Membangun Riset Kesehatan yang Merdeka

Membangun Riset Kesehatan yang Merdeka. JawaPos.Hall 4

Membangun Riset Kesehatan yang Merdeka

Oleh MAULANA A. EMPITU

“Kultur kampus yang egaliter diperlukan untuk munculkan ide kreatif. Berpikir kritis dan diskusi konstruktif haruslah membumi di kalangan pendidik dan mahasiswa,”

      INDONESIA telah merdeka dari kolonialisme sejak 71 tahun lalu. Sejak 1945 pula, bangsa Indonesia terus berjuang mengejawantahkan kemerdekaan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam bidang riset kedokteran dan biomedis.

Dari sudut pandang epidemiologi, besaran jumlah penduduk Indonesia merupakan sebuah peotensi kekayaan informasi yang tiada ternilai. Kondisi Indonesia yang beriklim tropis menjadikan jenis dan manifestasi penyakit menjadi unik dan berbeda dari belahan dunia lainnya. Panduan diagnosis dan terapi yang sebagian besar berkiblat ke negara Barat belum tentu pas untuk diterapkan di Indonesia. Fenomena tersebut tidak hanya kerap ditemui pada konteks penyakit menular, tetapi juga pada penyakit kronis yang tidak menular.

Pertanyaannya, apakah potensi tersebut telah termanfaatkan untuk menegakkan kemerdekaan dan kedaulatan riset kesehatan kita?

 

Perspektif Kuntitas vs Kualitas

Mulai 2012, Direktorat Pendidikan Tinggi mewajibkan mahasiswa jenjang sarjana dan pascasarjana untuk memublikasikan hasil penelitiannya. Pada tahun tersebut, tercatat sekitar 145.000 artikel ilmiah dipublikasikan oleh institusi tanah air. Dari sudut pandang kuantitas, angka itu sangat menggembirakan.

Namun sayang, jumlah fenomenal tersebut belum sejalan dengan kualitas yang dihasilkan. Hanya sekitar 1.400 artikel yang terpublikasi secara internasional. Dari sekitar 7 ribu jurnal dalam negeri, hanya 16 yang terkategori sebagai jurnal internasional. Dipandang dari perspektif jumlah, kita masih kalah jauh oleh Malaysia dan Singapura.

Minimnya publikasi internasional, khususnya di bidang kesehatan, membuat negera kita dipandang misterius secara epidemiologis. Sampai-sampai Richard Horton, editor jurnal kesehatan terkemuka the Lancet, mendediksikan sebuah tulisan editorial khusu berjudul Indonesia – unravelling the mystery of a nation. Dalam jurnal yang menjadi salah satu barometer perkembangan riset kesehatan dunia tersebut, rekam jejak Indonesia amatlah minim. Sejak 1957 hingga 2016, hanya terdapat 22 artikel yang membahas mengenai Indonesia. Sebagai pembandingan, terdapat 2.098 hasil pencarian yang berfokus pada permasalahan kesehatan di India.

Menyemarakkan Riset Kolaborasi

Tidak dimungkiri bahwa penelitian di bidang kedokteran klinis maupun dasar memerlukan biaya besar. Keterbatasan fasilitas dan sumber daya peneliti menjadi hambatan utama, terutama di wilayah Indonesia Timur.

Namun, akibat kesenjangan sumber daya riset, banyak permasalahan khas lokal yang luput dari perhatian peneliti. Salah satu contohnya adalah banyaknya kasus berbagai infeksi paraasit di wilayah Indonesia Timur. Bukan sebuah rahasia bahwa terapi penyakit yang disebabkan penyakit parasit tidak banyak mengalami perubahan sejak 1960-an.

Indoensia boleh berbanga bahwa beberapa institusi pendidikan tinggi dan lembang penelitian kesehatan tanah air cukup produktif dalam melakukan publikasi ilmiah internasional. Adanya lembaga penelitian yang produktif tersebut dapat dimanfaatkan oleh pemerintah dengan menjembatani kolaborasi. Program mobilitas peneliti perlu dipromosikan demi mempercepat transfer kemampuan dan kekayaan perspektif di antara lembaga penelitian tanah air.

Tidak hanya dalam konteks institusi, kolaborasi juga mendesak untuk dilakukan antar bidang keilmuan. Persoalan kesehatan mutakhir merupakan tantangan yang terlalu kompleks untuk dapat dijawab oleh sebuah disiplin ilmu. Paradigma yang sekarang berkembang di negara maju adalah mengintergrasikan berbagai bidang untuk melakukan pendekatan yang komprehensif dalam menjawab tantangan dunia kesehatan. Pengkavlingan ranah keilmuan dan perdebatan mengenai bidang ilmu mana yang lebih terlegitimasi dalam melakukan sebuah penelitian adalah sebuah diskusi yang tidak produktif.

Ekosistem Riset yang Dinamis

Kurangnya pendanaan riset merupakan masalah klasik yang harus segera diselesaikan. Namun, di luar faktor pendanaan, kapasitas dan kapabilitas sumber daya penelitian juga perlu mendapa perhatian. Tumbuhnya peneleti kompeten memerlukan lingkungan yang menghargai ide kreatif, melestarikan budaya ilmiah dinamis, dan mendukung terwujudnya sebuah inovasi.

Tidak diragukan bahawa institusi perguruan tinggi merupakan lahan persemaian peneliti muda. Penelitian adalah salah satu fungsi utama perguruan tinggi, di samping menyelenggarakan pendidikan dan pengabdian masyarakat.

Kultur kampus yang egaliter diperlukan untuk munculnya ide kreatif peneliti muda. Berpikir kritis dan diskusi konstruktif haruslah dan diskusi konstruktif haruslah membumi di kalangan pendidik dan mahasiswa. Budaya seperti itu idealnya terlepas dari sekat formalitas. Artinya, diskusi ilmiah tidak harus berbingkai seminar, simposium, atau acara yang serbaformal dan melibatkan seksi konsumsi, melainkan dapat berlangsung setiap saat dan di mana pun. Semasa penulis belajar di kawasan Longwood, Boston, kalangan peneliti bercanda bahwa mereka lebih sering menemukan kolaborator risetnya di saat makan siang diibanding saat mengikuti simposium.

***

Diperlukan proses panjang dan sebuah pemicu yang kuat untuk mencetak peneliti andal berintegritas dan menciptakan ekosistem riset kesehatan yang suportif. Kita tidak boleh menyerah pada keadaan dan minimnya pendanaan. Kemerdekaan dan kedaulatan riset kesehatan harus terus kita perjuangkan. Dengan terus bersikap positif, inovatif, dan kolaboratif, akan kita saksikan kebangkitan Indonesia. (*)

 

 

*Pengajar di Fakultas Kedokteran

Unair, alumnus research fellow di Harvard Medical School

 

Sumber : Opini Jawa Pos | Jumat 19 Agustus 2016

Melihat 71 Tahun Indonesia dari Buku Harian Seseorang Wajib Militer Belanda

Melihat 71 Tahun Indonesia dari Buku Harian Seorang Wajib Militer Belanda. Kompas. 23 Agustus 2016. Hal 23

Melihat 71 Tahun Indonesia dari Buku Harian Seorang Wajib Militer Belanda

 

Fotografi terbukti selalu bisa merekam dengan kedalaman berdimensi luas, apalagi kalau dilakukan oleh pihak yang sungguh ingin membayangkan betapa menariknya melihat foto-foto tentang Indonesia dari alam sekitar kemerdekaan, dari sudut “orang luar”.

Dalam rangka peringatan 71 Tahun Kemerdekaan Indonesia ini, sejak akhir pekan lalu sampai awal bulan depan di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Pasar Baru, Jakarta, dipamerkan foto-foto dalam tajuk “71 Tahun Bingkisan Revolusi”. Salah satu materi yang dipamerkan adalah foto-foto dari buku harian seorang tentara wajib militer Belanda bernama Charles van der Heijden.

Oscar Motuloh, kurator pameran ini yang membaca aneka koleksi foto dari Museum Bronbeek, Arnhem, Belanda, menuturkan bahwa menarik sekali mengangkat buku harian Charles ini.

“Charles ini bukan tentang murni. Dia adalah wajib militerm dan lebih tertarik dengan dunia jurnalistik. Dia cukup teliti mencatat, memotret, meminta foto dari rekannya. Buku hariannya sungguh dokumentasi sangat berharga tentang Indonesia pada akhir tahun ’40-an itu.” papar Oscar.

Seperti Anda lihat menyertai tulisan ini, sebagian foto-foto yang ada di buku harian Charles menampilkan realitas Jawa Timur pada tahun 1947-1950 semasa Charles berada di sana. Dalam sebuah foto, terpapar remaja pribumi yanag demikian kurus, sementara di foto lain tampak pula bagaimana Gunung Bromo sudah mengepulkn asap secara permanen sejak dulu.

Selembar buku hariannya [un dengan menarik menampilkan foto Masjid Sunan Ampel pada sekitar tahaun 1948 yang masih belum tertutup aneka bangunan seperti saat sekarang. Cara Charles mengatur foto-foto di antara tulisan di buku hariannya seakan dia sudah memahami apa itu photo book seperti yang dilakukan remaja sekarang.

Museum Bronbeek semakin membuka diri terhadap koleksinya di Perang Dunia Kedua, terutama dengan arsip-arsipnya dari tentara Belanda yang pernah bertugas di Indonesia.

“Masih banyak koleksi Bronbeek yang akan dibawa ke Indonesia untuk dipamerkan. Banyak sekali, dan itu koleksi yang luar biasa berharga,” kata Oscar.

Sumber : Kompas. 23 Agustus 2016.Hal 2

Media Magic Mirror Guna Disleksia

Media Magic Mirror guna Disleksia. Jawapos. 25 Agustus 2016. Hal 23

Media Magic Mirror Guna Disleksia

Oleh Harum Kawaludin

 

BAGI Harum Kawaludin, anak berkebutuhan khusus (ABK) adalah orang-orang istimewa. Pria 29 tahun ini banyak belajar kepada mereka. Yakni, tentang kesabaran dan rasa bersyukur. Karena itu, guru kelas V SDN Sawocangkring, Kecamatan Wonoayu, tersebut mendedikasikan diri untuk membantu para ABK mendapatkan pendidikan yang baik.

Sejak 2010 sampai 2013 Harum menjadi trainer (pelatih) di Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Jatim untuk pendidikan khusus. Selama ini pula dia memfokuskan diri dalam mengembangkan pendidikan inklusi. Berbagai inovasi pun diciptakan. Khususnya untuk penyandang disleksia (gangguan membaca dan menulis pada anak) serta autis.

Salah satunya menciptakan media magic mirror. Yakni, meyode pencerminan diri yang digunakan untuk belajar menulis dan membaca anak anak disleksia. Dia membuat media tersebut menggunakan cermin dan papan tulis yang didesain seperti sebuah buku berukuran cukup besar. Sekilas mirip laptop.

Magic Mirror dibuat untuk membiasakan anak disleksia menulis huruf atau angka dengan benar. Sebab, selama ini banyak anak usia dini yang menulis dengan huruf atau angka terbalik. Contohnya, menulis huruf M dan W, angka 7 dan 5, serta lainnya. “Anak – anak disleksia ini sangat sulit membedakan huruf – huruf tertentu. Bahkan selalu terbalik.” ujarnya.

Karena itu, suami Endang Setyowati tersebut berupaya membuat inovasi untuk mempermudah anak disleksia dalam belajar menulis dan membaca. Ide tersebut berawal dari ketidkasengajaan. Ketika membuka lemari yang ada kacanya, dia tidak sengaja melihat angka terbalik dari cermin yang berasal dari kalender yang menempel di dinding. Dari situlah ide untuk membuat media magic mirror itu muncul. “Saya langsun saja iseng membuat media pencerminan diri. Ternyata bisa,” katanya.

Magic mirror tersebut langsung diterapkan pada siswa disleksia. Setelah diimplementasikan, ternyata membuahkan hasil yang bagus. Anak – anak yang mengalami gangguan penulisan terbalik bisa sembuh. Penyembuhannya sekitar satu hingga sembilan bulan. “Ini seperti terapi. Ketika anak – anak terbalik menulis huruf, mereka harus dibiasakan dengan penulisan yang benar,” jelasnya. (septinda ayu pramitasari/c15/dio)

 

Sumber : Jawapos 25 Agustus 2016 Hal 23

Manfaatkan Limbah untuk Alat Praktik

Manfaatkan Limah untuk Alat Praktik, JawaPos. 25 Agustus 2016. Hal 31

Para Pendidik Kota Delta yang Berprestasi Nasional

Manfaatkan Limbah untuk Alat Praktik

oleh Septinda Ayu Pramitasari

Sidoarjo patut berbangga. Empat guru di Kota Delta baru mendapatkan penghargaan asebagai guru berprestasi tingkat nasional oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 18 Agustus. Salah satunya, Muhammad Kamim yang masuk dua besar terbaik.

TIDAK ada yang istimewa dari laboratorium fisika di SMKN 1 Sidoarjo pada Selasa (23/8). Tempatnya sederhana. Tidka banyak alat-alat praktik modern yang berteknologi tinggi di sana. Hanya ada meja, papan tulis, dan lemari yang sedikit uang. “Sederhana ya? Kok bisa saya jadi juara nasional?” celetuk Muhammad Kamim, pengelola laboratorium SMKN 1 Sidoarjo tersebut.

Ya, sekilas fasilitas laboratorium itu terlihat sederhana. Namun, Kamim membuktikan bahwa para siswa dapat belajar di laboratorium dengan baik meski tanpa alat – alat canggih seharga ratusan juta. Dia langsng menuju ke salah satu lemari di pojok kiri dan mengambil dua alat praktik sederhana yang terbuat dari papa kayu bekas berwarna hijau. Pria 1974 itu lantas meletakan alat tersebut di meja. Itu adalah alat praktik pendeteksi banjir dan hukum Pascal.

Dua alat tersebut adalah salah satu inovasi kamim yang diterpkan untuk praktik pembelajaran fisika di sekolah. Inovasi sederhana itu justru mencuri perhatian juri dalam lomba Guru Tenaga Kependidikan (GTK) Berprestasi Laboran jenjang SMK tingkat nasional pada 18 Agustus lalu.

Bahkan, waktu melakukan survei di sekolah, tim Kemendikbud dan juri independen tampak kaget saat melihat kesederhanaan laboratorium tersebut. “Saya tidak minder saat itu. Saya bangga menunjukkan laboratorium fisika kami,” ujar Kamim.

Sejak 2009, dia menjadi laboran di SMKN 1 Sidoarjo. Sejak itulah dia senang bereksperimen dan melakukan inovasi terhadap alat praktik pembelajaran fisika. Meski anggaran terbatas, dia mampu berkreasi dengan memanfaatkan bahan – bahan bekas dari praktikum setiap jurusan. Baiaya yang dikeluarkan pun lebih murah jika dibandingkand engan membeli alat praktikum di toko. “Untuk alat pendeteksi banjir ini, saya pungut papan bekas konstruksi, lalu saya rangkai. Alat itu bisa dimanfaatkan untuk praktik anak – anak,” jelasnya.

Kamim menjadi GTK berprestasi laboran tingkat Jatim pada 2015. Tahun ini, dia ditunjuk untuk mewakili Jatim pada tingkat nasional. Dia pun harus bersaing dnegan 32 peserta dari provinsi lain yang notabene memiliki kelengkapan laboratorium lebih canggih. “Saya presentasikan semua inovasi yang sudha ada. Meskipun sederhana, anak – anak bisa belajar fisika dengan baik,” ujarnya.

Persiapannya pun singkat. Suami Siti Mulyati tersebut ditunjuk pada Juli lalu. Tanpa persiapan khusus, dia membuat portfolio sesuai apa yang telah dikerjakan selama menjadi laboran dan guru fisika di SMKN 1 Sidoarjo. (*c5/dio)

 

Sumber : Jawa Pos 25 Agustus 2016 Hal 31

Biwara Sakti Pracihara, Guru Berprestasi Tingkat Nasional Kategori SMK Lahirkan Buku Tutorial untuk Entrpreneur

Lahirkan Buku Tutorial untuk Entrepreneur. JawaPos. 23 Agustus 2016. Hal 28

Biwara Sakti Pracihara, Guru Berprestasi Tingkat Nasional Kategori SMK

Lahirkan Buku Tutorial untuk Entrpreneur

Surabaya berbangga. Guru-guru mendulang prestasi di tingkat nasional. Seorang di antara empat guru dari Surabaya itu adalah Biwara Sakti Pracihara, guru SMKN 12, juara III kategori SMK.

 

      MEJA Birawara Sakti Pracihara penuh dengan merchandise. Di atasnya, perintilan seperti mug, gantungan kunci, tempat tisu, kaus, sumpit, hingga maket rombong oranye cerah bermerek D’Kafe tertata rapi. “Ini karya – karya siswa saya. Kemarin saat ke Jakarta saya tunjukkan ke juri,” tuturnya saat ditemui di rumahnya di daerah Gunung Anyar, Surabaya, Sabtu lalu (20/8).

Praci, sapaan akrab guru desain di SMKN 12 tersebut, adalah seorang yang lolos ajang Guru Berprestasi Tingkat Nasional. Dia menjadi juara III untuk kategori guru SMK. Selain dia ada Sukamto, guru SMALB Karya Mulia, menyabet juara II kategori SMA pendidikan luar biasa. Trima Wahyu Mulyo Basuki, guru SDN Rangkah VI, juara III kategori SD. Karya – karya siswa yang di tunjukkan Praci itu menjadi salah satu inovasi pembelajaran  yang ditanamkan kepada para siswa¬nya. Berwirausaha.

Guru yang mengajar di jurusan desain komunikasi visual itu membuat buku tutorial. Yakni, Pengembangan Pembelajaran Desain Grafis Berbasis Entrepreneurial pada Keahlian Desain Komunikasi Visual. Buku tersebut menjadi pegangan siswa, khusus¬nya untuk jurusan desain komunikasi visual (DKV). Buku itu menerangkan cara berwirausaha yang asyik. Dengan detail, Praci membagi ilmu berwirausaha di masa kini. Dia tidak pelit menuangkan idenya dalam berwirausaha, mulai pembuatan desain, branding sebuah produk yang dianggap tidak penting hingga menjadi nilai jual, serta mencari relasi yang pas.

Menurut pria kelahiran Trenggalek, 31 Juli 1963, tersebut, belum ada buku yang spesifik untuk membimbing siswa jurusan DKV. Pembekalan wirausaha di sekolah, khususnya SMK, masih bersifat umum. “Porsinya juga minim sekali. Padahal, prinsip SMK kan BMW. Yakni, bekerja melanjutkan wirausaha,” jelasnya.

Munculnya buku tersebut juga menjadi fenomena di sekolahnya. Lulusan magister seni budaya Universitas Negeri Surabaya (Unesa) itu mengamati bahwa siswa selalu menjual makanan di setiap pameran wirausaha di sekolah.

Di antara 12 jurusan seni, mayoritas siswa menjual makanan. “Padahal kan banyak sekali potensi yang bisa dijual dari masing-ma¬sing jurusan,” katanya. Dia mencontohkan jurusan kriya kayu yang menonjolkan kesenian produk kayu. “Jika didesain dengan apik, pasti bemilai jual,” lanjutnya.

Setiap pelajaran, Praci mem¬bebaskan siswa untuk berpikir “liar’’. Tak jarang dia mengajak siswa turun langsung ke lapangan. Mulai pasar, kafe, toko, hingga mal.

Dengan begitu, siswa dapat menghasilkan produk yang berbeda. Kreativitas selalu ditekankan kepada para siswa. Dia menyatakan, ber¬pikir kreatif adalah roh jurusan desain. “Saya bilang ke mereka, kowe lek gak kreatif metuo ae,” tegasnya.

Pedoman dalam bukunya dianggap menarik oleh para juri dalam ajang Guru Berprestasi 2016. Selama tiga kali berturut-turut dia mengikuti ajang tersebut. Namun, tahun ini adalah kali pertamanya lolos hingga tingkat nasional. Dia menjadi juara I tingkat Jawa Timur. (Zahra Firdausiah/c5/dos).

 

Sumber : Jawa Pos 23 Agustus 2016 Hal 28

 

Atasi Penyebab Kekerasan

Ada Pola Pikir Menjadikan Anak sebagai Obyek

Jakarta, Kompas – Penundaan pengesahan Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-undang Nomor 1 Tahun 206 menjadi undang-undang disambut baik oleh pegiat perlindungan anak dan perempuan. Peraturan ini dinilai reaktif, tidak menyasar akar penyebab kekerasan.

Seorang peserta Jember Fashin Carnival mengikuti pawai dalam rangka pembukaan kegiatan itu di Jember, Jawa Timur, Rabu (24/6). Jember Fashion Carnival berlangsung sampai 28 Agustus.

Pangkal permasalahannya adalah pola pikir masyarakat yang menganggap anak dan perempuan sebagai objek, bukan bagian yang aktif di masyarakat,” kata anggota Ombudsman Republik Indonesia Ninik Rahayu, di Jakarta, Rabu (24/8). Ia juga anggota Institut Pemberdayaan Perempuan dan Anak serta mantan komisioner Komisi Nasional Antikekerasan terhadap Perempuan.

Peraturan Pemerintah Pengganti Undnag-undang (Perppu) No 1/20016 tentang perubahan kedua atas UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak dikeluarkan pada 25 Mei 2016. Perppu ini ditandatangai Presiden Joko Widodo setelah terjadi pemerkosaan terhadap anak perempuan YY (14), di Lampung, April lalu. Ia diperkosa dan dibunuh oleh belasan orang.

Perppu No 12016 mengatur pemberian hukuman tambahan berupa pengumuman identitas pelaku, kebiri kimia, dan pemasangan alat pendeteksi elektronik. Pada Selasa lalu, Dewan Perwakilan Rakyat memutuskan untuk menunda pengesahan Perppu No 1/2016 menjadi UU> Alasannya, masih ada enam isu di dalam peraturan itu yang dinilai masih diperdebatkan.

Banyak regulasi

Ninik mengutarakan, dari segi hukum, Indonesia sudah memiliki banyak regulasi yang mengatur perlindungan anak. Regulasi itu mulai dari UU No 35/2014 tentang Perubhan atas UU No 23/2002 tentang Perlindungan Anak hingga Instruksi Presiden No 5/2014 tenatng Gerakan Nasional Anti Kekerasan Seksual terhadap Anak.

“Akan tetapi, aturan-aturan ini belum sepenuhnya dipraktikkan di lapangan,” kata Ninik.

Berdasarkan laporan Komisi Nasional Perempuan serta organisasi-organisasi yang menangani kasus kekerasan terhadap perempuan dan anak, kasus kekerasan seksual sukar untuk dilaporkan ke polisi. Penyebabnya menurut Ninik, jalur pelaporan hanya terbatas di kepolisian di wilayan ibu kota kabupaten dan ada ketakutan melapor karena khawatir mendapatkan stigma tertentu.

Bahkan dalam bebrapa kasus, korban kekerasan seksual, termasuk anak-anak, dinikahkan dengan pelaku. Alasannya, agar tidak menjadi aib keluarga.

Anggota keluarga dan tetangga enggan melaporkan kasus kekerasan karena takut dinilai ikut capur urusan pribadi orang lain. Bahkan, petugas kesehatan di rumah sakit dan klinik juga tidak melapor ke aparat penegak hukum apabila menangani pasien yang memiliki indikasi sebagai korban kekerasan seksual.

“Yang dibuthkan masyarakat ialah sosialisasi mengenai pentingnya mawas diri serta menghormati tubuh sendiri dan tubuh orang lain,” ujar Ninik. Perbuatan, perkataan, dan bahasa tubuh yang merendahkan orang lain, termasuk anak-anak, tidak bisa dibenarkan sama sekali.

Satgas perlindungan anak

Secara terpisah, Ketua Umum Satuan Tugas (Satgas) Perlindungan Anak Muhammad Ihsan menekankan pentingnya keberadan gerakan masyarakat untuk melindungi anak-anak dari pelaku kekerasan. Ia mengatakan, 70% kasus kekerasan justru dilakukan oleh orang-orang terdekat, seperti anggota keluarga, teman, guru, dan tetangga.

“Keberadaan satgas amat bermanfaat dalam menyosialisasikan kesadaran akan hak-hak anak. Mereka juga bertindak sebagai mediator serta sistem pendukung bagi keluarga yang bermasalah agar kembali harmonis,” ujar Ihsan. Satgas diharapkan terdiri dari pengurus RT/RW, tokoh masyarakat, tokoh agama, kader Pemberdayaan Kesejahteraan Keluarga, Karang Taruna, serta warga setempat.

Kementrian Pemberdayaan Perempuan dan Anak pada 15 Agustus lalu, di Kediri, Jawa Timur, mengukuhkan pelatihan Satgas Penanganan Masalah Perempuan dan Anak. Sebelumnya, baru empat wilayah yang memiliki satgas perlindungan anak, yaitu Tangerang Selatan (Banten), Bekasi (Jawa Barat), Rembang (Jawa Tengah), dan Gunung Kidul (DI Yogyakarta).

“Negara semestinya bisa menjangkau keluarga tanpa meunggu terjadinya kasus terlebih dulu,” kata Ihsan. Para anggota Satgas yang kini tidak hanya relawan hendaknya memiliki mentalitas bahwa tugas melindungu anak tidak terbatas pada jam kerja. Mereka harus siap sedia menjalankan tugas setiap saat.

Sumber : Kompas, 25 agustus 2016, hlmn.11

 

Ancaman dan Peluang untuk Profesor

Ancaman dan Peluang untuk Profesor. Kompas. 22 Agustus 2016, Hal 7

Ancaman dan Peluang untuk Profesor

Oleh SYAMSUL RIZAL

 

Saya melihat ada dua fakta yang mengancam dan menekan profesor di Indonesia akhir-akhir ini. Ancaman pertama terkait dengan Permenristek dan Dikti No 50/2015 tentang Pendirian, Perubahan, Pembubaran PTN dan Pendirian, Perubahan dan Pencabutan PTS.

Pada Permenristek dan Dikti ini disebutkan, setiap program studi (prodi) doktor dan doktor terapan yang akan dibuka harus  memiliki paling sedikit enam dosen yang berijazah doktor. Dua di antaranya harus memiliki jabatan akademik profesor. Dua profesor ini masing-masing harus memiliki dua karya ilmiah yang telah dipublikasi pada jurnal internasional dan empat doktor lainnya masing-masing harus punya satu publikasi internasional.

Saya menilai Permenristek dan Dikti ini cukup menekan para profesor. Karena kalau dalam sebuah prodi tidak ada dua profesor “produktif’ yang masing-masing tak pernah memublikasikan karya mereka di jurnal internasional semasa hidupnya, maka prodi doktor akan gagal dibuka, atau terancam ditutup kalau sudah telanjur berdiri.

Ancaman kedua diberikan Direktur Jenderal Sumber Daya Ilmu Pengetahuan Teknologi dan Pendidikan Tinggi, Kemristek dan Dikti, Ali Ghufron Mukti (Kompas.com, 19 April 2016), yaitu profesor yang tidak produktif dapat dikenai sanksi berupa pemotongan tunjangan kehormatan. Menurut Ali Ghufron, sesuai gelar tertinggi yang dimilikinya, scorang profesor semestinya memiliki tanggung jawab untuk aktif dalam memajukan perguruan tinggi. Gelar tertinggi ini harus diikuti produktivitas yang tinggi pula dalam menghasilkan inovasi dan menerbitkan karya tulis di jurnal-jumal yang memiliki reputasi internasional sehingga membuat perguruan tingginya berstatus internasional.

Ancaman ini tentu saja masuk akal. Sebab, kalau tidak ada ancaman ini, semua profesor di Indonesia (berjumlah 5.109 orang) berhak tidur semuanya dan tidak melakukan apa pun kecuali tugas pokok mengajar saja. Sampai sekarang seakan-akan mengejar jabatan fungsional profesor merupakan upaya untak mencapai terminal terakhir. Setelah terminal terakhir tercapai, tercapailah semuanya sampai umur 70 tahun sambil ongkang¬ongkang kaki alias tidak berbuat apa pun.

Ini tentu saja akan merugikan negara. Sebab, dengan kenaikan jabatan dan gaji, tanggung jawab dan produktivitas seharusnya meningkat. Apalagi usia pensiun profesor sudah ditetapkan menjadi 70 tahun, maka dapat dikatakan bahwa menjadi profesor merupakan suatu berkah yang tiada tara. Di tengah kesulitan negara kita secara ekonomi, tentu saja tidak fair membandingkan gaji profesor di Indonesia dengan negara-negara maju di Eropa atau di benua lain.

Ini berarti, apabila seorang profesor tak mampu menghasilkan karya tulis di jurnal internasional sampai dengan akhir 2017, menurut Ali Ghufron, gaji profesor yang semula sekitar Rp 22 juta itu akan berpotensi dipotong tunjangan kehormatannya sekitar Rp 10,5 juta.

Kembali ke Iaboratorium

Dengan ancaman ini, tentu saja timbul hal positif. Selama ini harus kita akui, seorang profesor dinilai kariernya sukses atau tidak bergantung pada jabatan struktural yang diembannya, seperti menjadi wakil dekan, dekan, wakil rektor, ataupun rektor.

Dengan ancaman ini, mau tidak mau seorang profesor yang sadar dengan ancaman ini akan segera kembali ke laboratoriumnya untuk melakukan penelitian dan memublikasikannya pada jurnal internasional.

Untuk menjalankan penelitian ini, Kemristek dan Dikti seharusnya menawarkan proposal penelitian dengan format sederhana, yang khusus ditawarkan kepada profesor, terutama kepada profesor yang selama ini belum punya publikasi internasional.

Saya menilai ancaman kepada profesor ini memang sudah dirancang Kemristek dan Dikti. Sebab, tak lama kemudian terbit Peraturan Menteri Keuangan No 106/2016 tentang Standar Biaya Keluaran Tahun Anggaran 2017. Permenkeu ini menebarkan peluang emas bagi profesor yang ingin meneliti dan memublikasikan karya-karyanya.

Dengan adanya Permenkeu ini, menurut Direktur Jenderal Penguatan Riset dan Pengem-bangan, Kemristek dan Dikti, Muhammad Dimyati, peneliti yang selama ini selalu kehabisan energi menjalani proses administrasi yang rumit saat melakukan riset akan menjadi nyaman. Karena laporan pertanggungjawaban penelitian akan dinilai berdasarkan output penelitian.

Dengan adanya peraturan baru ini, profesor diharapkan bisa fokus menghasilkan riset yang berkualitas dan memublikasikannya di jurnal-jurnal internasional. Menurut Dimyati, publikasi internasional yang dihasilkan merupakan output yang dinilai pemerintah.

Aturan yang menghambat

Kalau kita ingin negara kita menjadi maju, kita harus mengapresiasi tiga kebijakan pemerintah ini, yaitu Permenristek dan Dikti No 50/2015, ancaman bagi profesor yang tak produktif, dan terbitnya Permenkeu No 106/2016 yang merupakan peluang emas bagi periset di Indonesia.

Namun, saya ingin meminta perhatian pemerintah, khususnya Kemristek dan Dikti, karena ada suatu peraturan lagi yang perlu diperbaiki. Jika tidak, ia akan menghambat perguruan tinggi yang ingin maju.

Saya memperhatikan bahwa prodi doktor yang baru dibuka, yang sudah memenuhi Permen-ristek dan Dikti No 50/2015 tidak dengan sendirinya bisa melaju kencang untuk bisa mengabdi kepada Ibu Pertiwi. Seperti kita ketahui, bersama, publikasi internasional tak bisa lahir kalau tidak ada penelitian. Penelitian akan berdampak secara signifikan kalau ada program pascasarjana yang baik.

Yang menjadi persoalan, beasiswa unggulan dosen Indonesia yang disingkat dengan BUDI itu, yaitu program beasiswa baru dari Pemerintah Indonesia untuk melanjutkan beasiswa pendidikan pascasarjana, tidak membuka kesempatan pada prodi doktor yang baru dibuka. Alasannya, prodi doktor baru ini hanya terakr¬ditasi C oleh BAN-PT dan perlu reakreditasi terlebih dahulu. Masalahnya, kalau harus reakreditasi, nilai akreditasi prodi doktor baru ini juga akan tetap buruk karena belum punya alumni yang dipersyaratkan BAN-PT.

Saya bisa mengerti alasan Kemristek dan Dikti, yaitu beasiswa prestisius ini tidak boleh diberikan pada prodi yang berkualitas rendah. Namun, kualitas apalagi yang kita harapkan? Bukankah untuk membuka prodi doktor baru persyaratannya sudah cukup ketat? Karena sesuai dengan Permenristek dan Dikti No 50/2015 dibutuhkan dua profesor yang masing-masing punya dua publikasi intemasional dan empat doktor lainnya masing¬masing harus punya satu publikasi internasional.

Bahkan, prodi doktor yang telah rama dibuka pun dan terakreditasi A oleh BAN-PT belum tentu punya kualifikasi staf pengajar yang sesuai dengan Permenristek dan Dikti No 50/2015. Kemristek dan Dikti harus peka dengan persoalan ini. Jangan sampai kita memberikan punishment kepada prodi yang bermutu, tetapi memberikan reward kepada prodi yang masih belum sesuai Permenristek dan Dikti No 50/ 2015, tetapi posisinya sekarang sudah terakreditasi A atau B.

Dalam kasus ini, saya melihat, paling tidak untuk prodi doktor, akreditasi BAN-PT tak sejalan dengan semangat Permenristek dan Dikti No 50/2015. Ini harus segera dikoreksi.

SYAMSUL RIZAL

Guru Besar Universitas Syiah

Kuala; Alumnus UniversitAt

Hamburg, Jerman

Sumber : Kompas, 22 Agustus 2016 Hal 7