Luka Batin yang Sulit Pulih

Luka Batin yang Sulit Pulih. Kompas. 3 April 2017. Hal.26

Ditulis oleh : Amanda Putri Nugrahanti

Kekerasan pada anak

Sebut saja namanya Gadis (17). Remaja putri cantik berkulit kuning langsat itu berjuang melupakan kejadian yang merenggut kehormatannya. Januari lalu, ia diperkosa. Ia melompati bagian itu saat menceritakan kisah hidupnya, sungguh tak ingin mengingatnya kembali.

Gadis ini adalah anak dari seorang ibu yang ditinggalkan oleh suaminya. Rasa benci kepada suaminya lalu dilampiaskan oleh si ibu pada putri tirinya itu. “Tangan kiri saya di potong sampai hampir putus. Urat-uratnya ikut putus. Sampai sekarang tidak bisa digunakan lagi. Dulu saya kidal, sekarang saya harus pakai tangan kanan untuk menulis. Dulu bisa main piano, sekarang tidak bisa lagi,” ujarnya tersedu. Tampak semburat keloid bekas luka di lengan kirinya yang tertutup lengan sweater warna pink.

Sampai saat ini, gadis masih tidak mengerti mengapa ibuny begitu tega menyakitinya, menyiksanya saat ia masih kecil dulu. Kata-kata kasar ibunya juga membuatnya lari ke Bandung untuk mandiri. Namun, ia justru terperangkap jaringan perdagangan manusia. Beruntung ia berhasil melarikan diri dan sebagian pelakunya kini telah ditangkap.

Walaupun luka tubuh telah sembuh, luka batinnya masih menganga. Gadis mencucurkan air mata setiap kali mengingat peristiw demi peristiwa.

“Saya sudah bertemu ibu psikolog, dibilangin untuk melupakan semuanya. Mungkin saya harus melalui jalan hidup seperti ini dan sekarang saya harus berjuang untuk meraih cita-cita,”ujarnya.

Di Bandung, Gadis sempat bertemu dengan sebuah keluarga yang sangat baik yang menampungnya selama tiga bulan. Ia menemukan sosok ibu yang sangat menyayanginya di sana. “Emak kangen sama saya, saya. Saya juga kangen sekali sama Emak. Namun, saya engga berani bertemu emak sekarang. Ada yang hilang dari diri saya, saya sudah tak seperti dulu lagi,” tuturnya.

Gadis, menurut salah satu pendamping di Rumah Perlindungan Sosial Anak (RPSA) Panti Sosial Marsudi Putra (PSMP) Handayani, Maria Josefin Barus, termasuk salah satu korban kekerasan yang cukup kuat kondisinya. Tidak semua anak korban kekerasan, terutama kekerasan seksual, bisa pulih dalam waktu singkat.

Gangguan jiwa

Korban kekerasan seksual lain, sebut saja M (12), bahkan mengalami gangguan jiwa berat akibat mengalami kekerasan seksual dari ayah dan kakak kandungnya sendiri. ia menjalani rehabilitasi di RPSA satu tahun terakhir dan baru pekan lalu pihak gereja menjemputnya karena dia tidak mungkin dikembalikan ke rumahnya.

Kepala PSMP Handayani, Neneng Heryani, menyebutkan, M mengalami trauma berat. Pihak panti tak sanggup menanganinya sehingga kerap harus dirujuk ke rumah sakit jiwa. M sangat terganggu karena ia mengalami kekerasan di rumahnya sendiri oleh orang-orang terdekatnya yang seharusnya melindunginya.

Kekerasan selalu mengintai anak-anak kita, bahkan di lingkungan terdekatnya. Salah seorang anak balita, sebut saja Dinda (3), juga harus menghadapi kekejaman orang dewasa di sekitarnya. Ibunya tenaga kerja Indonesia di luar negeri sehingga ia dititipkan kepada seseorang untuk mengasuhnya.

Malangnya, suami si pengasuh justru menyakiti Dinda. Ada banyak sekali bekas luka dan memar di tubuh Dinda, termasuk di bagian vaginanya. “Dia bisa menceritakan yang dialaminya, tetapi karena masih kecil, dia tidak mengerti. Dia hanya tahu rasanya sakit,” kata Maria.

Maria mengatakan , bagi anak sekecil Dinda, luka mental masih belum begitu terasa. Ketika pertama kali datang, Dinda akhirnya bisa tidur nyenyak sedangkan sebelumnya selalu gelisah. Saat ini, ketika luka fisik di tubuhnya sudah mulai sembuh, ia bisa ceria kembali seperti anak-anak lain. “Namun, kita tak tahu dampak yang mungkin terjadi,” ujarnya.

Rehabilitasi korban kekerasan seksual mutlak dilakukan hingga korban dapat kembali pulih. Rita Pranawati.

Terungkapnya grup paedofil di media sosial paedofil di media sosial Facebook beberapa waktu lalu makin membuktikan betapa anak-anak rentan menjadi target para predator. Para anggota grup yang diminta aktif menggunggah foto atau video seks dengan anak-anak tentu akan terus mencari anak-anak tentu akan terus mencari anak-anak untuk dijadikan korban. Saat ini beberapa korbannya orang terdekat, sepupu, keponakan, atau tetangga.

Pada kasus ini, anak-anak, selain mengalami kekerasan digital karena otomatis apa yang mereka alami disebarluaskan. Sampai kapan pun, video, foto, dan cerita mereka akan selalu ada di dunia maya, jadi pemuas nafsu manusia-manusia bejat.

Terbentur keterbatasan

Sekretaris Komisi Perlindungan Anak Indonesia Rita Pranawati mengatakan, kekerasan seksual meninggalkan luka batin yang tak mudah dipulihkan. Semua sangat bergantung pada kondisi setiap pribadi.

“Rehabilitasi korban kekerasan seksual mutlak dilakukan hingga korban dapat kembali pulih. Namun, rehabilitasi tidak bisa maksimal karena berbagai keterbatasan. Bahkan, tidak semua korban bisa mendapatkan kesempatan untuk menjalani rehabilitasi,” kata Rita.

Rita menjelaskan, proses yang dilakukan selama ini mencakup rehabilitasi fisik juga psikologis. Namun, ketika korban dikembalikan kepada orangtua atau pihak yang dipercaya dapat menerima dan menjaga korban, tidak semuanya sudah benar-benar pulih. Pada banyak kasus, mereka seharusnya terus dipantau kondisi psikologisnya, sementara tidak banyak orangtua yang memiliki bekal memadai mendampingi anaknya.

“Akibatnya, banyak korban tak isa pulih sepenuhnya. Padahal, mungkin luka itu tak bisa sembuh, tetapi setidaknya harus diupayakan agar mereka bisa kembali menjalani hidup,” ujar Rita.

Ke depan, seharusnya negara dapat memfasilitasi kebutuhan korban kekerasan seksual dari sisi rehabilitasi karena hal itu telah diamanatkan dalam Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang Perlindungan Anak. Pembentukan Pusat Pelayanan Terpadu  Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan anak juga masih belum dapat menjangkau seluruh wilayah. Sebanyak 242 P2TP2A yang terbentuk hingga 2012 di 33 provinsi hanya bertambah menjadi 263 P2TP2A pada 2015.

“Sebetulnya pemerintah dapat memberdayakan infrastruktur yang sudah ada, yaitu puskesmas kecamatan dan kelurahan. Hanya perlu menambah tenaga konseling di puskesmas, layanan psikologi bagi warga, terutama para korban kekerasan. Juga edukasi kesehatan reproduksi sebagai upaya pencegahan dapat dilakukan para bidan di puskesmas,” kata Rita.

Sumber : Kompas, 3 April 2017. Hal. 26

Dualisme Tata Kelola Pendidikan Tinggi Teologi Indonesia

Dualisme Tata Kelola Pendidikan Tinggi Teologi Indonesia. Kompas. 5 April 2017. Hal.7

Oleh Jozef Mn Hehanussa (Ketua Program Studi Doktor Teologi Universitas Kristen Duta Wacana; Alumnus Augustana Theologische Hochschule Neuendettelsau, Jerman)

Kemunculan istilah filsafat keilahian sebagai nama program studi dari beberapa institusi pendidikan teologi, baik Kristen maupun Katolik-dengan sarjana filsafat keilahian (SFil) sebagai gelar lulusannya-sempat membingungkan beberapa kalangan.

Pada era 1990-2000-an masyarakat juga dibingungkan dengan gelar sarjana filsafat, sarjana sastra, sarjana sains, dan sarjana agama untuk lulusan program studi teologi sebagai dampak dari Surat Keputusan Mendikbud Nomor 036/U/1993 yang menghilangkan gelar sarjana theologia (Sth). Sebelumnya Kemdikbud melalui SK Mendikbud No 0174/0/1983 dan 0036/01984 menghapus pendidikan tinggi teologi dari rumpun keilmuan yang diakui.

Pendidikan tinggi teologi di Indonesia sebenarnya termasuk salah satu pendidikan tinggi tertua di Indonesia. Sekolah Tinggi Teologi Jakarta telah berdiri sejak 1954. Sekolah Tinggi Theologia Duta Wacana yang kemudian berkembang menjadi Fakultas Teologia Universitas Kristen Duta Wacana sudah ada sejak 1962. Jadi, dibandingkan dengan pendidikan agama, pendidikan tinggi teologi sudah jauh lebih lama ada. Karena itu, sampai 1980 pendidikan tini teoloi masih diakui sebagai ilmu di bawah Depdikbud.

 

Perubahan sikap

Ketika SK Mendikbud di atas mendapat reaksi keras dari sekolah-sekolah teologi dan lembaga-lembaga gerejawi seperti PGI dan KWI. Kemdikbud akhirnya mengeluarkan SK Mendikbud No 0359/U/1996 sebagai pengakuan atas teologi sebagai ilmu. Tetapi, ketegangan kembali muncul ketika pmerintah mengeluarkan PP Nomor 55 Tahun 2007 yang menyamakan pendidikan teologi dengan ilmu keahlian agama dan menyebutnya sebagai Pendidikan Keagamaan Kristen yang akan melahirkan ahli ilmu agama.

Perubahan sikap pemerintah ini menunjukkan ketidakpahaman pemerintah terhadap ilmu teologi yan sudah ada sebagai ilmu mandiri selama lebih dari 50 tahun. Melihat penjelasan Pasal 1.1 Permendikbud No 154/2014, Kemdikbud tidak melihat ilmu teologi sebagai bagian dari pohon, cabang atau ranting ilmu pengetahuan.

Ilmu teologi sebenarnya berhubungan dengan agama Kristen ataupun ilmu-ilmu lain dan memanfaatkan teori-teori dari ilmu lain untuk membuat kajian kritis, analitis, dan konstruktif. Penekanannya pada sifat ilmiah dan manfaatnya bagi gereja dan masyarakat (Apa itu Teologi dalam Drewes & Mojau, 2007). Pemahaman ilmu teologi semacam ini membuat sekolah-sekolah teoloi yang mengkaji teologi dan agama secara ilmiah cenderung dianggap liberal bahkan sesat.

Pengingkaran pengakuan teologi sebagai ilmu semakin dipertegas melalui UU No 12/2012 tentang Pendidikan Tinggi. Pasal 7 Ayat 4 menyatakan penyelenggaraan pendidikan tinggi keagamaan, termasuk teologi (penjelasan Pasal 10 Ayat 2a), dilaksanakan Kementrian Agama. Ada kesan kuat bahwa PP No 5/2007 dan UU No 12/2012 semula bertujuan menakomodasi pendidikan keagamaan di lingkungan Islam, tetapi kemudian berdampak juga pada pendidikan tinggi keagamaan semua agama, termasuk pendidikan tinggi teolog Kristen dan Katolik.

Profesionalitas pengelola

Ditjen Bimas Kristen sebenarnya secara kompetensi terbatas dalam mengurusi pendidikan tngg dibandingkan dengan Kemristek dan Dikti. Keterbatasan ini dapat diinterpretasi dari keberadaan Prof H Abdurrahman Mas’ud, PhD sebagai pelaksana tugas (Plt) Dirjen Bimas Kristen saat ini. Beberapa alasan untu mendukung pernyataan di awal adalah pertama ada standar mutu yang setara dengan Kemristek dan Dikti ketika membuka sebuah program studi.

Sejak 1990-an Ditjen Bimas Kristen dengan mudah memberikan izin pembukaan sekolah-sekolah teologi swasta dan negeri di banyak wilayah di Indonesia. Saat ini ada lebih kurang 450 sekolah teologi. Hanya sebagian kecil berada di bawah pengelolaan Kemristek dan Dikti.

Kedua, pendampingan pengembangan mutu pendidikan dari sekolah-sekolah teologi di bawah Kemenag sangat terbatas.

Ketiga, Kemenag belum memberikan perhatian serius terhadap kualifikasi akademik dan standar kerja para dosen yang sesuai standar minimal dari Standar Nasional Pendidikan Tinggi (SNPT).

Keempat, tidak ada pendampingan dalam penyusunan kurikulum pendidikan teologi sesuai SNPT. Sekolah-sekolah teologi lebih mengandalkan panduan kurikulum  S-1 untu STT dan STAKN yang dikeluarkan 2011.

Damp dari semua ini adalah pertama banyak program studi teologi di Kemenag tidak bisa diakreditasi oleh BAN PT tau tidak lulus akreditasi atau hanya mendapat nilai C. Kedua, banyak sekolah teologi kesulitan menyusun kurikulum yang sesuai Kerangka Kualfikasi Nasional indonesia (KKNI).

Ketiga, sulit mengukur kualitas lulusan dengan menggunakan SNPT. Tidak mengherankan masyarakat cenderung memandang negatif kualitas lulusan sekolah teologi di bawah Kemenag. Kondisi ini menyebabkan sekolah-sekolah teologi yan bernaung  bawah Kemristek dan Dikti memilih untuk bertahan. Beberapa program studi teologi juga melakukan alih bina dari Kemenag ke Kemristek dan Dikti.

Filsafat keilahian

Berdasarkan masukan dari sekolah-sekolah teologi ini, maka oleh Kemristek dan Diti, sesuai Permendikbud No 154/2014 tentang Rumpun Ilmu Pengetahuan dan Teknologi serta Gelar Lulusan Perguruan Tinggi, sekolah-sekolah teologi ini dimasukkan ke dalam program studi filsafat keilahian. Pada hakikatnya sekolah-sekolah ini mengembangkan teologi yang lebih menekankan sifat ilmiahnya. Ini memperlihatkan bahwa terjadi dualisme tata kelola pendidikan tinggi teologi, yaitu oleh Kemristek dan Dikti serta Kemenag.

Kemenag, dalam hal ini Ditjen Bimas Kristen, perlu membahas secara serius pola tata kelola pendidikan tinggi teologi ini dengan Kemristek dan Dikti. Kurangnya kompetensi Ditjen Bimas Kristen seharusnya mendorong penyerahan segala sesuatu yang berkaitan dengan kurikulum, kualitas mutu pengajar, dan lulusan kepada Kemristek dan Dikti. Kemenag sebaiknya hanya menangani pokok tertentu, misalnya praktik lapangan dan penyediaan dana penelitian.

Kemenag perlu meniru model pengelolaan program studi antara Kemristek dan Dikti dan kementrian lain yang juga ikut mengelola program studi terkait. Pendekatan ini akan membuat pengelolan pendidikan teologi oleh Kemristek dan Dikti serta Kemenag memberikan hasil yang lebih baik, bukan dualisme.

Penempatan pendidikan tinggi teologi-yang berbeda dengan ilmu agama-di bawah Kemenag memang perlu dipertimbangkan kembali oleh pemerintah.

Sumber: Kompas, 5 April 2017

Belajar Tanpa Batas Ruang dan Jarak

Belajar Tanpa Batas Ruang dan Jarak. Kompas. 10 April 2017. Hal.19

Perkembangan dunia digital turut menggerakkan sistem pendidikan ke ranah daring (on-line). Kini, kita mengenal istilah belajar on-line. Keberadaan “kelas” tanpa tatap muka secara langsung yang bisa diakses di mana saja ini menjadi sarana yang memudahkan proses pembelajaran. Informasi yang diserap pun dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan minat para pesertanya.

Kelas on-line merupakan proses belajar yang dilakukan secara elektronik dengan menggunakan media berbasis computer seta sebuah jaringan. Kelas on-line dikenal juga dengan istilah pembelajaran elektronik, seperti e-learning, on- line learning, internet enabled learning, virtual learning, dan yang terkini adalah web-based learning atau webinar.

Melansir www.umy.ac.id, Program Manager of Social Innovation Group CISCO System Indonesia Adri Gautama menyampaikan Implementasi dari metode webinar telah dilakukan oleh beberapa perguruan tinggi di Indonesia. Kemudahan akses internet saat ini menjadi alasan beberapa perguruan tinggi memanfaatkan metode tersebut. Ditambah lagi penggunaan webinar selain dapat diakses melalui computer atau laptop, dapat juga dilakukan dengan smartphone. Dengan kapasitas internet 256 Kbps sudah dapat mengakses seminar atau perkuliahan melalui jarak jauh dengan memanfaatkan internet.

Seminar tanpa tatap muka

Selain kalangan akademisi, webinar memberikan manfaat di dunia bisnis. Seperti yang dilakukan oleh Rainbow Castle, klinik psikologi anak berbasis bermain yang pertama di Indonesia. Melalui webinar, Rainbow Castle berbagi informasi tentang parenting dan tumbuh kembang anak bagi siapa pun tanpa terkendala jarak.

“Pertama kali kami mencoba webinar pada 2015. Alasannya, waktu itu, banyak orangtua yang berasal dari luar Pulau Jawa seperti Kalimantan dan Sulawesi menginginkan kami menggelar seminar tentang parenting dan tumbuh kembang anak di daerah mereka. Namun, saat itu, tidak memungkinkan kami ke sana. Karena waktu itu saya sebagai salah satu pengurus Rainbow Castle baru saja melahirkan anka pertama dan Devi Raissa yang juga pengurus Rainbow Castle sedang merintis usaha buknya, yakni Rabbit Hole. Kami berdua sama-sama sibuk sehingga kami ketemu cara ini untuk mengakomodasi kebutuhan para orangtua tersebut,” kenang Devi Sanu Mpsi.

Bukan perkara mudah untuk mengadakan webinar. Dewi mengisahkan, pertama kali mengadakan webinar, mereka banyak dikomplain oleh peserta karena webinar berjalan tidak lancar, seperti terputus di tengah-tengah bahkan terputus sama sekali ketika seminar on-line sedang berlangsung atau tidak terdengar suara, dan lain sebagainya.

“Di awal-awal, kmai sempat mengembalikan dana para peserta webinar karena mereka tidak dapat apa-apa. Oleh karena itu, tidak berapa lama kemudian setelah evaluasi kami ganti provider webinar. Kami cari-cari yang juga memberikan fasilitas rekaman. Sehingga ketika webinar tidak diterima dengan baik masih ada rekamannya yang bisa kami kirimkan untuk para peserta,” terang lulusan Fakultas Psikologi Universitas Padjadjaran, Bandung, ini.

Untuk dapat mengikuti webinar Rainbow Castle, peserta dapat bergabung degan membayar biaya Rp. 33.000. Biasanya akan berlangsung pada akhir pekan, Sabtu atau Minggu pukul 9-10 pagi. Sejauh ini, Rainbow Castle telah mengadakan 70 judul webinar.

Update ilmu parenting bisa dimana saja dan kapan saja. Tanya jawab juga dapat dilakukan melalui aplikasi chat yang tersedia sehingga peserta tidak hanya dijejali beragam informasi mengenai parenting, tetapi juga diajak berbagi informasi.

Kelas daring

Tak berbeda jauh dengan Rainbow Castle, Siska Oetami, salah satu pendiri Clevio, startup kursus pemrograman gim (game) atau coding untuk anak ingin mencoba menghadirkan kelas daring. Meski belum dimulai, Siska memaparkan bahwa kelas daring menjadi salah satu solusi modern saat ini yang dapat memenuhi kebutuhan informasi dan ilmu pengetahuan sesuai dnegan peminatnya tanpa harus datang ke kelas sebenarnya.

Untuk menghadirkan kelas on-line, Clevio masih dalam proses pembelajaran, penggodokan karena apa yang kami ajarkan ke anak-anak ini sifatnya lebih ke arah tutorial sehingga anak-anak perlu secara langsung hadir di kelas. Kami masih mencari bahan-bahan pengajaran apa yang bisa kami bagikan via kelas on-line,” terang Siska.

Siska bercerita, kedua anaknya bersekolah dengan sistem home schooling yang juga sering bergabung ke dalam kelas daring dalam dan luar negeri untuk mengembangkan pengetahuan mereka.

“Anak saya yang pertama, Neo, saat ini duduk di kelas 1 SMA. Dia sering kali gabung kelas on-line dari negara lain. Seperti saat ini, Neo sedang bergabung kelas on-line dari AS yang membahas tentang teori relativitas Einstein dan teknologi. Ini sangat bermanfaat karena kalau mengahadiri kelasnya secara langsung di Indonesia mungkin belum ada yang membahasa hal ini. Dan, Neo bisa mendapatkan pengetahuan yang sesuai dengan minatnya melalui kelas on-line yang dia ikuti. Di kelas on-line ini ada forumnya juga sehingga masing-masing peserta dapat saling berbagi dan tanya jawab,” jelas Siska.

Belajar secara daring memang menjadi pilihan solutif untuk keperluan pertemuan pada era digital. Saat banyak orang tidak selalu bisa berada di suatu tempat dan karena keterbatasan waktu, pertemuan via dunia maya bisa dilakukan. Namun, tentu hal ini harus dipersiapkan dengan baik.

“Bukan hanya asal berbagi informasi, tetapi kami juga harus mempelajari bagaimana caranya enganged dengan para peserta webinar melalui  on-line. Karena kami tidak bisa melihat satu per satu peserta, strategi-strategi komunikasi tertentu harus dilakukan agar kami juga tahu bagaimana respons para peserta ketika bergabung dengan webinar yang diadakan, ungkap Devi. (ACH)

Sumber : Kompas. 10 April 2017. Hal 19

Mencegah Predator Anak

Mencegah Predator Anak. Kompas. 7 April 2017. Hal.7

Oleh NAJAMUDDIN NUHAMMAD

Predator anak terus menjadi hantu menakutkan. Lingkungan keluarga, masyarakat, dan sekolah, bahkan predator anak juga sudah menbangun “ kerajaan” dalam jejaring sosial yang terkoneksi  lintas negara.

Mencegah predator anak membutuhkan partisipasi aktif semua pihak. Tak hanya perlu hukuman berat bagi pelaku, tetapi juga penguatan peran keluarga, kepedulian masyarakat dan rancangan sekolah yang aman dan nyaman bagi anak.

Terbongkarnya sindikat paedofil internasional lewat grup facebook yang terkoneksi dangan sambilan negara, termasuk Indonesia, dengan nama Official Loly Candy’s Group 18+, menunjukkan predator anak mulai membangun eksistensi, menyusun rencana dan aksi. Dalam grup itu mereka bertukar foto dan video.  Disitu aktor-aktor kekerasan seksual pada anak berkumpul.

Predator anak terjadi diluar nalar. Susanto (49), warga lorong karyawan Kelurahan 9 Ilir, Kecamatan Ilir, memerkosa anak kandungnya sendiri yang berusia 23 tahun hingga dua kali melahirkan (2015). Begitu juga M, gadis 17 tahun asal Mamasa, Sulawesi Barat, diperkosa ayah kandungnya sejak kelas V SD hingga hamil (2016).

Aktor predator lain yang tak kalah mencengangkan adalah sekolah, baik oleh kepalah sekolah maupun guru, dalam bentuk pelecehan, perundungan (bullying), penganiayaan, perpeloncoan, pencabulan, pemerkosaan, atau bentuk kekerasan lain. Seorang guru SD di Magelang, Abdul kholik (56), mencabuli enam muridnya dikelas saat jam pelajaran. Guru Agama Islam disebuah sekolah dasar negeri di Kecamatan Magelang Tengah juga mengaku melakukan perbuatan keji serupa kepada siswanya (2015). RU, seorang kepala SD di Desa Waiputih, Kecamatan Laihitu Barat, Kabupaten Maluku Tengah, memerkosa siswinya (10) sendiri. Perbuatan itu dilakukan dikamar mandi sekolah saat semua siwa telah pulang ke rumah masing-masing (2016).

Masih banyak kasus lain yang menunjukkan predator anak bisa dari mana saja, termasuk orang- tua, masyarakat sekitar, bahkan guru. Ironisnya, ragam aktor itu kini mulai diorganisasi untuk membuat persekutuan, jejaring grup yang berlevel internasional. Ini alarm darurat akan bencana kekerasan seksual pada anak.

 Penguatan keluarga

            Selain ketegasan polisi untuk terus membongkar sindikat jaringan predator anak yang berskala internasional hingga ke akar-akarnya, kita juga perlu melakukan langkah konkret menerapkan zona aman predator anak. Pertama, penguatan peran keluarga. Predator bisa muncul dalam lingkungan keluarga karena keluarga itu mengalami disfungsi. Disfungsi keluarga bermula dari pelemahan keluarga.

Keluarga adalah lembaga untuk institusi sosial yang mampu menumbuhkan pemenuhan kebutuhan hidup manusia secara fisik, sosial, mental, dan moral. Fungsi keluarga cukup kompleks, meliputi fungsi biologis, ekonomi, kasi saying, pendidikan, perlindungan, sosialisasi, rekresi, agama, dan status keluarga (Melly Sri Sulastri Rifai, 2007). Apabila setiap keluarga mampu menjalankan fungsinya dengan baik, sejatinya tak akan ada praktik kekerasan pada anak-anak.

Akan tetapi, seiring dengan adanya pelemahan keluarga, pelan-pelan fungsi keluarga dirongrong. Pelemahan keluarga itu meliputi peran pria yang tak lagi menjadi kekuatan sehingga seorang ibu yang tak lagi bergantung secara ekonomis harus mencari nafka sendiri. Dari sinilah peran edukasi keluarga berkurang, anak-anak pun banyak yang lebih dipercayakan ke sekola. Intinya, keluarga bukan lagi sebagai Zona edukatif, rekreatif, dan tempat perlindungan dimana kasih sayang bersemai.

Sebuah pengakuan mengejutkan dari bocah kelas III SD yang mencabuli siswi SMP di Surabaya. Sejak kecil dia ditinggal ibunya yang terpaksa pergi ke Kalimantan untuk bekerja sehingga ai tak pernah merasakan sentuhan kasih sayang, keterdesakan  ekonomi dan efek lingkungan yang kurang konduktif telah membuat suasana bangunan keluarga berubah.

Kemiskinan bukan faktor utama bangunan keluarga mengalami disfungsi. Ada keluarga miskin yang tetap mampu memerankan fungsi keluarga dan tak jarang keluarga dari kalangan menengah ke atas yang justru mengalami disfungsi,  seperti menjadikan anak penghasil uang melalui iklan ditelevisi, bermain sinetron, dan ekploitasi lainnya yang berkibat pada hilangnya dunia bermain anak-anak.

Disfungsi peran keluarga juga dipicu melalui pernikahan dini, dimana di Indonesia angkanya masih tinggi. Data penelitian pusat  Kajian Gender dan seksualitas Universitas Indonesia tahun 2015  menyebutka, sekitar 2 juta perempuan Indonesia usia dibawah 15 tahun sudah menikah dan putus sekolah. Angka itu diperkirakan meningkat menjadi tiga juta orang pada 2030.

Tingginya pernikahan dini juga berpengaruh terhadap praktik kekerasan dalam keluarga. Data Kementrian  Pemberdayaan  Perempuan  dan Perlindungan Anak tahun 2015 menunjukkan, kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) yang mendominasi kaum perempuan terjadi di 31 provinsi dengan jumlah mencapai 69 persen.

Penguatan peran keluarga menjadi utama. Rumah tangga adalah bangunan paling dasar dalam setiap derap peradaban umat manusia. Butuh kedewasaan dan kematangan agar rumah tanggga itu tetap kokoh meski ada hantaman badai yang bertubi-tui.

Ada sebuah sajak yang bejudul family ties: the beauty of a family is harmony/the security of afamily loyality /the joy of a family is service/the comfort of a family is god him self  (Soemarno Soedarsono,2008). Nilai-nilai kehidupan ditranspormasi melalui sebuah bangunan keluarga yang kuat. Bangunan keluarga yang kuat selalu berdiri dalam suasana penuh keserasian, kesetiaan, kasih sayan, saling melayani dan bersandar pada agama.

Kolaborasi dengan sekolah

            Kedua kolaborasi antara orang tua dan sekolah. Saat ini orang tua dan sekolah menjadi dua entitas yang saling berdiri sendiri,bahkan tak jarang konflik keduanya meruncing. Padahal, keduanya adalah kekuatan utama dalam mendidik anak. Paula McCoullough, guru di Lakehima Elementary Mustang, Okhaloma(2012), menegaskan ketika rumah dalam hal ini orang tua / keluarga dan sekolah berkolaborasi, maka itu akan menjadi tim tak terkalahkan.

McCoullough sebagai seorang guru melakukan penguatan kolaborasi dengan menjalin kemitraan dengan orangtua siswa, berkomunikasi dengan orang tua siswa, baik melalui telepon maupun internet, mengirim buletin dan umpan balik, mengajar orang tua yang biasa dilakukan pada awal tahun, dan juga merekrut sukarelawan dalam aktivitas di dalam kelas.

DEngan begitu, antara guru yang mempunyai informasi lebih dilingkungan sekolah dan orang tua/keluarga yangmemantau anak ketika dirumah dan masyarakat mampu melindungi anak dari predator. Anak tidak hanya terlindungi dari kejahatan, tetapi orang tua dan sekolah juga akan mampu meningkatkan potensi dan melejitka prestasi anak menjadi lebih baik.

NAJAMUDDIN MUHAMMAD

Alumnus Pascasarjana

Pendidikan Islam Anak Usia Dini ( PIAUD)

UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Sumber: Kompas 7 April. Hal.7

Pendidikan Dini Jadi Kunci Pencegahan

Pendidikan Dini Jadi Kunci Pencegahan. Kompas. 3 April 2017. Hal.12

Kesadaran Kesetaraan Jender Dimulai Dari keluarga

JAKARAT, KOMPAS- Hasil survei Badan Pusat Statistik bahwa 28 juta perempuan pernah mengalami kekerasan fisik dan seksual membuktikan perempuan berada dalam ancaman kekerasan. Pendidikan sejak dini di keluarga menjadi kunci untuk mencegah hal tersebut.

Deputih Bidang perlindungan Hak Perempuan Kementerian Pemberdayaan perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Vennetia Rickerens  Danes mengatakan, terjadinya kekerasan terhadap perempuan merupakan akibat adanya perbedaan relasi antara laki-laki dan perempuan seperti adanya stereotip, subardinasi. marjinalisasi, dan diskriminalisasi terhadap perempuan. Perbedaan relasi yang menganggap salah satu pihak lebih berkuasa dibanding yang lain membuat pihak yang merasa lebih berkuasa seolah-olah dapat memperlakukan pihak lainnya dengan semena-mena.

Karena itu kata Vennetia, pihaknya gentar menyosialisasi dan melakukan advokasi tentang kesetaraan jender diberbagai bidang pembangunan. Sasarannya adlah pelajar dan mahasiswa agar sejak dini mereka paham tentang kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

“Laki-laki dan perempuan adalah sejajar di semua bidang pembangunan, mindset ( pola pikir) inilah yang harusterus dibangun. Kesetaraan dantara laki-laki dan perempuan harus dimulai dari kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, bernegara. Ini terus kami suarakan,” katanya kepada  kompas Minggu (2/4), di Jakarta.

Seperti diberitakan ( kompas, 31/3), hasil survei Pengalaman Hidup Perempuan Nasional 2016 yang dilakukan BPS, satu dari tiga perempuan berusia 15-64 tahun atau sekitar 28 juta orang pernah mengalami kekerasan fisik dan seksual, baik oleh pasangannya maupun bukan pasangannya. Satu dari  10 perempuan itu mengalami kekerasan fisik dan seksual  dalam 12 bulan terkahir. Survey atas permintaan kementerian PPPA tersebut dilakukan terhadap 9.000 rumah tangga.

Vennetia mangatakan, temuan BPS tersebut tidak bisa deremehkan. Selain menyosialisasikan dan menerapkan undang-undang yang terkait penanganan kekerasan terhadap perempuan, pemerintah terus meningkatkan upaya pencegahan dini mulai dari hulu melalui jalur pendidikan formal maupun informal. Ini harus dilakukan secara terpadu dan konprehensif, melibatkan berbagai pihat terkait.

Kurikulum Pendidikan

            Irwan Martua Hidayana, peneliti Pusat Kajian Gender Dan Seksualitas FISIP Universias Indonesia, sepakat bahwa pencegahan kekerasan terhadap perempuan harus dimulai dari hulu. Pendidikan  formal harus ada kurikulum yang mengajarkan pelajar dan mahasiswa soal pencegahan kekerasan terhadap perempuan.

”Kalau hanya fokus di hilir saja, pasti akan kewalahan dengan angka hasil survey. Program di hulu menjadi penting seperti pendidikan di sekolah, pesantren, sekolah informal,dan lain-lain,” katanya.

Pendidikan , kata Irwan, merupakan salah satu program yang kontinu  untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan. Komitmen pemerintah dalam pendidikan formal harus segera diwujudkan. “ selama ini yang menjadi ‘ senjata’ pemerintah adalah undang-undang PKDRT (Penghapusan kekerasan dalam Rumah Tangga, No 23/2004) untuk melindungi perempuan. Namun, program yang lebih komprehensif untuk mencegah terjadinya kekerasan terhadap perempuan,” katanya.

Kendati demikian, kata Irwan, tetap diperlukan undang-undang yang bisa memberi efek jera kepada pelaku sekaligus mengubah cara berfikir para pelaku. Sosialisasi dan advokasi juga gencar karena kekerasan terhadap perempuan dan anak merupakan isu jender yang mencerminkan masih kuatnya ketimpangan jender dalam masyarakat.

Ketimpangan jender ini berkelindan dengan faktor lain, seperti ekonomi, politik, dan agama. Sehingga membuat realita kekerasan terhadap perempuan semakin kompleks. “ Tidak heran angkah kekerasan di perkotaan lebih tingga karena pola kehidupan lebih stressful dan anominitas lebih tinggi,” katanya.

Irwan menilai kehadiran unit pelayanan terpadu seperti Pusat Krisis Terpadu yang berbasis rumah sakit dan puskesmas, Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak, Unit PPPA, sejauh ini lebih bersifat menangani masalah apabilah ada kekerasan . Program He for She memang kampanye membangun kesadaran masyarakat tetapi masih baru.

Menurut Vennetia, selain melakukan sosialisasi berbagai peraturan perundangan, Kementerian PPPA bersama lembaga-lembaga terkait, lembaga non pemerintah, dan organisasi masyarakat juga melakukan pemberdayaan masyarakat. (SON)

 Sumber: kompas. 3 April 2017. Hal.12

Ajari Si Kecil Menabung

Ajari Si Kecil Menabung. Kompas. 2 April 2017. Hal.12

MENGAJARKAN anak untuk menabung  tak dengan kata-kata, tetapi juga praktik. Caranya  pun tidak dengan memberi hitungan angka, tetapi dengan yang pendek dan simpel.

Konsep dasar yang harus terlebih dulu  dipahami orang tua adalah menabung tidak hanya untuk berhemat, tetapi juga untuk kelangsungan hidup di masa depan dan untuk bersedekah. Mulailah dengan memperkenalkan sistem celengan.

Ajak anak-anak untuk belajar menabung, misalnya dengan memasukkan uang kecelengan. Namun, ada cara lain yang bisa dicoba. Contohnya, kalau biasanya memberikan uang Rp 2 ribu untuk jajan, anda bisa memberikan Rp 4 ribu, tetapi ajak untuk menyisihkan setengahnya untuk disimpan.

Anda juga bisa mengajak sikecil untuk menabungdengan cara bermain. Di era modern seperti sekarang, begitu banyak permainan yang berkaitan dengan pendidikan keuanga. Misalnya, menggunakan monopoli model konvensional, tetapi juga bisa menggukan versi digital. Selain monopoli, di ponsel juga ada begitu banyak permainan terkait kebiasaan menabung.

Sikecil juga harus dilibatkan dalam kegiatan menabung. Misalnya, dengan mengajaknya ke bank saat Anda hendak menabung. Bisa bisa mengajak sikecil ke supermarket  dan memperlihatkan bagaimana uang itu tidak bisa asal dibelanjakan, tetapi dikeluarkan sesuai kebutuhan. Setelah memberikan pengertian, ajak si buah hati untuk memasukkan sebagian sisah uang kembalian belanjaan kedalam celengan.

Namun yang paling penting pengajarkan sikecil untuk menabung, anda sendiri harus mempraktekkannya. Artinya, Anda juga harus belajar berhemat, memprioritaskan kebutuhan dan menunda keinginan, dan menabung. Dari situ, Anda bisa mengajari si kecil untuk mengikuti kebiasaan Anda. Sebab biasanya sikecil meniru apa yang dilakukan orang tua lakukan. (VTO)

 

Sumber: Kompas. 2 April 2017. Hal.12

Temani Anak Mengenali Tubuhnya

Temani Anak Mengenali Tubuhnya. Kompas. 3 April 2017. Hal.14

Kanak-kanak merupakan masa anak mengeksplorasi apa pun di sekitar, termasuk tubuhnya. Rasa inngin tahu dan keinginan mereka meniru besar. Pada tahap ini, anak-anak kerap menunjukkan prilaku seksual atau pertanyaan seksualitas yang bisa membuat orangtua terkejut, bingung jawabnya, bahkan marah.

Oleh M ZAID WAHYUDI

Memegang, menggaruk, menggesek, atau memperlihatkan alat kelaminnya merupakan sejumlah perilaku seksual yang biasa dilakukan anak usia prasekolah atau berusia 4-6 tahun. Pada tahap ini, anak berada fase gential. Mereka mulai tertarik mengamati organ seksual miliknya dan membandingkannya dengan milik orang lain.

“Perilaku itu biasa dilakukan anak-anak prasekolah zaman dulu,” kata Wali Ketua Perkumpulan Keluarga Berencana Indonesia (PKBI) Budi Wahyuni, Sabtu (1/4), di Jakarta.

Banyak orangtua dan orang dewasa menuduh perilaku anak itu akibat paparan media dan perubahan lingkungan pergaulan, karena pada masa lalu perilaku memainkan alat kelamin itu tidak ada. Media dan lingkungan memang bisa membuat anak terpapar soal seksualitas lebih dini, tetapi banyak orangtua tak ingat perilaku mereka di usia prasekolah.

Pada tahap kanak-kanak, anak berada pada tahap perkembangan identitas diri. Keingintahuan besar mendorong anak mengajukan pertanyaan seputar seksualitas, seperti membandingkan organ seksualnya dengan milik teman, saudara, ibu, dan ayahnya

Reaksi pertama

 Meski perilaku memainkan alat kelamin biasa dilakukan anak usia prasekolah, tak berarti perilaku itu wajar. Orangtua perlu mengingatkan anak bahwa tindakanitu berisiko. Anak juga bis mulai diperkenalkandengan norma social, hal baik, dan salah, seperti konsep malu, pentingnya memakai baju, hingga tak boleh menyentuh alat kelamindi tempat umum.

Psikologo anak dan keluarga di Klinik Terpadu Faakultas Psikoogi Universitas Indonesia Anna Surti Ariani menambahkan, anak prasekolah umumnya belum mengenal ketertarikan fisik atau seksual dengan orang lain. Jadi perilaku seksual mereka berbeda dengan remaja atau dewasa. Ketertarikan itu muncul setelah anak memasuki masa pebertas.

Saat menyaksikan anak memainkan alat kelaminnya, baik memegang, menggaruk, atau menggesekkannya, reaksi pertama orangtua jadi hal utama karena memengaruhi kepribadian anak ke depan. Reaksi itu kadang lebih bermakna dibandingkan apa yang orangtua katakana menangggapi perilaku anak.

“Orangtua tak perlu bersikap kaget berlebihan, apalagi marah. Resons orangtua seperti itu justru bisa membuat anak bingung, malu, merasa buruk, dan bersalah sehingga menurunkan percaya diri mereka,” katanya.

Orangtua sebaiknya menunjukkan reaksi wajar, memahami apa yang terjadi pada anak, lalu mengajaknya berdialog. Diskusi itu sebaiknya tidak di depan umum atau teman anak karena mempermalukan mereka. Pembicaraan harus dalam suasana nyaman adar anak berani bercerita jujur tanpa terintimidasi.

Dalam diskusi itu, orangtua bisa menanyakan sejak kappa atau berapa sering anak memainkan alat kelaminnya dan alasannya. Jika anak baru pertama melakukannya karena pensaran, orangtua perlu menjelaskan risiko tindakannya itu, seperti bisa melukai kelaminnya, memicu infeksi karena tangannya kotor, hingga mengatakan tindakan itu tak perlu.

Namun jika anak kerap melakukannya, orangtua perlu waspada tanpa membuat anak takut atau dicurigai. Orangtua perlu menelisi dari mana anak tahu perilaku itu karena biasanya itu dikenali anak dari orang lain, pernah menonton, atau pernaha diperlakukan tak tepat oleh orang lain disekitarnya. “Saat diskusi itu, orangtua perlu menyampaikanperilaku buah hatinya tak tepat. Itu tak berarti sang anak salah,” ucap Anna.

Di sisi lain, orangtua harus intropeksi. Banyak orangtua atau orang dewasa tidak sadar mengenalkan istilah atau perilaku seksual orang dewasa keapada anak, sepert menanyakan mata genit atau pacar anak prasekolah. Ada pula orangtua lupa menghapus situs dewasa yang dikunjung dari gawainya meski tahu anaknya bisa mengakses gawai itu.

Kecakapan sosial

Keterkejutan banyak orangtua atas perilaku seksual anaknya menunjukkan belum dipahami dan diajarkannya pendidikan kesehatan reproduksi dan seksualitas kepada anak. Soal seksualitas masih tabu dan pantang dibicarakan, apalagi kepada anak. Belum lagi, istilah seksualitas kerap disalahartikan dengan seks sehingga kesehatan reproduksi kerap dimaknai mengajarkan hubungan seksual.

“Pendidikan kesehatan reproduksi itu kecakapan sosial yang dibutuhkan anak untuk memahami tubuhnya dan mencegah anak dari kejahatan seksual,” kata staf Program Anak dan Remaja PKBI Alam Setia Bakti.

Saat mengajarkan kesehatan reproduksi kepada anak, lanjut Budi, orangtua perlu memakai bahasa sederhana, konkret, dan tak berbohong. Penabuan dan kebingungan membahas soal seksualitas membuat orangtua kerap memakai istilah tertentu untuk menyamarkan menyebut nama alat kelamin, seperti burung, apem, dan donat.

Penyamaran itu membingungkan anak. Sebab, dalam perkembangan kognitif anak usia 4-6 tahun, mereka belum mampu berpikir abstrak. Mereka butuh penjelasan sederhana dan nyata. Kebiasaan menyamarkan istilah kelamin itu kerap jadi bahan olokan anak yang terbawa hingga mereka besar.

Anna menambahkan, pendidikan kesehatan reproduksi pada anak usia prasekolah harus memakai bahasa umum sesuai kemampuan berpikirnya. Penggunaan istilah biologi atau teknis perlu dihindari. Orangtua juga tak perlu menjelaskan sesuatu secara rinci, secukupnya sesuai pertanyaan anak karena anak belum paham hal detail.

“Jawaban seperlunya itu bukan untuk membatasi pertanyaan anak, tapi sesuai pertanyaan dan kebutuhan anak,” ujarnya. Itu juga untuk menghindarkan orangtua dari pertanyaan beruntun anak yang kerap membuat orangtua bingung menjawabnya. Kebingungan itu bisa membuat orangtua menjawab dengan bohong, marah, atau mematikan rasa ingin tahu anak dengan menjawab anak tak perlu menanyakan hal itu.

Peran orangtua dalam memberi kesehatan reproduksi secara benar kepada anak amat penting. Keengganan orangtua mempelajari dan memberi pendidikan kesehatan reproduksi akan membuat anak terjerumus dalam kekeliruan informasi yang didapat dari orang lain atau media tak terverifikasi kebenaran. Orangtua harus menjadi sumber utama anak untuk mengenali tubuhnya.

Pendidikan kesehatan reproduksi juga melindungi anak dari kejahatan seksual. Hanya dengan tahu kesehatan reproduksi yang benar, anak bisa berteriak atau melaporkan saat orang lain menyentuh kelaminnya. “Apalagi orangtua tak bisa menemani anak 24 jam penuh,” kata Alam.

Tips berkomunikasi tentang kesehatan reproduksi dengan anak :

  1. Dengarkan dengan cermat setiap pertanyaan anak.
  2. Jangan menghindari atau mengabaikan pertanyaan anak.
  3. Berikan jaawaban jujur, jangan sembarangan menjawab.
  4. Beri jawaban hanya sesuai pertanyaan anak.
  5. Jelaskan secara sederhana dan singkat, sesuai umur, kebutuhan, dan Bahasa anak-anak.
  6. Gunakan nada bicara yang wajar, jangan tertekan saat menjawab.
  7. Pembelajaran secara terus-menerus, sesuai perkembangan anak dengan beragam metode.
  8. Dialog dalam suasana santai, tidak di depan umum.
  9. Hargai apapun pendapat dan perntanyaan anak.

 Pencegahan pelecehan seksual:

  1. Berikan pemahaman tubuh mereka adalah milik mereka harus dirawat dan dijaga dari orang yang tak bertanggung jawab.
  2. Jelaskna bagian tubuh yang berdifat pribadi, seperti payudara, vagina, penis, anus ,pantat, dan paha, tidak boleh sembarang orang lain boleh menyentuh, apalagi memegangnya.
  3. Orang tertentu boleh menyentuh, tapi dengan alasan yang tepat, seperti:
  • Ibu, ayah atau pengasuh boleh memegang anus untuk membersihkannya setelah buang air besar.
  • Dokter untuk memeriksa tubuh yang sakit dengan didamoingi orangtua.

Jika disentuh orang lain dengan alasan tidak tepat, ajarkan anak berkata “Tidak”.

  1. Kenalkan sentuhan aman dan tidak aman bagi anak.
  • Sentuhan aman: membuat anak merasa nyaman, tidak terancam, seperti bersalaman, pegangan tangan, atau tepuk bahu.
  • Sentuhan tidak aman: sentuhan berkali-kali pada bagian tubuh tertentu dan mngarah pada anggota tubuh yang bersifat pribadi.

 Jika anak meras tidak nyaman dan terancam dengan sentuhan, ajarkan untuk:

  1. Berkata “TIdak” atau menolak dengan nada bicara wajar.

Anak bisa mengatakan secara wajar, “Aku tidak suka rambutku ditarik” atau “Aku tidak suka dadaku disentuh”.

  1. Berteriak

Apabila perkataan mereka bernada wajar tak dihiraukan pelaku (anak atau orang dewasa), anak bisa berteriak “Aku tidak mau”, “Jangan”, “Tidak boleh”

  1. Lari kea rah kerumunan orang banyak.

Jika berteriak juga tak menghentikan sentuhan pelaku, anak harus lari ke kerumunan orang banyak, bukan malah ke tempat sepi.

  1. Bercerita kepada orang dewasa.

Setelah mencapai kerumunan orang, anak bisa bercerita ke orang dewasa yang dia percaya.

 

Sumber : Kompas. 3 April 2017. Hal. 14