di Indonesia, khususnya perguruan tinggi, masih jauh dari harapan bila dibandingkan dengan negara lain. Di tingkat Asia Tenggara saja kita masih jauh di bawah Singapura, Thailand, maupun Malaysia.

Berdasarkan penilaian terbaru dari QS World University Rankings, kita paling tinggi masih berada di peringkat ke-277 (Universitas Indonesia) dan di Asia peringkat ke-67. Nanyang Technological University (NTU), Singapura, berada di peringkat kesebelas dunia. Salah satu kriteria untuk menentukan reputasi universitas adalah factor research impact, bagaimana kualitas penelitiannya memengaruhi perkembangan scientific dunia.

Pada 2005, penelitian di Eropa tentang ribuan inventor menunjukkan 50 persen dari penemuan mereka sebenarnya terjadi secara tidak sengaja atau bahkan penemuan yang tidak direncanakan, 34 persen pemegang paten yang bekerja seperti biasa, tetapi tiba-tiba melihat suatu fenomena atau timbul pemikiran baru yang menginspirasi penemuannya. Sebanyak 12 persen yang lain melaporkan bahwa penemuannya adalah unexpected byproduct dari penelitiannya.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa kultur meneliti memang harus membumi dan mengakar dalam kehidupan kampus. Target penelitian bukan hasil akhir atau jumlah penelitian, tetapi openended research dengan peneliti yang selalu aktif, menjiwai, dan berkarakter entrepreneur.

Kultur entrepreneur pada kampus akan menghasilkan inventor dan innovator, yang selalu tahu akan peluang dan bagaimana melihat fenomena yang terjadi dengan pola futuristic thinking, ide yang muncul bisa menjadi isu yang positif di masa depan.

Kultur inovatif timbul dari diri sendiri, tidak perlu bermimpi great man theory. Tetapi, microcreativity dari level individu yang harus dibangun dan dipupuk, perlu kultur yang berkarakter dan kondusif, dunia Pendidikan dan kultur kampus kita yang harus menjawabnya.

Sumber: Jawa Pos.13 Oktober 2017.Hal.6

Joki Karya Ilmiah Kian Berani. Kompas.7 Oktober 2017.Hal 1,15

Joki Karya Ilmiah Kian Berani. Kompas.7 Oktober 2017.Hal 1,15

 Biro Jasa Skripsi, Tesis, dan Disertasi Berakar dari Mentalitas Instan

Jakarta, Kompas

Seiring maraknya kasus penjiplakan karya ilmiah di perguruan tinggi, praktik joki skripsi, tesis, dan disertasi juga terus berkembang. Dalam era digital, penyedia jasa pembuatan karya tulis untuk meraih gelar sarjana, master, dan doctor semakin berani berpromosi.

Para pelaku secara terang-terangan menawarkan jasa melalui internet. Berdasarkan hasil penelusuran Kompas, tersedia beragam jasa pembuatan tugas akhir seperti skripsi untuk jenjang S-1, tesis untuk jenjang S-2, dan disertasi untuk jenjang S-3, secara daring. Ada yang menawarkan di laman tersendiri, ada pula lewat toko komersial daring yang sudah dikenal masyarakat secara luas.

Tarifnya bervariasi. Untuk skripsi, misalnya, berkisar Rp 3,5 juta – Rp 6 juta. Untuk tesis dipatok Rp 5,5 juta – Rp 8,5 juta. Adapun untuk disertasi Rp 20 juta – Rp 35 juta. Juga tersedia layanan jasa pembuatan karya tulis untuk jurnal ilmiah dengan tarif Rp 300.000 – Rp 500.000.

Us (56), misalnya, beberapa tahun terakhir mempromosikan jasanya lewat situs web. Pada laman situs web tertera Karya Data sebagai nama usaha tersebut. Mengaku sebagai mantan dosen, Us mengelola usaha itu dengan menawarkan jasa bantuan tugas akhir perguruan tinggi.

Pria berperawakan sedang ini menjalankan usaha dibantu seorang karyawan, di Kawasan Matraman, Jakarta Timur. Ruang kerjanya berada di lantai dua rumahnya di permukiman padat penduduk. Ada dua papan besar pada dinding ruang kerjanya yang berisi jadwal pengerjaan tugas akhir para kliennya.

Karya Data melayani permohonan bantuan penulisan karya ilmiah dari bab pendahuluan hingga bab kesimpulan, termasuk daftar pustaka. “Kami siap membantu klien dari awal penentuan judul, pengolahan data, sampai lulus sidang,” kata Us, Jumat (6/10).

Layaknya usaha bimbingan belajar, penyedia jasa bahkan sampai mengajari cara menjawab pertanyaan penguji dalam sidang.

Promosi jasa secara daring terbilang manjur. Kliennya tak hanya dating dari kalangan mahasiswa di Pulau Jawa. Ada juga beberapa di antaranya dari Bali dan Kalimantan.

Konsultasi atau bimbingan pun mayoritas dilakukan secara online atau dalam jaringan (daring). Pemohon dan pembimbing dapat saling berkirim surat elektronik atau pesan teks. Kalaupun harus bertemu, perjumpaan diadakan di rumah Us. “Saya bisa mewakili pembimbing untuk berkonsultasi,” ujarnya.

Id.Tesis juga menjalankan system konsultasi daring. Kantornya kini berada di Surabaya, Jawa Timur. Awalnya, In.Tesis berbasis di Yogyakarta mulai tahun 2006. “Kami sangat jarang konsultasi tatap muka. Klien kami ada yang berasal dari Sorong, Papua Barat,” ucap Wit, salah satu konsultan di Lembaga ini.

Cara serupa ditempuh MR Research yang berbasis di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Memanfaatkan media sosial Instagram, pengelola mempromosikan jasa bantuan pembuatan karya ilmiah. Namun, untuk bimbingan, pengelola MR Research mengharuskan kliennya bertemu langsung.

Saat ditemui Jumat petang, R (30), pengelola Lembaga ini, menjelaskan, pihaknya bersama sembilan anggota staf yang sebagian berkualifikasi magister siap membantu topik terkait ilmu sosial, kependidikan, dan kedokteran. “Di saat bersamaan bisa ada 40 skripsi yang dikerjakan,” kata R.

AZ (31), pria yang pernah kuliah di jurusan ilmu politik di salah satu universitan di Yogyakarta, menuturkan, skripsi sarjananya tidak ia kerjakan sendiri, tetapi atas bantuan biro jasa.

AZ mendapat informasi seputar jasa pembuatan skripsi dari temannya yang sudah lulus terlebih dahulu. “Ya, agak ngumpet-ngumpet karena penyedia jasa juga takut ketahuan,” ujarnya.

AZ mengaku terpaksa menempuh jalur illegal tersebut sebab sudah dikejar batas waktu kuliah. Masa kuliahnya yang sudah mencapai batas maksimal tujuh tahun membuatnya harus mencari jalan pintas untuk menyelesaikan skripsinya.

Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Intan Ahmad mengatakan, tawaran jasa pembuatan karya ilmiah untuk lulus dari perguruan tinggi ada di dalam dan luar negeri. “Tetapi, jika integritas akademik mahasiswa dan dosen baik, tawaran itu tidak laku. Ini tantangan untuk membuat kuliah di perguruan tinggi bukan Cuma mengejar hardskills (kecakapan teknis), melainkan juga softskills (kecakapan sosial),” kata Intan.

Menurut Intan, kuncinya kembali pada dosen pembimbing. Mereka harus memeriksa apakah karya ilmiah itu benar karya mahasiswa.

 

Mentalitas instan

Guru Besar Sosiologi Pendidikan yang juga Rektor Universitas Sebelas Maret, Solo, Ravik Karsidi mengatakan, pemanfaatkan jasa pembuatan tugas akhir mahasiswa untuk lulus bisa marak karena banyak orang bermental instan. “Ingin meraih gelar akademik, tanpa mau bersusah payah menempuh proses. Aturan-aturan di perguruan tinggi yang ketat hanyalah salah satu filter. Kita harus memerangi sikap masyarakat yang suka menerabas,” kata Ravik.

Ravik mengatakan, perguruan tinggi berupaya menegakkan integritas akademik, terutama melawan plagiasi. Di UNS, misalnya, dua tahun terakhir skripsi mahasiswa S-1 yang akan disidangkan diperiksa dulu oleh petugas di tingkat fakultas dengan software Turnitin, pendeteksi tingkat kemiripan teks. Adapun untuk S-2 dan S-3 sudah diterapkan beberapa tahun lalu.

“Jika terdeteksi ada kecurangan atau plagiasi, ya, ditolak, disuruh perbaiki dulu,” katanya.

Demikian pula dalam proses pembimbingan, ujar Ravik, ada panduan dan pencatatan. Perguruan tinggi mengeluarkan panduan dalam pembuatan skripsi, tesis, dan disertasi. Tiap konsultasi ada lembaran yang harus diisi disertai catatan-catatan dari pembimbing.

Menurut Ravik, tahun ini pihaknya terpaksa membatalkan ijazah sejumlah lulusan sarjana (S-1). Ada aduan dari masyarakat bahwa skripsi yang dibuat mahasiswa tersebut sama persis dengan orang lain. “Pembimbing pun akan dikenai sanksi karena tidak jeli,” kata Ravik.

Secara terpisah, Guru Besar Bidang Linguistik Universita Mataram Mahsun mengatakan, pelatihan cara-cara berpikir ilmiah lewat riset mulai dari hal sederhana harus terus dibangun sejak awal di dunia Pendidikan. Selain itu, siswa dan mahasiswa juga harus dibiasakan menuangkan gagasan ilmiah secara verbal maupun nonverbal yang terstruktur dan sistematik.

“Mengungkapkan gagasan-gagasan berpikir masih lemah karena siswa dan mahasiswa tidak terbiasa menulis,” kata Mahsun. Ia mendirikan Institut Riset Nusantara untuk mengembangkan kemampuan berpikir ilmiah siswa, mahasiswa, dan masyarakat di Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat. (DD03/DD09/ELN/NAR)

 

Sumber : Kompas.7 Oktober 2017.Hal 1,15