Warning Akreditasi Perguruan Tinggi

Warning-Akreditasi-Perguruan-Tinggi.-Jawa-Pos.30-Juni-2015.Hal.25,35

SURABAYA –  Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) mengimbau seluruh perguruan tinggi negeri (PTN) maupun perguruan tinggi swasta (PTS) untuk memperhatikan masa berlaku akreditasi.

Enam bulan sebelum berakhir, perguruan tinggi harus memperpanjang akreditasi. Kalau tidak, izin operasional perguruan tinggi tersebut dicabut.

Ada tujuh standar yang digunakan Badan Akreditasi Nasional Perguruan Tinggi (BAN-PT) untuk menentukan akreditasi. Yakni, visi-misi, sistem kepemimpinan, mahasiswa-lulusan, sumber daya manusia, kurikulum pembelajaran, sarana-prasarana, serta penelitian-pengabdian masyarakat. “Setelah perguruan tinggi memenuhi standar yang diperlukan, tim asesor melakukan penilaian. Apakah akreditasi tetap atau naik atau bahkan turun,” ujar Bambang Suryoatmono, anggota tim Sistem Penjaminan Mutu Internal (SPMI) Direktrat Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Ditjen Dikti, saat ditemui di Kopertis Jatim VII kemarin (29/6).

Sekretaris Dewan Pendidikan Tinggi (DPT) Widijanto Nugroho menambahkan, BAN-PT tidak semena-mena dalam menilai akreditasi. Setiap tahun ada sekitar 1.000 kuota prodi yang harus dipenuhi BAN-PT untuk penilaian akreditasi. “Apabila tidak bisa dilakukan tahun ini, akreditasi harus menunggu tahun depan. Namun, jangan sampai melebihi batas kadaluwarsa,” imbuh pria yang akrab disapa Didit tersebut.

Mulai awal tahun ini, BAN-PT bukanlah satu-satunya lembaga yang menilai akreditasi. Pembentuk juga membentuk Lembaga Akreditasi Mandiri (LAM). “Masih transisi. Tahun ini baru terbentuk bidang kesehatan dari LAM. Tahun depan rencananya dibuka bidang teknik. Masing – masing bidang tersebut akan bertugas menilai akreditasi sesuai prodi,” jelasnya.

Selama ini akreditasi mengacu pada peraturan lama, yakni PP Nomor 19 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Perguruan Tinggi (SNPT). Mulai tahun depan, PP Nomor 49 Tahun 2014 diberlakukan. :Kalau yang lama, akreditasi lebih menekankan pada standar pendidikan. Sedangkan yang terbaru selain pendidikan, akreditasi menekankan standar penelitian dan pengabdian masyarakat,” imbuhnya.

Setelah peraturan baru diberlakukan, ada dua lembaga yang akan menangani akreditasi perguruan tinggi. Yakni, BAN-PT bertugas menilai akreditasi institusi, sedangkan LAM bertugas menilai akreditasi prodi. Akreditasi memiliki masa aktif lima tahun. Sebelum masa habis, perguruan tinggi harus segera memprosesnya.

Kemristek Dikti mengimbau perguruan tinggi memperpanjang akreditasi secara rutin. Dengan begitu, mutu pendidikan di Indonesia terjamin. “Kalau tetap diteruskan saja walau masa habis, mahasiswa yang dirugikan. Masa berlaku ijazah yang dikeluarkan juga dapat dikatakan habis,” imbuhnya.

Di Jatim, ada 102 prodi yang masuk masa enam bulan sebelum kadaluwarsa. Di antara jumlah tersebut, 45 prodi ada di perguruan tinggi Surabaya. Salah satunya adalah prodi S-1 Ilmu Farmasi Unair. Tanggal kadaluwarsa prodi tersebut adalah 29 Oktober. “Memang benar prodi ilmu farmasi merupakan salah satu yang masuk masa enam bulan sebelum kadaluwarsa. Tapi, kami saat ini mengurus perpanjangannya, ujar Wakil Rektor 1 Prof Syahrani. Prodi S-1 ilmu farmasi mendapatkan akreditasi A. (bri/c7/ayi)

 

Tanggung Jawab atas Pendidikan

Tanggung-Jawab-atas-Pendidikan.-Kompas.25-Juni-2015.Hal.6

Sering terdengar slogan bahwa kemajuan dan kesejahteraan suatu bangsa tak terutama tergantung kepada sumber daya alam, yang di Indonesia sudah hampir terkuras habis, tetapi kepada sumber daya manusia.

Korea Selatan dan Singapura bisa disebut sebagai contoh dekat. Namun, dalam slogan itu jarang diungkapkan perbedaan antara kedua sumber daya itu. Sumber daya alam (SDA) diberi oleh alam yang pemurah, sementara sumber daya manusia (SDM) harus dibuat manusia sendiri. SDA bersifat given, sedangkan SDM merupakan kualitas yang harus diproduksi manusia.

Beberapa minggu lalu Presiden Joko Widodo membuat pernyataan yang patut diperhatikkan, dan membangunkan kita dari kesadaran yang tidur nyenyak. Berkata Presiden, tahun 1970-an Indonesia booming minyak. Negara seakan terapung di atasnya. Tetapi, akhirnya kita tak dapat suatu aoa kecuali bahwa Pertamina hampir saja bangkrut. Tahun 1980-an ada booming kayu, tetapi yang didapat negara hanya gundulnya hutan tropi di Sumatera dan Kalimantan, dan meningkatnya kerentanan terhadap banjir setiap huja turun. Tahun 2000-an ada booming mineral, seperti batubara, tetapi tak ada yang tertinggal untuk negara dan bangsa. Hasilnya, hancurnya lingkungan dengan depresiasi yang luar biasa berhadapan dengan 95 persen eksportir yang tak punya nomor pokok wajib pajak. Satu-satunya yang masih terselamatkan hanyalah laut harus dihentikan dengan tegas.

Tentu saja menurut Presiden Jokowi menyadari pentingnya SDM sekalipun hal itu tak disinggung dalam pernyataannya. Kita tahu, SDM harus dibuat, harus diproduksikan. Adapun jalan untuk menghasilkan SDM adalah pendidikan. Horace Mann, pemikir pendidikan yang sering dikutip filsuf John Dewey berkata  education is our only political safvety, outside of this ark is the deluge (pendidikan adalah pengamanan politik kita satu-satunya, di luar bahtera ini hanya ada banjir dan air bah).

Menurut Mann, pendidikan umum merupakan oenemuan terbesar manusia. Organisasi – prganisasi sosial lain semuanya hanya kuratif dan remedial sifatnya. Sekolah saja yang daoat mencegah dan menangkal kesulitan dan bencana. Namun demikian, hanya pendidikan dengan asas-asas dan praktik yang benarlah yang dapat menjadi pengamanan politik dan menciptakan SDM, yaitu orang – orang yang dilengkapi tingkat kecerdasan tertentu dengan watak dan prinsip-prinsip tertentu. Orang-orang yang dididik dengan baik dapat membantu proses produksi dalam ekonomu dan memperkuat integrasi sosial dalam kelompoknya. Sebaliknya, pendidikan yang centang-perenang, tanpa arah dan tujuan yang jelas, hanya kaan menghasilkan orang-orang yang menjadi beban masyarakatnya dan sumber masalah yang mempersulit kehidupan bersama.

Pendidikan dan pengajaran

Ada pandangan yang membedakan pendidikan dan pengajaran. Kurang jelas apakah pembedaan ini maksudnya menunjukkan pembagian tugas, seakan-akan sekolah hanya mengurus pengajaran, sementara pendidikan anak didik menjadi tanggung jawab masing-masing keluarga. Apa pun maksud pembedaan itu, satu hal perlu ditegaskan di sini, yaitu bahwa pengajaran dan pendidikan bisa dibedakan, tetapi tak pernah bisa dipisahkan. Alasannya, pengajaran yang diajarkan di sekolah tak dimaksudkan hanya untuk menjadi transfer pengetahuan. Pengajaran memang bertujuan mmenyampaikan pengetahuan, tetapi pengetahuan yang ditransfer itu harus menajdi sarana bagi pendidikan anak didik dan unsur dalam pembentukan kepribadian mereka.

Dalam pengajaran itu mereka dilatih berpikir, bertanya, dan perlahan-lahan memahami bagaimana pengetahuan disusun dengan metode dan sistematika tertentu, dan bagaimana pula pengetahuan itu telah diperoleh dan apakah dapat diuji kesahihannya. Melalui pengetahuan itu terbuka wawasan tentang alam dan masyarakat, dan bagaimana mestinya orang bersikap terhadap alam dan berperilaku terhadap anggora masyarakat. Singkat kata, pengajaran menyampaikan pengetahuan, dan pengetahuan mempertajam nalar, membentuk watak dan mematangkan kepribadian.

Pengajaran yang tak dihayati sebagai sarana pendidikan akan berubah mekanis dan membuat otak anak didik seolah – olah file komputer yang hanya berfungsi menampung informasi. Bertrand Russel, filsuf Inggris terbesar abad XX dan pemenang Nobel untuk kesusastraan, mengajukan kritik tajam dan sengit terhadap pendidikan yang diperlakukan hanya sebagai pengajaran. Menurut dia, kita  memang sanggup menciptakan berbagai perlengkapan dan membuat alat-alat, namun kita bisa tetap primitif dalam metode dan teknik, kalau kita mengira pendidikan hanya menjadi transfer pengetahuan yang sudah baku, dan bukannya sarana membentuk kebiasaan dan sikap ilmiah.

Ciri utama orang kurang terdidik adalah sikap tergesa-gesa dalam membentuk pendapatnya, yang kemudian dipertahankan secara mutlak. Sebaliknya, seorang terpelajar akan sangat berhati-hati dalam berpendapat dan selalu berbicara dengan modifikasi. Latihan – latihan dalam pendidikan melalui pengajaran lambat laun akan membentuk intellectual conscience atau nurani intelektual yang ditandai oleh dua hal utama, yaitu sikap untuk percaya hanya kalau ada bukti-bukti yang bisa dipegang dan kesediaan mengakui bahwa bukti-bukti itu pun masih bisa salah.

Pembentukan nalar yang berhasil dalam pendidikan dapat mengubah pandangan seseorang secara radikal, seperti sikap lebih menghargai seni dan keindahan daripada kekayaan dan kemewahan, atau lebih mengutamakan kecerdasan dan rasa percaya diri daripada kebanggaan terhadap status dan jabatan. Perubahan sikap inilah yang menandai munculnya masa Renaisans di Eropa yang bermula di Italia pada abad XIII-XIV dan diteruskan beberapa abad kemudian. Untuk kita, pendidikan dapat membuat orang sanggup mengontrol insting posesif berlebihan. Materialisme praktis yang dibawamasuk ke Tanah Air oleh kapitalisme, sudah membuat orang menganggap sama dua hal yang berbeda sekali, yaitu menikmati dan memiliki.

Sulit sekali menemukan orang bermodal yang membiarkan bukit anggrek indah di hutan dinikmati banyak orang tanpa harus membeli dan memilikinya untuk diri sendiri. Orang bisa menikmati tanpa harus memiliki, dan lebih sering orang memiliki tanpa sanggup menikmati. Dalam bidang sosial gejala ini terlihat dalam bertambahan kayanya sekelompok kecil elite, tanpa ada perhatian dan keterbukaan hati untuk menikmat kemajuan orang lain berkat bantuan yang diberikan. Filantropi rupanya asing pada awal kapitalisme. Keserakahan merupakan Kinderkrankheit des Kapitalismus atau penyakit kanak-kanak dalam kapitalisme.

Mentalisme dan sikap ilmiah

Studi tentang sejarah ilmu pengetahuan pernah dilakukan filsuf Alfred North Whitehead dan dikemukakan dalam serangkaian kuliah di Universitas Harvard pada paruh pertama 1920-an dan kemudian diterbitkan sebagai buku  Science and The Modern World. Sebuah tesis yang dipertahankannya dengan berbagai bukti historis ialah bahwa pembentukan mentalitas dan sikap ilmiah sering kali lebih penting dan lebih mendorong kemajuan dibandingkan kehadiran ilmu pengetahuan dan teknologi itu sendiri. Hadirnya teknologi di suatu negara tak dengan sendirinya menunjukkan kemajuan negara itu dalam ilmu dan teknologi, karena produk teknologi selalu bisa dibeli. Suatu negara dapat dikatakan maju kalau dapat memproduksi teknologi itu, bahkan menemukan jalan memproduksi teknologi baru.

Lukisan perkembangan ilmu dan teknologi di Eropa oleh AN Whitehead dapat mengilustrasikan hal ini. Entakan besar dalam ilmu pengetahuan alam dan humaniora terjadi di berbagai negara Eropa pada abad XVII yang disebutnya abad para genius. Dalam kesusastraan ada Miguel de Cervantes di Spanyol yang menulis  Don Quixote; di Inggris berkibar Shakespeare yang memberi watak kepada sastra dan bahasa Inggris. Keduanya wafat pada 27 April 1616. Dalam filsafat muncul Descartes di Perancis, Francis Bacon dan John Locke di Inggris, Baruch Spinoza di Belanda, dan Leibniz di Jerman. Dalam fisika berderet nama, speerti Newton di Inggris, Robert Boyle di Irlandia, dan Huygens di Belanda. Dalam astronomi kita kenal Galileo Galilei di Italia dan Johannes Kepler di Jerman. Dalam matematika ada Blaise Pascal di Perancis dan dalam biologi ada William Harvey di Inggris yang menemukan sistem peredaran darah kita.

Nama-nama ini hanya sebagian kecil dari daftar panjang para genius yang berkarya abad XVII. Para ahli sejarah ilmu pengetahuan masih meneliti mengapa lahir demikian banyak genius pada masa ini. Menurut Bertrand Russel yang menulis buku sejarah filsafat Barat yang  banyak dipuji, abad XVI adalah abad yang mengalami kegersangan filsafat karena peperangan antaragama. Perang Tiga Puluh Tahun antara pihak Katolik dan Protestan, akhirnya menimbulkan anggapan bahwa kesatuan dalam dogma agama yang diidamkan dalam Abad Pertengahan sudah tak mungkin tercapai lagi. Setiap orang sebaiknya berpikir sendiri untuk dirinya juga mengenai soal-soal fundamental. Hasrat untuk kebebasan berpikir sendiri dan keengganan kepada soal – soal teologis lambat laun melahirkan kegairahan baru untuk hal-hal sekuler, yang bermuara kepada ilmu pengetahuan. Mentalitas baru inilah yang melahirkan para genius.

Di Indonesia, almarhum Prof Sartono Kartodirdjo dari Universitas Gadjah Mada pernah menceritakan anekdot perilaku mahasiswanya, termasuk mahasiswa asing. Mahasiswa Jepang yang membeli sepeda motor baru memanfaatkan hari liburnya pada akhir pekan untuk membongkar seluruh sepeda motor dan memereteli berbagai bagiannya, kemudian disusun kembali untuk mengetahui struktur mesin dan sistem mekaniknya. Sebaliknya, mahasiswa Indonesia membeli sepeda motor baru akan segera mengunjungi pacarnya, mengajaknya keliling kota, dan melewatkan acara malam minggu bersama.

Dari segi mentalitas, mahasiswa Jepang itu punya mentalitas teknologis, sementara mahasiswa kita masih hidup dalam mentalitas konsumeristis. Diterapkan di sekolah, pengajaran dan pendidikan bukan saja menyajikan science products (produk ilmu pengetahuan), tetapi mendorong science production (bagaimana ilmu diproduksikan). Berbagai bentuk pengajaran dan pendidikan tujuan utamanya bukanlah melakukan transfer pengetahuan sebanyak-banyaknya, melainkan menciptakan suasana dan motivasi agar peserta didik didorong mencari dan menghasilkan pengetahuan baru dalam suatu bidang penelitian, entah dengan mengidentifikasi bidang-bidang penelitian yang belum banyak dikaji dan dapat dijadikan obyek penelitian agar melengkapi penelitian-penelitian yang sudah ada, atau dengan mencoba metode dan teknik penelitian baru yang menyorot aspek tertentu dari suatu obyek penelitian yang sudah diteliti sebelumnya, tetapi yang kemudian dijelaskan dengan cara lebih komprehensif.

Pada titik ini dua kepentingan patut diperhatikan. Pertama, kepentingan validasi, yaitu pengujian pengetahuan agar pengetahuan itu terjamin keahihannya, sebelum digunakan lebih banyak orang. Pengetahuan yang akan digunakan berbagai pihak, haruslah terhindar sejauh mungkin dari kekeliruan dan kesalahan entah mengenai data yang dikumpulkan, atau penjelasan tentang data itu. Pengetahuan fisika, biologi, kimia atau pengetahuan ilmu-ilmu sosial yang menjadi konsumsi publik, harus terjamin kesahihannya oleh validasi yang memenuhi syarat pengujian, agar pemakaian atau penerapan pengetahuan itu oleh pihak lain tak merugikan atau membahayakan mereka.

Kedua, pendidikan dan pengajaran harus dapat menunjukkan pentingnya aspek penemuan dalam ilmu pengetahuan bukan saja harus dijaga dan dirawat dari masa ke masa, tetapi perlu diperbarui dengan temuan baru. Inilah dimensi heuristik dalam ilmu pengetahuan. Temua baru itu dapat berupa obyek baru dalam sebuah bidang studi dan penelitian. Temuan juga dapat berupa penjelasan baru tentang data lama yang sudah dikumpulkan dan obyek penelitian yang sudah diketahui sebelumnya.

Diterjemahkan ke istilah yang lebih sederhana validasi ilmu pengetahuan butuh sikap kritis di antara para peserta didik, dan kemampuan heuristis dalam ilmu pengetahuan tak berarti lain dari sikap kreatif anak didik dalam menghadapi tugas belajar mereka. Sikap kritis hanya dimungkinkan oleh pandangan yang menghadapi ilmu pengetahuan sebagai suatu disiplin, sedangkan sikap kreatif akan muncul dari pengetahuan sebagai suatu art atau seni, yang butuh kebebasan dan keleluasaan dalam menanggapinya. Apakah kritik dan kreativitas, disiplin dan kebebasan, metodologi dan imajinasi, menajdi perhatian di sekolah-sekolah kita sekarang, dan dikembangkan dalam perimbangan yang optimal, itulah pertanyaan dasar tentang pendidikan kita di Indonesia sekarang.

 

IGNAS KLEDEN

Sosiolog, Ketua Badan Pengurus

Komunitas Indonesia untuk Demokrasi

Belajar Jujur Sedari Kecil

Belajar-Jujur-Sedari-Kecil.-Kompas.21-Juni-2015.Hal.30

Mencontek kadang hanya dianggap sebagai kenakalan “kecil”. Kita lupa, inilah bibit ketidakjujuran. Bibit itu bisa tumbuh menjadi penyakit yang lebih “besar” seperti korupsi.

Ditto (18) malam itu resah. Jam sudah menunjukkan pukul 22.00 ketika beberapa temannya mengirim kabar bahwa ada bocoran ujian nasional yang bisa diunggah link-nya. Dia sempat bimbang. Di satu sisi, kesempatan melihat lebih dulu soal-soal bocoran tentulah sangat menggoda. Tetapi di sisi lain, Ditto sudah belajar mati-matian selama beberapa pekan terakhir dan merasa dirinya sudah siap menghadapi ujian.

Akhirnya Ditto memutuskan mengabaikan kabar itu. “Saya khawatir jika membuka soal-soal bocoran itu malah nanti bikin grogi dan konsentrasi buyar. Lagi pula saya sudah siap untuk ujian,” kata Ditto.

Dengan hasil nilai UN yang diperolehnya kemudian, Ditto merasa puas dan tidak menyesal telah mengabaikan bocoran. “Apa pun hasilnya, itu hasil sendiri. Daripada bagus, tetapi hasil bocoran. Kalau ketahuan pake contekan, wah malunya enggak ketulungan, apalagi kalau ternyata salah. Mending jelek tetapi hasil sendiri,” jelas Ditto.

Kebimbangan Ditto sempat juga dirasakan Tisha (17), yang memutuskan untuk tidak ikut-ikutan membahas bahan bocoran UN meskipun teman-temannya menawarinya. Seperti juga Ditto, Tisha sudah cukup siap menghadapi ujian. Ia merasa sudah menguasai materi-materi yang kemungkinan akan keluar. Toh, di dalam hatinya, dia agak kecewa kenapa sampai muncul bocoran karena orang-orang seperti dirinya yang  mempersiapkan diri dengan serius hal itu dirasakan tidak adil.

“Sama rasanya seperti ketika nilai ulangan saya kalah dari seorang teman yang saya tahu mencontek. Saya rasa tidak adil dan sedih karena saya belajar mati-matian. Tetapi ya mau bagaimana, tidak mungkin saya mengadukan kepada guru. Saya paling hanya bisa menghibur diri bahwa saya sudah jujur dan itu lebih penting dari sekadar nilai,” kata Tisha.

Belajar jujur

Peran orangtua sangat besar dalam menanamkan nilai kejujuran dan kepercayaan diri. Baik Ditto maupun Tisha memiliki orangtua yang sejak kecil sangat memperhatikan soal itu, yang dimulai dari hal-hal kecil, seperti tidak boleh menyela antrean, menghargai hal orang lain, dan sebagainya.

“Berbuat curang atau tidak jujur sekecil apa pun akan menuntun kita melakukan kecurangan yang lebih besar lagi,” kata Harjono, ayah Ditto. “Mungkin awalnya sekedar menyela antrean orang, terus melanggar rambu lalu lintas tanpa merasa bersalah, membuang sampah sembarangan tanpa merasa bersalah, lama – lama korupsi pun tidak merasa salahm” kata Harjono.

Contoh-contoh seperti itu saat ini sangat mudah ditemukan lewat pemberitaan di media massa. “Setiap koruptor yang ditangkap KPK dan muncul di televsi, saya selalu ingatkan anak –anak bahwa itu awalnya dimulai dari hal-hal kecil, misal korupsi waktu, korupsi peralatan kantor, lama-lama menjadi kebiasaan,” kata Harjono.

Orangtua Tisha pun menanamkan nilai-nilai serupa. Bagi mereka, proses merupakan hal penting. Hasil akhir, walaupun tetap penting, tetapi tak ada artinya kalau semua itu didapat dengan instan dan tidak jujur. Jika ingin hasil bagus, ya harus belajar. “Ibu selalu bilang, yang penting saya belajar dengan rajin dan disipilin. Kalau sudah berusaha keras tetapi ternyata hasilnya tidak maksimal, ya tidak apa-apa. Jadi mereka sangat anti pada soal contek mencontek. Saya juga tahu kalau sampai ketahuan, ih malu banget,” kata Tisha.

Citra diri

Kebiasaan mencontek awalnya dimulai dari citra diri sang anak. Menurut psikolog anak dan remaja, Catherine Dewi Liman, hal itu sangat ditentukan oleh bagaimana si anak memandang dirinya. “Kalau dia memandang dirinya tidak mampu, maka terbentuklah persepsi bahwa ia tidak mampu. Dari persepsi lama kelamaan terbangun sikap dan jika berulang-ulang akhirnya mewujud dalam perilaku. Dari perilaku itulah kemudian terbentuk karakter,” kata Catherine.

Jika nilai-nilai itu sudah menyatu dalam karakter, hal itu akan sulit ditangani. Oleh karena itu, peran oangtuan sangat dibutuhkan dalam membentuk citra diri anak. “Kalau kita ingin anak jujur, teladankan pada anak kejujuran. Jika anak jujur, beri apresiasi, termasuk kalau dia bekerja dengan jujur tetapi nilainya tidak memuaskan,” kata Catherine.

Ia mengingatkan bahwa proses pembentukan citra diri sudah dimulai dari sejak anak dalam kandungan dan kerap kali orangtua kebablasan karena menuntut anaknya untuk sempurna. Salah satu kebiasaan buruk orantua adalah “membandingkan” antara satu anak dengan saudara-saudara kandungnya. Kadang orangtua lupa, ikatan paling dasar pada anak adalah dengan saudara kandungnya karena mereka saling berhubungan dengan intens dari hari ke hari. Dengan demikian, anak akan selalu mengingat bagaimana orangtua mereja membandingkan dirinya dengan saudaranya.

“Jangan bandingkan anak yang satu dengan saudara kandungnya. Misalnya kalah cantik, kalah pintar, kalah putih kulitnya, dan lain-lain. Walaupun mungkin maksud orangtua hanya main-main. Hal ini akan melekat dalam memori anak. Sama juga dengan guru-guru di kelas, jangan membanding-bandingkan antara anak pintar dan tidak pintar apalagi dengan menyebut nama karena hal ini akan berpengaruh pada citra diri anak. Begitu dia mempersepsi dirinya bodoh atau gagal, akan muncul sikap ataupun perilaku yang mendukung persepsi itu,” kata Catherine. MYR

 

Sumber: Kompas, Minggu, 21 Juni 2015

 

Perangai Ilmiah Nehruvian

Perangai-Ilmiah-Nehruvian.-Kompas.15-Juni-2015.Hal.7

Pengetahuan ilmiah sebagai kumpulan fakta sudah diceramahkan lewat persekolahan, tetapi pengetahuan ilmiah tidak bermakna sebagai kata benda semata. Saat belajar pengetahuan ilmiah, sesungguhnya yang utama berlatih menerapkan keterampilan ilmiah, lalu membiasakannya, merasuk ke dalam diri, sampai akhirnya menjadi perangai.

Perangai ini sebenarnya yang semakin dibutuhkan pada era sekarang. Jika “Tabel Periodik” dipelajaran Kimia atau “Hukum Penawaran-Permintaan” di pelajaran Ekonomi mungkin saja sudah terlupakan, tetapi perangai yang pernah bersemai saat belajar pengetahuan ilmiah perlu tetap tumbuh dan subur di diri tiap manusia, walau sudah lama meninggalkan pendidikan formal.

Perangai ilmiah

Perangai hasil pengalaman belajar pengetahuan ilmiah itu oleh bapak bangsa Indian, Jawa-harlal Nehru, diistilahkan sebagai scientific temper atau perangai ilmiah. Perdana Menteri India pertama ini, yang oleh anak-anak India dipanggil Paman Nehru, menjabarkan perangai ilmiah sebagai perangai bertualang guna menggali kebenaran dan pengetahuan baru. Lebih lanjut, perangai ilmiah melibatkan sikap keterbukaan seseorang untuk berani mengubah pendapat lamanya berdasar bukti baru, menolak menerima gagasan tanpa pembuktian, berpijak pada fakta yang dapat teramati, dan memiliki kedisiplinan menggunakan akal (Nehru, 1946).

Namin, tidak sebatas di dunia sains semata, PM Nehru justru berpendapat bahwa perangai ilmiah diperlukan manusia dalam kehidupan guna menyelesaikan permasalahan sehari –hari yang dihadapinya. Bahkan, tiap warga negara memerlukan perangai ilmiah guna berbangsa.

Maka, bukan kebetulan jika di dalam konstitusi Republik India dirumuskan tugas utama warga dalam berperangai ilmiah. Terjemahan Ayat 51A butir (h) itu: “Setiap warga negara India memiliki (salah satu) tugas utama untuk mengembangkan perangai ilmiah, kemanusiaan, dan semangat mencari-tahu serta memperbaiki diri.”

Ini warisan besar Pandit Jawaharlal Nehru yang hari lahirnya, 14 November, ditetapkan sebagai Hari Anak India karena beliau juga sangat mencintai anak-anak. Namun, sama seperti sahabatnya di Indonesia, yakni Presiden Soekarno, PM Nehru juga bapak bangsa yang memiliki banyak dimensi.

Ada pendapat negatif bahwa perangai ilmiah itu baru bagus ditataran konstitusi tertulis semata. Akan tetapi, tak kurang banyak pendapat positif juga. Kenyataannya, pada pelajar India, dari pendidikan dasar sampai tinggi, perangai ini dapat diamati dan dirasakan. Bagi yang pernah merasakan studi bersama pelajar dari India, umumnya akna mengakui bahwa perangai ilmiah ini memang melekat. Salah satu wujud perangai ilmiah ini ialah kecakapan pelajar India dalam bertanya sekaligus berdebat di ruang kelas sampai tempat kerja.

Ini diutarakan juga oleh penerima Hadiah Nobel, Prof Amartva Sen. Beliau berpendapat bahwa gambaran masyarakat India yang terkenal dengan argumentative atau gemar berdebat merupakan perwujudan budaya India sendiri dan perangai ilmiah yang dirumuskan eksplisit dalam konstitusi. Terlebih, beliau melanjutkan, perangai ilmiah sudah menjadi budaya masyarakat India sejak lama, jauh sebelum menjadi republik. Ini dapat disimak dari kisah klasik Mahabharata yang penuh rentetan perdebatan. Oleh karena itu, perangai ilmiah itu sesuatu yang alami bagi masyarakat India. Perangai ini bukan dicomot dari budaya Barat.

Keberhasilan

Pada awal masa kemerdekaan, saat anggaran sangat terbatas dan kemiskinan merajalela, PM Nehru dengan mantap menegaskan untuk mengembangkan pengetahuan ilmiah. Nehru meyakini bahwa melalui pengetahuan ilmiah, Republik India akan berjaya di masa depan.

PM Nehru memelopori pendirian lembaga strategis, seperti Indian Institute of Technology (IIT), Indian Institute of Management (IIM), dan All India Institute of Medical Sciences (Al-IMS). PM Nehru juga mengajak pebisnis seperti Tata dan Birla untuk sungguh-sungguh terlibat memajukan sains dan teknolgi, bukan sekadar pencitraan “balas budi” atau CSR. Hari ini, rakyat India memanen buah hasil pemikiran visioner Jawaharlal Nehru itu.

Tahun lalu, badan penelitian angkasa India, ISRO, berhasil mengirimkan wahana guna meneliti iklim Planet Mars. Dunia berdecak kagum, bukan saja karena India negara Asia pertama yang berhasil melakukan penelitian di Planet Mars, tetapi misi ini langsung berhasil pada percobaan pertama dan biayanya hanya sekitar sepersepuluh biaya misi serupa yang dilakukan NASA. Juga berkat inovasi hemat cerdasnya, memungkinkan energi yang dibutuhkan sangat kecil. Inilah sebuah ilustrasi implikasi keberhasilan pengembangan perangai ilmiah di masyarakat India (de Souza, 2014). Namun, saat perayaan keberhasilan misi ke Planet Merah itu, sayangnya, nyaris tak disinggung peran besar Guru Nehru.

Bukti lain keberhasilan pengembangan perangai ilmiah dapat diliihat pada peningkatan peluang hidup  rakyat India. Pada tahun 1960-an, peluang hidup rakyat India hanya sebesar 32, tetapi hari ni menjadi 67. Padahal, peningkatan ini terjadi tanpa peningkatan pendapatan per kapita yang relatif sebesar itu. Menurut Brahmachari, peningkatan peluang hidup ini hanya mungkin terwujud karena capaian teknologi pembuatan obat yang baik, generik, dan terjangkau masyarakat luas. Tentu ini semua hasil kemajuan pengetahuan ilmiah da dampak kesuburan perangai ilmiah (Brahmachari, 2012).

Paman Nehru telah memperoleh warisan perangai ilmiah ini dalam sanubari anak dan dunia pengetahuan ilmiah India. Tantangan yang dihadapi PM Nehru dalam merekacipta republik saat itu sangat berat, bukan saja karena minimnya dana, masyarakatnya saat itu masih disandera superstitious atau ketakhayulan. Pada satu sisi, Nehru ingin masyarakat India berpikir mengkritik mitos, tetapi pada sisi lainnya Nehru ingin masyarakat mengembangkan kebijaksanaan dengan mendalami mitologi India klasik dan karya Sansekerta. Dalam hal inim sejarah yang akan menilai sukses tidaknya.

Yang pasti, Pandit Nehru merupakan salah satu guru agung bagi sains, budaya, sekaligus kebernegaraan India. Pada abad ke-21 ini, di saat masalah kemiskinan dan penyediaan pendidikan dasar bermutu masih menggelayuti India, perangai ilmiah Nehruvian sekali lagi ditantang menunjukkan keampuhannya guna mendorong anak bangsa melahirkan inovasi khas India yang hemat cerdas. Dengan bergitu impian dari negara demokrasi teresar ini menjadi pusat pembangkit inovasi dunia dapat terwujud.

 

IWAN PRANOTO

Guru Besar Matematika ITB

KOMPAS, SENIN, 15 JUNI 2015 (UC Lib-Collect)

Pendidikan dan Kita

Pendidikan dan Kita. Kompas.15-Juni-2015.Hal.6

Perubahan kehidupan yang signifikan kembali terjadi pada abad ke-20, baik magnitudo maupun ragamnya. Perubahan itu didorong oleh kondisi sosio-ekonomi abad ke-19, yang melahirkan revolusi industri, suatu revolusi yang memacu dan memicu laju teknologi, ilmu pengetahuan, dan sosial-budaya.

Episode ini memerlukan tenaga terampil, cerdas, dan terdidik. Pada abad ke-20, kebudayaan dunia tidak hanya merambah jagat renik dan menemukan material baru sebagai soko guru perubahan, tetapi juga melahirkan aksi penjelajahan alam tiga dimensi, sebagai perluasan upaya dua-dimensional Barat menguasai wilayah baru. Tumbuhlah etika dan gairah ilmu pengetahuan dengan metode hipotetik-bukti yang mendikte corak pengembaran jiwa ingin tahu.

Ilmu pengetahuan, teknologi, dan budaya mengait satu dengan yang lain membentuk ekologi kependidikan dan kesadaran berkomunikasi, bernegara dan berbangsa. Walaupun negara-negara masih tersekat batasan tradisional, tanpa sadar muncul sekat baru tepian teknologi dan sains.

Penyekatan itu menumbuhkan cita rasa kebangunan baru karena identitas kelas baru sebagai warga yang berpengetahuan, Kehormatan itu tidak datang sendiri, tetapi harus digapai dengan sistematis melalui penguasaan ilmu pengetahuan, bersama jiwa inovasi teknologi, dan pennciptaan budaya pendidikan.

Adalah entitas bangsa seperti itu yang akan tegak sebagai mercu suar kehidupan abad ke-21 berkarakter penangkal keluruhan budaya bangsa.

Bekal diri

Terngiang seruan Pangeran Mangkubumi, beberaoa abad lalu, tatkala ingin membangun ketahanan budaya “Jawa” (terhadap serangan asing) harus membekali diri dengan “wijayanti”-murih bisa unggul lan muncul, dengan kekuatan akal, agar bisa unggul dan bertahan (Ismadi, Panyebar Semangat, 30 Mei 2015).

Tahun 1947 Soekarno dan beberapa tokoh NKRI di tengah panasnya perjuangan fisik mengumandangkan pentingnya pendidikan keilmuan dan teknologi untuk mendudukkan bangsa Indonesia pada kasta terhormat di antara bangsa-bangsa dunia (Lindsay dan Liem, 2011). Negara bangsa Indonesia harus memancarkan kemaslahatan, yang menjadi mercu suar pembangunan dan persaudaraan.

Penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi berguna untuk membangun mazhab ekonomi bersandar-keilmuan. Peradaban zaman meminta pembangunan negara mengelus ekonomi pembangunan berkelanjutan. Tokoh pendidikan Tilaar (2011) menyuarakan sikap progresif Indonesia agar tidak mengisolasi diri dari dunia yang bergerak cepat, terdorong oleh kemajuan teknologi dan komunikasi.

Abad ke-20 telah memunculkan perang global yang meminta korban 43 juta manusia, tetapi bersamaan dengan itu lahir pula kelompok bangsa dalam ranah-pinggiran perang dingin yang sangat menghantui kemanusiaan. Abad ke-21 gambar masa depan kemanusiaan berdimensi lain, begitu pula matrik sosial dan cara penanganannya.

Kesalahan dan teror dalam mengelola perlombaan persenjataan nuklir dapat mengancam perjalanan bangsa di setiap kelok peradaban. Ancaman ledakan nuklir; penghasil energi pemusnah, harus diwaspadai.

Begitu pula bahaya lain yang berkembang dari dalam laboratorium ilmu pengetahuan muncul. Mulai dari kekeliruan pemanfaatan bioteknologi (sering disebut bio-terror) sampai kepada perusakan lingkungan karena tidak terkontrolnya virus buatan (bio-terror), penyakit jenis baru, mewabahnya penyakit endemik bahkan ancaman karsinogenik pada makanan dan udara, serta dosis radiasi rendah yang menggelombang di mana-mana.

Ancaman alami bisa datang dari gesekan lempeng benua maupun dari daya terkungkung dalam sembur dan ledak gunung api. Indonesia rentan, tetapi hidup bersama dengan ancaman ini. Untuk menghadapinya, visi mitigasi yang profetik perlu dipajah agar dapat ikut menyediakan prasarana tepat guna saat ancaman muncul.

Melalui pendidikan ilmu kealaman dan ilmu dasar proses mekanistik alam yang mengitari kita dapat diendus. Bersamaan dengan itu, tumbuh pikiran afektif mendekatkan tingkah laku manusia dengan ekologi alami.

Ulah manusia

Selimut Bumi, atmosfer, bukan hakikat yang panggah. Selain faktor luar dapat mengubahnya, ulah manusia sendiri ikut memberi aksen pemanasan angkasa Bumi yang dapat berakibat lanjut kepada perusakan lingkungan.

Ilmu pengetahuan sampai kepada kesimpulan (Hautier dkk, April 2015) bahwa perubahan lingkungan antropogenik memengaruhi kestabilan ekosistem dan berdampak pada keragaman hayati. Tanpa kita sadari, keragaman hayati ini kadang terusik oleh kebutuhan manusia yang tak terkontrol. Padahal, kita harus ikut menjaga Bumi.

Apakah makna semua itu? Peta dunia tidak lagi tergambar dengan sekat ideologi saja. Tetapi, secara virtual dirasakan batas teknologi dan saintifik. Hampir semua bangsa lalu mendekatkan diri kepada penguasa pasar global, yang beratribut penguasaan teknologi dan inovasi.

Mereka yang tidak dapat meraihnya harus rela tergeser ke pinggiran dan tertinggal. Barang kali tidak lebih dari setengah penduduk Planet Bumi ini yang dapat mengemban hasil pembaruan teknologi ke dalam kaidah kemanfaatan kelompoknya.

Sisanya bukan hanya tidak ikut menikmati perolehan abad ke-21, tetapi tertinggal dalam rongga paria abad ke-21 karena tuna-kemampuan. Torehan aib, kalau tidak lekas disembuhkan akan bermetastase memasuki organ kelompok. Kita harus menyediakan agenda kerja kemajuan mulai dari titik ini agar kekayaan kita dapat bermanfaat bagi bangsa.

Kebangunan dan citra bangsa akan terlihat jika kita ikut memoles peradaban dengan sumbangan karya, pikiran, dan keagungan pikir. Hidup berkebangsaan di masa depan adalah tatanan dengan resep ekonomi dan sosial sandar-pengetahuan. Bangsa berdaya cipta, mandiri, dan kritis tanpa meninggalkan tanggung jawab pembongkaran kemiskinan.

Berdaya cipta adalah menggenggam pengertian dapat menghasilkan karsa-cipta asli dan khas berguna untuk penyelenggaraan hidup terhormat. Penerjemahannya ke dalam agenda pendidikan ialah membangkitkan strata anak bangsa yang mampu berpikir berangkai, menyediakan berbagai pilihan khas, dan memilah yang paling tepat untuk bangsanya.

Hal ini harus tampak pada aras pendidikan yang menyediakan modul generik untuk menaut akal dan etika.

Efisiensi sumber daya

Pendayagunaan efisiensi sumber alami bukan eufimisme, tetapi memang dikedepankan bersama segenggam etika lingkungan hidup. Sederet falsafah dan kebijakan tradisional telah ikut mewarnai tindak kehidupan kita dan terangkum dalam budaya bangsa.

Jangan sampai budaya asing, yang kurang empati terhadap kehidupan lingkungan, mencabutakar kebaikan itu. Nurani dan akal sehat harus menjadi ciri pendidikan dalam abad yang menggusur batasan geografi ini.

Paradigma pendidikan adalah pengalihan cara berpikir linier menjadi alur jamak, menuruti rute keanekaan ragam sains yang bertali-temali. DI samping itu, masyarakat jamak secara kultural dan kepercayaan harus direngkuh sebagai kekayaan.

Pandangan kita terpumpun ikut mengisi kesehatan ranah sosial masyarakat seperti itu dan membuat ilmu tidak tersisih dari aras pengambilan kebijakan. Ini bukan soal berguna atau tak berguna, tetapi lebih mengacu pada pemberdayaan kemampuan.

Beberapa agenda pendidikan hendaknya digerakkan tidak sekuensial, tetapi sinergitik bersamaan. Menautkan proses pendidikan dengan lingkungan alami merupakan ambeg parama arta di samping penyediaan warga muda memperoleh pendidikan transformatif.

Tentu saja merupakan kewajiban luhur pemerintah, dan masyarakat, mengisi elemen pedagogi, menyusun tertib didaktik, dan taat metodologi yang membawa pendidik dan peserta-didik membangun keinginan tahu.

 

BAMBANG HIDAYAT

Anggota Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia

Kompas. 15 Juni 2015.

UC Lib-Collect