Mengapa Anak-Anak Kita Lari ke Dunia Game

Mengapa Anak-anak Kita Lari ke Dunia Game.Jawa Pos.26 Maret 2015.Hal.1,19

Oleh Rhenald Kasali

Belakangan ini, saya menerima banyak keluhan dari orang tua yang anaknya tergila-gila main game. Kalau dibiarkan , sehari mungkin bisa lebih dari enam jam. Sementara itu, mengerjakan PR atau belajar, sulitnya minta ampun.

Begitu pula ketika tiba waktunya untuk berangkat les, anak-anak kehilangan semangat. Mereka memang berangkat, namun gairahnya redup. Mereka pergi hanya untuk memenuhi keinginan orang tua.

Sebagian orangtua mengaitkan main game dengan kinerja anak-anak di sekolah. Katanya , akibat terlalu sering main game, rapor anak-anaknya menjadi biasa-biasa saja. Mungkin bukan yang terjelek, tetapi jelas bukan yang terbaik. Bukan juara pertama.

Bukan hanya itu, orang tua juga cemas atau kesehatan mata dan obesitas. Memang, terlalu lama menatap layar komputer bisa berdampak negatif terhadap kesehatan mata dan gerakan anak.

Karena itu, banyak orangtua yang melarang anak-anaknya bermain game atau membatasinya hanya pada hari-hari libur dan jumlah jamnya dibatasi.

Tetapi, tidak sedikit orangtua yang tidak peduli. Mereka membiarkan anak-anaknya bermain game seharian. Alasannya,supaya anak-anak tidak mengganggu aktivitas orangtua yang mungkin sedang asyik menonton TV, membaca buku atau koran,ngobrol atau bekerja.

Kaya Apresiasi

Well, itulah kaitan dunia game dengan anak-anak dari sisi pandang orangtua. Namun , supaya fair, saya ajak anda sebentar untuk melihat dunia game dari sisi pandang anak-anak.

Inilah pengamatan saya. Orangtua , ingatlah game memberi anak-anak kita dunia yang sama sekali berbeda dengan dunia nyata. Dunia game bagi anak-anak kita sangat apresiatif.

Ketika anak kita bergabung dalam suatu game mereka langsung disambut dengan meriah. “selamat datang. Inilah pahlawan yang akan membebaskan bangsa kita dari cengkeraman makhluk jahat.” Begitu sambutannya.

Lalu,anak-anak kita dibrifing dengan jelas tentang musuh-musuh yang bakal mereka hadapi. Siapa saja mereka, apa saja kehebatannya, dan sebagainya. Untuk menghadapi mereka, anak-anak kita juga dibekali berbagai senjata ampuh dan amunisi lainnya. Pada usia muda itu, mereka diperbolehkan memilh senjata atau perlengkapan lainnya yang sesuai dengan kebutuhan. Semuanya canggih dan sangat imajinatif.

Perjalanan petualang pun segera dimulai. Anak –anak kita mulai beraksi. Setiap berhasil menaklukkan lawan-lawan yang menghadang sepanjang perjalanan, mereka akan dielu-elukan. Bahkan diapresiasi dengan tambahan senjata atau perlengkapan yang lebih canggih.

Ketika gagal anak-anak kita juga tidak dihukum atau dicaci maki. Sebalinya malah dihidupkan kembali disuruh mencoba lagi,coba lagi dan coba lagi sampai berhasil.

Lalu, ketika anak-anak kita berhasil, apresiasinya sungguh luar biasa. Ada tepuk tangan yang gemuruh dengan pesta kembang api. Anak-anak kita betul-betul disanjung sebagai pahlawan . Mereka pun bisa bertemu para hero lainnya dalam pesta para juara yang mempertontonkan kehebatan mereka.

Dunia Nyata

Itulah dunia game anak-anak kita.sangat apresiatif . Bagaimana dengan dunia nyata yang mereka hadapi sehari hari?

Selain instruksi gurunya yang satu arah dan sering tidak jelas , ketika anak melaporkan bahwa nilai ulangannya jelek, orang tua dan guru sering bereaksi berlebihan. Budaya pengajaran kita masih amat gemar menghukum. Orangtua pun gemar menegur. Sebagian mungkin marah-marah.

Padahal untuk melaporkan nilai ulangannya yang jelek, anak-anak perlu membangkitkan keberanian. Mereka juga cemas akan menghadapi murka orangtuanya.

Berbeda bukan dengan dunia game yang tidak mengenal hukuman? Sebaliknya ,anak-anak kita ditantang untuk mencoba lagi. Kalau gagal lagi coba lgi,coba lagi dan coba lagi. Begitu terus sampai berhasil.

Lalu bagamana kalau nilai ulangan anak anda bagus? Nilainya 100? Apa yang anda lakukan? Sebagian orang tua mungkin memuji,sebagian lainnya hanya berdehem kecil,”Ehm, bagus.” Tetapi, anak-anak kita jeli. Meskipun kita mnegucapkan kata bagus, mereka bisa merasakan tidak adanya ketulusan di situ. Lalu, di sekolah, mereka juga dikucilkan dengan average students, dijadikan ancaman dan menjadi anak yang kurang gaul.

Sekali lagi, berbeda bukan dengan dunia game? Dengan nilai ulangan 100, kalau di dunia game, mungkin anak-anak kita sudah dielu-elukan.

Begitulah sejak kecil kita dibesarkan dan membesarkan anak-anak dalam lingkungan yang miskin apresiasi. Alhasil, kita menjadi begitu sulit memuji, tetapi sangat mudah mengkritik. Kita paling suka mencari-cari kekurangan orang lain, tetapi sulit sekali untuk melihat kelebihannya. Apalagi kalau orang lain itu adalah pesaing kita.

Itulah dunia nyata kita. Karena itu, tidak heran kalau sekarang kita menyaksikan dunia sekitar kita yang sibuk bertengkar. Pemerintah dengan DPR atau DPRD. Polisi dengan KPK. Hakim dengan jaksa. Satpol PP dengan masyarakat. Semua serba berebut dan amat kekanak-kanakan. Meski kompetensinya tidak bermutu,jabatan dipaksakan pada badannya. Dan sebagainya. Melelahkan.

Sumber: Jawa-Pos.26-Maret-2015.Hal_.119

Rajin Promosi Prodi, Tarik Mahasiswa Asing

Rajin Promosi Prodi, Tarik Mahasiswa Asing. Jawa Pos.24 Maret 2015.Hal.6

Pelaksanaan Masyarakat Ekonomi ASEAN ( MEA) pada 2015 tidak hanya ramai dibincangkan di kalangan pebisnis. Tetapi juga mulai meluas di dunia pendidikan. Mereka tidak mau ketinggalan karena nasib alumni menjadi pertaruhan. Jika tidak berbenah,alumni perguruan tinggi tidak laku di tengah persaingan bebas pasar kerja regional.

Perguruan tinggi negeri (PTN) paling ramai membicarakan kesiapan menghadapi MEA 2015. Sebab , PTN merupakan kawah candradimuka yang menggodok sumber daya manusia (SDM) Indonesia.

Salah satu kampus pelat merah yang sudah menyiapkan diri untuk mengahadapi MEA adalah Universitas Padjadjaran (Unpad), Bandung. Kampus dengan peminat seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN) 2015 tertinggi tingkat nasional itu melakukan upaya internasionalisasi program studi (Prodi).

Kepala Unit Pelayanan Terpadu (UPT) Humas Unpad Sony Ahmad Nulhakim menuturkan , interbasionalisasi standar prodi memang salah satu kebijakan kampusnya untuk menyambut MEA. “MEA itu adalah salah satu pilar ASEAN Community. Perguruan tinggi ikut mengantisipasinya,” katanya kemarin (23/3).

Sony menceritakan di era MEA saat ini, perdagangan terbuka tidak hanya untuk urusan barang. Tetapi juga urusan jasa. Salah satu jasa strategis dalam MEA adalah bidang pendidikan.

Menurut Sony, persiapan Unpad dalam menyambut MEA sudah dimulai beberapa tahun terakhir. Caranya , pihaknya memetakan prodi-prodi yang sudah mendapatkan akreditasi A. Kemudian, prodi dengan akreditasi paling tinggi iti dipersiapkan untuk menjalankan akreditasi tingkat internasional.

“sekarang setidaknya ada dua prodi yang sudah berstandar internasional. Yakni prodi manajemen dan kedokteran”. Paparnya. Prodi-prodi dengan akreditasi A lainnya misalnya bidang pertanian,eksakta,dan kesehatan masyarakat juga akan distandarkan untuk akreditasi internasional.

Tantangan PTN-PTN di Indonesia untuk mengarungi era MEA terkait dengan urusan penelitian. Dia mengatakan kampus negeri harus mulai menjalani kerja sama dengan organisasi internasional untuk penelitian. Baik bekerjasama dengan industri asing maupun organisasi internasional seperti PBB atau sejenisnya.

Saat ini, papar Sony, Unpad mulai dikenal di dunia internasional. Data paling baru menyebutkan jumlah mahasiswa asing yang sekarang aktif di Unpad sekitar 1.300 orang. Jumlah itu menempatkan Unpad sebagai kampus dengan mahasiswa asing yang cukup banyak. “mahasiswa paling banyak dari Malaysia dan studi pascasarjana (S-2 dan S-3 Red),”terang dia.

Geliat perguruan tinggi dalam menyambut MEA juga tampak di Singapura.

Salah satu kampus di Singapura yang terus menyiapkan anak didiknya untuk menghadapi MEA adalah Management Development Institute of Singapore (MDIS). Sama dengan Unpad, kampus swasta tertua di Singapura itu menjadi jujukan mahasiswa asing untuk menuntut ilmu.

Secretary General MDIS Dr. R. Theyvendran di sela agenda Open House MDIS 2015 pada 7-8 Maret menuturkan, Indonesia merupakan salah satu basis mahasiwa asing yang berkuliah di MDIS . saat ini ada sekitar 200 mahasiswa asal Indonesia di kampus yang berbasis di kawasan Stirling itu, “ anak Pak Jokowi (Presiden Joko Widodo, Red) lulus kuliah di sini,” katanya. Anak Jokowi yang dimaksud Theyvendran adalah Gibran Rakabuming Raka.

Dia menjelaskan, iklim perkuliahan yang berbaur dengan mahasiswa dari berbagai kewarganegaraan akan membuka cakrawala. Dengan pengalaman belajar seperti itu, menurut dia , mahasiswa bisa lebih siap untuk menghadapi tantangan kerja pada masa mendatang.

Menurut dia, di era apa pu, perguruan tinggi harus siap mengantarkan anak didiknya menuju kesuksesan. Dia menyatakan tidak suka dengan kampu yang berorientasi mencetak uang. Theyvendran menuturkan, mahasiswa dari Singapura, Indonesia, India maupun Eropa mendapat perlakuan yang sama saat belajar di MDIS.

Sumber: Jawa-Pos.24-Maret-2015.Hal_.6

Minim, Perempuan Belajar di Pascasarjana

Minim, Perempuan Belajar di Pascasarjana. Kompas. 30 Maret 2015.Hal.12

Jakarta, Kompas – Perempuan lulusan pendidikan sarjana di Indonesia yang melanjutkan ke jenjang pascasarjana masih minim. Selama sepuluh tahun terakhir, hanya sekitar 7 persen perempuan lulusan S-1 atau sarjana yang meneruskan ke jenjang S-2 atau master dan 3 persen dari lulusan S-2 yang menempuh ke program S-3 atau doktoral.

Berdasarkan data Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, pada 2014 terdapat 239.339 mahasiswi yang meraih gelar S-1. Namun, hanya 516 mahasiswi yang tergerak untuk menempuh gelar doktoral.

Selain itu, hanya 52 persen dari total populasi di Indonesia yang mengenyam pemdidikan dasar. Angka ini jauh lebih renda dibandingkan negara-negara berkembang lain, seperti India yang mencapai 61 persen.

“Sains adalah kunci untuk mempercepat kemajuan. Kami bertekad untuk meningkatkan jumlah perempuan peneliti dengan menerapkan program sains terpadu bagi perempuan,” kata Melanie Masriel, Head of Communications PT L’oreal Indonesia, di Jakarta, akhir pekan lalu.

Perusahaan kosmetik L’oreal bekerja sama dengan Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO memberikan dukungan bagi perempuan Indonesia untuk memajukan ilmu pengetahuan dan memajukan ilmu pengetahuan dan sains. Setelah program L’oreal UNESCO for Women in Science, kini diluncurkan program baru L’oreal Sorority in Science. Program ini untuk mempromosikan sains kepada mahasiswi kurang mampu.

Arief Rachman, Ketua Komisi Nasional Indonesia untuk UNESCO-Kemendikbud, mengatakan, sangat disayangkan perempuan belum terwakili di semua tingkat penelitian ilmiah. Masih sedikit perempuan yang sampai ke posisi strategis di bidang penelitian meski perempuan punya prestasi memuaskan di perguruan tinggi.

Menurut Endang Sukara, Ketua Juri L’oreal FWIS, semua proposal dari perempuan peneliti yang terpilih memenangkan beasiswa (fellowship) dari FWIS Nasional sama-sama ingin membantu memberikan masa depan yang baik bagi umat manusia, terutama di Indonesia. “Kami berharap agar lebih banyak lagi perempuan peneliti ikut berpartisipasi dalam program ini,” ujarnya.

Melanie Masriel mengungkapan, program L’oreal for Girls in Science untuk siswi SMA ingin memupuk minat dan kecintaan siswi tingkkat pertama terhadap sains. Dilaksanakan sejak 2005, program ini ingin mendorong generasi komunitas sains. Para fellow FWIS-UNESCO terlibat sebagai juri dan mentor bagi siswa. Peserta diminta membuat karya ilmiah dan mempresentasikannya.

Program baru L’oreal Sororoty in Science diberikan kepada mahasiswi kurang mampu yang menekuni bidang sains. Ditargetkan ada 10 siswa per tahun yang bisa dibantu dengan dana Rp 20 juta untuk biaya hidup atau belajar. Semua program itu diharapkan dapat meningkatkan pendidikan di kalangan perempuan.

Sumber : Kompas, 30 Maret 2015, hlmn 12

Dana Penelitian Universitas

Dana Penelitian Universitas. Kompas.30 Maret 2015.Hal.6

Oleh CONRAD WILLIAN WADSON

Hampir semua orang yang berkiprah di perguruan tinggi di Indonesia dan mereka yang prihatin pada perkembangan yang terjadi belakangan ini akan sependapat bahwa salah satu halangan besar kemajuan pendidikan tinggi di Indonesia adalah kurangnya otonomi perguruan tinggi.

Penjelasna rinci mengenai kepincangan dan kelumpuhan dalam kinerja universitas sekarang diterangkan dengan detail dalam buku Sulistyo Irawati (Ed) terbitan Yayasan Obor (2014) yang satu demi satu memperlihatkan bagaimana dalam pengelolaan keuangan, perancangan, dan terutama sistem pengajaran dan penelitian,  campur tangan Mendiknas dalam urusan universitas menyebabkan ketertinggalan pendidikan tinggi di Indonesia. Usaha menguasai dan menentukan arah perkembangan pendidikan tinggi dari  pusat yang ditujukan untuk meningkatkan mutu supaya setaraf dengan perguruan tinggi (PT) di negara tetangga bukan saja tidak berhasil, melainkan malah melahirkan keadaan lebih parah lagi.

Sistem pengajaran yang dipaksakan atas PT sudah sering jadi sorotan di forum diskusi dosen-dosen dan mudah-mudahan akan menjadi hal yang dititikberatkan oleh Forum Rektor dalam perundingannya dengan Menteri Pendidikan Tinggi. Akan tetapi, satu hal lagi yang selalu menjadi titik perhatian dan tampaknya memusingkan kepala para pengelola PT di Indonesia yang jarang dapat perguraian tintas-ialah masalah kurangnya penelitian berbobot di kalangan orang akademik.

Perhatian bahwa yang disebut ialah penelitian yang berbobot, bukan kurangnya penelitian. Ketakpandaian Dikti membedakan antara kedua-duanya sedang membawa akibat yang berbahaya pada pengajaran di PT kini. Seabnya begini. Mahasiswa, terutama di tingkat S-2 dan S-3, dipaksa menulis artikel untuk diterbitkan di majalah ilmiah sebagai syarat lulus dan dapat predikat tinggi.  Tuntutan ini sangat tidak masuk akal dan dimata orang yang mengetahui proses penerbitan artikel di majalah ilmiah, menjadi bahan olok-olokan sebagaimana diterangkan oleh Franz Magniz Suseno dalam artikel di Kompas dua tahun lalu dan juga sebagaimana disoroti buku Sulistyo tadi. Sebagaimana gambaran bahwa betapa aneh tuntutan Dikti itu : hampir tidak ada mahasiswa S-1 dan S-2 yang menulis artikel ilmiah di Inggris, bahkan mahasiswa S-3 pun jarang menulis artikel sebelum mereka mencapai gelar PhD.

Demi menyelamatkan mahasiswa Indonesia dari pusing kepala dan keputusasaan akibat terjebak ke dalam lingkaran serta ciptaan Dikti itu, sebaiknya dengan serta merta tuntutan ini dihapuskan dan Dikti mengumumkan bahwa penganjuran menulis artikel sebagai syarat lulusan atau starat lulusan dengan predikat cum laude langsung ditarik kembali.

Namun, masalah kurangnya penelitian yang berbobot tetap ada dan kita harus memikirkan bagaimana mengambil langkah seperlunya untuk mengatasinya. Dibawah ini saya mau menerangkan sistem yang dipakai Inggris untuk mendukung mendukung penelitian yang bermutu tinggi. Tentu bukan karena saya menganggap sistem Inggris paling baik atau sistem itu dapat langsung diterapkan di Indonesia, tetapi karena itulah sistem yang saya kenal dengan baik dan, setidak-tidaknya, sistem Inggris cukup lumayan dan dapat digunakan sebagai model perbandingan dalam mempertimbangkan sistem Indonesia.

Sistem di Inggris

Di Inggris terdapat peruntukan uang penelitian yang langsung dijatahkan ke universitas negeri oleh pemerintah dalam bentuk yang disebut block grant. Jumlah uang penelitian ini selalu berbeda dari satu universitas ke satu universitas serta dibagi dan dihitung sesuai dengan prestasi penelitian tiap jurusan  di dalam universitas dalam periode sebelumnya, sebagaimana diukur dalam kerangka penelitian resmi (RFE namanya). Namun, lebih penting sebagaimana dana ini adalah dana yang disalurkan dari pemerintah ke dewan-dewan penelitian tertentu, seperti Medical Research Council (SRC), Arts and Humanities Reasearch Board (AHRB), dan Economic and Social Research Council (ESRC), British Academy. Pembagian uang pada usaha penelitian kira-kira serupa untuk semua dewan ini, tetapi oleh karena saya seorang antropolog yang banyak berhubungan dengan ESRC, dewan itulah yang kerjanya akan saya terangkan.

Pertama, perlu diterangkan bahwa selain dari pejabat tetap, direktur, sekretaris, dan karyawan administrasi, semua orang akademik yang bekerja untuk ESRC ialah  sukarelawan yang diminta membantu dalam proses memilih penelitian yang bermutu. Mereka dengan senang hati menerima tawaran  untuk duduk di panitia-panitia ESRC untuk jangka waktu lima tahunan karena mereka (dan universitasnya) menganggap tawaran itu  sebagai satu kehormatan besar. Panitia-panitia itu terbentuk menurut ilmu-ilmu sehingga ada panitia ekonomi, panitia sosiologi, panitia antropologi, panitia kependudukan, dan sebagainya.

Tiap panitia bekerja menentukan pembagian dana. Pertma, untuk beasiswa calon S-2 dan S-3 yang melamar ke panitia tersebut. Tentu saja jumlah beasiswa ini sangat terbatas dan hanya dibagi kepada mahasiswa yang betul-betul gemilang prestasinya dan potensinya. Kedua, untuk dosen atau kelompok dosen yang mengajukan proposal tertentu yang lahir dari keinginan mereka menyelidiki sesuatu dalam bidangnya. Biasanya, besarnya dana tiap satu penelitian terbatas berkisar 5.000-200.000 poundsterling. Jumlah uang yang terdia untuk peruntukan ini juga terbatas. Dalam hal ini, ESRC menerima kurang dari yang diterima SRC dan MRC untuk keperluan ini karena orang cukup sadar bahwa peralatan yang dipakai untuk penelitian di dua dewan terakhir itu sangat mahal.

Kemungkinan untuk memperoleh dana  penelitian ini sangat  tipis karena persaingan mendapatkannya sangat ketat. Dosen dari semua universitas didorong oleh PT nereka untuk melamar. Untuk memperbesar kemungkinan lamaran dinilai sangat tinggi oleh panitia yang bersangkutan, yang akan mempertimbangkan  lamaran, semua universitas memiliki lembaga tersendiri untuk membantu para dosen dalam cara menulis proposal, menghitung dengan seksama biyanya. Biaya yang dimaksud sudah termasuk biaya pengganti mereka mengerjakan tugas dosen yang bersangkutankalau dia berhasil mendapat dana dan terpaksa absen dari universitas selama dia mengadakan penelitian dan/atau membiayai overhead (yaitu biaya kalau dalam usaha penelitian, dan menggunakan fasilitas universitas dan menyusunnya sedemikian rupa untuk memberi kemungkinan besar bahwa lamaran proposal diterima dan diperhitungkan).

Akan tetapi, karena tiap universitas berbuat begitu, tetap susah kita sebagai pelamar mendapat dana karena 90 persen dari semua lamaran dinilai sangat baik (A atau A*). Jadi, sudah dari tingkat awal proposal sudah terjaga mulutnya. Bukan saja dari inti proposal sendiri, melainkan dipandang juga dari segi rekam jejak orang yang melamar-berapa banyak artikel dan buku sudah terbit-dan mungkin tidak bahwa hasil penelitian akan segera terbit sesudah penelitian selesai.

Perlu diketahui juga bahwa sebelum panitia memberi keputusan apakah satu proposal diberi dana atau ditolak, proposal tersebut dikirim ke dua referee, penimbang, untuk menilai betapa bagus proposal. Kedua referee ialah orang yang ahli dalam bidang yang mau diselidiki oleh pelamar dan mereka juga bekerja secara sukarela dan tidak dibayar. Baru sesudah menerima laporan dari kedua referee, para panitia mengambil keputusan. Semua pelamar, termasuk yang tidak berhasil, diberi kopi dari penilaian referee walaupun mereka tidak diberi tahu nama dari referee.

Bukti kuat

Jenis dana ketiga yang dikelola ESRC ialah dana yang bersangkutan dengan proyek besar, yaitu salah satu dari empat limatahun. Tema yang diutamakan oleh ESRC yang akan berjalan selama lima tahun. Tema ini berkaitan erat dengan masalah-masalah yang dihadapi perkembangan kesejahteraan untuk rakyat secara langsung dan hasil penelitian diharapkan akan menjadi bukti kuat yang akan mendasari kebijakan pemerintah di kemudian hari.

Tema ini misalnya ialah kemiskinan yang dialami kelas bawah yang tinggal di daerah perkotaan, dampak pemanasan dunia pada pertanian, masalah pengangguran di kalangan orang pemuda, dan sebagainya. Tema semacam ini dibiayai sangat tinggi sampai 2-3 juta poundsterling Inggris.

Biasanya untuk mendapatkan sebagiann dari dana ini, yang melamar bukan perseorangan, melainkan satu tim yang terdiri atas beberapa jenis spesialis: ekonom, sosiolog, ahli ilmu bumi, perkotaan, dan lain-lain. Dan belum tentu mereka berasal dari universitas yang sama. Mereka bersama-sama demi memenuhi hasrat menyelidiki suatu permasalahan, bersedia bekerja sama dengan satu tim dimana masing-masing menyumbang keahliannya. Sekali lagi, proses mempertimbangkan proposal sama: dikirim kepada referee (Cuma untu proyek besar seperti ini dikirim bukan ke dua orang saja, melainkan kepada empat lima orang untuk mempertimbangkannya). Demikian diharapkan bahwa keputusan penghabisan oleh panitia akan jadi objektif dan transparan.

Dengan sistem begini, pemerintah lewat ESRC berhubungan langsung dengan para peneliti dan merangsang mereka memperdalam ilmunya. Kadang-kadang dalam bidang yang seakan-akan tidak ada kaitan dengan keperluan negara, misalnya kalau antropolog meneliti pemberdayaan perempuan di salah satu negara di Afrika atau Asia dan juga untuk mencari pemecahan pada masalah-masalah tertentu yang dihadapi oleh pemerintah pada ketika itu.

Sudah terang bahwa sistem ini sangat berbeda dengan apa yang kita saksikan di Indonesia sekrang dan mungkin tidak sesuai sepenuhnya dengan keadaan PT di Indonesia ketika ini. Namun, apa salahnya kalau kita menyelidiki kemungkinan bahwa adanya unsur-unsur dari sistem ini yang dapat diterapkan dengan mudah dan segera di dunia penelitian di Indonesia sekarang.

Conrad William Watston

Profesor pada School of Business and Management ITB; Emeritus Profesor pada School of Anthropology, Universitas of Kent, UK

Sumber : Kompas, 30 Maret 2015