Ketekunan dan Ketelitian antar Tiga Mahasiswa Interior Architecture-Universitas Ciputra Menjadi “Juara Tunggal” di Ajang SYDS 2017

Ketekunan dan Ketelitian antar Tiga Mahasiswa Interior Architecture-Universitas Ciputra Menjadi “Juara Tunggal” di Ajang SYDS 2017

 

Surabaya Young Design Spectacles (SYDS) 2017 merupakan event tahunan yang digelar oleh Ciputra World Surabaya bersama Himpunan Desainer Interior Indonesia (HDII) Jatim. Tercatat total 30 peserta mahasiswa dari beberapa universitas di Surabaya diantaranya Petra, ITS, Lasalle, dan Universitas Ciputra mengikuti kontes ini. Dengan batasan dana maksimal 50 juta, panitia menantang para peserta untuk mendesain sebuah stage dengan tema Deconstructivism.
Deconstructivism merupakan pengembangan dari arsitektur postmodern yang dimulai pada akhir 1980-an. Hal ini ditandai dengan ide-ide fragmentasi, suatu kepentingan dalam memanipulasi ide permukaan struktur atau kulit, non-bujursangkar bentuk yang berfungsi untuk mengubah dan terkilir beberapa elemen arsitektur , seperti struktur dan amplop . Tampilan visual selesai bangunan yang menunjukkan deconstructivist banyak “gaya” dicirikan oleh ketidakpastian dan kekacauan merangsang dikendalikan.
SYDS 2017 membawa kesan tersendiri bagi peserta dari Universitas Ciputra (UC) karena pada kesempatan ini UC bisa dikatakan sebagai juara tunggal setelah meraih juara pertama, juara kedua, dan juara ketiga.
“Berawal dari tugas kuliah kelas Stage Design yang merupakan mata kuliah pilihan di semester 6, saya mengikuti lomba stage design ini. Persiapan singkat selama dua minggu dengan pendampingan tutor saya mencoba mendesain dengan tema broken stage,” papar Cynthia Lavania (INA 2014) yang meraih Juara 1 ini. “Broken Stage ini lebih mengarah ke design kotak yang dipecah dan disusun kembali, patahan, runtuhan seperti mau runtuh. Warna monocrome : hitam, putih, abu-abu mendominasi desain saya,” imbuh Cynthia.
Berbeda dengan Cynthia, Calvin Kurnia Tanoto (INA 2014) yang merupakan peraih juara 2 ini mengusung tema Non Recognized building dimana dia membiarkan imaginasinya bermain liar saat mendesain. “Pengabungan bentuk kotak dan segitiga diman persegi memberi ketegasan dan formalitas dengangkan segitiga menunjuk pada sebuah tujuan“, papar Calvi, Juara 2 SYDS 2017. Denah yg berani dan menunjukan descrontructive dengan bentuk catwalk meruncing, dipadu warna putih yang mendominasi membuat stage hasil desiain Calvin terlihat menonjol saat ditempatkan pada lokasi yang sekitarnya kaya warna.
Juara ke-3, Ivana Valentina INA 2014 dengan tema Prespective lebih memilih paduan warna putih dan abu-abu untuk karyanya tersebut. Terinspirasi dari krypto cristal, Ivana menarik benang merah antara descrontructive dan prespective yaitu tentang ketidakteraturan. “Sebelum saya membuat desain ini, saya terlebih dahulu tentang fashion dan desain. Melihat segala perkembangannya seiring kemajuan jamannya”, jelas Ivana.
“Secara keseluruhan dari peserta, mahasiswa UC lebih detail dalam pengumpulan materi desain. Penyajian dalam bentuk 3D yang apik, rapi, dan sesuai dengan tema yaitu Deconstructivism. Secara presentasi bisa dibilang hampir semua siswa dari UC menguasai materi, percaya diri, dan professional,” papar Yuvid Rayhan Saffa, perwakilan Juri SYDS 2017.