Penjual Jus Cabuli Siswa MTs Selama Sepekan

Penjual Jus Cabuli Siswi MTs Selama Sepekan. Jawa Pos.3 Juni 2016.Hal.33,47

Bermula dari perkenalan lewat facebook

Surabaya- lagi-lagi, media sosial menjadi perantara terjadinya kasus pencabulan anak-anak dibawah umur. Yang terbaru, seorang siswi madrasah tsanawiyah (MTs), sebut saja bernama Rani dicabuli Novan Chandra, 20, selama sepekan. Hubungan badan itu terjadi di rumah kos Novan, Wonosari Kidul Gang V. Dalam pengakuannya kepada polisi, pemuda penjual jus itu mengenal Rani sekitar empat bulan lalu melalui facebook. Saling berbalas pesan di media sosial tersebut membuat keduanya merasa ada kecocokan. Keduanya pun sepakat berpacaran meski hanya di dunia maya.

Novan Kena UU Perlindungan Anak

Selama berpacaran, keduanya terus berkomunikasi via facebook. Kadang mereka juga berbalas pesan lewat short message service (SMS). Maklum, pasangan yang sedang dimabuk cinta itu dipisahkan jarak yang jauh. Novan tinggal di Surabaya, sedangkan sang kekasih berada di Kediri. Karena sudah terlaly kangen, keduanya sepakat bertemu di Surabaya. Tanggal pertemuan pun ditetapkan, yakni 22 Mei. Sesuai jadwal yang disepakati, siswi berusia 15 tahun itu pun pergi ke Surabaya. Untuk kali pertama, keduanya bertemu pada pukul 15.30 di Terminal Purabaya; Sidoarjo. “Saya tidak menyangka wajahnya lebih cantik daripada fotonya di facebook,” ujar Novan saat ditanya Jawa Pos kemarin (2/6).

Melihat kecantikan pacarnya itu, Novan tidak kuat lagi menahan nafsu. Dia langsung mengajak Rani ke tempat kosnya. Berawalnya dari sekadar ngobrol dan saling peluk, keduanya lantas berciuman hingga akhirnya berhubungan badan. Tidak hanya sekali, hubungan badan layaknya suami istri itu berlangsung tujuh kali. Tiap malam, mulai 22-28 Mei. “Saya iming-imingi dia baju baru agar mau,” ujar Novan.

Novan yang juga berasal dari Kediri itu sebenarnya sadar bahwa Rani masih duduk di bangku kelas IX MTs. Itu berarti Rani masih dibawah umur dan Novan terancam hukuman pidana. Meski demikian, Novan tetap berusaha membela diri dengan dalih hubungan tersebut dilakukan atas dasar suka sama suka. “Tidak ada paksaan. Saya juga berjanji menikahi dia,” kata Novan sambil mewek.

Sementara itu, Rani yang tidak pernah lama meninggalkan rumah akhirnya dicari orang tuanya. Handphone yang sulit dihubungi membuat ayah dan ibunya mencari Rani dari teman-teman dekatnya. Untung, salah seorang teman Rani mengatakan bahwa sang anak pergi ke Surabaya untuk bertemu dengan Novan.

Pada 28 Mei pukul 16.00, orang tua Rani menemukan anaknya bersama Novan. Keduanya ditemukan saat sedang bermesraan di Jalan Hayam Wuruk, Surabaya. “Orang tuanya tidak terima dengan perlakuan tersangka. Lalum melapor ke Polsek Wonokromo,” jelas Kapolsek Wonokrompo Kompol Arisandi.

Polisi lantas menangkap Novan di kamar kosnya. Dalam penangkapan itu, polisi menyita barang bukti berupa empat kaus, celana dalam, dan celana jins yang digunakan korban selama tinggal bersama tersangka. “Dia (tersangka) akan kami amankan dengan dugaan kasus pencabulan,” imbuhnya. Arisandi mengatakan, tersangka akan dijerat dengan pasal 81 UU No. 3 Tahun 2014 tentang Pelindungan Anak. Sebab, korban terhitung masih dibawah umur dan sudah disetubuhi secara sengaja oleh tersangka. “Kami masih menunggu proses pengadilan. Bisa saja tersangka terkena ancaman Perppu No. 1 Tahun 2016 yang hukumannya kebiri atau ekspos identitas,” tegasnya.

Sumber : Jawa Pos. 3 Juni 2016. Hal 33,47

Materi Tersebar di Lingkungan

Pendidikan Seksualitas Ditempuh Lewat Diskusi Orangtua -Anak. Kompas.8 Juni 2016.Hal.11

Pendidikan Seksualitas Ditempuh Lewat Diskusi Orangtua-Anak

Jakarta, Kompas – Paparan pornografi terhadap anak-anak tidak hanya berlangsung lewat internet, tetapi juga lewat kehidupan nyata sehari-hari. Bahkan, anak-anak mengenal pornografi pertama-tama justru dari tontonan, bacaan, hingga candaan orang dewasa.

“Anak-anak tidak serta merta bisa mengakses materi pornografi secara daring (dalam jaringan). Keinginan itu timbul akibat timbunan memori yang didapat sedari kecil,” ucap psikolog seksual Baby Jim Aditya, ketika ditemui di Jakarta, Selasa (7/6). Materi ini dipapar tanpa sadar oleh orang tua kepada anak.

Baby menjelaskan, ketika bercanda di media sosial dengan sesama orang dewasa, orangtua sering saling mengirim meme, foto, atau video yang bersifat pornografi. Menurut dia, berdasarkan pengakuan klien anak-anak yang ditanganinya, mereka berada di sebelah orangtua saat foto atau meme muncul di gawai.

Anak-anak juga terpapar pornografi ketika secara tak sengaja melihat gambar-gambar yang tersimpan di gawai milik orangtua. Hal ini terjadi karena orangtua tidak menghapus materi pornografi di gawai. “Anak tidak segera beraksi. Namun, materi tersebut terpendam di dalam ingatan selamanya,” ucap Baby.

Menurut dia, seiring berjalannya waktu, anak berkembang secara fisik dan mental. Merekapun semakin terpapar dengan berbagai hal yang bersifat seksis. Situasi ini bisa memicu anak-anak untuk menggali ingatan pada materi pornografi di benak mereka.

“Ketika keinginan itu muncul, ia mencari konten pornografi. Hal pertama yang ia coba ialah gawai di sekitarnya,” ujar Baby.

Secara terpisah, Ryan Syakur dari bagian advokasi dan humas Persatuan Keluarga Berencana Indonesia Pusat mengatakan, sumber pertama pornografi bagi anak adalah koleksi milik orangtua. Bentuknya bisa berupa film, majalah, tulisan, hingga gambar.

“Dari siswa-siswa SMA yang diteliti, mereka semua menyebut orangtua tidak cermat dalam menyimpan materi pornografi,” kata Ryan yang pernah meneliti akses anak terhadap pornografi.

Materi pornografi lalu disebar dengan mudah di media sosial sehingga akses anak terhadapnya dilakukan diantara sesama pengguna medsos atau tidak lagi melalui situs dewasa.

 

Korban sekaligus pelaku

Paparan pornografi terhadap anak juga terjadi karena lingkungan sekitar cenderung tidak mendukung perlindungan pada mereka. Orang dewasa di sekitar anak, misalnya, sering mengutarakan lelucon yang bersifat merendahkan perempuan. “Orangtua secara tidak sadar membuat lawakan seksis kepada anak laki-laki,” ujar Baby.

Bentuk lelucon itu antara lain pernyataan seorang ayah bahwa ketik seusia anaknya, ia memiliki banyak pacar. “Laki-laki dewasa malah meremehkan adik, anak, atau keponakan laki-laki yang belum memiliki pengalaman mengeksploitasi perempuan,” tutur Baby.

Lawakan ini kemudian menjadi hal lumrah diutarakan di kelompok pergaulan anak laki-laki. Alhasil, terbentuk pola pikir mereka mengenai tubuh sendiri ataupun ketubuhan perempuan.

Pemahaman semcam itu pula yang membuat anak menjadi korban sekaligus pelaku pornografi. Berdasarkan riset Ryan, siswa SMA gemar mengunggah foto ataupun video saat bermesraan dengan pasangan. Konten ini sangat populer di kalangan anak dan remaja.

Maka, muncul pemikiran bahwa berpacaran lazim dilakukan sambil beradegan mesra dan mempertontonkannya kepada kawan sebaya sebagai bentuk aktualisasi diri. “Hal ini juga didukung tidak adanya kesadaran orangtua dan guru memberikan pendidikan seksualitas untuk menyikapi perubahan hormon dan pemikiran anak,” ujar Ryan.

Baby menekankan pula pentingnya komunikasi antara orangtua dan anak. Komunikasi diwujudkan tidak dalam bentuk menakut-nakuti anak, tetapi pada diskusi dan pemberian pemahaman. Diskusi lebih efektif apabila menggunakan perspektif lawan jenis, yakni ayah mendidik anak perempuan, sementara ibu mengajar anak laki=laki.

“Ayah yang pernah menjadi anak dan remaja laki-laki menceritakan pengalamannya kepada anak perempuannya sehingga putrinya memahami dinamika hubungan dengan lawan jenis dan bisa menjaga diri,” tuturnya.

Sumber: Kompas.8-Juni-2016.Hal_.111

Pendeta Gea Bantah Cabuli 7 anak

Pendeta Gea Bantah Cabuli 7 anak. Surya.3 Juni 2016.Hal.11

Sidang di PN Surabaya

Surabaya, Surya – Pendeta Idaman Asli Gea alias Idaman Asli Telambanua harus duduk di kursi pesakitan Pengadilan Negeri (PN) Surabaya atas tuduhan pencabulan terhadap tujuh anak.

Dalam sidang pemeriksaan saksi di ruang Sari II yang dipimpin Ketua Majelis Hakim Maxi Sigarlaki SH, ketujuh saksi terdiri dari lima perempuan dan dua laki-laki diperiksa satu persatu secara tertutup. Mereka adalah F (21), MM (17), R (20), MN (21), AP (8), F (13), dan YN (13).

Ketika sidang berlangsung dari balik kaca jendela terlihat majelis hakim berargumen dengan terdakwa Idaman Asli Gea. Di depan ruang Sari II pun terlihat ramai. Ada beberapa perempuan terlihat mendampingi ketujuh korban pelecehan seksual. Mereka melakukan pendampingan karena kondisi korban mengalami trauma berat.

Dalam kasus ini, terdakwa dijerat pasal berlapis yakni Pasal 81 ayat 1 UU Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas UU Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak jo Pasal 64 ayat 1 KUHP, ancaman hukumannya 15 tahun penjara.

Sesuai dakwaan yang ada, terdakwa diduga melakukan persetubuhan terhadap keponakannya sendiri, MM. Dalam dakwaan itu disebukan, korban tinggal bersama terdakwa sejak tahun 2012, saat itu korban kelas 3 SMP.

Kerjadian itu terjadi saat korban pulang dari sekolah dan disuruh terdakwa untuk membikinkan teh. Setelah itu disuruh mengantar ke kamar terdakwa.

Lantas korban disuruh mengunci pintu kamar. Selanjutnya terdakwa menyuruh korban untuk mengerok terdakwa di bagian bawah perut. Akhirnya korban disuruh melayani terdakwa sambil berkata: “aku itu membutuhkan kamu, aku tidak merusak kamu, itu kebutuhanmu, jangan bohongi dirimu sendiri:.

Korban saat itu menjawab “tidak mau om” sambil beranjak dari tempat tidur. Lalu terdakwa mengambil pisau diatas lemari pakaian dan menodongkan pisau di leher korban. Tetapi saat itu terdengar suara pintu pagar terbuka oleh adik kandung korban yang pulang dari sekolah.

Karena kondisi tidak memungkinkan, terdakwa menyuruh korban keluar dari kamar dengan berkata: “keluar kamu, kalau kamu gak nurut saya pulangkan kamu ke Nias dan jangan harap kamu bisa sekolah di sini”.

Korban saat itu hanya bisa menangis sambil keluar kamar terdakwa.

Persoalan tak berhenti disitu. Agustus 2014, korban saat itu diantar terdakwa ke sekolah bersama dengan saudara-saudara saksi korban lainnya dengan menggunakan mobil Suzuki Ertiga. Setelah terdakwa mengantar semua saudara-saudara korban ke sekolah, terdakwa tidak mengantar korban langsung ke sekolahnya. Namun terdakwa menghentikan mobil di daerah sepi. Terdakwa yang awalnya duduk di kursi depan melompat ke kursi tengah tempat korban sembari berkata: “itu sudah kebutuhan kamu, kamu itu harus bisa merasakan laki-laki itu seperti apa, suapaya kamu kedepannya itu punya pengalaman dan tidak mudah luluh dengan laki-laki lain.”

Korban yang diliputi rasa ketakutan itu tidak bisa mengatakan apa-apa dan berusaha keluar dari mobil. Namun, pintu mobil sudah dikunci dan terdakwa menyuruh korban untuk membuka baju sambil berkata ‘buka bajumu daripada aku sobek nanti kamu gak bisa sekolah’.

Dalam kejadian ini, korban harus merelakan mahkotanya direnggut terdakwa. Usai melampiaskan nafsunya, terdakwa justru mengatakan jangan bilang siapa-siapa, kalau kamu bilang nyawa taruhannya.

Pada minggu ketiga Agustus 2014, terdakwa pulang dari gereja bersama korban dan dibawa ke tempat sepi dan kejadian itu terulang lagi. Usai menyalurkan hasratnya, terdakwa mengatakan jangan bilang ke mamamu (istri terdakwa).

Pascakejadian, masih dalam bulan Agustus, saat terdakwa dan korban melakukan pelayanan doa di sebuah Gereja di daerah Tambakrejo akan tetapi pelayanan doa itu tidak jadi. Akhirnya pulang dan terdakwa menghentikan mobil di tempat sepi di daerah Kenjeran dan terdakwa kembali melakukan persetubuhan dengan korban. Kejadian itu terulang sampai September 2014 dengan cara yang sama.

Korban yang terus diliputi perasaan ketakutan, akhirnya menceritakan kepadakan istri terdakwa. Istri terdakwa saat itu hanya menangis dan kaget karena tidak tahu kalau suaminya melakukan perbuatan seperti itu. Istri terdakwa berpesan agar lebih hati-hati lagi dengan terdakwa dan banyak berdoa.

Korban juga pernah menceritakan kejadian itu kepada F. Ternyata F yang juga masih bersaudara juga mendapat perlakuan sama. Begitu pula MN juga mengalami hal yang sama. Dari persoalan yang ada, akhirnya mencuat dan ternyata banyak korban lainnya.

Jaksa Penuntut Umum (JPU) Suci Anggraeni SH, menuturkan dalam sidang pemeriksaan saksi sama dengan dakwaan yang ada. “Tapi terdakwa mengaku tidak pernah melakukannya. Kan itu hak terdakwa,” ungkap Jaksa Suci usai sidang.

Kuasa hukum terdakwa Idaman Asli Gea, saat ditanya cerita dalam sidang kesaksian, enggan memberi komentar. “Tanya ke jaksa dulu. Baru nanti saya jelaskan,” ungkap kuasa hukum terdakwa.

Ketika ditanya siapa namanya, pengacara itu menyuruh ke jaksa. Setelah jaksa menjelaskan, pengacara terdakwa sudah tidak ada.

 

Sumber : Surya Lines. 3 Juni 2016. Hal. 11

Penyelidik Tersangka Pelajar Otak Pencabulan

Pemyidik Tersangkakan Pelajar Otak Pencabulan. Jawa Pos.31 Mei 2016.Hal.41

Kapolres Ajak Keluarga Gandeng Tangan Jaga Anak

GRESIK – Kejahatan seksual bukan tindakan pidana ringan. Sekalipun pelakunya masih berstatus pelajar dengan usia dibawah umur, anggota Polres Gresik menetapkan seseorang tersangka kasus pesta minuman keras berujung pencabulan di Desa Cerme Kidul, Kecamatan Cerme, Sabtu (28/5). Jumlah tersangka bakal bertambah.

Sumber Jawa Pos menyebutkan, tersangka itu adalah Eg, siswa SMP yang mengajak korban Putri (samaran), ke sebuah rumah kosong. Dia juga yang diduga meminta teman-temannya datang minuman keras jenis tuak. Lalu mencekoki Putriu dengan miras, kemudian mencabulinya.

Polres Gresik menetapkan status tersangka setelah memeriksa Eg dan kelima kawannya. Oleh penyidik unit PPA Satreksrim Polres Gresik, Eg dinyatakan sebagai anak berhadapan dengan hukum (ABH) alias tersangka. Namun, polisi mengisyaratkan tersangka akan lebih dari seseorang.

“Sudah ditetapkan seorang anak sebagai pelaku,” ujar Kapolres Gresik AKBP Adex Yudiswan setelah bertemu komunitas Porttil, buruh bongkar muat barang dan jasa penambang perahu di Terminal Pelabuhan Gresik, kemarin (30/5)

Menurut Adex, penyidik sudah berkoordinasi dengan Badan Permasyarakatan (Bapas) Surabaya terkait penetapan anak sebagai pelaku pencabulan. Pelaku dan korban sama-sama anak di bawah  umur. “Insya Allah secepatnya kami kirim berkas ke JPU karena menyangkut anak dibawah umur,” tambah alumnus Akpol 1996 tersebut.

Untuk kasus seperti itu, kata Adex, polisi akan  mengupayakan yang terbaik buat korban. Namun tetap menindak siapapun yang terlibat. “Sementara memang satu pelajar sebagai tersangka. Mungkin akan bertambah,” tegasnsya.

Dalam kesempatan bertemu warga pesisir di pelabuhan kemarin, Adex meminta para orang tua dan kerabat agar mewaspadai pergaulan anak-anak. Dia berharap seluruh elemen masyarakat bergandengan tangan. Bahu-membahu agar tidak terjadi lagi. “Ini untuk melindungi generasi muda kita dan anak di bawah umur,” jelasnya.

Bahkan, Adex menyatakan sepakat dengan hukuman kebiri bagi pemerkosa.Namun yang lebih penting ialah melibatkan keluarga sebagai garda terdepan untuk melindungi anak-anak.

Sebagaimana diberitakan, Sabtu sekitar pukul 14.00 Egbertemu Putri dan mengajaknya masuk ke bangunan kosong di Desa Cerme Kidul. Disana ada gubuk beralas anyaman bambu. Tidak lama kemudian, lima pelajar lain, yakni RV, RAS, AL, MIF dan AMI, datang. Usia mereka sekitar 14-15 tahun. Semua warga Cerme dan kabarnya berasal dari empat sekolah di Kecamatan Cerme dan Kebomas.

Mereka membawa miras jenis tuak. Putri dan enam cowok itu lantas minum miras hingga teler. Ketika korban tidak sadar, Eg mencabuli korban. Selain Eg, ada satu pelajar lagi yang diterangi sampai menyetubuhi korban. Pelajar kkelewat batas. “Besar kemungkinan dia yang akan menjadi tersangka tambahan,” jelas sumber Jawa Pos di kepolisian.

Di sisi lain, pukul 12.30 Putri menjalani pemeriksaan di ruang unit PPA Satreskrim Polres Gresik. Putri didampingi orang tuanya dan aktivis Pusat Pelayan Terpadu Perlindungan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Gresik. Gadis ABG itu menggunakan jilbab merah. Dari celah lubang jendela, postur tubuhnya terlihat mungil. (yad/c15/roz)

Sumber : Jawa-Pos.31-Mei-2016.Hal_.41

Bocah TK Jadi Korban Pecabulan

Bocah TK Jadi Korban Pencabulan. Jawa Pos.28 Mei 2016.Hal.29,43

SURABAYA – Pencabulan terhadap anak terjadi lagi. Korbannya adalah Lisa (nam samaran). Bocah perempuan berusa 6 tahun itu dicabuli Didin Arya Putra alias Odik. Pria berusia 27 tahun tersebut adalah tetangga kamar kos keluarga Lisa.

Perbuatan bejat itu dilakukan Odik di kamar kosnya, kawasan Jalan Jemursari Utara. Kamar di dalam rumah kos tersebut memang berimpitan rapat. Hampir setiap hari Odik bertemu dengan Lisa.

Pencabulan tersebut terbongkat setelah orang tua Lisa mencium gelagat mencurigakan. Saat dimandikan ibunya, Lisa mengeluh perih di bagian kelaminnya. Saking sakitnya, Lisa sampai menangis kencang.

“Awalnya korban takut untuk bercerita. Namun, akhirnya keluarga bisa membuatnya berterus terang,” jelas Kasubnit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya Ipda Harun kemarin (27/5).

Kepada orang tuanya, Lisa tidak bisa menyebutkan secara pasti hari atau tanggal saat dirinya dicabuli Odik. Dia hanya menceritakan hari itu Odik memanggilnya dan meminta dibelikan mie goreng dan rokok. Dengan polos, Lisa menuruti perintah itu, lalu pergi ke warung dekat rumah kos.

“Setelah kemabli dari warung, Lisa disuruh masuk ke kamar Odik. Bocah yang masih duduk di bangku TK B itu kemudian disuruh menunggu di dalam. Agar tidak menolak, Odik memberikan uang kembalian belanja tadi ke Lisa. “Korban dikasih uang Rp 2.500, agar mau menuruti pelaku,” tambah Harun.

Lisa kemudian duduk diatas kasur. Saat itulah Odik menyuruh Lisa berbaring. Nafsu Odik tidak bisa ditahan lagi. Pria asal Jombang tersebut mencabuli bocah kecil itu dengan tangannya. Pencabulan tersebut dilakukan sebanyak dua kali.

Mendengar cerita Lisa, keluarganya pun berang. Kabar itu juga langsung menyebar ke bebrapa warga lain. Setelah berembuk, keluarga dan warga sepakat untuk membawa kasus tersebut ke polisi.

Rabu (25/5) mereka mendatangi Polsek Wonocolo untuk melapor. Oleh petugas, mereka diarahkan langsung mendatangi Unit PPA Polrestabes Surabaya. “Kami meminta korban untuk menjalani visum di polda,” ujar mantan Panitreskrim Polsek Bubutan tersebut.

Hasil visum itu membuktikan bahwa alat kelamin korban memang robek. Berdasar pemeriksaan medis, Odik sempat berusaha memasukkan penisnya ke dalam alat kelamin korban, tapi tidak berhasil. Dia lalu memasukkan jarinya. Itu yang membuat alat kelamin korban terluka. Setelah hasil visum keluar, Odik digelandang ke Mapolrestabes Surabaya pada Kamis malam (26/5).

Meski hasil visum sudah keluar, Odik tetap tidak mengakui perbuatannya. Kepada polisi, dia mengelak semua tudingan keluarga dan warga sekitar. “Dia (korban, Red) Cuma gulung-gulung aja di kasur sambil menangis. Saya panggil ibunya, tapi malah dibawah kesini,” katanya.

Odik melanjutkan, dirinya merupakan penghuni baru kos tersebut. Baru dua bulan dia tinggal bersama istri sirinya disana. Sebelumnya, dia merantau sebagai tenaga pertambangan di Kalimantan.

Meski pelaku tidak mengakui perbuatannya, polisi tetap tidak mempercayainya. Mereka mengambil tindakan tegas dengan menahan Odik. “Kami tidak butuh pengakuan pelaku. Bukti visum dan keterangan di lapangan sudah cukup untuk menjeratnya,” tegas Kanit PPA Polrestabes Surabaya AKP Ruth Yeni. (did/c7/fat)

Sumber : Jawa-Pos.28-Mei-2016.Hal_.2943

Program Dokter Layanan Primer dan Isomorfisme

Program Dokter Layanan Primer dan Isomorfisme.Jawa Pos. 21 Juni 2016.Hal.4

Oleh Maulana A. Empitu

Sejumlah media mengabarkan bahwa Kementrian Kesehatan (Kemenkes) akan meluncurkan program pendidikan dokter layanan primer (DLP) yang didukung Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti). Menteri kesehatan mengungkapkan, pendidikan DLP akan meningkatkan kompetensi dokter agar mampu mengedukasi dan mengadvokasi masyarakat hingga pencegahan penyakit dapat dilakukan sejak dini.

Disisi lain, rencana peluncuran program DLP tersebut menimbulkan polemik di kalangan para dokter dan akademisis kesehatan. Lama pendidikan seorang dokter sebelum dapat menyelenggarakan praktik mandiri juga akan semakin panjang. Kewenangan serta fungsi DLP dikhawatirkan tumpang-tindih dengan dokter umum dan tenaga kesehatan lain. Salah satu contoh telah dibahas dalam opini berjudul “Menyorot Rencana Program Dokter Layanan Publik” (Jawa Pos, 20/6) mengenai potensi tumpang tindihnya fungsi DLP dengan petugas penyuluh kesehatan di puskesmas. Tapi, di luar segala perdebatan dan penolakan, Kemenkes tetap berpegang pada pendiriannya untuk membuka DLP.

Belajar dari pengalaman berbagai negara lain yang jauh lebih dulu menerapkan prgram layanan primer, eksistensi DLP merupakan komponen utama dan menjadi kebutuhan dalam menjalankan sistem pelayanan kesehatan yang berkelanjutan. Di Inggris, sekitar 80 persen interaksi masyarakat dengan layanan kesehatan adalah melalui DLP. Dalam reformasi sistem kesehatan Amerika Serikat (AS) pada 2010 yang dikenal dengan Obamacare, salah satu fokusnya adalah usaha peningkatan jumlah dan insentif terhadap DLP.

Berbagai studi di negara maju oleh ahli dari bermacam disiplin ilmu menunjukkan bahwa adanya DLP terbukti meningkatkan kesehatan masyaakat dan menekan biaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan. Pasien yang diampu DLP memiliki lebih sedikit kunjungan kegawatan. Penyakit yang dapat dicegah bisa diketahui secara dini dan diterapi sebelum terlambat. Pasien DLP juga cenderung memiliki riwayat penyakit kronis yang terkontrol, imunisasi lengkap, dan terhindari dari terapi berlebihan. Uniknya, fenomena positif tersebut ditemukan terutama pada masyarakat ekonomi kurang mampu.

Bukan hanya di negara maju, fenomena itu juga terjadi di negara berkembang. Thailand adalah tetangga kita yang mengadopsi konsep DLP sejak beberapa dekade lalu. Mereka berinvestasi besar membangun sistem layanan primer sejak pendapatan per kapita rakyat Thailand masih rendah. Sejak 1990, tingkat penurunan angka kematian balita dan ibu di Thailand adalah yang terbaik. Lagi-lagi, penyelenggara layanan primer oleh personel yang mumpuni mampu menekan biaya penyelenggaraan pelayanan kesehatan.

Anggapan yang keliru jika efisiensi tidak dapat berjalan bersamaan dengan peningkatan kualitas layanan kesehatan. Atul Gawande, seorang ahli bedah dan profesor kesehatan masyarakat di sekolah kedokteran Harvard, dalam tulisan berjudul “The Cost Conundrum” di majalah The New Yorker mengemukakan fakta unik. Di beberapa kota AS yang memiliki kualitas pelayanan kesehatan terbaik, justru pengeluaran untuk pembiayaan pelayanan kesehatannya lebih rendah daripada di daerah lainnya. Ahli kebijakan kesehatan Elliot Fisher menjelaskan bahwa fenomena tersebut berkaitan erat dengan akses terhadap DLP dan upaya preventif yang dilakukan.

Fenomena positif DLP di berbagai negara tidak terlepas dari fungsinya dalam mengintegrasikan dan mengoordinasi segala sumber daya untuk menangani pasien secara menyeluruh dan paripurna. Penulis sempat “menikmati” sebagai pasien DLP di negara lain.

Hampir segala macam kebutuhan pasien dapat difasilitasi DLP, bukan hanya yang terkait dengan persoalan medis. Contohnya ialah mengatur transportasi pasien supaya dapat menghadiri sesi terapi secara rutin, memastikan pasien mendapatkan pembiayaan, dan mengusahakan tempat tinggal pasien mendukung kebutuhan khususnya. Karena itu, tumpang tindihnya peran DLP dengan profesi lain kadang terjadi.

Secara ringkas dapat dikatakan, kehadiran DLP adalah sesuatu yang positif. Namun jika menilik sejarah ekssitensi DLP di berbagai negara, model pendidikan DLP sangat bervariasi dan berganti menyesuaikan dengan tantangan. Lantas pertanyaannya, model pendidikan DLP dan kompetensi apakah yang dapat melejitkan kapsitas dokter Indonesia untuk menjawab tantangan kesehatan kini dan beberapa dekade ke depan?

Bagaimana Kemenkes mentransformasikan semua profesi kesehatan dapat bersinergi dengan DLP? Perlu pengkajian mendalam yang melibatkan berbagai stakeholder untuk merumuskannya. Di sisi lain, menjiplak sistem pendidikan dan penerapan DLP di negara maju belum tentu menjadi solusi. Hal seperti itu cenderung melahirkan sebuah isomofise: keserupaan bentuk dan cara kerja namun tidak memberikan outcome yang diharapkan. Infrastruktur dan sumber daya layanan kesehatan juga perlu disiapkan agar fungsi DLP berjalan optimal nanti. Termasuk beredam polemik yang sekarang berkembang.

Di zaman pelayanan kesehatan yang semakin terkapitalisasi, kita perlu memiliki profesi yang dapat mengawal dan mendampingi pasien secara berkesinambungan. Profesi yang memiliki kemampuan mengintegrasikan berbagai sumber daya untuk melakukan penetrasi ke segala lapisan masyarakat dan melenyapkan batas yang menghalangi masyarakat menjadi sehat. Semoga segala realitas positif DLP di negara lain tidak hanya menjadi utopia di negara kita.

Sumber: Jawa-Pos.-21-Juni-2016.Hal_.4

Masa Depan Perguruan Tinggi

Masa Depan Perguruan Tinggi. Kompas.21 Juni 2016.Hal.6

Pemuda/pemudi Indonesia yang tengah menempuh pendidikan master dan doktor, di luar dan dalam negeri, sungguh menumbuhkan rasa optimistis tentang masa depan perguruan tinggi dan meningkatnya mutu sumber daya manusia kita secara keseluruhan.

 

Mereka itu khususnya para penerima beasiswa Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP) dari Pemerintah RI melalui Kementerian Keuangan. Jumlahnya hingga awal 2016 sekitar 5.000 orang. Beberapa yang studi doktor di Belanda dan Jerman sudah di tahun ke-3 meskipun usianya baru 27-28 tahun. Kebanyakan yang ditingkat master usianya 20 tahunan. Jika setelah master langsung melanjutkan ke jenjang S-3, mereka juga akan menjadi doktor di usia sekitar 30 tahun.

Artinya, dalam waktu tidak terlalu lama lagi Indonesia akan memiliki ribuan doktor baru setiap tahun dengan rata-rata msa produktif keilmuan jauh lebih panjang daripada selama ini. Di Asia, “panen-raya” SDM terdidik Indonesia nantinya hanya kalah dari Tiongkok. Sejak 10 tahun terakhir, pemerintah Tiongkok mengirimkan pemuda/pemudinya studi ke luar negeri, yang pada jenjang S-3 saja jumlahnya sekitar 6.000 orang per tahun.

Bagi Indonesia, rasa optimistis itu makin kuat karena orang-orang muda yang dibiayai negar aitu bukan tipe generasi laissez-faire. Mereka tidak memandang pendidikan semata-mata sebagai wahana mobilitas vertikal individual. Juga buka tipe “generasi tak-peduli” seperti analisis pedagog Mochtar Buchori. Dari obrolan dengan sejumlah penerima beasiswa LPDP di Belanda dan Jerman, sangat terasa komitmen dan kepedulian mereka terhadap pembangunan Indonesia. Aura kompetensi, wawasan, ambisi, dan orientasi karier mereka menegaskan potensi kolektif yang dahsyat bagi kemajuan Tanah Air di masa depan jika dikelola dengan biak secara institusional.

 

Angin segar

Secara khusus, kehadiran doktor-doktor muda itu merupakan angin segar bagi dunia perguruan tinggi (PT) di Indonesia. Meski tak semua dari mereka akan/telah berstatus dosen, penambahan secara signifikan jumlah doktor akan meingkatkan daya kompetitif PT sebagai salah satu pilihan lapangan pekerjaan.

Sesuai UU Guru dan Dosen, salah satu syarat menjadi dosen adalah berpendidikan minimal S-2/master. Mereka yang berijazah doktor menikmati posisi istimewa karena sampai sekarang masih tergologi langka. Hingga 2013, jumlah doktor di Indonesia cuma sekitar 11 persen dari total 154,968 dosen tetap PT. Di sisi lain, dosen-dosen berijazah doktor itu banyak yang telah mendekati/melewati usia 50 tahun. Produktivitasnya pun surut. Akibatnya,  di berbagai tempat kita jumpai dosen-dosen berijazah doktor, tetapi kinerjanya tidak berkontribusi terlalu signifikan terhadap peningkatan daya saing PT-PT di Indonesia.

Dengan hadirnya ribuan doktor muda beberapa tahun lagi, seleksi jadi dosen PT bisa semakin ketat. Seperti di Jerman, usia biologis dan usia ijazah doktornya adalah faktor-faktor saling terkait yang menjadi asar petimbangan dalam seleksi calon dosen. Tujuannya adalah untuk memperoleh kandidat dengan potensi, produtivitas, dan durasi masa kerja seoptimal mungkin.

Atmosfer akademik di PT dipastikan juga semakin dinamis. Akan tiba saatnya ketika berijazah doktor saja tidak cukup menjamin kualitas dan keahlian. Seorang doktor dituntut punya riset-riset post-doktoroal yang serius dan publikasi secara berkelanjutan dan konsisten agar dapat bertahan secara keilmuan. Semua ini niscaya menjadi atmosfer akademik dan praktik yang lumrah di PT-PT Indonesia dan beberapa tahun ke depan.

 

Kepemimpinan kaum muda

Seluruh peluang optimalisasi potensi kolektif para doktor muda akan hilang jika lapangan pekerjaan, sistem karier, dan mekanisme imbal jasa di Indonesia kurang kompetitif. Doktor-doktor kita akan mencari kesempatan yang lebih baik di negara lain. Investasi pemerintah jadi sia-sia. Tantangan ini semakin besar karena pasar bebas ASEAN dan Asia Pasifik memungkinkan migrasi sumber daya manusia terdidik secara lebih terbuka.

Dunia PT sebagai salah satu pilihan lapangan pekerjaan dapat kehilangan kesempatan dari kehadiran doktor-doktor muda itu jika tidak segera melakukan pembenahan internal. Selama ini yang dikeluhkan adalah minimnya fasilitas laboratorium, perpustakaan, dan dana riset. Meskipun hal-hal ini krusial, saya kira akar permasalahan ada pada stagnasi sistem dan iklim kerja akibat karakter kepemimpinan PT yang secara umum tidak adaptif dan lambat merespons ide-ide pembaruan.

Rata-rata kepemimpinan PT di Indonesia saat ini berada di tangan kaum tua. Atmosfer akademik juga ditentukan oleh sepak terjang politik kaum tua, yang memain-mainkan kekuasaan apa pun yang tergenggam di lahan sempit birokrasi kampus. Kasus-kasus dibeberapa tempat menunjukkan semangat dan kemauan dosen-dosen muda untuk maju dengan melakukan perkembangan riset dan aktivitas akademik yang serius sering dihambat atau bahkan dimatikan oleh mentalitas birokratis atasan atau seniornya sendiri, alih-alih diberi ruang, diarahkan, dan dibimbing.

“Tua” disini tidak hanya dari segi usia biologis, tetapi juga perspektif kepemimpinan dan orientasi pengembangan ilmu. Kepemimpinan kaum tua bisa saja berisi orang-orang relatif muda usia, tetapi produk kerja akademik, khususnya risetnya yag terakhir sudah 5-10 tahun lalu, bahkan lebih. Diantara mereka ada yang sama sekali tidak memiliki pengalaman keilmuan internasional dibidangnya. Entah bagaimana PT-PT dengan profil kepemimpinan demikian mewujudkan misi “menjadi perguruan tinggi riset yang diakui dunia” yang telah beramai-ramai mereka rumuskan sendiri.

Kehadiran doktor-doktor muda dengan semangat dan perspektif baru berpotensi merevolusi stagnasi atmosfer akademik dan membawa pembaruan kinerja secara radikal. Namun, hal ini mustahil terjadi jika paradigma kepemimpinan PT tidak diubah agar siap menerima kehadiran, kiprah, dan dinamika kerja kaum muda.

Karena itu, alih-alih mewancanakan impor rektor yang malah memicu reaksi bernuansa xenofobis dan chauvinistik, Menristek dan Dikti Muhammad Nasir (dan juga Presiden Jokowi!) lebih baik menyiapkan ceteak biru paradigma baru kepemimpinan PT agar dijiwai semangat dan sifat-sifat kaum muda. Diantaranya progresif-gesit, terbuka pada perubahan, dan akomodatif terhadap kebutuhan dan pengembangan potensi warga kampus. Selain itu, dengan 35 persen hak suara ditangannya pada pemilihan rektor PT negeri di seluruh Indonesia, Menristek dan Dikti harus mengembangkan di dalam dirinya paradigma baru kepemimpinan PT yang berorientasi pada kaum muda.

Paradigma kepemimpinan PT pelu dirombak agar PT-PT di Indonesia menjadi pilihan lapangan pekerjaan yang menarik dan kompetitif bagi ribuan doktor baru yang segera kembali ke Tanah Air dan siap berbakti. Jika doktor-doktor itu dikelola dengan kepemimpinan yang dilandasi semangat dan jiwa zaman sehingga mereka punya ruang untuk berkembang optimal, masa depan PT di Indonesia pasti cerah. Pada saat itu, persoalan rendahnya peringkat PT dan minimnya publikasi ilmiah yang tanpa disadari telah menjadi dasar dan rujukan hampir semua kebihakan strategis pengelolaan PT saat ini, akan terselesaikan dengan sendirinya oleh kinerja dahsyat mereka.

Sumber: Kompas.21-Juni-2016.Hal_.6