Memaknai Informasi

Elisabeth Rukmini_Memaknai Informasi.Tabloid Kontan.19 Juni-25 Juni 2017.Hal 5 001-page-001

Oleh Elisabeth Rukmini, Ph.D

(Akademisi Unika Atma Jaya Jakarta)

Beberapa hari yang lalu saya diberi kesempatan untuk duduk dalam suatu tim panel pewawancara calon penerima beasiswa pertukaran mahasiswa ke Amerika Serikat. Program ini ditujukan bagi mahasiswa Indonesia untuk pergi ke AS selama satu semester dan menjalani program studi  serta keterlibatan dengan masyarakt negara itu. Pengalaman satu semester belajar di sebuah Universitas di Amerika Serikat (AS) diharapkan mebentuk semangat kaum muda dan membangkitkan kinerja untuk berpretasi. Seleksi penerimaan yang dilakukan cukup ketat, selain nilai Test of Fenglish as a Foreign Language (TOEFL) yang dilihat, tim panel juga melihat berkas aplikasi termasuk motivasi calon penerima beasiswa serta rencana jangka panjang  mahasiswa sekembalinya dari program tersebut. Seluruh berkas tulisan dikirimkan kepada tim panel  dan hanya  18-20 orang saja (dari 300 sampai 500 pendaftar) yang dipanggil untuk proses seleksi lanjutan di depan wawancara panel. Proses wawancara dilakukan dalam bahasa Inggris dengan pewawancara  dilakukan dalam Bahasa Inggris dengan pewawancara dari kedua negara ; republik Indonesia (RI) dan Amerika Serikat (AS). Dari 18-20 orang akhirnya dipilih sekitar 5-7 orang dari hasil dua hari wawancara panel ini. Proses seleksi program beasiswa ini memang cukup ketat.

Hari itu, saya menjadi bagian dari panelis yang memawawancarai sembilan mahasiswa, seluruhnya dari luar Pulau Jawa dengan bahasa Inggris yang sangat lancar (bahkan termasuk dengan logat American English dan British English) serta nilai TOEFL tidak kurang dari 560. Mayoritas Mahasiswa yang maju ke tahap ini adalah mahasiswa dengan latar sosio-ekonomi  menengah bawah, berasal dari keluarag yang hanya cukup untuk membiayai  pendidikan tinggi di Indonesua, tidak pernah keluar negeri dengan biaya sendiri; bahkan tiga diantaranya belum pernah menginjakan kaki ke ibukota ini. Seluruhnya dapat dikatakan sangat layak ditinjau dari tulisan dan wawancara. Peringkatnya sangat berdekatan dan kompetitif. Betapa bangga menjadi saksi atas bertumbuhnya generasi kaum muda Indonesia yang unggul dari segenap penjuru kepulauan di Indonesia.

Pada hari yang sama, sore menjelang malam harinya, saya menjadi bagian dari wawancara panel serupa untuk sebuah pertukaran mahasiswa yang digagas oleh sebuah institusi kerjasama dengan institusi lain di luar negeri. Kali ini persaingan hanya antar mahasiswa satu intuisi, jumlah pelamar ini hanya kurang dari sepuluh orang, sementara kuota untuk  pertukaran pelajar ini untuk tiga orang ke luar negeri selama satu tahun dengan biaya penuh untuk belajar budaya dan bahasa di negara tersebut. Negara yang dituju merupakan negara unggul di Asia. Wawancara dilaksanakan dalam bahasa Indonesia. Mahasiswa pendaftar berasal mayoritas dengan latar belakang keluarga menengah atas. Sayangnya, mutu percakapan jauh dibawah mutu percakapan contoh kasus di paragraf pertama tadi. Tak hanya dari segi bahasa Indonesia yang mayoritas menggunakan bahasa gaul, tidak resmi; jalan pikiran mahasiswa pun tidak utuh. Bahkan, lebih dari separuh mahasiswa tidak tahu persis program apa yang akan terjadi dalam satu tahun  kepergian mereka  ke institusiluar negeri yang dituju.  Sekitar 3-5 orang diantaranya ingin menggali informasi untuk hidup, meneruskan studi dengan biaya orang tua di negara tertuju kelak, serta ingin bekerja di negara maju tersebut. Betapa miris mendengar jawaban mereka. Terutama justru karena kases informasi untuk memahami tempat tujuan sangat terbuka. Internet dengan mudah dapat diakses oleh siapa pun yang kuliah di kota Jakarta ini.

Perbandingan antara subjek kasus pertama dan kedua sungguh nyata bedanya. Hipotesis selama ini bahwa informasi yang bergulir dengan cepat dan mudah diakses oleh orang Jakarta dibandingkan di luar Jawa tentu benar. Tetapi, fakta di atas tidak menunjukan bahwa mahasiswa di jakarta selalu lebih bermutu, selalu lebih kompetitif dan tidak demikian. Rupanya arus deras informasi kini sudah menguntungkan orang yang tidak jumawa di masa lalu. Semoga perhatian bagi informasi digital makin membuat semua orang setara. Jumawanya orang Jakarta mungkin sudah saatnya digerus oleh peningkatan mutu sumber daya manusia di luar pulau jawa.

Sisi lainnya, mahasiswa di kota besar perlu berkaca. Informasi tak lagi berjarak dengan manusia dimana pun dia berada. Secara alamiah, perjuangan memperoleh informasi juga membuat mahasiswa di luar Pulau Jawa, terutama yang masih sulit dengan distribusi informasi digital, membuat mereka berjibak. Mereka memberi penghargaan atas informasi yang baik dan benar. Mereka memelihara kedalaman, mengolahnya bersama cita – cita yang terus tumbuh. Mereka sanggup menjawab tantangan kerja keras. Dalam aplikasi yang saya baca pada contoh kasus pertama, sedikitnya separuh dari aplikasi itu menyatakan dirinya ingin kembali dan hidup bagi daerahnya, bercita – cita menjadi pemimpin daerah demi melihat dan jengah atas lambannya pembangunan di daerah. Satu orang menyatakan ingin menjadi pionir bagi kewirausahaan berbasis daerah penghasil garam yang berlabel daerah minus.

Sementara itu, di Jakarta, saat informasi sangat mudah diperoleh, kurang diolah, tak dimaknai. Mahasiswa pada contoh kasus kedua, ketika ditanya apa rencananya di masa depan, jawaban rata – rata cukup singkat dengan sangat normatif : ingin menjadi lebih baik. Tentu tidak salah, namun betapa jauh makna mendarat. Mahasiswa di Jakarta barangkali perlu membuka mata dan telinga lebar – lebar, mencoba berinteraksi dengan daerah asal, berkompetisi dengan sehat untuk belajar dari apa dan siapa dengan bermaksna. Mereka perlu rendah hati, termasuk belajar dari rekan di daerah. Lebih dari itu, perlu ada pemaknaan atas informasi, refleksi mendalam bagi cita-cita pribadi dan bangsanya.

Refleksi yang lebih jauh lagi bagi pendidikan tinggi kita, barangkali pada peluang kebermaknaan itu di era digital yang perlu direnu8ngkan, dihidupi. Saat ketersebaran informasi digital ke daerah makin nyata, akankah mahasiswa kita di daerah juga menjadi hilang makna? Jumawa mungkin mengikis kedalaman makna.

 

Tabloid-Kontan. 19 Juni – 25 Juni 2017. Hal 5