Pengukuhan Guru Besar Prof. Dra. Jenny Lukito Setiawan, M.A., Ph.D., Psikolog

Pengukuhan Guru Besar Prof. Dra. Jenny Lukito Setiawan, M.A., Ph.D., Psikolog

Kamis 19 Januari 2017, menjadi hari yang bersejarah karena untuk pertama kalinya dilantik profesor di Universitas Ciputra.  Dari Program Studi Psikologi, Prof. Dra. Jenny Lukito Setiawan, M.A., Ph.D., Psikolog menjadi profesor pertama sejak 10 tahun berdirinya Universitas Ciputra. Pelantikan yang dikemas dalam sidang senat terbuka ini dihadiri oleh keluarga, kolega sekaligus segenap civitas akademika Universitas Ciputra.

Prof. Dra. Jenny Lukito Setiawan, M.A., Ph.D., Psikolog menikah dengan Jandy Thenarianto Foh dan hingga saat ini telah dikaruniai 2 orang putri yaitu Jessie Janny Thenarianto & Joy Janny.  Thenarianto. Prof Jeny menaruh minat penelitian pada bidang Perkawinan, Pengasuhan Anak (parenting), Co-parenting, Entreprepreneurial Self-Efficacy, Entreprepreneurial Characteristics & Konseling. Beliau lulus pada 1992 dengan gelar Sarjana Psikologi dari Universitas Padjadjaran, Bandung. Kemudian melanjutkan pada tahun 2000 M.A. in Human Relations melanjutkan hingga 2004 dan meraih gelar Ph.D. in Counselling dari Nottingham  University, United Kingdom

Pagi itu Prof Jenny menyampaikan Pidato Pengukuhan Jabatan yang berjudul Optimalisasi Co-Parenting untuk Pengembangan Karakter Entrepreneurial Anak. Adalah hal yang sangat menggembirakan melihat kenyataan bahwa gerakan-gerakan entrepreneurship mulai banyak terjadi di Indonesia pada beberapa tahun terakhir ini. Gerakan-gerakan entrepreneurship dilakukan atas suatu keyakinan bahwa entrepreneurship merupakan jawaban atau solusi untuk mengentaskan kemiskinan dan memberikan kemakmuran bagi bangsa. Gerakan-gerakan entrepreneurship di atas nyata dalam banyaknya lembaga-lembaga pendidikan yang menaruh perhatian pada pendidikan entrepreneurship. Sebagian lembaga pendidikan memasukkan pendidikan entrepreneurship melalui kegiatan ekstrakurikuler yang tidak bersifat wajib, namun ada pula yang memasukkan ke dalam kurikulum pendidikan yang harus dijalani oleh semua peserta didik.

Kesadaran akan pentingnya pendidikan entrepreneurship ini juga tampak dalam berbagai program yang dicanangkan pemerintah, misalnya Program Mahasiswa Wirausaha yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi. Program ini diadakan untuk mengubah pola pikir mahasiswa menjadi pencipta lapangan kerja serta mendorong unit-unit kewirausahaan di perguruan tinggi untuk mendukung program-program kewirausahaan. Program lain yang juga memiliki misi serupa adalah Expo Kewirausahaan Mahasiswa Indonesia (EKMI) yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan. Program ini dilakukan untuk meningkatkan jumlah mahasiswa yang berwirausaha.

Tanpa mengecilkan arti dari gerakan-gerakan entrepreneurship di atas, Katz (2007) berargumen bahwa pendidikan entrepreneurship tidak cukup berhenti pada pengembangan business skills. Pendidikan entrepreneurship harus melampaui pelatihan-pelatihan membuat business plan, keuangan, dan manajemen. Katz mengemukakan bahwa pendidikan entrepreneurship juga harus merambah pada aspek psikologis dari entrepreneurship. Pendidikan entrepreneurship juga harus mampu memberikan kesadaran bagi individu akan potensi kreatifnya dan membangkitkan keinginan untuk mengembangkan kemampuan entrepreneurial-nya.

Aspek psikologis dari entrepreneurship yang dikemukakan oleh Katz di atas, tentu saja tidak dapat dipisahkan dari individu atau sosok di balik karya entrepreneurship. Lebih jauh lagi, hal ini berkaitan dengan karakter-karakter entrepreneurial atau karakteristik psikologis yang dimiliki. Hal ini menjadi tantangan sekaligus panggilan bagi para ilmuwan Psikologi untuk melakukan riset lebih jauh mengenai karakteristik kepribadian entrepreneur serta variabel-variabel psikologis yang berkaitan dengan infrastruktur lingkungan entrepreneur (Hisrich, Langan-Fox, & Grant, 2007).

Ketika berbicara mengenai karakteristik kepribadian entrepreneur atau karakter entrepreneurial, ada berbagai agen sosial yang sebenarnya memiliki peran dan tanggung jawab dalam pembentukan karakter tersebut pada anak, misalnya keluarga, lembaga pendidikan, dan masyarakat luas (Setiawan, 2008). Akan tetapi pada kenyataannya, tidak jarang upaya pengembangan karakter entrepreneurial yang dilakukan oleh lembaga pendidikan justru menghadapi tantangan dari keluarga, karena orangtua tidak siap dengan challenge yang diberikan oleh pihak lembaga pendidikan kepada anak-anaknya, padahal orangtua adalah lingkungan sosial pertama dan utama dalam pengembangan karakter anak.

Orasi pada hari ini bertujuan untuk memaparkan peran keluarga, khususnya orangtua, dalam mengembangkan karakter entrepreneurial melalui co-parenting. Secara spesifik orasi ini akan mengulas tiga bagian penting, yakni karakter-karakter entrepreneurial, dan perkembangan karakter anak, upaya co-parenting yang dapat dilakukan untuk memfasilitasi tumbuhnya karakter-karakter entrepreneurial anak, serta hal-hal yang dapat dilakukan untuk mengoptimalkan co-  parenting.

“Upaya pengembangan karakter entrepreneurial anak membutuhkan co-parenting yang berfokus pada keseimbangan antara care and challenge. Adanya care akan membuat anak merasa aman, lebih berani menjadi dirinya, mengemukakan ide, berkreasi, dan bersikap persisten untuk mencapai tujuan. Sedangkan challenge akan menstimulasi anak untuk terus berkreasi, tidak berada di status quo, berani dan siap menerima, mengelola perubahan yang ada, bahkan menciptakan perubahan. Untuk mengoptimalkan aliansi co-parenting, ayah dan ibu perlu kembali pada pilar-pilar dalam parenting, yaitu penguatan relasi pernikahan, yang didasari oleh komunikasi yang asertif, resolusi konflik yang konstruktif, serta penyediaan waktu luang bersama yang efektif.” Demikian tuturnya.

Dalam Kesempatan ini Prof. Dra. Jenny Lukito Setiawan, M.A., Ph.D., menyampaikan terimakasih terkhusus pada :

  • Pemerintah Republik Indonesia, diwakili oleh Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi, Prof. Mohamad Nasir, Ph.D
  • Koordinator Kopertis VII, Bapak Prof. Dr. Ir. Suprapto, DEA
  • Bapak Dr. (HC) Ir. Ciputra selaku Founder Universitas Ciputra
  • Bapak dan Ibu Pengurus Yayasan Ciputra Pendidikan dan Dewan Pengurus Harian
  • Segenap Pimpinan Universitas Ciputra, Rektorat, Dekanat, Ka/Wakaprodi dan Kapro, Ketua Lembaga, dan Kepala Departemen
  • Rekan-rekan dosen dan non dosen di Universitas Ciputra
  • Tim Psikologi dan HCM Universitas Ciputra
  • Guru-guru TK, SD, SMP, SMA, dan dosen-dosen S1, S2, dan S3
  • Pengurus Asosiasi Penyelenggara Pendidikan Tinggi Psikologi Indonesia, HIMPSI Pusat, Majelis Psikologi Wilayah Jawa Timur, para pengurus HIMPSI Jatim, para kolega saya dalam Forkom Dekan Psikologi Jatim
  • Bapak Dr. J.G. Nirbito, M.Pd., Bapak Prof. Dr. F. Danardana Murwani, M.M., dan Prof. Hari Purnomo, Prof. Dr. Mareyke Maritje Wagey Tairas, M.A.,M.B.A., Bapak Prof. Dr. dr. Hari K. Lasmono, M.S., Ibu Prof. Dr. Jatie K. Pudjibudojo, S.U., Ibu Prof. Dr. Tatik Suryani, Bapak Prof. Dr. M. As’ad Djalali, SU., dan Bapak Prof. Dr. S. Pantja Djati, M.Si., M.A.

 

3 21

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *