Celaka, jika Kenakalan Terjadi pada Usia Dewasa

NAKAL

Oleh RHENALD KASALI

SIAPA yang masa kecilnya tidak pernah nakal? Namanya juga anak-anak, selalu ada cara untuk mencari “celah”. Mencuri buah di kebun tetangga atau berkelahi adalah hal yang biasa. Di sekolah yang isinya lelaki semua, dulu teman-teman saya senang membuat ibu guru cantik mengambek. Sepeda motor guru yang galak pun bisa diumpetin siswa sampai dia panik.

Katanya, nakal adalah cara anak untuk menarik perhatian. Rachel Johnson, presenter TV Inggris, mengakuinya. “Of course I’m naughty. I’ve always had to compete for attention, you see.

Tapi, bukan hanya itu. Kenakalan juga pertanda kreativitas. Banyak inovator dunia yang masa kecilnya dikenal nakal. Contohnya, Steve Jobs, pendiri Apple.

Di sekolah dasar, dia mengaku pernah diam-diam menulis pengumuman ini di papan sekolah: “Bring your pet to school”. Esoknya, sekolah pun geger. Seluruh murid membawa hewan peliharaan. Anjing-anjing berlarian memburu kucing. Guru-guru pun bingung.

Masih ada lagi. Dia membujuk teman-temannya agar memberi tahu nomor kombinasi kunci rantai pengaman sepeda mereka yang diparkir di sekolah.

Begitu ada kesempatan, Jobs pun mengubah nomornya. Sepulang sekolah, seluruh murid yang membawa sepeda sibuk mencari nomor kombinasi yang sudah diubah Jobs.

Presiden Ke-4 RI (almarhum) Gus Dur juga pernah memberikan pengakuan serupa. Konon, saking nakalnya, Gus Dur beberakapa kali dihukum dengan diikat di tiang bendera depan rumah oleh ayahnya, KH Wahid Hasyim.

Dia juga gemar memanjat pohon hingga jatuh dari ketinggian dan tangannya patah. Itu pun tidak sekali. Dia mengambil makanan dan memakannya di atas pohon, lalu ngantuk dan tertidur di atas sana. Akibatnya, dia pun jatuh dan tulangnya patah. Tangannya nyaris diamputasi. Untungnya, dokter mampu menyambung kembali.

Jobs dan Gus Dur adalah dua di antara beberapa tokoh dunia yang mengakui kenakalan masa kecilnya. Masih banyak lagi tokoh lainnya. Misalnya, Bill Gates, ahli fisika Albert Einstein, presiden AS John F. Kennedy, megabintang basket Michael Jordan, atau mungkin juga saya sendiri.

 

Kita Yang Celaka

Tapi, apa jadinya bila kenakalan seseorang baru terjadi pada usia dewasa? Ini juga banyak contohnya. Kita bingung melihat anak yang masa kecilnya begitu serius, juara kelas, justru menjadi koruptor atau gemar party pada hari tuanya. Ini jelas, kitalah yang celaka, latihan kreativitas itu tidak dipakai untuk pengabdian bagi kemanusiaan dan inovasi, melainkan dibawa mati sia-sia.

Belum lama berselang, kita membaca berita tentang pengusaha nakal yang menimbun barang-barang tertentu, bahkan mengoplosnya sehingga terjadi kelangkaan dan kematian. Harga-harga pun melonjak gila-gilaan sampai empat kali lipat.

Anda ingat bukan dengan kasus harga bawang yang pernah menembus Rp 100 ribu per kilogram? Atau, mereka yang mengoplos miras, beras, gula, minyak zaitun, obat-obatan, dan sebagainya. Siapa yang susah? Kita semua.

Gara-gara sering dioplos dengan kopi dari daerah lain, importer kopi Toraja dari Jepang bahkan memilih berkebun sendiri atau membeli langsung dari petani di Toraja. Akibatnya, banyak eksporter kopi yang bisnisnya terganggu.

Kita juga pernah mendengar sebutan banker dan menteri yang nakal. Itu merujuk pada perilaku para banker atau pejabat yang melakukan markup nilai kredit atau proyek dan sebagian dananya ternyata mengalir kembali ke kocek mereka. Akibatnya, proyek menjadi tidak feasible lagi dan macet total.

Jangan heran pula mengapa prestasi sepak bola kita terus merosot. Kita sudah lama mendengar di sana banyak orang dewasa (pengurus) yang nakalnya minta ampun, membuat atlet kita pun menjadi nakal. Prestasi sepak bola kita juga tidak optimal. Selalu kalah di ujung penantian tatkala kita tengah bergairah dan mengimpikan kemenangan.

Beberapa bank yang karena kredit macetnya bertimbun akhirnya ditutup. Nasabah pun kalang kabut. Pemerintah juga mesti menyuntikkan dana. Dari mana uangnya? Dari pajak yang secara rutin kita bayarkan. Artinya, uang kita juga.

Anda tentu tahu tentang hakim, jaksa, dan polisi nakal. Ketika mereka berkolaborasi, jadilah mafia peradilan. Negara kita pun hancur lebur. Tidak ada lagi kepercayaan dan berlakulah hukum rimba. Tidak ada rasa nyaman selain perampasan dan kebencian.

Kata orang di luar sana, keadilan di sini bisa dibeli, menjadi milik pemegang kuasa dan pemilik uang. Kita betul-betul dibuat celaka ketika yang nakal adalah orang-orang yang memiliki kekuasaan. Seperti yang kita saksikan di parlemen belakangan ini, kalangan politisi terus mendesak agar presiden mengangkat orang pilihan mereka yang mungkin saja bermasalah. Mereka menyandera hidup kita.

 

Molimo

Kenakalan punya banyak rupa. Orang-orang tua di Jawa kerap menyebutnya sebagai perangkap molimo alias 5M. Apa saja? Main (tergila-gila judi), madon (main perempuan), maling (mencuri, korupsi, atau mengambil yang bukan haknya), madat (menghisap candu), dan minum (suka meminum minuman keras atau yang memabukkan). Saya berharap kehebohan cicak vs buaya jilid III tidak menjadi contoh kasus yang berbau molimo itu, meski selentingannya santer terdengar. Saya juga berharap pimpinan KPK dan Polri tidak merusak reputasi mereka dengan asal tuduh atau memainkan kekuasaan.

Di luar itu, saya sangat sebal kalau perilaku orang dewasa yang benar-benar berengsek tersebut hanya disebut nakal. Mestinya lebih dari itu. Hanya, saya tidak sampai hati menuliskannya di sini. Tapi, Anda tentu tahu kan maksudnya? Iya, kata yang itu!

 

 

 

 

 

Sumber: Jawa Pos, 12 Februari 2015

Bikin Gedung dari 3D Puzzle

Bikin Gedung dari 3D Puzzle. Jawa Pos.3 Februari 2015.Hal.36

Media belajar sambil bermain

SURABAYA- Anak sering mengatakan malas dan tak tertatik pada bacaan tetnang bangunan bersejarah di dunia. Mereka mungkin lebih tertarik mengenal aneka bentuk bangunan unik di dunia dengan memainkannya. Salah sayi mainan bongkar pasang tiga dimensi.

Misalnya, yang dilakukan Saptian Imam Ramadhan dan Kooring Averille kemarin (2/2) di salah satu tenant Grand City Surabaya. Keduanya tampak  asyik menyusun keping demi keeping puzzle membentuk Burj Al Arab. Hingga saat ini, bangunan tersebut memiliki artrium lobi tertinggi di dunia.

Ibunda Septian, Rina Hadi Puspita, mengatakan bahwa dirinya sudah membelikan Septian 3D puzzle ada dua bulan lalu. Sejak memainkan mainan berbahan expandable polystyrene itu, Septian jadi lebih suka menonton channel National Geographic dari pada saluran yang menayangkan film kartun kesukaannya. “Ya dari situ, tiap dua minggu setelah dia selesi nyusun, saya belikan yang baru,”ungkapnya.

Orang tua Joorin, Nyinyin Boedijono, mengatakan hal yang sama. Anak perempuannya itu menjadi lebih suka membuat sesuatu dari tangannya sendiri daripada bermain gadget seperti biasanya. “Biasanya satu hari tab saya dibuat mainan kayak bongkar pasang gitu,” katanya.

Dwi Ariyani, manager store yang menyediakan 3D puzzle, mengatakan, mainan bongkar tersebut memang ditujukan unutk mengedukasi serta meningkatkan imajunasi dan kreativitas anak. Mereka umumnya penasaran menyusun puzzle- puzzle kecil hingga membentuk satu bangunan. “Disamping itu, anak- anak secara langsung bisa mengenal bangunan- bangunan terkenal di dunia. Bermain sembari belajar gitu,” imbuhnya. Bangunan- bangunan seperti Menara Eiffelm Holland Windmills, London Bridge, serta Taj Mahal juga disukai anak- anak.

Ari, panggilan akrabnya, menjelaskan bahwa 3D puzzle biasnya terdiri atas 20-30 pieces pada tiap kemasan. Puzzle tersebut dilapisi laminasi sehingga lebih tahan ketika terkena air,”Bahannya juga aman untuk anak- anak,”jelasnya. Tak jepang, saat bangunan sudah jadi, tiap keeping dilem biar kuat dan bisa jadi hiasan di rumah.

“Aku seneng bikin gini, bisa dibuat mainan nanti kalau udah jadi,”kata Septian ketika Jawa Pos menghampirinya dan menanyakan alasan dia suka bermain 3D puzzle. Belakangan, dia makin banyak tahu tentang bangunan- bangunan unik atau bersejarah.

Sumber: Jawa Pos,3 Februari,2015-hal 36

Pendidikan Vokasi Kian Dibutuhkan

Pendidikan Vokasi Kian Dibutuhkan. Kompas.3 Februari 2015.Hal.12

JAKARTA, KOMPAS– Pendidikan tinggi jalur professional dan vokasi kian mendapat perhatian dan menjadi pilihan dalam melanjutkan pendidikan. Masyarakat semakin menyadari bahwa dunia kerja membutuhkan tenaga- tenaga kerja terampil, bukan sekadar bergelar sarjana.

Minat tinggi terhadap pendidikan vokasi antara lain diungkapkan sejumlah pengelola pendidikan vokasi yang menjadi peserta Pekan Pendidikan Tinggi Jakarta VIII, Senin (2/2). Ryan Satriana, pegawai bidang hukum sekaligus perwakilan Sekolah Vokasi Universitas Gadjah Mada ( SVUGM) dalam pameran mengatakan, ada 26 program studi, mulai bahasa hingga teknik, di SVUGM. Setiap tahun kuota di buka hanya untuk 2.500 mahasiswa baru. Namun, jumlah pelamar berkali lipat,yaitu 7.000 orang pada 2012, 12.000 orang (2013) dan 17.000 orang (2014).

Hal sama terjadi di Politeknik Caltex Riau. Setiap tahun, ada 2.000 pelamar, sementara daya tamping hanya 520 mahasiswa. “Semakin banyak orang menyadari, vokasi bukan pendidikan kelas dua. Ini pendidikan yang berbeda dari S-1,” ujar Dewi Hajar, dosen Sistem Informatika Politeknik CALTEX.

Pendidikan profesionak dan vokasi mengemas pendidikan dengan target peserta dapat segera bekerja. Contohnya, Center for Computing and Information Technology (CCIT) di bawah Fakultas Teknik Universitas Indonesia (UI) dan bekerja sama dengan National Indian Information Technology.

“Umumnya, perusahaan menginginkan pelamar dengan pengalaman kerja,” kata Bayu Nurul Fajar, perwakilan bagian pemasaran CCIT UI.

Untuk itu, Bayu menuturkan, program CCIT tidak mencakupkan mata kuliah dasar umum, seperti pendidikan Agama, Kewarganegaraan, dan Matematika, ke dalam kurikulum. Waktu kuliah pun relative singkat dibandingkan dengan perguruan tinggi lain, yaitu dua tahun.

Sekitar 90 persen kegiatan perkuliahan berupa praktik. “Targetnya, menciptakan tenaga kerja siap pakai. Tapi kalau mereka mau melanjutkan kuliah ke strata 1, bisa langsung memulai dari semester lima,” ujar Bayu.

Prioritas

Dalam kesempatan itu, Direktur Pembelajaran Kemahasiswaan Kementrian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi Ila Sahila mengatakan, pemerintah akan memprioritaskan pendidikan vokasi di Indonesia. Saat ini, jumlah program studi vokasi di perguruan tinggi di Indonesia hanya sekitar 20 persen. “Pendidikan vokasi penting agar Indonesia memiliki tenaga- tenaga terampil. Tahun 2030, ditargetkan telah ada 113 juta tenaga terampil,”ujarnya.

Peran orangtua juga dibutuhkan dalam meningkatkan pendidikan vokasi. “Orangtua (siswa) perlu mendukung anak- anaknya yang berminat kuliah di pendidikan vokasi,”kata Ila.

Desy, siswa kelas III SMA 111 Jakarta, berharap dukungan orangtuanya untuk dapat berkuliah di sekolah keperawatan. “Orangtua memang meminta (kuliah) S-1. Tapi, saya minat di keperawatan. Semoga orangtua ngerti,” katanya.

Sumber: Kompas,3 Februari 2015. Hal.12