Genoil – Biodiesel Dari Minyak Jelantah

Genoil – Biodiesel Dari Minyak Jelantah

Mata kuliah Entrepreneurship pagi itu mendatangkan seorang pembicara yang hebat, di usianya yang baru 22 tahun Andi Hilmi Mutawakkil telah menjalankan perusahaan Genoil sebagai CEO. Perusahaan yang bergerak di bidang industri pengolahan minyak biodiesel ini baru saja menyabet predikat sebagai pemenang di event Ideas for Indonesia 2016, di Jakarta, 23-24 September 2016 lalu.

“Ide bisnis itu bermula waktu itu saya ke pasar jalan-jalan, trus ada tiga hal yang menarik perhatian saya, penjual gorengan, ikan yang dijual kadang tak ada, sama preman di pasar,” kata pria berkacamata ini. Hilmi sadar bahwa minyak goreng yang dipakai para penjual adalah minyak jalantah, ia juga belakangan tahu bahwa ikan semakin sedikit karena banyak nelayan yang tak melaut akibat kesulitan membeli bahan bakar.

Mahasiswa UNM jurusan Antropologi ini pun membuat riset kecil-kecilan tentang apa yang bisa ia perbuat dengan minyak jelantah, nelayan, dan juga para preman pasar. Hingga akhirnya muncul ide pengolahan minyak jelantah menjadi biodiesel. Biodiesel itu nantinya akan dijual ke nelayan, dan ia berpikir para preman dan mantan preman lah yang akan menjadi karyawannya. Biodiesel ini kemudian dijual untuk nelayan-nelayan di Paotere Makasar dengan harga yang lebih terjangkau. Genoil menjual biodiesel ke para nelayan seharga Rp 5.000 per liter, lebih murah ketimbang harga eceran Pertamina. Itu pun Genoil masih memberikan selisih Rp 500 per untuk pengecernya.Kini, dengan produksi biodiesel lebih dari 1.000 liter per hari, omzet mereka mencapai Rp 170 juta per bulan

Berangkat dari permasalahan yang ada di masyarakat, Andi Hilmi berhasil menjadikannya sebagai sebuah ide bisnis yang luar biasa.